
"MILEA!!"
Tap
Milea menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah belakang, di sana terlihat seorang pria berlari menghampirinya dan berdiri di sisinya menyesuaikan langkah kaki Milea.
"Ada apa pak?" Tanya Milea minat tidak minat lalu melanjutkan langkahnya yang ingin pergi membuatkan jus untuk tuannya itu.
"Begini, lusa kamu ada waktu tidak?" Tanya pria itu yang tak lain adalah Brian Laksmana.
"Tidak" singkat padat dan jelas. Mendengar itu Brian hanya mampu tersenyum canggung sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oh benarkah?" Milea melirik sekilas gurat kekecewaan terpancar di wajah pria tampan itu.
"Memangnya kenapa?" Tanya Milea fokus pada alat pembuat kopinya. "Ah itu, sebenarnya saya ingin mengundang kamu keacara pernikahan adik saya yang digelar di salah satu hotel milik Tuan Zaky. Tapi, ya sudah jika kamu tidak bisa hadir. Saya tidak memaksa." Ujarnya sedikit kecewa.
"Kita lihat nanti pak, akan saya usahakan untuk hadir," putus Milea membuat semburat harapan di wajah brian.
"Benarkah?"
"Tidak janji." Setelah itu melenggang pergi sambil membawa secangkir jus melon untuk tuannya.
Milea berjalan menapaki koridor menuju ruangan tuannya. Sedari tadi keningnya berkerut, seperti sedang serius memikirkan sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Cih!! Benar benar menyebalkan! Bagaimana bisa laporannya beda begini? Apa yang dilakukan manajer keuangan itu sebenarnya sampai sampai hasilnya tidak sesuai begini? Jangan bilang dia dalang di balik tindak korupsi ini?!" Gerutu Zaky yang sedari tadi terus menerus membedakan hasil laporan keuangan yang asli dan yang palsu.
"Tapi suaranya berbeda tuan," potong Milea yang sedari tadi merasa sedikit risih saat tuannya terus menerus memaki maki manajer keuangan itu. Bukannya ingin membela, hanya saja dia belum benar benar yakin kalau manajer keuangan itu sebenarnya dalang di balik tragedi selama ini.
Jika menurut asumsi bukti yang ada, suara mereka memang jauh berbeda. Tapi, berdasarkan kesamaannya yang entah disengaja atau tidak, semua ini terus mengarah kearah Brian.
"Lalu jika bukan dia siapa Milea? Tidak mungkin hantu bukan?" Dengus pria itu merasa sedikit kesal di hatinya saat merasa Milea membela manajer keuangan itu.
"Saya juga tidak yakin siapa tuan, tapi menurut suaranya, mereka bukan orang yang sama. Mungkin itu orang lain, tapi tidak tahu apakah pak Brian terlibat juga atau tidak," jawab Milea sebisa mungkin mendinginkan emosi tuannya yang sedang berapi itu.
"Huft..."
Tok tok tok
Cklek
"Ini minum anda tuan," Zaky hanya melirik sekilas lalu mengangguk pelan. Milea kembali berjalan duduk di sofa dan memainkan gawainya.
"Milea..."
"Iya tuan?"
"Lusa temani saya pergi ke acara pernikahan rekan bisnis yang rencananya akan digelar di salah satu hotel milik keluarga Alexander," Milea terdiam dan mengingat kembali undangan langsung dari Brian.
"Terserah anda tuan, saya ikut saja. Karna sudah menjadi tugas saya untuk selalu menjaga anda selama 24 jam." Jawab Milea.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita belanja!" Zaky beranjak dari duduknya, membuat Milea ikut beranjak bangun.
"Belanja tuan?"
"Tentu saja, kau tidak mungkin ingin memakai pakaian seperti biasanya 'kan saat sedang berada dipesta?"
"Tapi saya memiliki beberapa gaun kok tuan di apartemen," ucap Milea mencoba menolak ajakan tuannya secara halus.
"Ya sudah, kita belanja keperluanku saja kalau begitu. " Jawab Zaky cuek, meskipun ada sedikit rasa kecewa di hatinya mendengar penolakan dari Milea.
Keduanyapun segera melaju menuju Mall untuk mencari keperluan yang dibutuhkan tuan besarnya itu untuk menghadiri acara pesta pernikahan rekan bisnisnya.
"Sayang..." Tap. Langkah keduanya terhenti saat mendengar suara familiar itu. Rasanya mereka hari ini sedang sial karna harus bertemu dengan Bianka Rahardian Kusuma.
"Kamu kemana aja sih seminggu ini sayang? Aku telpon gak diangkat, aku SMS gak dibales. Segitu sibuknya kamu sampe gak ngasih kabar sama sekali?" Gerutu Bianka membuat Milea memutar bola mata malas.
"Maaf sayang, kemarin aku masuk rumah sakit, jadi gak bisa ngehubungin kamu," jawab Zaky apa adanya.
"Apa?! Kamu masuk rumah sakit sayang? Kok bisa? Mana yang sakit sayang? Kok kamu gak bilang sih sama aku kalo kamu sakit, kan aku bisa jagain kamu di sana," entah memang panik atau pura pura panik, yang pasti Milea tidak suka dengan pemandangan yang menurutnya sangat menjijikkan ini.
