
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
⚠Disarankan untuk membaca dari awal takutnya, tidak paham!!!
...****************...
Butuh waktu 30 menit untuk Glen siap dengan pakaian kantornya
"Apa kamu sudah menanyakan pada Vina tentang yang kemarin?" tanya Serin yang sedang membenarkan dasi suaminya
"Panti asuhan Harapan" sahut Glen dengan pandangan yang tidak ia alihkan dari wajah istrinya, yang sibuk membenarkan dasinya
Seketika tangan Serin terhenti, "kamu yakin?" tanya Serin mendongakkan wajahnya menatap Glen
Pria itu hanya mengangguk, meng-iyakan pertanyaan istrinya
Seketika Serin langsung pergi untuk mengambil ponselnya yang ada di atas nakas untuk menelpon seseorang
📞In Call-
"apa?"
"pergi ke panti asuhan sekarang, periksa semua kondisi anak di sana"
"apa ada masalah?"
"nanti kujelaskan, periksa saja semuanya... dan amankan semua anak"
"Oke."
"Minta Zeon dan yang lain untuk ikut"
📞End Call-
Glen yang juga mendengar pembicaraan istrinya, hanya bisa mengerutkan dahinya
"Kenapa?" tanya Glen bingung
"Panti asuhan itu mengirim anak-anak untuk di jadikan Objek penelitian, serta kemarin Reyhan cerita kalau kondisi Luna waktu itu seperti orang sakit. aku takut ada penyimpangan lain di sana selain di jadikan bahan Objek" jelas Serin lalu menyerahkan tas kantor suaminya
Glen menyambut tasnya dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di gambarkan
"Apa ini perbuatan Willy lagi?" tanya Glen, dan tentu saja di angguki oleh wanita yang berdiri di depannya
"Apa kamu menangani kasus-nya?" tanya-nya lagi
"Hmm." sahut Serin berdeham, pria itu hanya bisa menghela berat napasnya
"Berhati-hatilah, tinggalkan dulu itu, hari ini Reyhan ulang tahun" ucap Glen seraya mengec*p sekilas kening istrinya
"Kamu tenang saja, aku tidak sebodoh yang mereka pikirkan" jawab Serin, lalu mengantar suaminya kedepan rumah
Setelah Glen pergi ia masuk kembali kedalam rumah, karena hari ini ia memutuskan untuk tidak ke kampus jadi ia punya waktu untuk ke gudang dan bersiap untuk pesta nanti malam
...****************...
Baru saja Serin mendudukkan dirinya di sofa, ponselnya berdering menandakan ada yang menelponnya
📞In Call-
"Bagaimana?"
"Sepertinya dugaanmu benar! ada banyak sekali obat disini"
"Obat!"
"Iyaa, ada kemungkinan anak-anak juga di gunakan untuk menguji obat baru dari perusahaan obat"
"Apa?!"
"Kondisi mereka terlihat seperti anak yang sakit, dan kondisi-nya juga begitu lemah"
"Bawa saja mereka semua"
"Sudah! sekarang Zeon dan detektif lain sedang menggeledah tempat itu"
"Yasudah! kalian bisa kembali sekarang biarkan Zeon dan yang lain melanjutkan tugas mereka"
"Baiklah"
"Ah iya... tolong kau ambil paket di bandara, kemarin malam Daniel sudah mengirimkannya.. pasti sudah sampai sekarang"
"Oke."
📞End Call-
"Apa kalian sudah membuka file-nya?" tanya Serin mendudukkan dirinya di kursi antara Ardan dan Leo
"File-nya hanya berisi rumus-rumus kimia, tidak ada apa-apa?" sahut Leo
"padahal kami sudah tidak tidur semalaman untuk membuka password-nya" tambahnya sedikit kesal, karena mereka begadang untuk membuka file itu, tapi hasilnya hanya rumus kimia yang bisa di temui di buku pelajaran
"Dari awal aku sudah tidak berharap pada file itu" sahut Serin sukses membuat kedua pria itu bingung
"Lalu untuk apa kau menyuruh kami membukanya?" tanya Ardan
"nanti kalian akan tau sendiri" ucap Serin menepuk bahu keduanya bersamaan, lalu pergi dari sana menuju ruang pribadinya, dimana semua berkas kasusnya di simpan
Leo dan Ardan hanya bisa menatap satu sama lain, dan benar apa yang di ucapkan Aiden waktu itu, jika tidak ada yang bisa menebak apa yang dipikirkan wanita itu
"......"
