
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
⚠Disarankan untuk membaca dari awal takutnya, tidak paham!!!
So... I Hope Enjoy The Story
...****************...
"Memikirkan apa?" tegur Glen, yang baru saja keluar dari kamar mandi
"Tidak, aku hanya kepikiran apa alasan Regan melakukan hal gila seperti ini, melihat dari cara dia menyuruh Mike melakukan peniruan terhadap pembunuh*n Arka, membuatku yakin jika dia pergi terlalu jauh selama ini" jawabnya, dan hanya di angguki pelan oleh Glen
Pria itu memang tahu semuanya, setelah Serin menceritakan padanya, dan sejauh ini hubungannya dan Serin memang jauh lebih terbuka satu sama lain
"Sayang! bisakah kamu tidak terlalu fokus pada itu dulu, lagian pembun*h Darin juga sudah tertangkap bukan!" ucap Glen, mendudukan dirinya di samping istrinya
"Kamu bisa, kan memberikan kasus ini pada yang lain.. jangan membuatku selalu khawatir Serin" tambah Glen, tanpa mengalihkan pandangannya dari Serin
"Kamu kenapa tiba-tiba melarangku seperti ini?" tanya Serin tidak habis pikir, pasalnya waktu itu Glen sudah janji akan membiarkannya tetap melakukan pekerjaan-nya
"Aku tau kamu handal dalam hal ini, tapi kamu tetap seorang wanita dan dia pria yang notabennya lebih kuat darimu, di tambah kamu sedang hamil, ada darah dagingku di dalam rahimmu, dan aku tidak ingin hal apapun terjadi selama masa kehamilanmu!" jawab Glen menggenggam erat kedua tangan Serin
"Sayang aku tahu kamu tidak akan seperti ini jika tidak ada apa-apa? katakan apa yang terjadi! jangan menyembunyikan sesuatu dariku" ucapnya menatap curiga pada suaminya
"Tidak ada, aku hanya punya ke khawatiran lebih karena kamu sedang hamil" jawab Glen
"Kamu yakin?" tanyanya lagi memastikan
"Iyaa, tidak ada apa-apa" jawab Glen dan hanya di angguki pelan oleh Serin
"Jadi kamu akan melepaskan kasusnya sekarang?" tanyanya lagi
"Aku tidak bilang akan melepaskan kasusnya! Glen, kamu sudah janji waktu itu akan membiarkanku melakukan pekerjaanku.. apa kamu akan mengingkari-nya sekarang?" jawab Serin, tetap pada pendiriannya
Mendengar jawaban Serin membuat Glen menghela napasnya, "Yasudah! kita hentikan saja pembahasan-nya, sekarang tidur" ucap Glen membawa Serin kedalam pelukannya seraya menarik selimut untuk menutupi setengah tubuh mereka
...****************...
"Tidak bisa begini dong pak! kalau begini caranya kalian tidak profesional, progres pembangunan sudah mencapai 13% lalu kalian meminta pembatalan kontrak?!" ucap seorang pria pada lawan bicaranya
"Kami akan membayar ganti rugi, dan kontrak kerja kita berakhir" jawabnya enteng
"Dengar pak! disini bukan masalah ganti rugi, tapi keseriusan kalian terhadap perusahaan kami, kalau dengan mudahnya kalian membatalkan kontrak seperti ini, saya juga bisa" sahut Glen dengan rahang yang mulai mengeras
"Saya setujui permintaan anda, kita batalkan kontrak ini. lain kali jangan berani memakai jasa perusahaan besar jika ujungnya akan seperti ini, terimakasih" ucap Glen bangkit dari duduknya
"Vin urus ini, dan datang keruangan ku 5 menit lagi dari sekarang" tukasnya, dan pergi dari ruangan tersebut meninggalkan yang lain
"......"
Glen mendudukkan diri di kursi kesayangan-nya, dengan emosi yang sedang ia tahan
Tok... tok... tok...
