Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Yogyakarta


Menempuh perjalanan cukup lama, empat orang pemuda keluar dari dalam pesawat menuju bandara Internasional Adisutjipto.


Dengan menarik koper masing masing, seorang pemuda yang tak lain Zaky melangkah dengan gaya arogannya, tak lupa kaca mata hitam yang bertengger manis sehingga semakin membuat aura kesombongannya. Di samping Zaky ada Milea yang setia mengikuti tuannya kemanapun pergi. Dia tak kalah dari Zaky. Dengan memasang topi hitam serta masker, membuat kesan misterius setiap pertama kali orang memandang.


Berbeda dengan kedua sejoli itu, Haikal nampak yang memiliki wajah tampan itu terlihat tampak memasang wajah sok cool. Wajah songong berpadukan dengan sebelah tangan yang ia masukkan kedalam saku celana membuatnya terlihat seperti orang narsis yang tengah bergentayangan. Terakhir Nala. Dia terlihat biasa biasa saja. Dengan rambut yang di kuncir kuda, dia terlihat sangat girly.


Keempatnya keluar dari bandara bersama dan langsung disambut ramah oleh orang suruhan Bagas yang akan menjemput mereka.


"Selamat datang tuan muda." Sapa hangat dari sekretaris kepercayaan Bagas. Nando Arianto.


Zaky hanya mengangguk lalu masuk kedalam mobil yang sudah disedia 'kan oleh papa angkatnya itu. Di sepanjang perjalanan, keempatnya diam tanpa ada yang berniat membuka pembicaraan.


Haikal tersenyum kecil melihat binar antusias Nala saat memandangi jalanan kota yang cukup padat. Nala tersenyum lebar lalu menoleh kearah Milea yang duduk di depan bersama dengan Sekretaris Nando.


"Jadi setelah kelulusan waktu itu kamu tinggal di sini le?" Tanya Nala nampak begitu semangat.


Milea melirik Nala lewat kaca spion lalu beralih melirik Zaky yang juga membalasnya. Hingga seperkian detik, Milea langsung mengalihkan pandangannya kejalanan.


"Hm."


Nala melirik sahabatnya cemberut. Beginilah jika temannya yang satu ini pasang mode cuek. Apa yang ditanyakannya hanya di jawab,


"Hm. Oh. Iya. Tidak. Biasa aja. Terserah." Bawaaannya pengen kesel mulu jadinya. Tapi, dia dapat maklumi, karna jika dalam mode seperti itu berarti sahabatnya sedang banyak pikiran.


Sekitar satu jam lebih perjalanan, akhirnya mobil itu pun masuk kedalam sebuah pekarangan rumah minimalis sederhana dengan dua tingkatan.


"Kita sudah sampai tuan muda." Ucap Nando. Tak lama setelah itu, beberapa pengawal yang berjaga langsung membukakan pintu untuk tuan muda serta teman temannya.


"KAK LEAAA..." teriakan cempreng terdengar menggema di kala Milea menapakkan kakinya di atas tanah. Seorang gadis kecil yang tinggal menghitung hari lagi berusia 9 tahun itu berlari antusias saat melihat Milea yang sudah ia anggap seperti Kakaknya sendiri.


"Ciaa..." Milea merentangkan kedua tangannya menunduk sedikit untuk menyambut pelukan adik atasannya itu.


"Suci kangen Kak Lea." Seolah tidak ingin terpisah lagi, Suci begitu memeluk erat Kakak kesayangannya yang baru.


"Ekhm. Cuma Kak Lea nih yang dipeluk?" Sindir Zaky pura pura kesal, meskipun beneran iya. Di sinikan dia yang Kakak, kenapa Milea yang lebih dulu dapat pelukan? Sedangkan wanita itu hanyalah pengawalnya.


"Hehee Suci kangen Kak Zaky juga." Suci berlari menerjang Kakak kesayangannya, dan dengan sigap Zaky menyambutnya. Membawa tubuh kecil gadis itu kedalam gendongan.