Serin mendudukkan dirinya di kursi, tidak lupa beberapa berkas yang ia ambil dari lemari berkasnya
Ia memeriksa kembali data anak-anak panti yang dikirim baru-baru saja, sebelum mereka berhasil menemukan kejanggalan pada Panti Asuhan Harapan
Matanya memeriksa dengan begitu jeli setiap nama-nama yang tertulis pada kertas putih
Tangannya terhenti saat akan membalikkan kertasnya, ketika melihat nama Luna, gadis manis yang disebut anaknya tertulis jelas di sana
"Jadi Luna yang ini adalah Luna yang dimaksud Reyhan" gumam Serin, pasalnya ia juga tidak tau jika Luna juga berasal dari panti asuhan yang sama dengan yang ia selidiki
Saat wanita itu masih bergelut dengan pikirannya, masuk Leo memberikan beberapa lembar kertas pada Serin
"Tidak ada Broker dari distrik B yang bernama Abhimanav, ucapan Mela kemarin bohong... karena itu aku mencari beberapa broker yang juga berasal dari distrik B, dan ada 2 orang di antaranya, untuk memastikan kita harus memeriksanya langsung" jelas Leo
"Apa tidak ada tanda dari salah satunya, yang berhubungan dengan Vsc, atau Caroline?"
"Tidak ada, mereka berdua hampir sama, sama-sama suka menjual para imigran yang menggunakan kapal mereka, dan dua-duanya juga gangster yang disegani di sana oleh para preman" jelas Leo sekali lagi
"Apa Geralt dan yang lain sudah kembali?"
"Belum" sahut Leo, lalu pergi dari ruangan itu, setelah Serin menyuruhnya
Setelah melihat berkas yang di berikan Leo padanya, ia keluar dari ruangannya
"Stefan, Charless kalian ikut denganku! aku perlu memeriksa sesuatu" titah Serin pada sang anak buah
"Apa tidak menunggu Geralt dulu?!" sahut Charless
"Tidak! aku bisa menangani-nya sendiri, kalian berdua bawa 4 anak buah lagi untuk mengikuti di belakang" suruhnya dan di angguki oleh pria bertubuh besar dan atletis itu
"Leo, saat Geralt dan yang lain datang, suruh dia untuk langsung pergi ke distrik B" pesannya, seraya memasang sesuatu ketubuhnya sebagai alat perlindungan diri
"Kau ingin pergi sendiri?" tanya Leo, dan di angguki oleh Serin yang kini sedang mengikat rambutnya
"Kirimkan alamatnya ke Gps mobil, kami pergi sekarang" ujarnya lalu melenggang pergi dari sana dengan di ikuti dua tangan kanan Geralt, yaitu Charless dan Stefan
Sedangkan Leo dan Ardan hanya bisa memperhatikan punggung Serin yang perlahan menghilang dari pandangan mereka
"Apa baik, membiarkan-nya pergi sendiri?" celetuk Leo, karena menurutnya Serin tetaplah seorang wanita dimatanya
"Tidak perlu khawatir dia sudah biasa" sahut Ardan menepuk pundak Leo, lalu kembali pada tugasnya
Begitu juga Leo yang kembali pada tugasnya
"......"
"Kuharap mereka segera membereskannya" gumamnya dalam hati
...****************...
Pukul 12.02, Markas broker A
Seorang wanita terlihat turun dari mobilnya, dengan di ikuti dua orang pria di sisi kanan dan kirinya
"Jangan gegabah, aku akan negosiasi dan bicara padanya" jelas Serin dan di angguki oleh keduanya
Setelah 3 orang itu masuk, 4 anak buahnya yang juga ikut, menunggu diluar untuk mengawasi
Serin masuk dengan santainya ke sebuah bangunan, dimana disana ada banyak pria yang merupakan anak buah dari ketua Gangster yang akan dia temui
Kenapa dia bisa sesantai itu, karena sebelumnya, ia dan Leo mencoba menghubungi Broker A sebagai Client dan mereka menyetujuinya, karena Serin meng iming-imingi nya dengan bayaran tinggi
(Btw di sini author bakal sebut broker A aja ya, biar enak)
Ia dipersilahkan masuk, oleh anak buah dari Broker A
"Maaf nona! anak buah anda tidak bisa masuk" ucap anak buah pria itu, saat Serin akan masuk
"Kalian bisa menunggu diluar" ucap Serin pada anak buahnya, dengan pasrah keduanya mengikuti perintah Serin, karena disisi lain mereka juga khawatir pada wanita yang sejauh ini telah membuat kehidupan mereka jauh lebih baik