"Masuk" jawab Glen
Vina masuk dengan beberapa berkas di tangannya
Ia meletakkan berkasnya dengan tenang agar tidak membuat atasannya itu semakin kesal
"Bagaimana dengan yang tadi?" tanya Glen
"Sedang di urus oleh Max, pak!" jawabnya
"tolong tambahkan jadwal meeting malam ini, kita perlu evaluasi agar tidak berhadapan dengan klien seperti mereka lagi" titahnya, dan tentu saja di angguki oleh sekretarisnya
Glen menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi, sambil memijat pelipisnya
"Seharusnya aku memastikan seluruh kontraknya dulu waktu itu, agar mereka tidak bisa main batalkan seperti ini" rutuknya, mengacak frustasi rambutnya
📳Drrttt
📞In Call-
"Sedang apa?"
"Kerja sayang"
"Ah. benar juga, kamu mau makan malam apa? aku akan memasakkannya untukmu!"
"Tidak biasanya kamu bertanya seperti ini?"
"Setidaknya aku tidak bertanya pada pria lain!"
"Jangan!!!"
"Hahaha ... kirim keinginanmu lewat pesan, nanti ku buatkan"
"Iyaa, aku akan mengirimkan-nya nanti"
"Yasudah selamat bekerja suamiku"
📞End Call-
"Tadi dia bilang apa?" gumamnya, salah tingkah sendiri
"Obat terbaik untuk stress" gumamnya lagi, seraya tersenyum simpul
Glen kembali melanjutkan pekerjaan-nya, yang padahal ia sedang tidak mood untuk melanjutkan-nya, tapi setelah mendapat telpon dari istrinya, rasanya suasana hatinya jauh lebih baik
...****************...
"kau tau kenapa aku tertarik dengan benda ini?" tanya seorang pria paruh baya, pada seorang pria yang duduk di sofa panjang
"Untuk apa?" sahutnya singkat
"Agar para polisi tidak bisa menangkap ku, katanya kalau kita punya tangan polisi, maka para detektif sialan itu tidak akan menangkapmu" jawabnya
"Bukankah itu terdengar seperti takhayul!" balas pria tadi
"Tidak! ini bukan takhayul, aku sudah membuktikan-nya.. dan aku percaya jika ini memang bagus sebagai penangkal untuk menjaga kesuksesanku" jelasnya
"Kau menyamakan itu sebagai jimat?" tanya pria yang lebih muda darinya itu
"Bukan jimat, ini adalah benda kesayanganku" jawabnya, mendengar itu membuat senyum tipis dengan tersirat remehan tertarik dari sudut bibirnya, atas penuturan dari pria paruh baya tersebut
"Baiklah, apa kau juga memerlukan yang lain, kaki mungkin?" tanyanya enteng
"kaki terlalu besar untuk ku simpan, lain kali saja" jawab pria paruh baya tersebut, dimana ia sedang duduk di kursi kejayaannya, sambil mengelus-ngelus benda kesayangan-nya
"Bagaimana dengan pencalonanmu, apa semuanya berjalan lancar?" tanyanya lagi
pria itu hanya tersenyum miring, untuk menjawab pertanyaan dari pria paruh baya tersebut
"Anda tidak perlu khawatir, apa yang kulakukan pasti berjalan dengan lancar" ucapnya bangga, lalu bangkit dari duduknya untuk pergi dari ruangan tersebut
...****************...
"Kenapa akhir-akhir ini Serin jarang ke kampus?" tanya Ravin pada Dilla, karena hanya memang Dilla yang mengetahui tentang kehamilannya
"Kau tahu sendiri bukan, jika Serin adalah ketua tim dari Black Swan of Inteligens pasti dia sedang sibuk sekarang" jawab Dilla tanpa menatap Ravin
"Kan, ada internet" sahut Dilla
"Benar juga" gumam William, "kita lanjut bicaranya nanti saja, nanti di tegur dosen" ucap Dilla dan di angguki paham oleh yang lain
...****************...
"Ayah dimana bu?" tanya Reyhan yang baru saja duduk di kursi meja makan
"ibu juga tidak tahu, mungkin sebentar lagi dia akan pulang" jawab Serin dan mendapati anggukan dari putra kecilnya tersebut
"......"
