
"Ada apa?" Tanya Milea menatap heran Zaky yang terlihat berkali kali menelfon seseorang dari ponselnya.
Zaky menatap Milea. "Gak tahu, Haikal tadi nelfon trus tiba tiba ponselnya mati," jawabnya cemas.
"Mungkin lowbad, positif thinking aja." Ucap Milea menarik pelan tangan Zaky untuk kembali duduk di sampingnya.
Tapi, semakin lama perasaan Zaky berubah semakin tidak tenang. "Gak. Aku harus kekantor. Pasti ada sesuatu yang terjadi padanya di sana." Zaky bangkit berlari dengan cepat keluar dari pintu.
"Eh tunggu tuan!! Saya ikut!!"
Di lain sisi, Haikal membiarkan tubuhnya menjadi pelampiasan tangis Nala yang perlahan mulai mereda. Ekor matanya melirik kearah ujung sebelahnya, di mana ponselnya sekarang tergeletak terbalik. Matanya kembali menatap Nala lalu perlahan tangannya meraba raba mencoba mengambil ponsel itu.
"Hiks jangan pergi..." halang Nala semakin memperarat pelukannya. Haikal melirik ponselnya dan Nala bergantian, dia menghela nafas pelan lalu kembali memeluk Nala.
"Tenanglah... aku tidak akan pergi.."
"Ada tuan?" Tanya Milea saat mereka sudah berada di lantai teratas kantor. Zaky menoleh kebelakang menggeleng lemah. "Gak ada."
"Mungkin benar, Pak Haikal sudah pulang dan saat menelfon anda, ponselnya tiba tiba mati." Ucapnya mencoba menghibur kegundahan hati tuannya itu.
"Mungkin iya kali."
"Sudah tuan, kita berdoa saja semoga pak Haikal baik baik saja. Dan mungkin kita bisa mengunjungi pak Haikal sebentar di apartemennya,"
Zaky menatap Milea tersenyum paksa, lalu menganggukkan kepalanya. Keduanya pun berjalan menuju lift khusus karyawan, tapi langkah Zaky terhenti tepat di depan pintu lift khusus untuknya.
"Ada apa tuan?" Tanya Milea heran ikut memusatkan pandangannya kearah lift. Seketika matanya membulat sempurna.
Haikal masih setia memeluk Nala sesekali membelai rambut panjangnya. "Kita tidak bisa terus terusan di sini, kita harus mencari jalan keluar." Bujuk Haikal.
Hening... tidak ada jawaban apa apa dari mulut Nala. Dapat Haikal dengar, deru nafas yang teratur menandakan bahwa si pemilik tubuh telah terlelap.
Haikal hanya mampu menghela nafas tak tahu harus berbuat apa. "Harus segera mencari bala bantuan. Udara di sini sudah semakin menipis." Gumamnya berusaha menggapai ponsel tanpa harus membangunkan Nala.
"Emmhh.." tit. Haikal berhenti sejenak melirik Nala, setelah memastikan wanita itu masih dalam tidurnya, dia kembali berusaha mengambil ponselnya.
"Dapat!!" Huft. Haikal bernafas lega setelah berhasil mengambil ponselnya. Sembari memeluk Nala, Haikal dengan cepat menekan tombol panggil pada nomor sahabatnya Zaky.
"Tut---tut---tut--- Maaf, nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan. Cobalah beberapa saat lagi. A num--"
Tak
Haikal menggeram kesal saat mencoba menghubungi Zaky berkali kali tapi tidak ada satupun yang diangkat. "Siapa lagi yang harus aku hubungi? Ah benar!! Milea!"
"Tut---tut---tut--- Maaf nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan. Cobalah beberapa---"
Bug
"Sial!! Kenapa tidak ada satupun dari mereka yang menjawab panggilanku?!" Geramnya dengan nada tertahan.
*
Di sebuah bangunan, nampak satu ponsel berdering beberapa kali hingga tak lama kemudian ponsel yang satunya ikut berbunyi. Yah, itu ponsel Milea dan Zaky yang tertinggal di atas meja kecil depan sofa ruang tamu.
*
"Huft.." ini sudah kesekian kalinya Haikal menghela nafasnya sesekali melirik tombol lift berharap sesuatu terjadi. Nihil. Tidak ada apa apa yang terjadi di sana, membuatnya sekali lagi menghela nafas.