Banyak anak buah dari Serin, ia ambil dan angkat dari mantan tentara, serta pembunuh bayaran yang keluar dari penjara dan tidak tau akan melanjutkan hidup seperti apa
Semuanya ia latih dengan tangannya sendiri agar semua menurut padanya, tapi disisi lain Serin juga memberikan arti kehidupan yang lebih baik untuk mereka, hingga bisa menjadi tim yang solid sebagai anak buah Serin
Terlihat seorang pria berumur kisaran 40 tahun, tengah duduk di sofa single dengan kaki yang menyilang, dan tubuh yang bersandar pada punggung sofa
"Selamat siang nona" sambutnya ketika melihat kedatangan seorang wanita cantik kehadapannya
Serin mendudukkan dirinya, dengan ekspresi angkuhnya
"Kau cantik-cantik, kenapa bisa tersesat ke sini" godanya pada Serin
Wanita itu lantas menoleh kearah sang pria dengan tatapan remehnya, dia tau bagaimana menghadapi pria di depannya ini
"Aku tidak ingin membuang waktuku, aku hanya ingin mendapatkan apa yang tadi ku katakan di telpon" ucap Serin terus terang
"Santai! kau tenang saja, apa yang kau inginkan pasti kau dapatkan" sahutnya tersenyum licik
"Oh iya, sebelum itu bagaimana kabar suamimu?" tanyanya tiba-tiba sontak membuat Serin menatap kearah sang broker yang sedang menatap sebuah lukisan di hadapannya
"Kau menyelidiki identitasku?" ujarnya dengan perasaan campur aduk, ditambah dua anak buahnya ada di luar
"Aku bukan broker bodoh seperti Itada masayuki! kau pikir,,, semudah itu aku membiarkanmu menghancurkan kejayaanku" pungkasnya sukses membuat Serin terdiam
"Ah. kau sudah tau identitasku rupanya?" sahut Serin bersikap tenang
"Kau cakap, pintar dan manipulatif... bagaimana jika menjadi istriku saja" sahutnya
Pembicaraan itu benar-benar di lakukan dengan ekspresi dan nada bicara setenang mungkin
"Hmm. kupikir-pikir dulu lah ya! selera ku tinggi, apa kau yakin bisa menyamainya" jawabnya
Pria itu lantas meraih minumannya yang ada di atas meja, sebelum akhirnya ia membuka mulutnya untuk kembali bicara
"Tentu sayang!" sahutnya seraya menarik tipis senyumnya
"dasar tidak sadar diri, kau pikir aku mau dengan pria tua dan jelek sepertimu! sorry standarku tinggi" gumam Serin dalam hatinya
"Jika bukan karena ingin membongkar kebusukan Vsc. aku tidak akan pernah mau menginjakkan kakiku disini" gumamnya lagi
"Hey! nona... apa kau sedang memikirkan tawaranku?" ujarnya membuyarkan lamunan Serin
"Tentu aku sedang memikirkan penawaranmu! Tapi..." gantung Serin
"Tapi apa?" sahutnya
"kita bahas itu nanti, aku hanya ingin menanyakan satu pertanyaan padamu! jika kau menjawabnya, aku akan memikirkan untuk menjadi istrimu" ujarnya seraya berdiri dari duduknya, lalu berjalan ke arah Pria itu
Sontak sang broker menyeringai ketika Serin berada di dekatnya dan kini wanita itu sedang duduk tepat di pinggiran sofa yang ia duduki, bahkan tangan wanita itu sedang menyentuh dadanya layaknya seorang wanita bayaran
"Apa pertanyaanmu sayang!" ujarnya membelai paha mulus Serin
Serin memejamkan matanya sebentar "tahan Serin tahan, kita perlihatkan bagaimana licik itu sebenarnya" gumamnya dalam hati, lalu menarik senyum paksa-nya
"Apa aku bisa bertanya, dimana para imigran itu kau sembunyikan dan kapan mereka akan dikirim?" sebuah pertanyaan yang ia lontarkan
"Apa hanya itu yang kau tanyakan" sahutnya enteng
"Ya. hanya itu yang ingin kutanyakan" sahut Serin berdiri dari duduknya, lalu berjalan kearah lukisan yang yang tadi dilihat sang broker
Serin meletakkan tangannya kebelakang, dengan tubuh yang menghadap lukisan
"Sebuah keberuntungan untukku hari ini, jika bisa bermain panas dengannya" ucap pria itu dalam hatinya, lalu beranjak dari duduknya menghampiri Serin
Dari luar Serin hanyalah seorang wanita berparas cantik, yang tentu saja pria seperti sang broker tertarik padanya, dan menganggap jika dia wanita, maka tetaplah seorang wanita yang notabennya banyak di anggap lemah
