Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Lagu untukmu


Zaky bersandar di tembok sambil meremas rambutnya, merutuki kebodohannya yang tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak mencium gadis itu. Dia terlalu marah saat Milea tidak lagi memanggilnya dengan panggilan Kakak. Apa karna Zaky menyebut dirinya wanitanya? Apa dia marah sehingga bersikap formal dan ingin menjauhinya?


Memikirkannya saja sudah membuat Zaky emosi. Dia tidak ingin wanita itu menjauh darinya. Milea adalah cinta pertamanya, pemilik ciuman pertamanya, wanita pertama yang dekat dengannya tanpa ada hubungan kekeluargaan.


Milea adalah pertama dan satu satunya yang hadir mewarnai hidupnya yang kelabu. Sama sama lahir dari keluarga broken home membuat mereka mengerti satu sama lain dan saling melengkapi satu sama lain. Salahkan dia egois dan tidak ingin berpisah dengan Milea?


Puk


"Ky, ngapain di sini? Acaranya udah mau mulai tuh!" Zaky segera tersadar dan menoleh kesamping. Pria bernama lengkap Yunan Triandja itu menepuk bahunya dan mengajaknya untuk segera bergabung bersama yang lain.


"Oh. I-iya.." Keduanya pun akhirnya pergi bergabung bersama yang lainnya. Sedangkan Milea, dia segera bangkit saat mendengar pengumuman dari mc bahwa acara akan segera dimulai.


Milea pergi berjalan menuju halaman depan vila yang sudah di sulap sedemikian rupa menjadi tempat acara reuni angkatan 20** untuk bersenang senang.


Milea berjalan bersama rombongan orang orang yang juga ingin segera berkumpul untuk mendengar rentetan acara yang akan dilangsungkan oleh mc.


Langkahnya terhenti saat merasakan indranya merasakan keberadaan seseorang dari lantai atas. Dan benar. Saat Milea melirik kearah balkon vila, dia melihat seseorang berbaju hitam tengah bersembunyi di balik pot tanaman yang ada di sana sembari memegang sebuah senapan yang di tujukan pada salah seorang tamu acara.


Milea memutar balik haluan tanpa sepengatahuan siapa siapa. Dengan gerakan cepat dia naik kelantai tiga vila untuk menangkap pria asing yang ingin berbuat masalah itu.


"Ekhm" pria berbaju hitam yang saat ini fokus pada target seketika terdiam dan perlahan berbalik badan. Melihat seorang wanita cantik nan mungil tengah berdiri tenang di hadapannya.


"Senang bertemu dengan orang suruhannya," sapa Milea tersenyum misterius. Pria itu memandang Milea dengan tatapan datar dan menusuk. Suasana di atas sana tiba tiba berubah sangat mencekam.


Di dalam rombongan itu, Nala celingukan mencari keberadaan sahabatnya yang tak kunjung datang. "Milea kemana sih? Ketoiletnya kok lama banget?" Lirih Nala khawatir, dan itu tidak luput dari penglihatan Haikal.


Mengambil kesempatan dalam kesempitan, Haikal menggenggam erat tangannya hingga membuat Nala mengalihkan pandangan pada Haikal.


"Tidak perlu khawatir. Zaky tadi menyusulnya, Milea pasti baik baik saja." Ucap Haikal tersenyum lembut dan menenangkan.


"Yah, semoga saja."


"Hallo semuanya!! Apa kabarnya nih? Alhamdulillah mimin sehat guys, jadi terharu tahu ditanyain kabarnya sama kalian."


"Huuu!!"


Acara telah dimulai, membuat Nala sedikit mengalihkan perhatiannya kearah mc. Dia masih tidak sadar, bahwa sedari tadi Haikal terus menggenggam erat tangannya tanpa ingin melepaskan. Pria itu saat ini sangat bahagia, dan merasa dunia seolah olah milik berdua.


Saat mc masih berbicara ngalor ngidul gak jelas yang membuat suasana penuh euforia dengan suara tawa para alumni yang kini sudah sukses di bidang masing masing. Haikal melirik Nala sejenak, lalu melepas tautan tangan mereka dan berjalan keatas panggung untuk membisikkan sesuatu pada mc bernama Rian itu.


"Oh sip. Oke guys! Teman kita Haikal Malik katanya pengen sumbangin suara emasnya buat seseorang. Jadi buat cewek cewek siapin hati sama wadah ya biar kalo meleleh ada yang nampung! Oke. Ini dia... HAIKAL MALIK!!"


Nala terdiam saat baru menyadari Haikal sudah tidak ada di sampingnya, dan kini justru berada di atas panggung dengan memangku sebuah gitar.


"Tes tes. Hallo semuanya, apa kabar? Maaf kalo gue ganggu acara dikit. Di sini gue mau nyanyi buat seseorang. Dia berarti banget buat gue. Dia teman masa kecil gue. Lala!! Lagu ini gue persembahkan untuk lo!"


Lala...


Nala terpaku tak percaya. Lala? Bukankah itu nama panggilan dia semasa kecil? Jangan bilang kalau Haikal adalah...


...Masih dengan perasaan ku yang dahulu. Tak berubah dan tak berbeda. ...


...Aku masih yakin, nanti milikmu......


...Aku masih, di tempat ini......


...Masih dengan setia menunggu kabarmu....


...Masih ingin mendengar suaramu.....


...Cinta membuatku. Kuat begini......


...Aku merindu......


...Ku yakin kau tau......


...Tanpa batas waktu... ku terpaku....


...Aku meminta......


...Walau tanpa kata......


...Cinta berupaya......


...Engkau jauh di mata......


...Tapi dekat di do'a.....


...Aku merindu.. kan.. mu*......


Semua orang begitu menikmati alunan musik yang dinyanyikan Haikal. Lain halnya Nala yang masih diam tak bisa berkata apa apa, yang ada di pikirannya saat ini hanya ada satu. Jika ada yang kenal Lala, maka itu adalah Ikal.


Di kerumunan lain, Zaky berdiri gelisah sembari melirik sana sini dengan perasaan yang tidak dapat dijelaskan. Khawatir, cemas, gelisah, dan takut tiba tiba melanda hatinya. Satu nama yang sedari tadi ia cari keberadaannya. Milea Gunawan. Wanita itu tak terlihat batang hidungnya sejak terakhir kali ia cium di toilet tadi, dan sampai sekarangpun tidak ada tanda tanda wanita itu terlihat.


"Hei lihat!! Ada yang sedang berkelahi!!" Teriak seseorang menunjuk kearah balkon vila hingga membuat semua orang mengalihkan pandangan mereka keatas sana.


Deg


Zaky terpaku saat melihat Milea terlihat kewalahan melawan seorang pria berpakain serba hitam itu di atas sana.


"Milea..."


DOR!!


"ARRRGGHH"