"Aku gak apa apa kok. Cuma luka ringan aja, sekarang udah sembuh."
"Syukurlah kalo gitu. Emmmm, sayang... Stok make up aku udah hampir habis, kamu mau ya temenin aku belanja?" Pinta Bianka memelas.
"Mulai sudah." Gerutu Milea pelan saat ujung ujungnya yang diinginkan seorang Bianka adalah belanja, belanja dan belanja. Membuat orang kesal saja melihatnya.
"Tapi---"
"Yah yah sayang... Aku mohon... Please.." Zaky menghela nafas sejenak, ekor matanya mulai bergerak untuk melirik sang pengawal, mencari pendapat terbaik untuk ia ambil. Milea yang memahami itu hanya mampu menggidikkan bahu acuh tak acuh.
"Huft... Ya udah ayo."
"Beneran sayang? Uhhh makasih sayang, kamu emang yang terbaik. Ayo sayang kita pergi." Milea hanya bisa pasrah mengekor di belakang keduanya sembari memegang tas belanjaan Bianka yang tadi hanya ingin membeli make up, sekarang menginginkan lebih. Ada saja alasan dia untuk membujuk Zaky agar membelikan apa yang dia inginkan.
Sampailah pada saatnya kini giliran Zaky yang pergi mencari pakaian yang cocok untuk ia kenakan lusa nanti diacara pernikahan rekan kerjanya.
"Sayang, kayaknya ini cocok deh buat kamu. Warna bagus, sesuai buat kamu." Bianka menodongkan jas berwarna merah maron ketubuh Zaky untuk mempaskannya di tubuh atletis pria itu.
"Apa ini tidak terlalu mencolok?" Dengan ragu Zaky mendorong perlahan baju itu dari tubuhnya karna warna itu tidak sesuai dengan keinginannya. Dia tidak suka warna yang menurutnya terlalu mengundang perhatian, dia lebih menyukai warna yang kalem.
"Bagaimana dengan ini tuan?" Milea yang sedari tadi diam diam memilihkan baju yang cocok untuk tuannya kini mulai mengutarakan pendapatnya.
Sebuah jas berwarna coksu yang menurut Zaky pas untuknya. "Bungkuskan yang ini!" Tanpa ragu, Zaky langsung meminta pegawai toko untuk membungkuskan jas yang dipilihkan Milea untuknya.
Bianka melirik Milea dengan tajam, dia merasa bahwa gadis sok polos itu sudah mengibarkan bendara perang dengannya. "Sayang... bolehkan aku beli gaun? Aku ingin membeli gaun untuk kepesta pernikahan seseorang," rengek Bianka seperti koala tanpa induk di mata Milea.
Zaky melirik Milea yang sedari tadi tidak ada reaksi sama sekali, lalu mengangguk mengiyakan. Ketiganya pun segera pergi menuju toko yang menjual gaun pesta.
Di sana Bianka sudah seperti ratu yang gonta ganti memilih baju yang cocok untuknya. Sedangkan Milea, gadis itu memilih berjalan mengelilingi toko itu untuk melihat lihat gaun indah yang tentu saja dirancang langsung oleh desaigner terkenal.
Tap
Langkah terhenti. Ditatapnya lekat lekat sebuah gaun bermotif kupu kupu berwarna biru muda. Dia terdiam sejenak, pikirannya melayang membayangkan seseorang di masa lalunya.
"Lea bagus tidak rancangan ku?" Tanya seorang gadis polos sambil menunjukkan hasil rancangan di bukunya.
Milea terlihat kagum saat melihat lukisan sahabatnya yang menggambar sebuah gaun selutut dengan jaket sebatas perut untuk menutupi bagian lengan. Gaun itu terlihat indah dengan warna biru muda dan hiasan kupu kupu di bagian bawahnya.
"Woaahhh bagus sekali. Kau pandai sekali membuatnya!" Decak kagum dari Milea tidak luput sama sekali.
Gadis itu nampak tersipu malu. "Hehe. Kalau besar nanti, aku pengen jadi desaigner, biar bisa bikinin Lea gaun indah ini... pokoknya gaun ini khusus untuk Lea seorang."
Milea memandang datar gaun itu. Ada perasaan yang tidak dapat diutarakan lewat kata kata. " Heh! " Milea mendengus, berlalu meninggalkan gaun itu.
Dari kejauhan, Zaky sedari tadi melihat semua gerak gerik Milea. Dari mengelilingi toko, hingga melamun menatap gaun itupun tidak luput dari pandangan Zaky.
"Kamu kemari!" Panggil Zaky pada salah satu pegawai yang ada di sana. Wanita itu segera menghampiri Zaky.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?"
"Tolong kamu bungkus gaun biru muda bermotif kupu kupu di sana!" Tunjuknya kearah gaun yang berjejer rapi itu.
"Gaun itu merupakan hasil rancangan desaigner terkenal di sini tuan. Dan gaun itu adalah rancangan pertama beliau, dan mungkin tidak akan beliau buat lagi untuk kedepannya. Jadi maaf jika harganya agak sedikit mahal," ucap pegawai tersebut menjelaskan.
"Tidak masalah, saya akan bayar berapapun harganya." Pengawai itu mengangguk sopan dan segera mengambil gaun yang diinginkan Zaky untuk dibungkus.