"bagaimana jika kita bermain disofa sebentat, lalu akan kuberitahu semuanya" ucap Pria yang kini sudah berdiri tepat di belakang Serin
"Kau tau arti dari lukisan ini?" celetuk Serin, sontak membuat pria yang tadinya ingin memeluk wanita itu menghentikan niatnya
"Apa?" sahutnya seraya memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana
"Kobra Asia... dia bukan ular yang paling berbisa. Namun, dengan taktik siluman dan kelihaiannya mengelabui mangsa, menyebabkan ribuan orang tewas setiap tahunnya" tutur Serin seraya membalik tubuhnya menghadap sang broker
"Lalu..." sahutnya acuh
"Kau sudah tau jika aku manipulatif, apa kau tidak khawatir jika aku melakukan sesuatu padamu nantinya" tanya Serin seraya menaikkan salah satu alisnya
"Aku tidak takut, bagiku kau hanya seorang wanita cantik yang akan ku puaskan di bawah kungkunganku" ujarnya mengelus surai pipi Serin
Ingin rasanya wanita itu, memukulnya sekarang, tapi ia mengiringkan niatnya dan memilih untuk tetap pada alurnya
"Lebih baik kau duduk dulu" ucap Serin mendudukkan pria itu di sofa single nya lalu ia juga duduk di sofa panjang
"Minumlah dulu!" ucap Serin membuatkan satu minuman lagi untuknya
Satu buket es dan minuman ada di atas meja dan itu yang serin gunakan untuk membuat yang baru
Lantas pria itu menyambut dengan senang hati apa yang diberikan Serin padanya
"Aku akan minum jika kau juga minum" ujarnya bersepakat
"Tentu! tapi aku akan meminum milikmu saja" sahutnya lalu langsung menenggak isi minuman yang ada di dalam gelas
Pria itu hanya tersenyum sekilas ketika melihat Serin meminum habis minuman itu, lalu di susul dengan dirinya yang juga meminum, minuman yang dibuatkan Serin di hadapannya tadi
"Bagaimana apa buatanku enak?" tanya Serin menatap remeh pria yang sedang memegangi tenggorokannya
"......" ~ Broker A
Tidak ada jawaban dari pria itu "apa itu begitu sakit?!" tanya Serin lembut, dengan ekspresi wajah khawatir yang dibuat-buat
Serin berjalan kearah pria yang masih merintih kesakitan memegangi tenggorokannya tanpa bisa bicara, lalu menancapkan satu suntikan di lehernya
Tanpa buang waktu Serin langsung mengambil ponsel pria itu dari saku jasnya
Sebelumnya saat ia sengaja duduk di dekat pria itu, dan memegang dadanya, untuk memeriksa di mana letak ponselnya
"Cih. Kalau sudah tau aku manipulatif, jangan berpikir bisa mengendalikanku" tukasnya yang sedang berdiri di hadapan sang broker sambil mencoba membuka sandinya
Sedangkan pria itu hanya bisa meringis kesakitan tanpa bicara, karena ia merasakan tenggorokannya seperti terbakar hingga tidak bisa bicara
Ditambah suntikan dari ekstrak tanaman Aconitum napellus, yang akan membuat siapa saja yang menerima 20-40 ml dalam tubuh akan menyebabkan kematian, dengan tanda awal merasakan mati rasa pada tubuhnya, dan Serin menyuntikkan setidaknya 15 ml agar pria itu tidak cepat tewas
"Kau pikir aku ceroboh! Oh tidak... tidak ada kata gagal dalam kamusku" tutur Serin lalu memaksa jari pria itu agar membuka pasword ponselnya
"Dasar wanita ular" ujarnya tanpa suara, tubuhnya tidak bisa di gerakkan lagi, pria itu benar-benar merasakan tubuhnya mengalami mati rasa
...****************...
.
.
.
❗❗❗
Tadikan ada 2 orang yang disebutkan Leo, Broker A dan Broker B(umpama), Broker B sudah di urus oleh anak buahnya yang lain, sedangkan ia mengurus Broker A, setelah memeriksa keduanya maka nantinya Serin akan bisa menentukan siapa orang yang penyuplai unuk Vsc.lab selain Itada
Jangan lupakan kalau Serin lulusan dari universitas sains, buat kalian yang baru baca ep ini silahkan, pergi ke episode 1 dan baca dari awal biar paham!
Mohon bantuannya untuk like, share, komen, vote, masukin list fav biar tau kelanjutan ceritanya, agar Author semangat Up episode barunya😊