
"Nona!!" Seru Ben berlari masuk menghampiri Milea yang sudah duduk tenang di meja tersangka. Dan itu tidak luput dari pandangan Zaky yang ikut duduk di meja penuntut.
"Nona anda baik baik saja bukan? Anda tenang saja, saya sudah menyiapkan pengacara terbaik untuk mengeluarkan anda dari tuduhan ini," tutur Ben cemas.
"Apa kakek mengetahui ini?" Tanya Milea tanpa mengindahi perkataan Ben, matanya lurus menatap kedepan penuh aura dingin.
Terdiam sejenak, "belum. Beliau sedang liburan ke Swiss. Hanya sepupu sepupu anda yang mengetahui ini," jawab Ben.
"Katakan pada yang lain, jangan biarkan kakek sampai mengetahui hal ini. Masalah ini, biar aku yang menyelesaikannya." Titah Milea.
"Tapi---"
"Turuti saja!!" Tegas Milea mendelik tajam pada Ben.
Menghela nafas pasrah, "baik nona. Kalau begitu saya akan menyiapkan pengacara anda dulu. Permisi," Ben berlalu pergi dengan pasrah.
"Siapa lelaki itu?" Gumam Zaky diam diam mengepalkan tangan di bawah kolong meja.
Tok tok tok
Semua orang diam sesaat setelah tiga ketukan dari palu hakim terdengar. Ben sudah siap dengan pengacaranya, sedang Zaky pun tak kalah siap dengan mengundang pengacara terbaik dari keluarga Alexander.
"Silahkan untuk penuntut menyampaikan pendapatnya!" Tutur Hakim tegas. Sebagai pengacara dari pihak penuntut, Karan dengan bangga bangkit dan mulai mengutarakan pendapatnya.
"Sesuai bukti yang ada, kami meminta keadilan kepada hakim untuk memberikan hukuman yang setimpal sesuai undang undang berlaku," ucap Karan setelahnya kembali duduk.
"Baiklah, dari pihak tersangka, ada yang ingin disampaikan?" Ucap Hakim beralih pada pengacara Jack.
"Saya membantah keterangan dari pihak penuntut. Kejadian itu sudah berlalu hampir delapan tahun, kita tidak ada yang tahu bagaimana kejadian sebenarnya. Jika hanya bergantung pada sepotong vidio saja, lalu bagaimana dengan klain saya?! Dia juga membutuhkan keadilan!!" Jack angkat bicara.
"Keadilan? Keadilan apa?!! Bukti nyata sudah ada, apalagi yang butuh di adili?! Tersangka sudah di klim bersalah karna sudah mendorong korban!!" Bantah Karan bangkit dari duduknya tak terima.
Melirik Karan sekilas, Jack tersenyum sinis lalu beralih menghadap Hakim penuh wibawa. "Kejadian berlangsung di kediaman keluarga Rahardian, tepatnya di balkon lantai tiga kediaman Rahardian. Jarak setiap lantai adalah 15 meter, jika di hitung hanya berkisar 45 meter untuk tiga lantai. Jikalau pun jatuh, seharusnya masih sempat di bawa kerumah sakit, dan mungkin hanya mengalami patah tulang, atau tidak bisa jadi dalam keadaan koma,"
"45 meter untuk anak remaja seperti korban itu sudah cukup membuatnya meregang nyawa! Bagaimana bisa anda membuat kesimpulan semudah itu?!!" Bentak Karan.
"Ada dua kemungkinan yang terjadi. Korban meninggal saat dalam perjalanan menuju rumah sakit, atau... keluarga Rahardian sengaja membiarkannya mati demi melindungi salah satu dari putri mereka," lanjut Jack tanpa mengindahi pihak lawan.
"Ada dua kemungkinan yang terjadi. Korban meninggal saat dalam perjalanan menuju rumah sakit, atau... keluarga Rahardian sengaja membiarkannya mati demi melindungi salah satu dari putri mereka,"
"Masih ada," jawab Jack mulai mengeluarkan alat canggih dari sakunya lalu berjalan menuju layar lebar yang menampilkan vidio bukti.
"Dari vidio ini, secara logika mata kita menangkap bahwa tersangka sengaja mendorong korban dari balkon lantai tiga. Memperlebar layar. "Tapi jika kita lihat lebih teliti lagi, dalam vidio ini, korban sudah berada di balik pagar pembatas balkon, ada kemungkinan korban berniat ingin bunuh diri."
"Dan dari vidio ini, kita dapat melihat bahwa tersangka berlari dan mendorong korban hingga terjatuh. Namun, jika kita lihat lagi, tersangka tidak berniat ingin mendorongnya. Jikalau pun iya, tersangka tidak harus berlari. Secara kemungkinan, jika tersangka ingin mendorong korban, dia akan berjalan cepat dan saat sudah sampai maka langsung mendorong. Sedang dari vidio ini, tersangka berlari, tubuh condong kedepan, dan tangan terentang seperti sedang mencari benda untuk menahan tubuh. Dan dari kesimpulan yang saya dapat, saat korban ingin bunuh diri, tersangka berniat ingin menghentikannya, namun secara tidak sengaja tersandung sesuatu dan refleks mendorong korban dari balkon." Jelas Jack panjang lebar.
"Bagaimana pihak penuntut? Masih ada yang ingin di sampaikan?" Tanya Hakim. Karan terdiam sejenak sambil mengepalkan tangan, "tidak ada." Jawabnya singkat.
"Baiklah, dengan ini saya menyatakan, sidang pertama dimenangkan pihak tersangka!!"
Tok tok tok
Semua orang yang menyaksikan akhirnya bubar karna pengadilan telah berakhir, butuh satu minggu lagi untuk menunggu sidang yang kedua.
"Princess!!" Seru Malvin, Ronald, Erick, Edwark, dan Kris yang baru saja sampai setelah sidang selesai.
"Are you okey?" Cecar Kris merengkuh tubuh Milea kedalam pelukannya, tak peduli tatapan tajam penuh iri dari sepupu maupun kakaknya, yang pasti dia benar benar mengkhawatirkan Milea.
"It's oke,"
"Siapa mereka?" Gumam Zaky diam diam mempertajam tatapannya karena melihat Milea di kerumuni para lelaki tampan.
"Ayo ky, lo butuh istirahat. Minggu depan lo mesti menghadiri pengadilan lagi," ajak Harun menarik paksa tubuh Zaky yang enggan pergi dari sana.
Milea....
***
Assalamu'alaikum...
Hai readers semua... gimana kabarnya? Author harap sehat semua ya...
Maaf kalau beberapa hari ini gak update, di karenakan handphone author masuk rumah sakit, jadinya gak bisa nulis.
Ini juga alhamdulillah udah bisa buka handphonenya. Yah meskipun masih belum sehat banget...
Harap di maklumi ya kalau authornya jarang update...