
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
⚠Disarankan untuk membaca dari awal takutnya, tidak paham!!!
...****************...
Tahun baru tinggal hitungan menit lagi, kini semua orang tengah duduk di teras samping, sambil menikmati angin malam yang berhembus dari pantai
Tawa terukir di bibir mereka masing-masing, sederhana tapi membuat semuanya bahagia
Serin berdiri di dekat pembatas teras, sambil menatap lembut kearah air laut yang berkilau karena cahaya bulan
"Jika Darin masih disini! mungkin sekarang ia akan ikut tertawa bersama kami semua" lirihnya dalam hati
"Sedang memikirkan apa" ucap Glen yang tiba-tiba memeluk istrinya dari belakang, sukses membuat Serin sedikit tersentak kaget
"Tidak, hanya menikmati pemandangan dari laut, bukankan itu indah!" jawab Serin
"Hmm. indah" sahut Glen, "aku tidak menyangka moment seperti ini akan hadir dalam hidupku" gumam Glen
"kenapa?" tanya Serin
"Jika kamu tidak pernah melamar pekerjaan sebagai pengawalku, dan aku tidak mengenalmu, mungkin aku masih menjadi pria yang gila kerja dan tidak memikirkan hal dan moment seperti ini akan ada dalam hidupku" jawabnya
"Kamu mengubah segalanya dalam hidupku" tambahnya
"Aku senang jika itu yang terjadi" sahut Serin mengelus lembut punggung tangan suaminya yang sedang melingkar di pinggangnya
"Menurutmu aku bisa hidup tenang setelah Arka di tangkap?" tanya Serin dengan pandangan lurus menatap kearah laut
"Apa sekarang kamu tidak tenang hidup denganku?" tanya Glen balik
"Bukan! bukan itu maksudku... aku tenang dan nyaman berada di sisimu, aku berpikir apakah saat semuanya terbongkar akan ada kebahagiaan atau kesedihan, dan apakah aku bisa menembus kesalahanku atas Darin?" jawab Serin
Selama ini Serin terus hidup dalam rasa bersalahnya atas Darin! sedangkan pelakunya sama sekali tidak punya rasa penyesalan
"Itu bukan kesalahanmu sayang! jadi berhentilah untuk berpikir seperti itu... aku yakin Darin sudah bahagia disana, mungkin dia juga ingin agar kamu bisa hidup tenang di sini" tutur Glen dan hanya mendapat anggukan dari wanita yang berada dalam pelukannya
"......"
"Menurutmu apa Serin sudah lepas dari rasa bersalahnya itu" celetuk Marisa pada sang suami yang duduk bersamanya di sofa teras
"mungkin" sahut David singkat, ia menatap sekilas kearah putri dan menantunya yang sedang berdiri tidak jauh dari tempat mereka
"Aku harap Serin bisa menjaga dirinya dengan baik" tukas David
"maksudmu" sahut Marisa bingung
"tidak apa, panggil mereka! sebentar lagi akan pukul 12.00 malam" ujar David lalu mengalihkan fokusnya pada Reyhan yang juga duduk di tengah-tengah mereka
"Serin! Glen! kemarilah, ini sudah hampir jam 12" panggil Marisa, sontak keduanya menoleh lalu melangkah menuju sofa untuk duduk bersama
Mereka menghitung mundur dari angka tiga, lalu bersorak bahagia karena kini tahun telah berganti, dan Serin berharap ini adalah titik baliknya agar bisa menuntaskan seluruh kasusnya dan hidup bahagia sepenuhnya tanpa bayang-bayang rasa bersalahnya terhadap Darin
...****************...
Terlihat sepasang suami istri itu masih tertidur pulas saling memeluk satu sama lain
Sinar matahari yang menembus masuk bahkan tidak membangunkan keduanya dari tidur pulas mereka, padahal jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi
Kedua orang tuanya serta Reyhan sudah bangun lebih dulu, tapi mereka sengaja pergi kepantai, agar tidak membangunkan keduanya
"......"
