
Zaky memandangi Milea yang tengah sibuk meniup balon bersama dengan Nala dan juga Mamanya. Sedang 'kan untuk lelaki, khusus yang berat berat. Masih terekam dengan sangat jelas tentang pembicaraan dirinya dengan sang Mama tadi malam.
"Ya enggaklah ma! Dia 'kan pengawal Zaky, masa iya Zaky suka sama pengawal sendiri," Sangkal Zaky dengan manik mata yang di buang kesembarang arah.
Maulida tersenyum kecil. "Memangnya kenapa jika dia seorang pengawal? Apa di dunia ini Allah melarang kita untuk mencintai seseorang? Tidak bukan. Mau itu pengawal, pengusaha, pelayan, sampai orang miskin pun. Jika Allah sudah menentukan, kita bisa apa?" Tutur Maulida.
"Mulut boleh menyangkal, tapi tidak dengan mata dan hatimu. Dari awal mama datang ke Jakarta menjengukmu, mama sudah tahu bagaimana perasaanmu padanya. Dari cara bicara, sikap, dan menanggapi, kalian tidak seperti seorang pengawal dan atasan pada umumnya,"
Puk puk
"Apapun pilihanmu, mama akan selalu mendukungmu. Dan mama harap, kamu segera menyadari isi hatimu yang sesungguhnya. Mama masuk kekamar dulu ya, kamu juga cepat masuk kamar gih," Maulida pergi setelah memberikan wejangan dan bentuk peringatan atau penyadaran untuk Zaky yang saat ini diam tak dapat berkutik.
"Benarkah aku menyukainya?" Gumam Zaky dengan pandangan tak beralih sedikitpun dari sosok gadis misterius itu.
Bug
"Woi jangan ngelamun terus napa?! Bantuin ini!!" Teriak Haikal melempar paku yang mengenai punggungnya.
"Sssttt iya iya bawel!"
"Milea, sudah berapa lama kamu bekerja dengan Zaky?" Tanya Maulida di sela sela pekerjaannya. Membiarkan putrinya bermain bersama Nala.
"Emmm udah tiga bulan kalo gak salah. Emangnya kenapa tan?" Jawab Milea sambil mengikat dan membentuk balon menjadi bentuk bentuk yang lucu.
"Udah lama berarti ya. Kalo udah selama itu, berarti kamu udah mulai paham bukan sifat sifat anak tante itu?"
"Iya tante, alhamdulillah adalah Lea paham paham sedikit gimana sifat dan sikap yang di sukai dan tidak di sukai Kak Zaky," jawab Milea tersenyum ramah.
"Kak Zaky?"
"Ah itu. Kak Zaky yang minta dipanggil begitu. Katanya biar dia bisa ngerasain punya adik lagi," paham akan hal itu, Milea berinisatif menjelaskan asal muasal panggilan 'Kakak' itu secara singkat.
"Astagfirullahalazim. Zaky! Zaky kesini bentar nak!" Teriak Maulida sesaat mengingat sesuatu yang penting.
"Iya ada apa ma?"
"Kamu pergi ke supermarket bentar ya, buat beli bahan bahan untuk membuat kue nanti. Ini uangnya," titip Maulida.
"Gak usah mah, biar pake uang zaky aja. Mama cukup kasih tau list bahan bahan yang perlu dibeli," ucap Zaky.
"Ya udah kalo gitu. Nanti list bahan bahannya mama kirim lewat WhatsApp aja ya," pasrah Maulida.
"Ya udah kalo gitu zaky pergi dulu ya ma. Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam." Melihat Zaky pergi, Milea ikut berpamitan dengan Maulida dan berjalan mengekor di belakang Zaky.
Menoleh kebelakang, pria itu di suguhkan pemandangan dua orang gadis yang ia sayangi mengekor di belakangnya. Kalo Milea sih masih bisa di maklumi. Nah ini si Suci?
"Anna kamu ngapain di luar?" Tanya Zaky membuat Milea ikut memfokuskan pandangan kebelakang tubuhnya. Dia juga cukup kaget saat tahu Suci mengekor di belakang.
"Hehee Suci ikut ya kak? Pleasee..." ah... siapa yang bisa menolak saat gadis itu menampakkan wajah imutnya yang menggemaskan. Menghela nafas pasrah, Zaky membukakan pintu di kursi penumpang untuk adik kecil kesayangannya itu.
"Horeee!!"
Milea tersenyum kecil melihat semangat muda si gadis kecil. Menggeleng pelan, Milea berjalan mengitar ingin menuju tempat mengemudi, tapi sebuah tangan lebih dulu mencegahnya.
"Masuklah!" Milea terpaku saat Zaky membukakan pintu di samping pengemudi. Dengan pasrah dia masuk, tak lupa Zaky membuatnya semakin panas dingin saat pria itu dengan manis memasangkan sabuk pengaman padanya lalu mengacak acak rambutnya gemas sebelum menutup pintu.
Memegangi dadanya, pandangan Milea menyorot pada tubuh jangkung di sampingnya ini. Jantung!! Kamu masih sehat bukan?!