Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Bertemu Nala


Prrrtttt


Semburan air menciprat membasahi permukaan meja saat seorang wanita hamil menyemprotkannya paksa. Dengan pandangan yang tak percaya dia menggeser geser layar handphone untuk memastikan bahwa yang ia baca bukanlah rekayasa.


"Ya ampun sayang, kamu gak apa apa?" Sambar Haikal meletakkan cepat mangkuk salad buah di tangannya keatas meja, lalu memegang bahu Nala sambil memeriksa setiap sudut bagian tubuh istrinya takut ada lecet di sana.


"Ihh apaan sih sayang! Lepas aku gak bisa gerak!" Omel Nala menepis kasar Kedua tangan Haikal dari bahunya.


"Iya iya maaf," melirik istri sejenak. "Tapi tadi kamu kenapa?" Tanyanya bingung.


"Ini!!" Dengan semangat Nala menunjukkan berita menggemparkan di ponselnya pada Haikal. Apalagi kalau bukan pemberitaan tentang identitas asli Milea?


"I-ini bukankah Milea? Bagaimana bisa?" Sama seperti Nala, keterkejutan tidak dapat disembunyikan saat mengetahui fakta mengejutkan itu.


"Aku juga tidak menyangka, ternyata Milea memiliki identitas lebih tinggi lagi dari sebagai seorang putri bungsu keluarga Rahardian," lirih Nala mengingat temannya Milea penuh kerinduan.


"Pantas saja dulu saat aku mencari identitas aslinya hanya sedikit saja fakta yang dapat ditemukan, ternyata inilah alasannya. Keluarganya benar benar menjaganya dengan sangat ketat," gumam Haikal ingat bagaimana dulu dia susahnya mencari identitas Milea.


***


"Dalam bisnis yang amat diperlukan dan wajib kita kuasai ialah, kreativitas. Tanpa kreativitas, bisnis kita hanya akan sekedar berada di situ saja. Tidak ada kreativitasnya, sedangkan konsumen yang ia butuhkan adalah daya tarik, bukan daya tahan barang itu."


"Itulah mengapa seorang pebisnis harus memiliki daya pikir yang luas. Selain itu, seorang pebisnis juga harus pandai mengatur strategi baik dalam jual beli atau dalam mengatur keuangan." Jelas Zaky panjang lebar.


Menyangga wajahnya dengan kedua telapak tangan sambil menatap Zaky dengan malas. "Kenapa berbisnis sangat merepotkan?" Gumam Milea hampir titik menyerah.


Bugh


Milea terjingkrat kaget saat sebuah buku tebal diletakkan cukup kuat di atas meja. Melirik Zaky dan buku bergiliran. "Apa?" Tanyanya tak paham.


"Ini buku teori dasar dalam berbisnis, baca dan kamu pahami. Jika ada yang tidak kamu pahami, tanyakan saja." Jawab Zaky mengambil duduk di depan Milea.


Wanita itu melirik buku dan Zaky bergiliran, dan dengan ragu dia mulai membuka buku yang tebalnya mencapai tiga jarinya. "Harus dibaca ya? Gak bisa langsung jelasin aja?" Tanya Milea menghiba. Tulisannya kecil, bukunya tebal. Gila aja dia baca buku setebal itu.


"Bilang saja kamu malas membaca!" Cibir Zaky mengambil alih buku dan dengan sabar menjelaskan sedikit demi sedikit teori dasar dalam buku kepada Milea.


"Ohhh..." dengan senyum polosnya, Milea mengangguk mengerti dengan penjelasan Zaky yang singkat namun mudah dipahami.


Melihat senyum itu, Zaky seolah terhipnotis untuk terus menatap wajah Milea. Saat pandangan keduanya bertemu, keduanya seolah enggan menghindari dan terkesan menikmati keadaan.


Dddrrrtt dddrrrtt dddrttt


Pandangan mereka dipaksa putus saat bunyi dering ponsel Milea terdengar berbunyi. Dengan cepat Milea meraihnya dan berjalan menjauh dari Zaky yang salah tingkah.


"Lea..."


Panggilan sederhana itu dari suara lembut perempuan di seberang sana membuat hati Milea menghangat, pandangannya kosong saat mengenal suara siapa itu.


"Mari bertemu di cafe favorit kita dulu," ajak Milea paham sahabatnya itu canggung berbicara dengannya karena identitasnya.


"Baiklah. Aku akan segera kesana..."


Setelah panggilan terputus, Milea menatap lurus keluar jendela yang menampakkan puluhan dan mungkin ratusan gedung dan rumah rumah orang lainnya yang terlihat kecil dari atas sana.


"Hai Milea, lama tidak bertemu. Apa kabarmu?" Sapa Nala kikuk saat mereka telah dipertemukan di cafe favorit Nala, Milea dan Anna dahulu semasa SMP.