Terdengar lenguhan pelan dari Serin yang mulai mengerjapkan matanya, tidak langsung bangun tapi ia diam sebentar dengan matanya yang sudah terbuka sepenuhnya
"Kapan tubuhnya seatletis ini, perasaan dia jarang olahraga akhir-akhir ini" gumam Serin, ketika melihat lengan kekar suaminya yang masih memeluk tubuhnya
"Glen!" panggilnya pelan mencoba membangunkan suaminya
Ia hanya memanggilnya sekali, lalu melepaskan dirinya dari pelukan sang suami, bukannya bangun pria itu malah mencari posisi lain untuk melanjutkan tidurnya
Melihat itu Serin hanya menggeleng pelan, lalu pergi ke kamar mandi karena tubuhnya terasa lengket dan tidak nyaman
Sedangkan Glen, ia masih tidur dengan posisi yang menurutnya nyaman
📳 Tringgg....
"Siapa yang telpon pagi-pagi begini" gumamnya dengan mata yang masih tertutup, namun tangannya meraih mencari ke atas nakas untuk mengambil ponselnya
📞In Call-
"Kenapa telpon pagi-pagi begini?"
"Ini sudah jam 09.30 kau bilang pagi!"
"Terserah saja! kenapa??"
"aku mengirim berkas padamu! sepertinya ada hal lain yang di lakukan Willy selain Lab yang di bongkar Serin, dan mengekploitasi pegawai"
"Iyaa... ada lagi?"
"Tida... tut... tut... tut..."
📞End Call-
Pria itu mengakhiri begitu saja panggilannya dengan Max, karena ia masih mengantuk dan berniat untuk menyambung tidurnya
Tidak beberapa lama Serin keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk yang membalut tubuhnya
Serin mendudukkan dirinya di meja rias sebentar, berniat untuk memakai sedikit pelembab pada wajahnya
"Hishh... dia melakukannya lagi! sudah kubilang jangan meninggalkan banyak, kalau begini bagaimana aku menutupinya" gumamnya seraya menoleh sekilas kearah suaminya yang masih setia tiduran
"Kebiasaan" dumel Serin sambil membuka tutup wadah dari pelembab
"itu terlihat bagus sayang!" sahut Glen yang tiba-tiba berdiri di belakangnya, sukses membuat Serin terperanjat kaget
"Apa perlu aku menambahkan satu lagi di sini" tambahnya menatap jenjang leher istrinya yang kemarin malam berhasil ia beri beberapa tanda kepemilikannya
"Pergi mandi sana" tolak Serin, yang langsung menjauhkan sedikit dirinya dari tatapan nakal suaminya
Dengan senyum puasnya, pria itu berjalan ke kamar mandi tanpa beban sedikitpun
...****************...
Suara riuh para pembawa berita mengisi suara di depan gedung kejaksaan, bagaimana tidak! pria paruh baya yang banyak di kenal sebagai pria yang suka beramal, ternyata adalah pemilik lab yang sudah menghabisi banyak nyawa untuk ambisi mereka
Untuk memenuhi panggilan, Willy datang ke gedung kejaksaan, karena kemarin ia mengatakan menyerahkan diri, maka hari ini ia kembali di panggil untuk melakukan penyelidikan lebih dalam
Tapi anehnya di sini, jika biasanya tersangka di jemput dan di bawa ke kejaksaan dengan tangan yang terborgol, maka sangat jauh berbeda dari Willy yang datang menyerahkan diri, bahkan ia bagai di sambut baik oleh kejaksaan
Ia datang dengan setelan jas rapi dan sedan mewah serta para pria berjas rapi, yang sudah bisa di pastikan itu adalah para pengacaranya
Dengan santainya pria paruh baya itu masuk ke gedung kejaksaan, sebelum itu ia sempat bicara di depan berita, dan mengatakan jika ini hanyalah jebakan untuknya. dan pelaku asli hanyalah Dwyne yang merupakan ketuanya.
