
"AHHHHH!!!" Jangan tanya siapa pria yang mendesah prustasi sambil membenturkan keningnya ketembok ruangan dengan gilanya.
Pria itu mengambil duduk dengan kasar keatas sofa sambil memejamkan mata dan tangannya memijat pelan keningnya.
"Hehe... mari."
"ARRRGGHHHH!!!" Zaky berteriak kuat saat bayangan senyum menggemaskan itu tidak bisa hilang dari pikirannya. Akui saja, Milea sekarang jauh lebih cantik dua kali lipat dari dirinya yang dulu.
"Huft. Mengapa kamu harus kembali dengan sifat dan wajah secantik itu? Sedetik saja lagi kalau kamu tidak pergi aku benar benar akan jatuh pada pesonamu!" Ujar Zaky berbicara seolah Milea ada di sana.
"Aaahhhh..."
Tok tok tok
Milea menghentikan jarinya dan melirik kearah pintu. "Masuk!" Titahnya lalu melepas kacamatanya dan menaruhnya di atas meja.
Ben. Pria itu masuk dan berdiri hormat di hadapan nona mudanya. "Maaf mengganggu pekerjaan anda nona," berhenti sejenak. "Tapi direktur terdahulu memaksa untuk bertemu dengan anda," lanjut Ben berdiri tegap.
Menyandarkan tubuh. "Maksudmu putri keluarga Cakra itu?" Tanya Milea memastikan.
"Benar."
"Heh. Suruh dia masuk!" Jawab Milea meletakkan pulpen keatas meja lalu menatap lurus kedepan menunggu kedatangan tamu terhormatnya.
Tap tap tap
Tap.
"Selamat datang di ruangan saya, nona Riantay Cakra," sambut Milea enggan beranjak dari duduknya. Masih dengan ciri tenang yang menghanyutkan.
"Oh? Jadi inikah direktur baru yang telah merebut posisi ku? Sungguh tidak ada bandingannya denganku. Tapi mengapa Tuan Malvin memilihmu untuk menjadi direktur baru di sini? Kamu menggodanya?" Kedatangan yang mungkin tidak memiliki sopan dan etika. Namun Rianty terbawa emosi karena pekerjaannya hilang gara gara Milea.
"Aku? Menunjuk diri sendiri. "Menggoda tuan Malvin? Hahaa. Kamu bercanda?" Terkekeh kecil lalu perlahan bangkit dari kursinya berjalan perlahan menghampiri Rianty.
"Tidak perlu menggoda, karena diamku saja sudah sangat memikat," bisik Milea tersenyum menyeringai lalu berbalik badan.
"Dasar tidak tahu malu!! Beraninya kamu merebut posisi orang lain! Kamu benar benar wanita kejam yang tidak berperasaan!" Seru Rianty menghentikan langkah Milea.
Dalam diam kepalan tangan mulai memerah. Namun dengan mengatur nafas, Milea berbalik menghadap Rianty sambil bersidekap dada. "Aku tidak pernah merebut posisimu, tapi memang sudah saatnya kamu tersingkir. Jika bukan karena performamu yang buruk, mungkin karena ferformaku jauh melebihimu sehingga aku menjadi lebih pantas menduduki posisi ini." Jawab Milea tenang.
"Heh. Ferforma? Kita lihat saja, bagaimana kamu mengelola perusahaan ini. Sebulan cukup untuk membuktikan apakah kamu layak duduk di posisimu itu atau tidak. Dan aku pastikan tuan Malvin akan menyesal karena menggantikan ku dengan wanita murahan sepertimu!" Tantang Rianty.
Memutar bola mata malas. "Aku lahir dari keluarga seorang pebisnis. Dari kecil hingga besar, selalu ada otak bisnis dalam diriku. Jadi apa salahnya memanfaatkan kekuasaan keluarga dan mengelolanya menjadi lebih baik?" Ucap Milea berjalan menyisihkan jarak antara dirinya dengan Rianty.
