
Kreettt
"Permisi nona, anda memanggil saya?" Tanya Ben berjalan mendekat pada Milea yang duduk di pinggiran ranjang.
Menoleh cepat, "oh. Kamu sudah datang. Ayo mari duduk di sini!!" Sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya. Dengan ragu ragu Ben duduk di samping Milea dan bertanya tanya apa yang menjadikan Milea memanggilnya tengah malam seperti ini.
"Ada apa nona?" Tanya Ben sambil menggaruk tengkuknya gugup.
"Ben, kita tidak boleh membuang buang waktu di sini. Kita harus segera mencari bukti bukti yang ada di sini. Untuk bukti meninggalnya Anna, aku sangat yakin papa pasti sudah menghapus rekaman cctv-nya. Tapi siapa yang tahu, bisa saja dia menyembunyikannya," kata Milea serius.
"Tapi, sebaiknya buat jangka waktu dulu nona. Setidaknya kita tinggal di sini tiga empat hari dulu agar tidak membuat kecurigaan pada tuan Rahardian," timpal Ben.
"Tentu saja. Tidak asik jika aku tidak bermain main dulu di rumah ini," menyeringai.
"Eh...." Perasaan Ben tidak enak.
Huft... semoga keluarga anda dimudahkan tuan Rahardian...
***
Pagi yang cerah membawa Milea menuruni anak tangga dengan pakaian casualnya, tentu saja wanita itu hendak pergi kekantor untuk bekerja.
"Pagi bu, kak dan pah," sapa Milea tersenyum manis lalu mengambil duduk di samping Rahardian depan Ranti.
"Pagi sayang..." balas Rahardian lembut sambil mengusap rambut Milea hangat. Gadis itu hanya diam membiarkan Rahardian berperilaku sesukanya, tak peduli sikap itu tulus atau hanya bohongan karena Milea adalah keturunan keluarga Arceleon. Bianka hanya melirik sekilas lalu kembali memakan rotinya, sedang Ranti sudah memasang wajah masam karena tak suka Rahardian memperlakukan Milea begitu spesial.
"Duduklah Ben," titah Milea melirik sekilas asistennya sambil mengambil dua helai roti untuk sarapan.
"Ya nona?" Tak paham.
"Duduklah, mari sarapan bersama." Ajak Milea memperjelas ucapannya.
"Eh? Tidak perlu. Saya bisa sarapan di kantor nanti," tolak Ben melirik anggota keluarga yang lain tak enak. Entahlah, jika hanya dengan Milea dia tidak pernah sesungkan ini karena ada yang lainnya.
"Duduk ku bilang!!"
Bianka melirik Ben dan Milea bergantian. Ingatannya teringat pada kemarin malam saat dirinya tak sengaja melihat Ben masuk kedalam kamar Milea.
Bianka meraba raba atas nakas dengan mata masih dalam terpejam. Saat membuka mata, air di dalam gelas telah habis sehingga mengharuskan Bianka beranjak keluar dari kamar mengambil air di dapur.
Saat meneguk air, pandangan Milea tak sengaja menangkap sosok Ben yang menaiki anak tangga sedang saat ini waktu menunjukkan pukul 02.13 dini hari.
"Mau kemana pria itu?" Gumam Bianka. Karena penasaran dia mengikuti langkah Ben hingga pria itu berhenti di depan pintu kamar Milea lalu masuk kedalamnya. Bianka menatapnya dengan tatapan sulit diartikan.
"Kamu kekantor bukan?" Tanya Rahardian tertuju pada Milea.
"Iya." Jawab Milea singkat enggan menatap pria yang sayangnya adalah papanya sendiri.
"Kalau begitu kamu pergi bareng papa, Bianka juga sekalian," lanjut Rahardian beralih pada putri pertamanya.
"Tidak perlu. Bianka bisa pakai mobil sendiri." Tolak Bianka lalu bangkit dari meja. "Bianka sudah selesai makan." Lanjutnya beranjak pergi.
"Kak Bian!!" Seru Milea bangkit mengejar langkah Bianka. Wanita itu menoleh dengan tatapan dinginnya. Tak pernah Milea lihat wanita cantik, playgirl dan selalu tampil dengan senyum menawan ini harus berubah dingin. Apakah mungkin karena lingkungan, atau Zaky Alexander?
Tiba tiba Milea memeluk tubuh Bianka yang jauh lebih tinggi darinya. "Pelukan selamat pergi. Bukankah sebagai adik kakak, tidak baik jika kita saling mengabaikan?" Kali ini Milea tulus. Entah mengapa, dia ingin sekali memeluk Bianka walau hanya sekali. Selama ini Milea sangat ingin memiliki kakak, tapi terhalang karena mereka justru merundungnya hingga membuat Milea trauma dan keinginannya mempunyai kakak terkubur dalam.
"Aku tidak tahu kamu sedang beracting lagi atau tidak. Tapi, kali ini aku anggap pengecualian," Bianka membalas pelukan Milea hangat. Sama seperti Milea, Bianka memiliki impian mempunyai adik. Dulu saat Milea lahir dia sangat senang sehingga setiap semua orang tidur, dia akan diam diam mendatangi kamar Milea dan tidur bersamanya. Tapi semuanya berubah karena propokasi dari ibunya, hingga membuatnya membenci Milea.
"Terima kasih kak,"
"Sudahlah, aku harus kekantor. Aku pergi dulu." Bianka melepas pelukannya dan pergi dengan perasaan yang tak dapat ditebak.
"Kita juga harus berangkat. Ayo Milea!" Ajak Rahardian setelah dibuat haru melihat putri putrinya akur meski sesaat.
"Bentah pah," ucap Milea lalu berjalan menghampiri Ranti yang sedari tadi menahan emosinya.
"Bu, Lea berangkat dulu ya." Pamitnya pada Ranti dengan senyum menyeringai tipis yang tersamarkan dengan senyum manisnya. "Pulang nanti, baru kita main main." Bisik Milea lalu berjalan menghampiri Rahardian keluar dari rumah sambil dirangkul papanya.
"Milea....!!!" Ranti memandang penuh benci pada sosok yang amat mengingatkannya pada Rikha. Karena wajah Milea hampir semuanya menuruni wajah cantik ibunya.