"Lalu bagaimana dengan pernyataan Itada di live waktu itu pak? tidak mungkin dia menyebut nama bapak jika tidak ada apa-apa" tanya seorang wartawan
"Menurut saya ia hanya menyeret nama saya kedalam kejahatannya, saya yakin kejaksaan akan membuktikan ini" sahut Willy, masih membela diri padahal bukti sudah jelas-jelas memberatkan-nya
"Bagaimana dengan Golden City, apa proyek itu akan terus berlanjut?!" ~ Wartawan
"Kota impian Golden City, tidak akan berhenti! itulah impian semua orang. hidup di kota tanpa kejahatan atau menyeret seseorang dalam kejahatannya" jawabnya, seolah menekankan jika dirinya saat ini hanya di seret dalam kejahatan yang tidak ia lakukan, pria paruh baya itu mengelak sebaik mungkin
Pertanyaan dari pria yang berprofesi sebagai wartawan itu, sukses membuat Willy terdiam sebentar, sebelum akhirnya ia membuka mulutnya
"Saya tidak menyerahkan diri, tapi disini saya hanya memenuhi panggilan dari kejaksaan, dan akan bersikap koperatif agar para kejaksaan bisa menangkap pelaku sebenarnya" jawab Willy, tanya jawab itu tidak berlangsung lama, karena salah satu pengacara-nya membisikkan sesuatu
Willy masuk setelah pengacara-nya mengatakan jika ini waktunya untuk melakukan penyelidikan
"......"
"Silahkan masuk pak" ujar seorang wanita yang merupakan rekan tim dari jaksa yang akan menginterogasi Willy nantinya
Sedangkan disisi lain seorang pria sedang bicara dengan sang atasan di ruangannya
"Lakukan dengan benar! jangan sampai ada kesalahan" ujarnya dan tentunya di angguki oleh bawahannya
Pria berjas itu lantas keluar dari ruang sang atasan, menuju ruangan lain
Layaknya tamu, Willy dan pengacaranya di sambut dengan baik oleh pihak kejaksaan
"Bapak bisa menjawab pertanyaan secukupnya" ujar sang pengacara dan hanya mendapat anggukan dari Willy
"Selamat siang pak" sapa seorang pria, yang masuk sambil membawa laptopnya dan beberapa berkas pendukung
Setelah mendudukkan dirinya di kursi, pria itu mengatakan jika dia akan memulai penyelidikan-nya
"Sesuai bukti yang kami terima, bapak terlibat dengan Vsc.lab dan merupakan orang yang membangun dan menjalankan Lab tersebut tanpa mendaftarkan ijin operasinya di pemerintahan, apakah benar" ~ Jaksa
"Benar" sahutnya singkat, sedangkan sang jaksa hanya mengetik pernyataan dari Willy
Jaksa terus melontarkan beberapa pertanyaan, tidak semua di jawab oleh pria itu, karena pengacaranya yang mengatasi, dan sang pemberi pertanyaan hanya mengerti dan mengetik pernyataan di laptopnya
Selama kurang lebih 3 jam, akhirnya pria paruh baya itu keluar dari ruang interogasi
"Bapak tenang saja, kami akan berdiskusi dengan pihak kejaksaan agar hukuman di kurangi sebanyak mungkin" ujar salah satu pengacaranya dan di angguki oleh Willy
"......"
📞In Call-
"Bagaimana?"
"Selesai Tuan! pak Willy mungkin akan segera di jemput oleh pihak kejaksaan"
"Bagaimana dengan dakwaan-nya?"
"Paling lama beliau akan dihukum 3 tahun dan denda $100.000, atas dugaan pengoperasian Laboratorium tanpa adanya izin"
"Bagus! lalu bagaimana dengan para imigran yang tewas itu"
"Kami sudah diskusi dengan pihak kejaksaan, karena semuanya di lakukan oleh Dwyne dan anak bawahannya tanpa campur tangan pak Willy, maka akan mudah bagi kita untuk melempar semua kesalahan pada mereka"
"Baiklah! siapkan sidang sebaik mungkin, aku akan segera menghubungimu lagi nanti"
"Baik Tuan!"