Seolah paham tatapan Milea yang tertuju pada perutnya yang mulai membuncit, Nala perlahan mengelusnya. "Aku sudah lima bulan," ujarnya tersenyum senang sambil mengelus anaknya yang berada di balik perutnya yang buncit.


"Selamat atas kehamilanmu, aku turut bahagia melihatmu bahagia. Tidak salah dulu aku mendukung suamimu untuk menculikmu diacara pernikahanmu dulu dengan Riandy," ucap Milea tulus.


"Hahaa aku semakin yakin, pilihanmu tidak pernah salah." Tawa Nala kecil diikuti kekehan kecil dari Milea.


"Jadi?" Sebenarnya ia telah tahu kenapa Nala menelfonnya, tapi kita biarkan sang mulut berbicara.


"Kamu benar cucu Gren Arceleon?"


"Ya."


"Aslikan, bukan angkat?"


"Asli."


Nala menatap Milea dalam, "bagaimana bisa? Setahuku nenekmu menikah dengan orang asli Jogja," ujar Nala tak paham hubungan apanya sehingga Milea cucu asli dari Gren Arceleon.


Tersenyum kecil dengan pandangan menerawang. "Aku sebenarnya juga tidak tahu, tapi setelah aku kabur dari rumah. Aku mulai tinggal bersama dengan nenekku di Jogja. Hingga pada suatu hari, kakek datang kerumah...."


Tok tok tok


"Tunggu sebentar!!" Teriak Milea cepat cepat menyelesaikan cuciannya dan berjalan keluar dari dapur. "Siapa nek?" Tanya Milea menghampiri Fitri yang mematung di depan pintu.


Seorang pria paruh baya berpostur tubuh tegas berdiri di depan pintu dengan pakaian formal, di sampingnya ada seorang yang lebih muda darinya.


"Siapa yah?" Tanya Milea menatap polos pria pria tersebut, karena memang dia tidak mengerti apa permasalahan neneknya dengan Gren Arceleon.


"Kamu..." Gren menatap haru mata polos Milea yang sama persis sepertinya.


"Milea masuk! Dan untuk anda, sebaiknya anda pergi! Kami sedang tidak menerima kedatangan tamu!" Usir Fitri hendak menutup pintu tapi dengan cepat Gren tahan.


"Fitri, kamu tidak bisa memperlakukanku seperti ini. Aku tahu kalau wanita yang ada di sampingmu itu adalah putriku bukan?!" Tutur Gren menatap nyalang Fitri yang justru melayangkan tatapan penuh kebencian padanya.


"Putrimu?! Dia bukan putrimu! Putrimu sudah meninggal!" Jawab Fitri tak sepenuhnya salah, karena memang pada saat itu Rikha telah meninggal, sedang yang ada di sana adalah Milea. Putri Rikha.


"Bohong! Putriku belum meninggal! Aku yakin sekali wanita yang bersamamu itu adalah putriku! Dia mewarisi mataku, dan rupaku ada di sana!!" Sangkal Gren tak percaya bahwa putrinya telah meninggal.


"Nek, apa maksud pria itu? Putrinya? Bukankah nenek hanya memiliki satu putri, yaitu ibu?" Tanya Milea yang bingung saat berada di posisi tengah yang tak tahu apa apa.


"MILEA!!" Bentak Fitri hingga mendelik tajam, hingga tanpa sengaja lengah sehingga membuat Gren berhasil membuka pintu sepenuhnya.


"Ibu? Maksudmu. Kamu masih punya ibu lagi?" Tanya Gren tak percaya. Jika dugaannya benar, Milea adalah cucunya.


"Iya. Nama ibu saya, Rikha Gunawan."


"Rikha... tidak mungkin. Kamu... adalah cucuku?" Tatapan tak percaya bercampur haru tak dapat Gren sembunyikan saat melihat wanita muda nan cantik di hadapannya. Milea.


"Sudah aku bilang, putri mu telah sudah meninggal!! Dia cucuku, bukan cucumu!!" Sanggah Fitri menatap benci sosok pria di masalalu yang telah menkhianatinya. Membuatnya hamil, lalu menikah dengan wanita lain. Nasib baik dulu ada seorang pria yang mau menerima semua kekurangannya. Dia. Agus Gunawan.


"Apa buktinya kalau dia bukan cucuku! Apa perlu aku melakukan tes DNA, agar ada bukti bahwa dia adalah cucuku!" Balas Gren tak menyerah untuk membuktikan bahwa Milea adalah cucunya.


Fitri diam menatap tak bersahabat pada Gren. Puluhan tahun telah berlalu, tapi mengapa pria ini datang kembali. Jika untuk mengambil cucunya, tidak akan pernah ia biarkan itu terjadi.