Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Mencarinya...


Kata 'kan bodoh untuk pria yang mengemudikan mobilnya tak tentu arah. Bertanya kesatu orang keorang lainnya dengan jawaban yang tentunya mengecewakan hati.


"Mbak, ada liat cewek ini gak?"


"Cewek ini saya gak liat, tapi kalau jodoh udah saya liat di depan mata,"


Tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Ha, ha, ha. Gak liat ya? Makasih ya mbak, kalau gitu saya duluan," dapat infomasi tidak, di godain mbak mbak jalanan iya. Nasib mengejar cinta yang diculik, ada aja cobaan dan rintangan yang harus Haikal lalui.


Setelah cukup lama berkeliling kesana kemari, Haikal menjatuhkan tubuh lelahnya di atas kursi panjang yang terletak di depan sebuah toko buku. Haikal menggusar rambutnya kasar dengan tanpa sadar lelehan cairan bening keluar membasahi pelupuk matanya.


"Lala kamu di mana....?"


Bugh


"Awhh ssstt... woi sakit!!" Seru Haikal menatap berang orang yang melemparinya dengan kaleng bekas. Hilang tanpa jejak, sang pelaku ngacir duluan sebelum sempat Haikal marahi.


"Siapa sih orang yang kurang kerjaan, kaleng kok ditendang, gak punya bola apa?" Gerutunya sambil mengelus kening yang terlihat sedikit memar.


Matanya tak sengaja menangkap siluet tubuh familiar yang membuat Haikal langsung bangkit sambil mengingat siapa wanita itu. "Itu... wanita itu bukankah teman yang mengkhianati Lala ku dulu? Siapa namanya ya? Ti... ti... Tika! Ya Tika!"


"Bukahkah dia pacarnya si Raka? Mungkin saja dia tahu di mana keberadaan pacarnya yang menculik cintaku," seketika senyum menyeringai terbit di wajah tampannya.


"Semuanya jadi Rp.215.000,00,"


"Ini, ambil saja kembaliannya," setelah melakukan transaksi pembayaran, seorang wanita bernama Tika keluar membawa kantong kresek berisi belanjaan yang ia beli di Alpamart dekat apartemen tempatnya tinggal.


Kring


"Mmmppp mmmpp mmmppp...!!"


Brukh


Tika meringis ngilu saat merasa 'kan kening terpentuk benda keras karna didorong terlalu kuat oleh seseorang yang tiba tiba saja membekapnya saat baru saja keluar dari Alpamart.


"Di mana Nala?" Tanya Haikal to the point tanpa melihat lawan bicara yang sibuk meringis.


Tika mengalihkan pandangannya pada Haikal, "apa maksudmu? Kenapa kamu bertanya denganku? Kamu pikir aku tahu di mana pacarmu itu?!" Sewot Tika kesal karna ditarik paksa hanya untuk menanyakan sesuatu yang bahkan tidak ia ketahui.


"Kamu memang tidak tahu, tapi pacarmu Raka pasti tau," ujar Haikal menatap tegas Tika yang tiba tiba dibuat gemetar melihat aura yang memancar dari tubuh Haikal.


"Telfon dan cari tahu di mana keberadaannya! Itupun jika kamu ingin selamat," bisik Haikal lirih.


"Ta-tapi... a-aku dan.. Raka su-sudah tidak ada hubungan apa apa lagi." Elak Tika. Memang benar Raka memutuskan hubungan secara sepihak, tapi Tika masih mengharapkan pria itu kembali.


"Apa peduliku? Itu kisahmu dengan dia! Bukan kisahku. Jadi sebaiknya, jika kamu masih sayang nyawa, telfon dan tanyakan di mana keberadaannya!" Ancam Haikal.


Di tempat lain, Raka perlahan demi perlahan membaringkan tubuh tak sadarkan Nala keatas kasur yang terletak di sebuah kamar di Vila pribadi keluarga Ardinanta.