📞End Call-
Arka duduk dengan santai di kursi kejayaannya, karena sang Ayah sedang tersandung masalah hukum, maka kedudukan presdir sekarang di pegang olehnya, sedangkan kursi CEO masih di duduki oleh sang adik
Senyum miring tertarik di wajahnya, lalu meraih sebuah pigura kecil dimana di sana ada foto seorang wanita, yang bisa kita pastikan itu adalah Serin
"Semakin kau melawan maka semakin suka aku mempermainkan-mu, ku harap kau tidak mengakhiri permainan ini dengan singkat! karena aku benar-benar menikmati seluruh yang kau lakukan sejauh ini" ujarnya sambil menyeringai
"Dulu anakmu! bagaimana jika setelah ini suamimu" gumamnya lagi tanpa meletakkan figura kecil berisi foto Serin
Bukankah itu menakutkan. pria brengs*k dan psikopat sepertinya, memiliki foto Serin di meja kerjanya! untuk apa, tidak ada yang tau itu
Karena berita yang belum pasti tentang dakwaan Willy, saham perusahaan tidak turun begitu drastis dan Arka juga menimpal seluruh berita agar menutup mulut mereka, atau ia akan menarik investasi-nya dan membuat media itu bangkrut
Arka meraih kembali ponselnya setelah dering telpon terdengar dari ponselnya
📞In Call-
"Katakan!"
"kami sudah mengirimnya"
"Bagus! kirim datanya padaku sekarang"
"Oke."
📞End Call-
Senyum evil tertarik di bibirnya, ia lantas menurunkan kakinya yang tadi ia naikkan ke atas meja kerja, lalu beralih pada sebuah situs di komputernya, untuk memeriksa data yang barusan di katakan anak buahnya
...****************...
"Bagaimana?" tanya seorang pria paruh baya yang sedang duduk di kursi kebesaran-nya
"Tim sudah menyerang sisi lain untuk melemahkan-nya, mohon berikan kami waktu lagi pak!" sahut sang bawahan
"Aku akan memberi waktu lagi, tapi kita harus menyelesaikan-nya! sekarang kau tahukan, tingkat kejahatan di negara kita mencapai 17% ... kalau persentasenya tidak turun saat pemilihan, maka itu akan sangat berpengaruh" jelasnya
"Kami akan berusaha pak! mereka juga sedang bekerja keras agar segera menyelesaikan-nya" sahut sang bawahan lagi
"Yasudah! kutunggu kabar baiknya, semoga permasalahan ini cepat selesai" ucap pria paruh baya itu pada sang bawahan, dan tentunya mendapat anggukan dari pria yang sedang berdiri dekat meja
"Tapi apa tidak bisa kalian langsung meringkusnya?" tanyanya
"Tidak bisa pak! kami tidak mungkin melakukan itu tanpa bukti yang kuat, ditambah seluruh bukti di tutup dengan rapi hingga kami kesusahan" jawabnya
"Yasudah. lakukanlah sesuai hukum yang berlaku" ucapnya dan di angguki oleh pria yang berumur kisaran 45 tahun
Setelah bicara dengan atasannya, ia keluar dari ruangan itu untuk menelpon seseorang
"......"
📞In Call-
"Hallo!"
"Apa kita tidak bisa mempercepat! pihak atas semakin menekan kita"
"Maaf pak! tapi kita tidak bisa melakukannya secepat itu, apalagi mengambil langkah gegabah! itu bisa menghancurkan keseluruhan jalannya dan mungkin berakhir pada penutupan seluruh bukti"
"Kau benar! baiklah, aku akan mencoba meyakinkan agar waktu yang di berikan semakin banyak dan bisa menyelesaikan-nya dengan sempurna"
"Iyaa pak!"
📞End Call-
Ia hanya bisa menghela napasnya, lalu pergi menuju ruangannya
...****************...
.
.
.
Disini Author mau ingat kan saja, sekali lagi tidak ada hukum dari negara manapun yang berlaku di sini, dan tidak ada unsur untuk menyinggung pihak atau instansi manapun... jadi mohon untuk bisa membedakan mana dunia nyata dan novel ya gengs🥰
Mohon bantuannya untuk like, share, komen, vote, masukin list fav biar tau kelanjutan ceritanya, agar Author semangat Up episode barunya😊
Hayo loh, siapa yang ingat! antek-antek Willy satu persatu... jangan lupakan setiap titik pentingnya!
.
.
.