Hampir 30 menit mereka menunggu, tapi Glen sama sekali belum datang, telpon dan pesan yang dikirim Serin bahkan tidak dibalas atau di angkat
"Sayang kita makan saja, pasti Ayahmu sedang banyak pekerjaan hari ini" ucap Serin, seraya mengisi piring Reyhan dengan makanan yang sudah tersedia
"Baik bu" sahutnya lembut
Di tengah makan malam mereka, datang seorang pria yang tak asing lagi bagi Serin
Ia bangkit dari duduknya untuk menghampiri pria tersebut, meninggalkan Reyhan yang sudah ia suruh untuk tetap menyelesaikan makan malamnya
"......"
"Ada keperluan apa paman datang?" tanyanya dengan nada ramah, karena pria yang ia ajak bicara adalah paman dari suaminya
Steve bicara to the point atas kedatangan-nya kerumah Glen
"Apa kau tidak bisa bicara dengan Glen, agar mencabut tuduhan atas Ryan?" ucapnya sukses mendapat tatapan tidak percaya dari Serin
"Maaf paman, tapi keputusan itu sepenuhnya ada di tangan Glen aku tidak punya kuasa untuk memutuskan itu" tolaknya halus
"Dia tidak tahu diri atau bagaimana? buktinya sudah nyata tentang kebersalahan anaknya, dan sekarang minta pembebasan, Ck" gumamnya dalam hati
"Aku sudah bicara dengan Glen, tapi dia tidak mau, jadi cobalah kau bicara padanya, Glen pasti akan mendengarkan ucapanmu" bujuk Steve
"Aku akan coba bicara dengannya saat dia datang, kalau paman belum makan malam, bisa bergabung dulu dengan kami" tawar Serin
"Tidak perlu, aku sudah makan malam saat di perjalanan ke sini" tolaknya halus, dan hanya di angguki oleh Serin
"......"
Setelah kepergian Steve, ia kembali kemeja makan untuk melanjutkan makan malamnya
Tapi baru saja makanan akan masuk kedalam mulutnya, perutnya sudah lebih membuat masalah
Dengan tergesa-gesa Serin berlari menuju wastafel untuk memuntahkan makanannya dibantu Sella
"Nona baik-baik saja?" tanya Sella mengelus lembut tengkuk leher Serin
"Hmm. aku baik-baik saja bi" jawabnya seraya mengelap bibirnya dengan tisu
Baru saja Serin selesai, Glen datang menghampiri nya dengan tergesa-gesa juga
Bukannya menanyakan keadaan istrinya, pria tampan itu malah ikut mual seperti istrinya
Serin menaikkan sekilas salah satu alisnya, lalu membantu Glen dengan memijat tengkuk lehernya
"Sebenarnya yang hamil kamu atau aku?" gumam Serin terkekeh kecil
"Apa ada bayinya juga di sini?" tanyanya lagi sambil mengusap perut Glen dengan jahilnya
Glen membuang tisunya ke bak sampah, lalu berpaling menghadap istrinya dengan satu tangan yang bersangga di sisi wastafel
"kalau ada bayi-nya disini, kamu tidak akan bisa lagi melihat pemandangan indah dariku" sahut Glen menaikkan sekilas alisnya, menggoda sang istri
Serin memutar malas bola matanya, dan memilih untuk berlalu meninggalkan suaminya sebelum pria itu semakin menggodanya
"Ibu baik-baik saja?" tanya Reyhan yang dari tadi duduk di kursi meja makan, karena Serin menyuruhnya untuk tetap di sana
Serin hanya mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaan putranya, lalu pergi dari ruang makan untuk ke kamar, karena mau dilanjutkan pun selera nya sudah tidak ada lagi
...****************...
