
Setelah kembali masuk kedalam ruangan tersebut, Milea menarik nafas panjang dengan mata tertutup. Tak berani melihat ratusan foto foto ibunya yang mana bisa saja membuatnya kembali pusing.
"You can do it. Cheers Milea!!" Lirihnya menyemangati diri. Menarik nafas panjang, perlahan Milea membuka matanya menghadapi ratusan kenyataan yang ada di depan mata.
"Ssttt..." mulai sudah. Milea mulai merasakan kepalanya pusing, dan cepat cepat dia menundukkan kepalanya.
"Huft..."
Dengan tekat penuh keyakinan, Milea kembali mengangkat wajahnya penuh ketegasan. Setelah dirasa tidak lagi sakit kepala, Milea cepat cepat menyusuri setiap sudut ruangan mencari barang yang ia cari.
"What? Seriously? Di sini gak ada apa apa selain foto. Lalu di mana papa menyimpan rekaman rekaman itu?!" Gerutu Milea bertolak pinggang memikirkan tempat mana yang Rahardian gunakan untuk menyimpan bukti bukti tersebut.
"Huft... mungkin ada di luar," gumam Milea berjalan pergi, namun tiba tiba terjatuh saat tak sengaja menginjak sesuatu hingga dirinya menabrak foto foto yang ada.
Brukh
"Awhh sssttt..." Milea meringis sakit memegangi bahu dan juga pergelangan kakinya, tapi sesaat kemudian dia terpaku melihat foto tersebut terbuka menjadi seperti pintu loker.
"Hah?" Tak percaya sebenarnya saat menyadari papanya sangat pandai menyimpan barang bukti di tempat paling tersembunyi yang bahkan orang lainpun tidak akan bisa tahu. Tapi ya sudahlah, dengan begitu dia mendapatkan kemudahan untuk mencari buktinya.
Tapi karena penasaran, Milea membuka foto yang satunya dan sama seperti pintu pertama, hanya saja berbeda jenis barang yang ada di sana.
"Hmmm foto yang mana yang papa jadikan penyimpanan barang bukti itu? Tidak mungkin juga aku membuka ratusan foto ini satu persatu, keburu papa pulang nantinya,"
Sembari melihat sekitar, mengira ngira foto mana yang Rahardian jadikan penyimpanan bukti. "Barang penting, mestinya bersembunyi di balik foto yang penting juga. Jadi..." Milea tersenyum menyeringai menatap foto terbesar yang berada di bagian tengah.
Foto pernikahan Rikha dan Rahardian.
Klak
"Heh, sesuai dugaan." Gembira hati Milea saat berhasil menemukan rekaman yang dapat menjadi bukti nyata meninggalnya Anna, sahabatnya. Tapi sejenak dia bingung saat melihat ada satu rekaman lagi yang terlihat usang dari cctv keluaran terdahulu. Karena penasaran, Milea memasukkannya juga kedalam saku lalu pergi dari sana secepat mungkin.
"Tinggal mencari bukti kematian ibu, dan bukti pelecahan yang dilakukan Satria pada Anna. Heh. Satria... aku hampir melupakan pria bejat itu. Tapi untuk kenangan buruk yang ia buat, aku tidak pernah lupa, dan tidak akan pernah. Karenanya, akan aku pastikan kamu bertanggung jawab atas perlakuanmu pada Anna dahulu," gumam Milea penuh tekat kuat.
Tak tak tak tak
"Bagaimana nona?" Tanya Ben tak sabaran menunggu Milea menyambungkan rekaman pada layar laptopnya.
"Sabar!"
Tak
Rekaman terputar. Dari Anna yang terlihat bersitegang dengan Bianka di koridor lantai dua, hingga Anna hendak bunuh diri. Yang Milea tak sangka adalah, Bianka terlihat di sana dengan santainya menonton sambil merekam aksi bunuh diri Anna dari balkon lantai tiga.
"Kamu salin rekaman ini dan kembalikan kedalam ruangan papa kembali. Jangan sampai papa curiga karena rekamannya hilang," pinta Milea menyerahkan rekaman itu pada Ben dengan tatapan sulit diarti.
"Ba-baik nona." Ben mengusap tengkuknya yang meremang dan segera pergi menyelesaikan tugas yang Milea berikan.
"Ah benar. Aku masih memiliki satu rekaman lagi." Sambar Milea dengan cepat mengeluarkan rekaman satunya lalu menyambungkannya dengan laptop.
Tak
Milea menekan tombol play lalu bersandar santai menonton rekaman penting apa yang Rahardian sembunyikan di ruang Rahasia itu.
Brak brak brak
Baru bersandar Milea sudah dibuat kaget mendengar suara keras yang berasal dari vidio. Masih dengan keterkejutannya, Milea melihat sebuah mobil terguling bersama dengan rekaman yang amburadul karena mengikuti gerak mobil tersebut.
"Gak mungkin...." Milea menggeleng tak percaya dan cepat cepat menyalin rekaman tersebut lalu menyimpan keduanya di tempat yang aman.
"Papa... kamu benar benar jahat!!" Lirih Milea mengepal tangan emosi saat tahu kejahatan papanya yang tak termaafkan.