"Kenapa kamu tidak ikut berbisnis dengan ayahmu saja, agar kita impas. Aku mengurus bisnis keluargaku, kamu mengurus bisnis keluargamu. Simple, 'kan?" Lanjut Milea menyikapi sorot mata tajam dari Rianty dengan tenang.
"Oke. Kita lihat, selama satu bulan ini perusahaan siapa yang bisa menduduki posisi pertama!" Setelahnya berlalu pergi.
Brukh
"Ah... kenapa berbisnis sangat susah?!!!" Teriak Milea menjatuhkan kepalanya ditumpukan kertas yang menggunung di hadapannya.
"Emmm... jika anda ingin, saya bisa menggantikan anda mengurusnya. Jadi anda bisa berfokus untuk bagaimana caranya mencari bukti pembunuhan itu," ucap Ben tak tega melihat nona mudanya yang stress dengan tumpukan kertas yang terlalu banyak untuk ditanda tangani.
"TIDAK!!" Mengangkat kepala dadakan, membuat Ben sedikit tersentak. "Tidak. Aku tidak akan menyerah! Aku tidak boleh kalah dari wanita sialan itu!!" Seru Milea penuh kobaran api.
"Tapi berbisnis memang susah... kenapalah dulu aku mengambil jurusan keperawatan bukan manageman bisnis saja," keluh Milea selanjutnya.
"Kalau begitu, bukankah anda harus belajar kembali. Sama seperti dulu anda belajar di jurusan keperawatan anda, sekarang anda harus belajar di jurusan manageman bisnis pula." Usul Ben sambil meletakkan setumpuk berkas keatas tumpukan lainnya.
"Kau benar. Aku membutuhkan seseorang yang bisa mengajarkanku untuk berbisnis," memandang lurus kedepan dengan senyum menyeringai penuh rencana.
"Kalau begitu nanti akan saya carikan---"
"Dan aku tahu siapa orang yang bisa mengajariku berbisnis!!" Potong Milea tersenyum jahil.
"Siapa?"
Menoleh cepat. "Kau tidak perlu tahu. Yang perlu kamu lakukan adalah menyebarkan identitas asliku kepublik! Pastikan berita itu menyebar dan sampai ketelinga para petinggi perusahaan. Aku sudah memiliki rencana agar bisa memasuki kediaman Rahardian tanpa penolakan," jawab Milea tersenyum penuh menyeringai licik.
"Tapi, tuan besar sudah mengingatkan saya untuk menjaga anda. Bukankah dengan menyebarnya berita tentang identitas asli anda akan membuat anda semakin dalam bahaya?" Tutur Ben cemas.
"Tidak perlu kamu pedulikan itu. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Kamu turuti saja perintahku untuk menyebarkan kabar angin itu secepatnya! Semakin cepat menyebar, semakin cepat pula kita memasuki kawasan Rahardian. Dan cerita ini akan berlanjut dengan sangat menarik." Gumam Milea.
"Huft. Baik nona!"
"Oh ya, keluarkan motor sportku! Aku ingin berguru dengan seseorang!" Timpal Milea teringat dengan motor kesayangannya yang dulu tertinggal di Australia.
"Terlalu berbahaya menaiki motor sendirian nona, saya akan menyiapkan mobil untuk---"
"Turuti saja perintahku!" Titah Milea tak terbantahkan.
"Huft. Segera saya siapkan!"
Berlalunya Ben dari ruangannya, Milea segera masuk kedalam ruangan rahasianya yang tersembunyi di balik rak buku. Di dalam sana lengkap seperti kamarnya. Kasur, lemari, bahkan kamar mandi.
Setelah membersihkan diri, Milea keluar dari ruangan dengan menggunakan celana jins berwarna hitam serta baju barted top dan tak lupa kacamata hitamnya.
"Zaky... i'm come in!!" Gumamnya berjalan anggun keluar menggunakan heilsnya.