Dengan rantai yang di ikatkan ke sekeliling tubuhnya, membuat pria yang satu ini tidak bisa lolos dari jeratan anak buah Serin
Bibirnya begitu pucat, karena tidak di beri air hampir 2 hari oleh Geralt
"Kalian menjebakku?" lirihnya dengan nada lemah, menatap sayu beberapa pria yang berdiri di depannya
"Doni, ini... pegang ponselnya dengan benar" tukas Geralt memberikan sebuah ponsel pada Doni, dimana panggilan di telpon tersebut telah tersambung dengan Serin
"Night, bagaimana kabarmu?" sapanya dari dalam telpon
"Kau~"
"Iyaa, aku! kau pikir aku bodoh akan termakan oleh wajah polosmu itu? Hah. tidak akan mungkin" sahut Serin tersenyum remeh
"Ternyata yang di katakan Regan benar" gumam Van dalam hatinya, dengan wajah menunduk
"Benar! apa yang bos-mu katakan itu sangat benar" tukas Serin, sukses membuat Van langsung menatap kelayar ponsel
"kau dijuluki sebagai Grim reaper, tapi semudah ini masuk kedalam perangkapku? Ck." ~ Serin
"Kau mau tau kenapa aku bisa dengan mudah mendapatkanmu?" tanyanya menatap Van, dengan tatapan yang tidak bisa di artikan
"Itu karena kau selalu merasa kau yang paling kuat, kau yang paling di takuti oleh orang lain karena kau seorang psikopat gila, dan kau berpikir jika kau bisa menang dan memanipulasi diriku, tapi sayangnya itu pilihan yang salah, kau terlalu naif jika berpikir bisa memanipulasiku karena aku sudah lebih dulu memanipulasi dirimu" ucapnya tersenyum licik
"Jika kau berpikir akan mendapatkan banyak hal dariku itu sa-- "Itu salah besar! karena aku tidak akan mengatakan apapun" potong Serin, yang seakan tau apa yang ingin di ucapkan Van
"Aku sudah hafal dengan kalimat ini, jadi jangan membuatku muak dengan kau mengucapkannya lagi, apa kalian para penjahat tidak punya kalimat yang lebih keren selain ini" remehnya, sambil memegang kuping nya sebentar
"Jika kau bersikeras untuk menutup mulutmu itu, baiklah! aku tidak keberatan... tapi jika kau pikirkan lagi, apa menurutmu bos-mu itu akan menyelamatkanmu? Tidak akan! aku yakin kau tau hal itu,,, jadi sebelum kau mati kehausan di sini pikirkanlah baik-baik, setidaknya saat kalian di tangkap. kau punya teman satu sel" ucap Serin, sukses membuat wajah Van memerah karena amarah, bahkan ia menatap Serin dengan tatapan membunuh
"Berhenti menatapku seperti itu, aku takut kau akan suka denganku, bukan begitu Geralt" ucap Serin
Geralt dan yang lain hanya tersenyum tipis atas candaan wanita yang satu ini
"pokoknya, pikirkan lah malam ini... karena aku yakin kau tahu sendiri bagaimana bos-mu, Mike saja ia b*nuh dengan mudah, apalagi dirimu" ujarnya, memberi pemahaman agar pria itu mempertimbangkan ucapannya, karena walau bagaimanapun apa yang dikatakan Serin memang masuk akal
Jika Mike saja bisa dihabisi dengan mudah, bahkan tanpa jejak tentunya itu juga akan berlaku untuk Van
"Geralt, kalian urus dia. ingat jangan sampai kebobolan seperti Larisa waktu itu" peringat Serin dan di angguki paham oleh anak buahnya
"Baiklah, kita lanjutkan nanti" ~ Serin
Setelah mematikan panggilan telpon, Geralt beralih pada Van, dimana ia sedang memegang segelas air di tangannya
"Seharusnya pembun*h sepertimu tidak pantas mendapatkan ini" ucap Geralt, meminumkan segelas air pada Van. agar pria itu tidak mengalami dehidrasi parah
"......"
Memastikan semuanya aman, Geralt dan yang lain keluar dari ruangan tersebut untuk melakukan pencarian mereka tentang siapa saja yang telah menjadi korban Van, lewat sebuah Flashdisk yang mereka dapat hasil mengeledah Apartemen Van
...****************...
.
.
Mohon bantuannya untuk like, share, komen, vote, masukin list fav biar tau kelanjutan ceritanya, agar Author semangat Up episode barunya😊
.
.
.