
Mengusap sudut bibirnya yang berdarah, dalam diam Raka berdecih lalu tanpa aba aba membalas pukulan Haikal di tempat yang sama. Hingga terjadilah perkelahian sengit di antara keduanya.
Terjatuh di atas kasur, guling guling untuk berpindah posisi, hingga keduanya terjatuh dari atas kasur dengan sangat mengenaskan.
"Aduh... stop!! Kalian apa apain sih?!" Teriak Nala berjalan penuh susah karna gaun pengantin yang panjang.
"Berhenti! Berhenti aku bilang!" Dengan susah payah, akhirnya Nala berhasil memisahkan keduanya.
"Udah puas berantemnya?!" Omel Nala bertolak pinggang melirik keduanya secara bergantian dengan garang.
"Huh." Tak sengaja bertemu pandang, Haikal dan Raka langsung mengalihkan pandangan ke arah berlawanan sambil bersidekap dada penuh arogan.
Melihat itu Nala perlahan menurunkan tangannya dari pinggang sembari menghela nafas lelah.
"Sedang apa kamu di sini?" Tanya Nala membuat Haikal tersadar pada tujuannya. Dengan gerakan kilat, Posisi keduanya berubah menjadi berpelukan, dan membiarkan Raka si jomblo mencibir dalam diam karna menyaksikan adegan yang membakar jiwa singlenya.
"Kamu gak apa apa 'kan La? Aku khawatir banget sama kamu. Please, jangan tinggalin aku lagi. Aku mencintaimu Lala," bisiknya.
Dengan mata yang mengerjap erjap lucu, sedetik kemudian Nala mendelik sebal dan langsung mendorong tubuh Haikal dari tubuhnya. "Apaan sih! Orang baik baik aja juga! Jangan lebay deh!" Dengus Nala membuang pandangan kesembarang arah menutupi rasa haru dan bahagia yang dia rasa 'kan.
"Aku gak lebay Nala, ini itu tandanya aku---"
"NALA!" Semua orang yang berada di dalam kamar itu langsung mengalihkan pandangannya kearah pintu. Tujuh orang yang mereka kenal datang berhamburan masuk kedalam kamar.
"Nala..." Kirana dan Wendi tanpa aba aba langsung memeluk putri kesayangan mereka Nala.
"Mama... papa..."
"Kamu gak apa apa 'kan sayang? Si Raka itu gak ngapa ngapain kamu 'kan? Bilang sama mama, biar si Raka itu mama hajar wajahnya," cecar Kirana memutar tubuh Nala, kekiri kekanan, kebelakang dan berputar untuk memastikan bahwa putrinya masih utuh tak ada yang lecet.
"Nala enggak apa apa kok mah," jawab Nala menahan tangan Kirana agar tidak terus memeriksa tubuhnya.
"Syukurlah, maafin mama ya sayang,"
"Iya."
Puk
"Terima kasih karna sudah menyelamatkan putri ku Nala," ucap Wendi tulus.
"Om gak usah berterima kasih, melindungi Nala merupakan tugas wajib buat Haikal," sambil melirik mempelai pria dengan penuh arti. Senyum tipis menyeringai tertangkap jelas oleh Riandy, membuat pria itu diam diam mengepalkan tangannya penuh emosi. Berusaha menahannya karna ada Cakra yang merupakan orang tuanya di sini.
"Jadi pernikahannya bagaimana?" Tanya Riandy setelah cukup lama bersabar. Merebut Nala dari Haikal adalah cara mudah namun paling menyakitkan untuk Haikal.
"Pernikahan? Pernikahan apa? GAK ADA PERNIKAHAN ANTARA KAMU DAN NALA!! Pernikahan ini batal! Kamu dengar? BATAL!!" Jawab Milea sewot. Orang Nala baru saja ketemu, dia langsung nanya tentang pernikahan. Gimana gak kesal coba?
"Gak bisa git---"
"Pernikahan ini batal!" Putusan mutlak telah Cakra tentukan. Melirik Haikal sekilas, dia pun keluar membawa aura dinginnya pergi dari sana.
Pada akhirnya aku tetap tidak bisa mencegah kalian untuk tidak menikah.
Setelah Cakra pergi, aura di sana sedikit lebih reda. Dengan gugup, Haikal menghadap Wendi tegas. "Om, izinin saya menikahi putri om!" Pintanya tegas.
"Haikal!!" Bentak Nala kaget.
"Cukup Nala! Kali ini aku tidak menerima penolakan. Jika kamu tidak bisa menerima ku sebagai Ikal sahabat masa kecil mu, maka terimalah aku sebagai Haikal atasanmu. Aku sanggup untuk berubah sesuai kemauanmu asal 'kan kamu selalu ada di sisi ku!" Jawab Haikal penuh keyakinan dan ketegasan sampai Nala sendiri tidak dapat berkutik lagi.
Wendi diam melirik istrinya meminta persetujuan, dan dari anggukan sang istri, Wendi kembali mengalihkan pandangannya. "Jika kebahagiaan putri kami ada padamu, maka masuklah kedalam kehidupannya. Kami sepenuhnya mendukung mu!"
"Makasih om!"
Milea tersenyum kecil ikut bahagia bersama sahabatnya Nala. Hanya saja, entah mengapa ada sedikit kegelisan di hatinya, dan dia tidak tahu karena apa.
"Kita kapan gitu juga?" Bisik Zaky merapatkan tubuhnya pada Milea sambil melirik wanita itu.
Mendelik sinis, "kapan apa?! Gak ada kapan kapanan! Ngerusak suasana aja!" Nampaknya inilah yang menjadi penyebab kegelisahan di hatinya. Satu nama. Zaky Alexander, atau Zaky Angkasa.
Zaky mendengus sebal. Selalu seperti ini. Milea mencintainya, tapi kenapa dia seolah olah membangun benteng kokoh untuk menghalau dia masuk. Apa alasannya coba? Kalau cinta sama cinta, kenapa harus berkorban untuk tersakiti di saat dia bisa bahagia.
Entahlah. Milea adalah teka teki yang sampai detik ini belum sepenuhnya bisa ia pecahkan. Seperti Rubik yang butuh konsentrasi tinggi dan perhitungan yang akurat untuk memecahkannya.