"Namanya Sucianna Alexander, orang orang biasa memanggilnya Suci. Beda dengan Zaky, dia manggil Suci dengan panggilan Anna. Sama seperti nama adiknya yang sudah meninggal. Sedangkan untuk Milea, aku tidak tahu sejarahnya bagaimana wanita itu memanggil Suci dengan sebutan Cia," jelas Haikal.


"Hei girls! Gilirin kakak dong, kamu gak kangen apa sama kak Haikal yang ganteng ini?" ujar Haikal dengan segala kenarsisannya, membuat Nala yang ada di sampingnya sampai minggat saking gak tahan pengen muntah.


"Hehee Enggak!" Tertawa ngakak, Zaky menatap Haikal dengan senyum penuh kemenangan. Bagaimana tidak, Suci dengan anteng menjawab pertanyaan Haikal.


"Huhuu potek ati abang neng," candanya pura pura sedih. Suci turun dari gendongan Zaky lalu berlari memeluk sahabat Kakaknya, Haikal.


"Becanda Kak. Suci juga kangen sama Kakak." Jawab Suci. Haikal yang melihat itu dengan gemas mengacak acak rambut Suci yang dikepang. Memang, gadis berusia 9 tahun itu hanya akan memakai hijab di luar atau ada tamu yang tidak dia kenal, seperti ajaran sang mama yang tertanam di hatinya. Tapi, jika hanya ada papa dan mama di rumahnya, maka dia biasa saja saat tidak memakai hijab.


"Ihh gemesin deh!"


"Hehee coklatnya mana Kak?" Cengengesan, Suci dengan anteng menengadahkan tangannya meminta apa yang dia ingin 'kan.


"Huu ada maunya aja di baikin, 11, 12 sama kakakmu yang kaga ada akhlak itu," dengan dongkol Haikal mengeluarkan coklat yang dia beli di Jakarta sebelum berangkat ke Jogja. Mengingat adik sahabatnya ini sangat menyukai makanan manis.


"Horeee..." mendapatkan apa yang di inginkan, Suci meloncat kegirangan dan berlari masuk kedalam rumah. Hingga tak sengaja menyenggol sang mama yang baru saja selesai dari kamar untuk mengurus bayi besarnya.


"Sayang hati hati, jangan loncat loncat gitu entar jatuh!" Tegur Maulida memperingati.


"Hehe iya maaf ma."


Menggeleng pelan, pandangan Maulida menyapu pada empat pemuda yang masih berdiri di halaman depan dengan koper yang sudah dibawa para pengawal.


"Kalian sudah datang? Ayo masuk! Jangan berdiri di luar aja. Papa Bagas sebentar lagi turun, tadi abis mandi orangnya," ajak Maulida pada empat pemuda itu untuk masuk.


"Iya tante/bu/ma," jawab keempatnya serempak dengan panggilan yang berbeda. Mereka pun melangkahkan kaki memasuki rumah.


"Silahkan duduk, Mama buatin minum dulu ya." Maulida pamit menuju kedapur mengambilkan minum untuk keempat pemuda tersebut. Sudah sepatutnya sebagai tuan rumah menyambut tamu layaknya raja. Karna Maulida pernah mendengar ceramah, bahwa tamu adalah orang yang menyelamatkan rumah kita.


Pernah ada seorang umat muslim yang mengeluh karna sering kedatangan tamu dan selalu menjamunya. Hingga dia berkeluh kesah pada baginda Rasullah. Namun, siapa sangka? Saat untuk kesekian kalinya dia mendapat tamu. Dia di beri penglihatan lebih dari Allah. Di mana setelah kepergian tamu itu, berbagai macam hewan berbahaya keluar dari rumahnya. Hewan itu bisa diartikan dengan segala macam keburukan yang di bawa keluar bersama dengan tamu itu.


Sungguh luar biasa. Allah maha besar dan mengetahui segala tentang umatnya.