Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Lupa mengunci pintu


Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


⚠Disarankan untuk membaca dari awal takutnya, tidak paham!!!


...****************...



"Berita yang membuat heboh kemarin malam, tentang terbongkarnya sebuah Lab... yang memakan banyak nyawa untuk penelitian-nya, kini telah di selidiki oleh polisi dan kejaksaan, semua orang yang terlibat menurut bukti yang ditemukan, semuanya telah di amankan oleh pihak kepolisian... tapi WN masih tidak memberikan konfirmasinya atas dugaan yang mengatakan jika dialah dalang di balik semua ini,,, pihak jaksa sudah mengirim surat panggilan terhadap Presdir serta pemilik NVC itu untuk datang ke kejaksaan... dan sejauh ini masih tidak ada yang bisa mengkonfirmasi apakah tuduhan yang dikatakan itu benar atau tidak" ~ Pembawa Berita


Serin yang kala itu sedang duduk santai bersama anak dan suaminya di ruang keluarga, menarik senyumnya


"Bukankah hadiah tahun baru kali ini spesial untuknya?!" celetuk Serin dengan nanar mata yang masih fokus menatap televisi


"Sangat spesial" sahut Glen yang sedang duduk sambil membentangkan tangannya di atas punggung sofa


Glen memang tidak pergi ke kantor, karena besok sudah akhir tahun, jadi ia memberikan libur selama 3 hari untuk pegawainya, dan penutupan akhir tahun juga sudah selesai mereka kerjakan jadi Glen memberikan waktu untuk karyawannya bersantai dengan keluarga mereka masing-masing


"Menurutmu alasan apalagi yang akan mereka gunakan untuk menutup kasus ini?!" tanya Serin tanpa menoleh pada suaminya


"Kalau sampai mereka masih berpikir untuk menutup kasus ini, itu keterlaluan nampak sekali jika orang dalam kejaksaan maupun kepolisian terlibat, jika meloloskannya kali ini" sahut Glen


"Selain kamu, aku menyuruh Max kemarin untuk memberikan hadiah tambahan untuk Willy" tambah Glen, sukses membuat atensi istrinya itu beralih padanya


Glen yang paham atas tatapan istrinya, langsung membuka mulutnya untuk menjelaskan-nya


"sejauh ini, kami memang tidak nampak tapi Detektif Jung dan anak buahnya terus mencari hal aneh tentang Golden City... dan berakhir pada penemuan mereka tentang adanya dugaan, mengekploitasi para pekerja" jelas Glen


"Bukan hanya mengekploitasi, mereka juga membeli tempat itu dengan paksa pada para penduduk, dengan mengancam mereka! karena di ancam tentu saja mereka tidak berani melawan" ujarnya lagi


"Aku akan tenang jika Willy sudah di tahan, dan mendapat dakwaan dari pengadilan atas perbuatannya" ucap Serin dan di angguki oleh pria itu, karena ia juga setuju atas penuturan istrinya


Mereka berdua terlalu asik bicara sampai melupakan pria kecil yang sedang duduk di tengah mereka kini telah tertidur, mungkin ia serasa mendengar dongeng dari dua orang yang sedang saling bicara itu


"Astaga aku melupakan putraku" ujar Serin mendaratkan satu kec**an pada putranya, begitu juga dengan Glen


...****************...


Disisi lain, seorang pria tengah duduk dengan santainya seolah tidak ada beban sama sekali, padahal media berita dan para penegak hukum, tengah gencar-gencarnya menyelidiki sang Ayah


"Ayah menyerah saja! aku akan membebaskan Ayah" ujarnya sukses membuat Willy menatap tidak percaya pada anak pertamanya itu


"Kau ingin ayahmu masuk penjara hah!" perjelasnya


"Lakukan saja seperti apa yang diminta oleh media dan Serin, setelah kau menyerahkan diri aku akan mengurus sisanya" jawab Arka sambil mengaduk minumannya dengan memutar pelan gelasnya, lalu meminumnya


"Apa kau gila! Golden City akan terpengaruh, sekarang saja saham kita sudah turun" sahut Willy


