
"Hai, kita ketemu lagi!" Sapa Erickh sok terkejut saat bertemu Bianka yang duduk di resot hotel berkonsep rooftop sambil mengetik keyboard laptop untuk menyelesaikan hasil desaignya. Nyatanya, dari kejauhan, Malvin, Ronald, Kris, dan Edwark mengawasi kinerja sepupu mereka langsung, hingga mau tidak mau, rencana Erickh kali ini mesti berhasil.
"Erickh?" Terkejut sudah pasti yang Bianka rasakan. Tanpa meminta izin, Erickh mengambil duduk di samping Bianka sambil memandangi terus menerus dengan senyuman.
"Bisakah kamu jangan menatapku seperti itu?" Pinta Bianka salah tingkah, terlalu gugup jika dipandang terus terusan seperti itu oleh orang setampan Erickh.
"Ah, maaf apa kamu terganggu?" Tanya Erickh pura pura tidak enak.
"Bukan seperti itu!" Jawab Bianka cepat.
"Sorry jika aku terlalu memandangimu. Soalnya entah mengapa, wajahmu seperti magnet yang menarikku untuk terus menatapnya," gombalan maut keluar, dan itu benar benar ampuh untuk seorang Bianka.
"Cih! Punya kembaran kok playboy banget sih?!" Gerutu Edwark di ujung resot menatap adiknya dengan menggunakan teropong. Ronald, Malvin dan Kris hanya mampu menatap datar sepupu mereka yang sebenarnya 11, 12 dengan adiknya Erickh.
"Hei Edwark, jarak meja kita hanya terhalang satu meja, apa perlu kamu sampai harus pakai teropong?!" Omel Ronald, merampas kasar teropong milik Edwark.
"Ck. Ini tuh, biar kelihatan jelas. Aku ingin memantau adikku secara ketat, takutnya dilecehkan wanita itu," jawab Edwark merampas kembali teropong lalu memakainya.
"Hah..." Malvin menghela nafas melihat adik adiknya yang sama saja. Memang ya, menjadi yang tertua itu berat, harus bisa dewasa di antara yang lainnya.
"Eh eh itu si Erickh mau kemana?" Tanya Edwark mengikuti arah pergi adiknya dengan teropong.
"Mana mana! Aku juga mau liat!" Ronald mengambil paksa teropong dan memakainya juga. Keduanya melihat kepergian keduanya yang sebenarnya lewat di depan mata.
"Mereka benar pergi," gumam Ronald mengangguk setuju.
Plak plak
"Awh..." pukulan itu berasal dari Kris yang sedari tadi diam. Susah memiliki sepupu yang memiliki otak setengah.
"Yah... kinerja Erickh tidaklah buruk. Biarkan dia yang mengatasi sisanya, kita harus menyiapkan segalanya untuk sidang di pengadilan nanti." Ucap Malvin bangkit di ikuti Kris.
"Kalian duluan aja, kita mau cuci mata dulu!" Ujar Ronald menatap sekeliling dengan menggunakan teropong.
"Terserah kalianlah..." Malvin pergi bersama adiknya, pergi meninggalkan mereka yang hendak mencuci mata.
***
Malam hari di apartemen, Zaky berdiri sambil bertolak pinggang memandangi bahan makanan yang hendak ia olah menjadi makanan. Tapi, masalahnya...
"Bagaimana cara memasaknya?" Sambil menggaruk kepala. Terbiasa dimasakkan pengawalnya membuat Zaky bingung sekaligus takut jikalau masakannya tak sesuai kehendak lidah.
"Kalau saja ada Milea..." lirih Zaky teringat bagaimana biasanya Milea yang menyediakan sarapan, makan siang, bahkan makan malam dia yang siapkan. Wajar jika Zaky masih belum terbiasa tanpa keberadaan pengawalnya itu.
Menggeleng kuat, "tidak!! Aku tidak bisa terus menerus bergantung padanya! Masak doangkan? Pasti bisalah!!" Dengusnya mengambil pisau paling besar untuk memotong cabai.
Beberapa detik kemudian...
Prang...
"Aaarrrggghhh sudahlah!! Pesan saja! Memasak itu sangat merepotkan!" Dengan kesal Zaky melempar pisau di atas talenan lalu pergi keluar balkon.
Tangannya ia letakkan di pagar pembatas balkon sambil menggirup udara dingin malam. Pandangannya beralih pada bintang bintang yang bersinar terang bersama dengan bulan. Zaky mengangkat tangannya seolah olah tengah memegangi bulan.
Di tempat lain, Milea perlahan keluar dari lingkup lutut saat melihat sinar bulan merembet masuk dari sela sela jendela berpagar besi yang ada di ruangannya. Memandanginya, Milea perlahan bangkit dan mulai mengambil sebuah kursi lalu menaruhnya agar dapat melihat bulan dari jendela kecil itu. Dengan wajah sendu, Milea mengangkat tangannya seolah olah memegangi bulan. Bersamaan dengan itu, Zaky dan Milea seolah olah memegangi satu bulan bersama sama.
"Menyinari, tapi tidak menghangatkan. Indah namun tidak bisa dimiliki. Hadir diwaktu udara dingin, namun datang membawa ketenangan. Itulah bulan," gumam keduanya bersamaan tanpa sadar.
"Seperti aku dan kamu, yang ditakdirkan hanya untuk sesaat, bukan selamanya." Lanjut mereka perlahan menurunkan tangannya tapi tetap memandangi bulan.
"Aku mencintaimu..." hanya bulan yang dapat menyaksikan, bagaimana kisah dua orang yang saling mencintai terpisahkan oleh keadaan dan kondisi yang tidak memungkinkan.