Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Rencana selanjutnya


Di ruang keluarga, tiga orang berkumpul dengan suasana yang begitu canggung. Nala menatap kedua orang tuanya secara bergiliran.


"Jadi selama ini kalian bohongin Nala? Bilang kalau Ikal udah meninggal, padahal masih ada. Apa? Maksud papa sama mama apa sih?!" Cecar Nala setelah mendinginkan amarahnya.


"Nala, tenang dulu sayang,"


"Gimana aku bisa tenang ma! Kalian udah bohongin Nala belasan tahun!"


Brak


Wendi memukul meja dengan keras membuat keadaan kembali hening. Nala masih dalam keadaan marahnya. Marah pada orang tuanya yang membohongi dia selama belasan tahun lamanya.


"Kami tidak bermaksud membohongi kamu Nala," ucap Wendi pelan pelan.


"Tapi tetap saja kalian udah bohongin Nala!" Teriak Nala semakin tak bisa mengendalikan emosinya.


"Dengar 'kan dulu NALA!!" Bentak Wendi membuat keadaan kembali hening. Kirana hanya bisa duduk di samping putrinya untuk menenangkan anak sulungnya itu.


"Kami melakukan ini karna permintaan dari Radit, papanya Haikal," tegas Wendi mulai mengenang kejadian belasan tahun saat putra putri mereka tertimpa musibah.


"Bagaimana keadaan putra saya dok?!" Tanya Radit begitu panik. Rambutnya acak acakan karna prustasi menunggu oprasi putra kesayangannya selesai.


"Alhamdullah, oprasi berjalan lancar. Kami sudah menjahit luka tusuknya dan mengisi kembali darah yang keluar cukup banyak. Sebentar lagi kami akan memindahkannya keruang rawat inap," jelas Dokter tersebut membuat Radit menghembuskan nafas lega.


"Terima kasih dok."


"Sama sama, kalau begitu saya permisi dulu." Radit mengangguk mempersilahkan dokter itu pergi. Tak lama setelah itu, para perawat keluar mendorong brankar Haikal yang tak sadar 'kan diri dengan selang infus dan juga tabung oksigen.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Wendi duduk di samping Radit yang duduk di luar ruang rawat inap putranya.


"Masih dalam pemulihan. Putrimu sendiri bagaimana?" Tanya Radit balik dengan pandangan tak beralih pada pintu ruang inap putranya.


"Masih belum sadar, mungkin terlalu shock." Jawab Wendi bersandar di kursi menerawang kedepan dengan kejadian yang menimpa hari ini.


"Wen,"


"Iya?"


"Istri ku memberikan usul untuk mengirim Haikal ke kota Neneknya. Di sana, dia akan kehilangan marga dan semua fasilitas yang ada agar tidak ada yang curiga dan mengincar dia lagi. Menurutmu bagaimana?"


"Pendapat istrimu ada benarnya. Terlalu berbahaya mengingat begitu banyak pesaing yang ingin menjatuhkan. Di sana juga dia bisa melatih diri agar bisa mandiri." Jawab Wendi menyetujui.


"Wen, kata 'kan pada putrimu bahwa putraku sudah meninggal. Aku ingin mereka berpisah agar hal seperti ini tidak terjadi lagi. Karna mengincar putraku, putrimu harus kena imbasnya." Tutur Radit.


"Tapi kenapa harus mengatakan bahwa putramu meninggal?" Tanya Wendi tak paham.


"Aku mohon. Kita lakukan ini demi kebaikan bersama. Putraku terjaga, putrimu juga terjaga,"


Wendi terdiam menatap manik mata yang hampir putus asa dari suami almarhumah sahabat istrinya. Menghela nafas kasar, Wendi mengangguk setuju.


"Sungguh, papa hanya menuruti perkataan om Radit, karena saat itu beliau nampak hampir putus asa, dan papa tidak tega melihat itu Nala. Jadi papa mohon, tolong maklumi keputusan ini. Kami sebagai orang tua hanya ingin yang terbaik untuk anak anaknya," tutur Wendi berharap putrinya mengerti.


Tak tahu harus berkata apa, Nala menyambat tasnya dan pergi meninggal 'kan rumah yang menjadi tempat tinggalnya selama ini. Terlalu banyak hal yang terjadi hari ini, dan dia butuh waktu untuk memenangkannya.


***


Sepasang manusia berbeda jenis kelamin terlihat memandangi pasangan manusia lainnya yang tengah suap suapan mesra di resout hotel.


"Tuan, anda yakin ingin... emmm mendekati wanita hamil itu?" Tanya Milea melirik Zaky ragu, lalu beralih pada sepasang suami istri yang nampak hidup bahagia seolah dunia hanya milik berdua, yang lain ngontrak.


"Iya. Aku akan membuat dia merasa 'kan seperti yang aku rasa 'kan saat tahu dia memperkosa adikku," jawab Zaky pasti.


Milea diam melirik Zaky sekilas lalu beralih pada wanita yang tengah hamil muda itu.


Kak Khansa....


Dugh


"Hahahaa"


Wanita dengan rambut di kepang serta kaca mata keberasan itu menghela nafas lelah saat orang orang dengan iseng membuatnya terjatuh di koridor sekolah sehingga membuatnya jadi bahan tertawaan.


Milea semasa SMA itu hanya bisa bangkit mengumpulkan kembali buku bukunya yang berserakan.


"Nih buku kamu!" Sebuah buku terulur padanya, membuat Milea mendongkak dan melihat seorang wanita cantik dengan ciri khasnya yang tomboy memberikan buku padanya.


"Te-terima kasih," lirih Milea mengambil buku itu takut takut. Wanita bernama Khansa Geovandra itu hanya tersenyum dan berlalu pergi setelah menepuk kepala Milea beberapa kali.


Milea memandangi kepergian wanita itu dengan binar kagum. Ada rasa ingin menjadi seperti wanita itu yang selalu kuat, tanpa menindas orang lain.


"Tuan, wanita itu terlalu baik untuk anda sakiti. Dia tidak ada hubungannya dengan kisah balas dendam ini. Ingat Anna! Dia pasti sedih jika melihat Kakaknya harus melibat 'kan orang yang tidak bersalah," tutur Milea setelah sekian lama diam.


"Lalu aku harus bagaimana?"


Milea mengetuk ngetuk dagunya memikirkan rencana selanjutnya. Sedetik kemudian, senyum cerah terbit di wajahnya.


"Saya tahu bagaimana caranya!"