Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
kunjungan orang tua


Cklek


"Zaky!!" Keduanya sama sama menoleh kearah pintu saat mendengar teriakan seseorang yang masuk kedalam.


"Mama? Papa? Bagaimana kalian bisa ada di sini?" Tanya Zaky kaget saat orang tuanya tiba tiba datang menjenguknya. Padahal dirinya sama sekali tidak memberi tahu siapapun tentang keadaannya yang berada di rumah sakit. Kecuali, Milea menelfonnya.


Plak


"Awh" Zaky meringis sakit sambil mengusap usap kepalanya saat dengan keji papanya Bagas memukul kepalanya tanpa rasa kasihan.


"Apa perlu kami beritahu ha?! Hal seperti ini kau tidak memberi tahu kami? Untung Reza mengabari tadi malam, jika tidak mungkin anak tidak tahu malu sepertimu tidak akan mengadu apa apa pada kami." Omel Bagas berkecak pinggang, membuat Zaky memutar bola mata malas.


Plak


"Mas ih! Anaknya lagi sakit juga malah diomelin. Kamu baik baik aja sayang? Ada yang sakit?" Ketus mamanya Maulida lalu menatap lembut putranya.


"Duduk di sini nyonya!" Maulida tersenyum lembut lalu duduk di kursi tempat Milea tadi duduki. Tidak enak juga melihat orang yang lebih tua berdiri sedangkan dirinya duduk. Terlebih lagi dia adalah orang tua bosnya.


"Mama lihat sendiri, Zaky baik baik aja." Tutur Zaky santay. Dalam hati dia mengumpat kelakuan om Reza yang seenaknya mengabarkan keadaannya kekampung halaman. Pasti saat dia tak sadar yang menanganinya adalah dokter sialan itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa masuk rumah sakit?" Tanya Bagas bersikap tegas. Ketibang orang tua, menurut Milea mereka lebih cocok jadi adik kakak. Buktinya obrolan mereka bukan seperti anak dan orang tua pada umumnya, tapi sudah seperti dua sahabat yang berbeda umur. Mungkin karna tidak sedarah dengan umur terpaut tak cukup jauh membuat interaksi mereka lebih terasa santay.


Milea mulai menunduk. "Maaf pak, saya lalai dalam menjalankan tugas. Tuan muda seperti ini karna saya tidak mengawalnya dengan benar. Jika saya ikut menemani tuan muda, ini pasti tidak akan terjadi." Sesalnya dengan tangan bertaut.


" Milea, jangan menyalahkan dirimu!! Aku yang menginginkan pergi sendiri, jadi ini adalah resiko yang aku buat. Ini semua bukan kesalahanmu!" Zaky menatap Milea tak enak, karnanya pengawal polos itu jadi menyalahkan dirinya sendiri.


"Tidak tuan, seharusnya saya tidak lalai dalam bertugas, apalagi membiarkan anda pergi sendiri tanpa ada kawalan lain. Ini semua salah saya." Bantah Milea tetap kekeuh menyalahkan dirinya.


"Tidak ini bukan salahmu..."


"Salah saya tuan!"


"kamu tidak salah."


"Tidak!!"


"Salah!!"


"Tidak ku bilang tidak!!"


"Saya salah tuan!!"


Bagas dan Maulida saling lirik, lalu tersenyum melihat keduanya. Benar benar lucu, sama seperti mereka dulu. Hanya saja Maulida yang suka marah, sedangkan Bagas selalu pengertian yang memahami sikapnya.


"Kakak kakak kok berantem?" Pertanyaan polos dari Suci menghentikan perdebatan keduanya. Zaky menghela nafas pelan lalu mengusap puncak kepala adiknya yang kini sudah tertutup hijab praktis langsung pakai.


"Kakak gak berantem kok. Cuma lagi debat aja." Jelas Zaky lembut. "Emang berantem ama debat itu beda ya kak?" tanya Suci polos.


"Beda dong. Kalo berantem itu ada adegan tonjok tonjokannya, nah kalo debat ya kayak kakak tadi. Adu mulut!" Sekali lagi. Zaky dengan sabar menjelaskan pada Suci agar bocah berumur 8 tahun itu paham.


"Ohh gitu ya kak?"


"Heh bocah tengik!! kamu belum menjelaskan pada kami. Siapa gadis ini dan apa yang sudah terjadi padamu hingga bisa masuk rumah sakit?!" Cecar Bagas mulai gemas sendiri dengan anaknya itu yang kesannya mengulur ulur pembicaraan.


Zaky menghela nafas pelan. "Dia pengawal Zaky. Namanya Milea," ucapnya menatap Bagas tenang.


"Pengawal? Heh malu maluin banget kamu! Masa cowok dikawal cewek? Apa kata dunia?!" Heboh Bagas tak berubah layaknya dulu semasa muda.


"Dunia gak banyak komen, karna sekarang dunia udah terbalik." Sambar Maulida santai.


"Sayang kamu ih... belain aja terus anaknya, suamimu gak usah dianggep. Sebel deh.." Milea terkekeh kecil melihat interaksi keluarga kecil itu. Hanya terasa menghangat, memikirkan seandainya dia lahir di keluarga yang seperti ini. Pasti dia akan sangat bahagia. Tapi, seketika dia sadar. Semua itu tidak akan pernah terjadi, karna tuhan sudah menakdirkan dirinya untuk hidup di dalam keluarga yang kejam tanpa belas kasih.


*S*eandainya Ibu masih ada di sini, Milea udah seneng banget bu.. cukup Ibu, Milea gak minta apa apa. Bu... Milea rindu... batin milea mencoba menahan air mata yang sudah berada di pelupuk mata, siap terjun bebas kapan saja.