Tanyanya diam diam menelusuri setiap sudut wajah cantik Nala yang sudah disulap menjadi Ratu sehari. Dari kening, mata, hidung, hingga berakhir di bibir. Terdiam lama di sana, Raka perlahan mendekatkan wajahnya hendek mengecup bibir itu sebelum bunyi dering ponsel mengganggu aktivitasnya.


"Ck. Siapa sih? Tika? Mau apa lagi sih ni anak? Ganggu orang aja!" Tut. Raka merijek nomor Tika dengan perasaan kesal, karna wanita itu acaranya terganggu.


"Nala... Nala... aku kira kamu akan menikah dengan pacarmu yang ada di mall waktu itu, ternyata kamu justru ingin menikah dengan putra dari keluarga Cakra. Apa aku benar benar sudah tidak ada di dalam hatimu? Sungguh tidak ada?" Gumam Raka terus memandangi wajah damai itu.


"Kamu tau? Semakin kamu menjauh, aku semakin penasaran. Saat kamu mendekat, aku justru bosan. Dan saat kamu bersikap dingin padaku, di situlah aku menemukan fakta, bahwa aku benar benar jatuh cinta padamu,"


"Nala, your Mine. Be mine!"


Dddrrrtt dddrrrtt


Sekali lagi Raka harus menahan diri untuk tidak mencium bibir Nala yang terlihat menggoda karna bunyi dering ponsel yang mengganggu aktivitasnya. Melihat nama yang tertera masih bernama Tika, dengan kesal dia menekan tombol hijau untuk menerima panggilan.


"Apa?! Kamu tidak tahu aku sedang sibuk ha?! Jangan ganggu aku!" Sarkas Raka hendak menutup panggilan.


"Tu-tunggu! Jangan ditutup dulu!"


Raka mengurung niatnya dan menghela nafas pelan, "apa? Aku sedang tidak punya banyak waktu, sebaiknya kamu cepat katakan apa maumu?!"


Tika terdiam gugup sambil melihat Haikal yang senantiasa menatapnya dengan tatapan setajam silet. "It-itu... kamu sekarang ada di mana?"


Mengerutkan kening, Raka menjauhkan ponselnya bingung lalu kembali menempelkannya ketelinga. "Memangnya kenapa?"


"Emmm itu... Gea nyariin kamu,"


Hening. Raka melirik Nala sekilas lalu beralih menatap pantulan dirinya di cermin. Bukan dia tak tahu siapa itu Gea. Adik Tika yang begitu suka bermain dengannya. Tika merupakan seorang broken home. Ayahnya sudah meninggal, sedangkan Ibunya membuang mereka berdua dan lebih memilih menikah dengan lelaki baru yang jauh lebih kaya. Apartemen yang di tinggali Tika saat ini adalah apartemen pemberian Raka.


Sebenarnya selama ini Tika hanya melayaninya sebatas ciuman, karna saat ingin melakukan lebih, Tika selalu melarangnya. Bisa di katakan, Tika masih perawan.


"Aku akan kesana nanti,"


"Bisa sekarang tidak? Gea menangis mencarimu sampai ketiduran. Kamu katakan saja sekarang kamu ada di mana, biar aku dan Gea susul kesana nanti," pinta Tika dengan sekelabat mata sendu dan penuh penderitaan yang mendalam.


"Vila di Bandung," tut-- tut-- tut--


"Bagaimana?" Cecar Haikal tak sabar saat melihat Tika mematikan ponselnya dan menatap Haikal sendu.


"Dia ada di Vila pribadi milik keluarga Ardinanta yang ada di Bandung," jawab Tika setelah itu segera keluar karna air matanya sudah tidak dapat dibendung lagi.


Maaf 'kan aku Raka. Tapi aku ingin pergi. Melihatmu masih mencintainya tanpa bisa melihatku benar benar menyakitkan. Maaf, tapi izin 'kan aku untuk melupakanmu dan melupakan rasa sakit ini. Aku janji tidak akan mengganggu kehidupanmu lagi. Semoga kamu mendapatkan wanita yang bisa membuatmu bahagia. Selamat tinggal Raka...