Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Jangan sentuh wanitaku!


Raka diam sembari menatap pantulan dirinya di cermin. Kenapa dia merasa ada yang berbeda? Kenapa setelah mendengar suara Tika, dia sudah tak bernafsu lagi menyentuh apalagi mencium Nala. Sebenarnya ada apa dengan dirinya?!


"Engghhh..." gumaman kecil membuyarkan lamunan Raka. Pergerakan kecil mulai terlihat dari Nala, hingga kelopak mata cantik itu perlahan membuka matanya.


"Raka?!" Nala sigap bangun dari kasur dan mundur menjauh saat melihat wajah Raka ada di hadapannya.


"Tenanglah, aku tidak akan apa apain kamu kok!" Melihat wajah penuh waspada dari Nala, entah mengapa membuat Raka jengah. Dia memilih membaringkan tubuhnya menatap keatas langit langit kamar. Entah mengapa, tujuannya yang ingin menculik Nala agar wanita itu menjadi miliknya, justru berganti niat ingin menjadikan wanita itu sebagai teman curhatnya.


"Kalau tidak ingin mengapa apain, untuk apa kamu menculikku ha?!" Bentak Nala mendelik geram kewajah Raka yang terpejam dengan tangan sebagai bantalan.


"Iseng aja,"


Apa katanya tadi?! "ISENG!!?" Nala mendelik tak suka. Bisa bisanya Raka berkata menculiknya hanyalah sebuah keisengan belakang.


Plak


"Awh sakit nal!"


"Iseng kau bilang ha?! Menculik calon pengantin kamu bilang ISENG?! Apa kamu sekarang berganti profesi menjadi tukang culik? Apa tidak ada permainan lain yang lebih berpaedah untuk kamu lakukan sehingga menjadikan kasus penculikan sebagai keisengan?!" Omel Nala sambil bertolak pinggang dengan tangan satunya menjewer telinga Raka.


"Awh awh sakit nal, lepasin nal, sakit. Galak banget sih lo! Gue yakin calon suami lo gak akan betah tinggal satu atap sama cewek galak kayak lo!" Ringis Raka sesekali mengejek Nala.


Dengan kesal Nala mendorong tubuh Raka dan ikut duduk di pinggiran kasur dengan wajah ditekuk sebal. "Gak usah bawa bawa calon suami! Gue gagal nikah juga karna siapa?!" Omel Nala.


Ringisan kecil masih terdengar kala Raka duduk menghadap kearah Nala. "Ya sorry. Tapi menurut penerawangan gue, lo justru senang bukan pernikahan ini batal? Ngaku lu!" Tuduh Raka tepat sasaran.


"Gak usah sotoy deh lo!" Menjawab dengan gaya jutek jutek kikuk. Alias marah sekaligus malu karna ketahuan. "Lagian lo ngapain sih nyulik gue? Kurang kerjaan banget," sinis Nala.


Raka diam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Niat awalnya gue emang mau batalin pernikahan lo karna gak rela lo nikah sama yang lain. Tapi sekarang, niat gue nyulik lo buat di jadiin teman curhat," jawabnya tersenyum kaku.


"Mau curhat apaan?" Kini Nala memposisikan tubuh menghadap Raka sepenuhnya, tertarik dengan pembahasan hati seorang Raka yang jarang terekspos di dunia nyata.


"Soal Tika,"


Mengeryit, "Tika? Emang kenapa sama tuh anak?" Bertanya dengan lagak sedikit sinis. Masih kesal dengan pengkhianatan dari mantan sahabatnya itu.


"Asal kamu tahu, sebenarnya aku lebih dulu mengenal Tika. Saat itu, aku tidak sengaja menabrak kamu, dan kamu marah marah gak jelas. Sungguh, kamu adalah wanita pertama yang marahin aku," mulai bercerita.


"Lalu hubungannya pertemuan pertama denganku dan Tika apa?" Tanya Nala malas tapi masih tertarik mendengarkan cerita.