Zaky dan Milea mundur menjauh, membiarkan para petugas pemadam kebakaran membongkar lift itu. Mereka berdoa semoga orang yang ada di dalam itu selamat. Meskipun tidak yakin apakah benar di dalam sana benar ada Haikal, tetap saja mereka khawatir. Apalagi itu khusus para atasan, dan banyak kemungkinan di dalamnya ada Haikal.
"Hallo, hallo hallo..." Haikal yang baru saja terlelap langsung terbangun saat mendengar seseorang.
"*H*allo!!" Benar. Kali ini pendengaran Haikal tidak salah, suara itu berasal dari mikrofon yang ada di bawah tombol singal butuh bantuan.
"Iya Hallo!" Balas Haikal cukup kuat. Seketika dia sadar Nala sedang tertidur, dengan cepat dia memasangkan earphone pada Nala agar bisa leluasa berteriak.
"Ah ada suara. Anda baik baik saja pak?" Tanya petugas itu. "Saya baik baik saja, tapi teman saya tidak. Saya mohon cepat selamatkan kami!" Seru Haikal.
"Baik, kami akan segera menyelamatkan anda dan teman anda. Harap tetap berada di tempat dan jangan bergerak, agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan!" Instruksi petugas itu.
"Teman? Jangan bilang..." Milea membulatkan matanya sempurna. Perasaannya mulai gelisah saat mendengar kata 'teman'. Entah mengapa dia yakin sosok teman itu adalah sahabatnya Nala.
"Kau kenapa?"
"Nala... Nala ada di dalam tuan!!" Paniknya. "Hei tenanglah! Tidak akan terjadi apa apa pada temanmu, petugas sedang berusaha untuk menyelamatkannya," ucap Zaky mencoba menenangkan kegundahan hati pengawalnya.
"Saya tau. Tapi masalahnya, Nala itu phobia kegelapan. Dia akan berteriak histeris saat berada di dalam keadaan yang gelap, lalu akhirnya akan sesak nafas!"
"APA?!"
"Nala... kita selamat. Bertahanlah sedikit lagi!" Gumam Haikal memeluk erat tubuh Nala.
"Haaa..hah... haaa..hah.. haaa..hah.. haaa..hah.."
"Nala? Hei are you okey? Nala hei ada apa denganmu?!" Teriak Haikal panik saat melihat Nala terlihat kesulitan bernafas. Itu membuatnya benar benar panik.
"Nala bertahanlah, sebentar lagi petugas akan menyelamatkan kita. Ku mohon bertahanlah!!"
Haikal menoleh kanan kiri berharap ada sesuatu yang bisa membantunya. Tapi, tidak ada satupun barang di sini selain tas kantornya dan juga tas Nala.
"Tas Nala?" Pria itu segera merampas tas milik Nala lalu mengobrak abrik isinya. Tetap saja, tidak ada apa apa di sana selain ponsel, make up, dan charger ponsel. Beberapa di antaranya juga ada plasdisk.
"Haa..hah.. haa..hah.. haa..hah.." Haikal semakin di buat panik melihat Nala semakin kesulitan untuk bernafas. Dia dengan cepat membaringkan tubuh Nala lalu bangun menghampiri mikrofon darurat lift.
"Hallo hallo? Bisa di percepat sedikit? Teman saya sedang tidak baik baik saja!! Saya mohon! Ada yang dengar?!" Teriak Haikal prustasi. Pandangannya kini beralih pada Nala yang sulit bernafas.
Dia berjalan menaruh kepala Nala di atas pangkuannya. Haikal menarik nafas panjang mencoba meyakinkan diri bahwa yang dilakukannya ini adalah pertolongan pertama untuk Nala.
"Maafkan aku..."
Cup
Haikal memberikan nafas buatan untuk Nala. Saat terlihat Nala masih sulit bernafas, dia kembali memberikan nafas buatan untuk beberapa kali. Hingga tak lama kemudian, lift sudah kembali berfungsi.
Drrt Drrt
Ting
Pintu lift terbuka, Haikal dengan cepat membopong tubuh Nala yang lemas akibat terlalu lama di dalam lift yang minim akan udara. "OKSIGEN CEPAT OKSIGEN!!" Teriak Haikal membawa cepat Nala keluar dari lift.
Beberapa petugas segera memasangkan oksigen kepada Nala dan juga Haikal. Tak lama setelah itu, ambulan datang untuk membawa Nala menuju rumah sakit mengingat wanita itu yang terlihat parah.