"terima saja panggilan dari pengadilan itu, dan katakan di hadapan media Ayah akan koperatif" ucap Arka seraya meletakkan gelasnya ke meja


"Tidak! aku tidak akan menyerahkan diriku" bantah Willy tetap pada pikirannya


"Yang wanita itu inginkan Ayah menyerahkan diri, dan dia mengira Golden City akan terpengaruh dan menyerangku" ucap Arka


Sontak pria paruh baya itu mengerutkan dahinya, bingung dengan ucapan sang anak, "kenapa dia ingin menyerangmu?" tanya Willy


"Karena akulah targetnya" sahutnya enteng


"Maksudmu" tanya Willy sekali lagi, ia benar-benar tidak paham atas ucapan anaknya itu


"Iyaa, aku... karena aku sudah membunuh kakaknya" sahutnya santai, tanpa adanya rasa penyesalan sedikitpun setelah mengatakan kalimat itu


"Apa!!" kagetnya setelah mendengar penjelasan Arka


"Kau membunuh anak David! bukankah dia hanya punya satu anak" tanya sang Ayah heran


"Itulah Ayah tidak tahu! David punya dua anak, satu anak adopsi yaitu kakak Serin" jawabnya


"Kenapa kau membunuhnya! aku paham sekarang kenapa anak David gencar sekali mengincar kita, bahkan dia sudah membongkar Lab kita" tutur Willy tidak habis pikir pada sang anak


"Aku hanya sedang bosan waktu itu" sahutnya lagi, sukses membuat pria paruh baya itu menggelengkan kepalanya


"Seharusnya aku mengikuti ucapanmu waktu itu" gumam Willy dalam hatinya, mengingat almarhum istrinya yang sudah bunuh diri


"Pantas saja ibumu memilih untuk bunuh diri" pungkas Willy, sontak Arka menatap sang Ayah dengan tatapan tajam dan tangan yang mengepal dengan sempurna


"Itu semua karena Ayah! bukan karena diriku... IBU BUNUH DIRI KARENAMU!!!" ucap Arka dengan menekan kata akhirnya, sambil menunjuk wajah sang Ayah


Pria itu lantas pergi begitu saja dari hadapan pria paruh baya itu, "sekali lagi! jika ingin semuanya beres serahkan saja dirimu, aku akan mengurus sisanya dan membebaskanmu" ucapnya sebelum akhirnya Arka benar-benar menghilang dari pandangan Willy


...****************...


Baru saja Serin mendaratkan kembali bokongnya di sofa, setelah tadi sempat mengantar Reyhan ke kamarnya, Glen menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan


"Kamu kenapa?" tanya Serin, seraya menyandarkan tubuhnya di punggung sofa


Bukannya menjawab pria itu masih tetap menatap istrinya


"berhenti menatapku seperti itu, kamu membuatku tidak nyaman" ucap Serin


"Kamu habis beli sesuatu?" tanya Glen tiba-tiba, Serin yang bingung beralih menatap nanar mata suaminya


"Beli! memangnya beli apa?" tanya Serin bingung


"Kalau bukan kamu, lalu siapa yang memakai kartuku" tanyanya, seraya memperlihatkan sebuah pesan pemberitahuan penggunaan kartu


Jumlahnya memang tidak masalah baginya, tapi yang membuat Glen menanyakannya, itu karena ada notifikasi penggunaan, jika dilihat keadaannya.. sekarang Serin ada di hadapannya lalu siapa yang memakai kartunya


Melihat pesan itu, seketika Serin membuang wajahnya, ia lupa jika kemarin dirinya memberikan kartu pada anak buahnya


"Jangan-jangan kamu memberikan kartuku pada selingkuhanmu" tanya Glen


"Jangan sembarangan!" bantah Serin


"Lalu..."