"Saat itu aku baru sadar bahwa ternyata kamu teman Tika. Dari situ aku mendekatinya dan mencari informasi informasi tentang kamu. Dia yang dulunya hanya seorang gadis pendiam, dengan mudah mengatakan apa yang aku tanyakan,"


"Saat aku mulai berpacaran denganmu, aku begitu bahagia dan mulai jarang berinteraksi dengan Tika. Hingga pada saat aku merasa kamu masih terlalu kaku diajak berpacaran, Tika datang menyemangati dan mengatakan bahwa kamu memang orang yang tidak suka disentuh. Saat itu aku memaklumi, karna mungkin kita masih terlalu muda untuk melakukannya,"


"Tapi semakin lama entah mengapa aku semakin bosan. Dan di saat itu Tika selalu ada untuk menyemangati ku, membuat aku merasa nyaman di dekatnya. Tanpa sadar, aku membuat seorang wanita polos seperti Tika menjadi wanita yang terlihat murahan di mata sahabatnya sendiri. Saat itu aku benar benar menyesal, dan memilih untuk melepaskan mu dan tetap bersama Tika sebagai penebusan kesalahan yang aku perbuat,"


"Awal awalnya dia menjauh dariku, tapi saat aku tahu kehidupan pribadinya yang lahir dari keluarga broken home, saat itulah dia tidak bisa menghindar untuk membukakan pintu masuk kedalam kehidupan dia. Terlebih adiknya Gea begitu menyukai ku, membuatnya tidak bisa berbuat apa apa selain menerima kehadiranku dalam hidupnya."


"Kamu tahu? Tika masih perawan," sebuah kenyataan yang menusuk hati Nala mendengar rentetan cerita dari Raka. Fakta mengejutkan yang membuat tangannya gemetar.


"Dan satu lagi, sebenarnya niatku menculikmu adalah untuk membuat kamu menjadi milikku seutuhnya. Tapi setelah Tika menelfon, ada keraguan dalam hatiku untuk melakukan itu. Entah mengapa aku merasa takut menduakan Tika sedang 'kan kami tidak memiliki hubungan apa apa."


"Nala. Tika di sini adalah korban dari kesalahan dan keegoisan ku. Tika adalah sosok teman yang tulus, hanya saja karna aku kalian harus memutus tali persahabatan yang kalian jalin sejak duduk di bangku sekolah dasar. Maaf 'kan aku, dan tolong maaf 'kan Tika. Dia tidak bersalah, akulah yang bersalah di sini,"


Tak tahu harus berkata apa, Nala hanya mampu diam menyesali setiap perbuatan dan perkataan kasar yang ia lontarkan pada sahabatnya yang sebenarnya tulus berteman dengannya.


Byurrr


"Jangan hiks hiks jangan ganggu Lala!" Rintih Lala saat lima orang Kakak kelas membully dirinya di dalam sebuah toilet yang sepi.


"Hahaahaa..." gelak tawa kelima Kakak kelas itu menggema di seluruh toilet, membuat Lala gemetar ketakutan sambil menahan rasa dingin dan bau dari air yang disiram lima orang itu ketubuhnya.


"ADA GURU LEWAAATTT!!" Teriak seseorang dari luar, membuat kelima orang itu bergerak panik.


"Apa? Guru?!"


"Ayo kabur!"


Lala meringkuk sambil terisak di sudut toilet setelah kelima orang yang membullynya tadi pergi.


"Hei kamu gak apa apa?"Tanya seorang wanita cantik bernama Tika.


"Hiks hiks jangan ganggu Lala..."


"Tenang aja, mereka udah pergi kok. Gak akan ada yang gangguin kamu lagi," Tika menepuk pundak Lala sambil tersenyum manis.


Perlahan tapi pasti, Lala mengangkat wajah mengenaskannya menatap samar samar wajah Tika yang terhalau karna air yang masih menggenang di pelupuk mata.


"Hai, nama aku Tika. Kalau kamu?"


"Nala..."


"Oke Nala, mulai sekarang kita teman."


"Teman?


"Iya teman."


Brak


Deguman pintu yang dibuka paksa menyadarkan Nala dari lamunannya. Dari arah pintu, Haikal berdiri dengan nafas tersengal dalam keadaan yang begitu berantakan.


Bug


Tanpa aba aba, Haikal melayangkan bogeman mentah pada Raka yang duduk bersampingan dengan Nala yang melamun. Dan dengan sekali sentak, tubuh Nala yang awalnya duduk di pinggir kasur, tertarik berlindung di balik tubuh kekar Haikal.


"Jangan sentuh wanitaku!!"