"Aku memberikan-nya pada anak buahku, untuk membeli makan karena mereka sudah bekerja keras untuk membantuku, dan satu lagi! aku tidak punya waktu untuk selingkuh" jawab Serin mendengus kesal atas tuduhan suaminya tadi


"Oh. kenapa tidak bilang dari awal, kalau aku tahu, aku tidak akan menuduh" sahut Glen santai seraya meletakkan kembali ponsel-nya ke atas meja


"Tapi kalau dilihat-lihat anak buahmu, rada-rada tidak tahu diri ya!" ucap Glen


"Kenapa?" sahut Serin


"mereka beli apa sampai habis $7000 dolar" jawab Glen sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal


"sebanyak itu!" tanya Serin dan di angguki oleh suaminya


"Padahal kemarin niatku memberi kartu agar beli makan.. kalau sebanyak itu mereka beli apa?" gumamnya lalu beralih pada ponselnya


📞In Call-


"Ada apa?"


"Geralt! kartu yang kuberikan kemarin mereka gunakan untuk apa?"


"Hmm. itu!"


"Apa?"


"Kau akan tahu saat kau ke sini nanti"


"tidak bisakah kau katakan saja padaku mereka beli apa?"


"mereka beli alat elektronik"


"Bukankah semua sudah tersedia di gudang!"


"aku tidak tahu! itu salahmu memberikan mereka kartu Glen, ya tentu saja mereka gunakan untuk beli hal yang tidak bisa mereka beli, yasudah kututup dulu, dahh~"


📞End Call-


Serin meletakkan ponselnya hati-hati ke atas meja, tanpa menatap Glen, karena malu dengan ulah 5 anak buahnya itu, siapa lagi kalau bukan Aiden, Leo, Jordan dan Doni termasuk Geralt


"Mereka beli apa?" tanya Glen tanpa mengalihkan tatapannya dari istrinya yang tidak menatapnya itu


"Sudahlah, biarkan saja lagian aku juga tidak marah, biarkan saja" tutur Glen karena tidak mendapati jawaban dari Serin, pria itu lantas menarik tubuh istrinya untuk bersandar pada dada bidangnya


"Glen! menurutmu.. apa kita perlu mencari seseorang untuk menjaga Reyhan? aku kasian dengan bibi Sella dia sudah mengurus rumah, masa harus mengurus Reyhan diumurnya yang mau menginjak kepala 5" ucapnya


"Hmm. terserah! memangnya Reyhan mau di asuh selain dengan bibi Sella dan kamu?!" sahut Glen yang sesekali mencium kepala istrinya


"dia bukan anak yang pemilih! aku hanya ingin dia punya teman saat kita tidak ada di rumah" jawab Serin


"Nanti aku akan meminta Vina untuk mencarikannya" ucap Glen dan di angguki oleh istrinya


...****************...


Setelah menempuh perjalanan hampir 3 jam akhirnya keluarga kecil itu sampai di sebuah pulau yang dulu pernah Serin kunjungi


Sesuai dengan ucapan Glen waktu itu, mereka akan menghabiskan akhir tahun di pulau pribadi milik keluarganya, bersama anak dan istrinya, bukan hanya mereka bertiga, tapi orang tua Serin juga ikut untuk meramaikan, agar suasana tidak terlalu sunyi jika hanya mereka bertiga



Baru saja Serin ingin mendudukkan dirinya, Geralt malah menelponnya, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menjauh sebentar dan mengangkat telponnya


📞In Call-


"Apa?"


"Kau sudah lihat berita, Willy menyerahkan diri"


"Kau yakin!"


"Iyaa"


"Aku akan melihatnya"


📞End Call-


Baru saja wanita itu berniat untuk melihat tv, orang tuanya serta suami dan anaknya, sudah lebih dulu duduk di depan tv menyaksikan apa yang ingin ia lihat


"Dia sainganmu, kan?" tanya David pada menantunya


"Iya pah" sahut Glen


Serin ikut mendudukkan dirinya di sofa dan menyaksikan beritanya, dimana Willy datang ke kejaksaan untuk memenuhi panggilan pemeriksaan dan mengatakan akan koperatif pada penyelidikan


"Aku tidak menduga ternyata orang sepertinya bisa melakukan ini" ujar David


"memangnya kenapa pah, papah mengenal-nya?!" tanya Serin beralih menatap sang Ayah


"Dulu dia hanya anak kecil yang selalu di bully oleh teman-temannya karena kemiskinan, tapi sekarang dengan kesuksesan-nya dia melakukan hal seperti ini, dan menjerumuskan dirinya sendiri dalam kehancuran" jelas David, berhasil membuat Glen dan Serin saling menatap satu sama lain


"Bagaimana papah bisa tahu!" tanya Serin lagi


"Dia dulu teman sekelas papah, dia baik sebenarnya, hanya saja selalu di tindas karena sekolah di sana jalur bantuan pemerintah... papah kadang sering membantunya ketika di bully" jawab David


"Orang yang papah bantu dulu, anaknya sudah melenyapkan Darin dengan begitu kejam, apa itu yang namanya balas budi!" gumam Serin dalam hatinya dengan tangan yang mengepal sempurna, melihat itu Glen langsung menggenggam tangan Serin


Pria itu menatapnya seolah memberikan sebuah kekuatan untuk istrinya


"Itulah, kadang lingkungan bisa merubah sifat dan sikap seseorang menjadi monster yang mengerikan" celetuk Marisa dan hanya di angguki oleh yang lain


"Tuan, mari makan dulu! saya sudah menyiapkan makanan di meja makan" ucap Sella, lalu pergi bersama satu lagi pelayan, yang memang di suruh Serin untuk ikut membantu


Mereka berlima pergi ke meja makan untuk menyantap hidangan yang di sediakan, karena mereka merasa lapar setelah menempuh perjalanan cukup lama


...****************...



Sepasang tangan melingkar sempurna di pinggang ramping Serin yang baru saja keluar dari kamar mandi


"Lepas Glen! aku ingin mengambil pakaian" ucap Serin mengelus lembut punggung tangan suaminya


"Biarkan seperti ini! aku merindukan moment ini" gumamnya


"Perasaan kita tidak terpisah jarak, kenapa rindu" sahutnya


"Apa salahnya aku merindukanmu!" ucap Glen yang sedang mendaratkan dahunya di pundak istrinya


Serin menyipitkan matanya, "jika kau bicara manis seperti ini, biasanya ada udang dibalik batu ya, kan?!" sahut Serin curiga


"Aromamu membuatku candu sayang!" bisiknya dengan nada berat di telinga Serin, bahkan deru nafas pria itu terasa di lehernya


Seketika Serin membalik tubuhnya menghadap suaminya


Tanpa melepas kalungan tangannya, Glen menarik tubuh istrinya untuk semakin dekat dengannya, lalu menuntun Serin untuk berjalan mundur hingga berakhir jatuh ke atas ranjang king size itu


"Glen!" lirihnya, karena pria jarak mereka begitu dekat, bahkan nafas mereka saling bersahutan


Tangannya menyisir lembut surai pipi istrinya, "ini yang kurindukan" ucapnya lalu menge***p bibir pink istrinya, hingga membuat wanita itu malu sendiri, padahal ini bukan pertama kali untuknya


Pelahan tangan kanan suaminya itu menarik handuk yang membalut tubuhnya


"Sayang! Reyhan men... carimu" ujar Marisa yang tiba-tiba masuk


Sontak keduanya menatap kearah pintu dengan posisi mereka yang kurang sopan


"Ah. maafkan mama sayang!" ujarnya seraya menutup pintu... "lain kali pintunya di kunci" ucapnya terkekeh lalu langsung menutup kembali pintunya dan pergi dari sana


"Hishh... kenapa kamu tidak mengunci pintu, aku malu dilihat mamah" pungkas Serin mendorong suaminya itu hingga jatuh kesamping, lalu bergegas untuk pergi memakai pakaiannya


"Aishh... kenapa aku tidak mengunci pintunya!" rutuknya sambil memukul-mukul kasur dengan posisinya yang tengkurep


"Sayang! ayo lanjutkan, nanggung" ucap Glen ketika melihat istrinya itu keluar dari clothing room


"Reyhan mencariku, kau juga cepatlah mandi dan keluar" sahut Serin yang langsung saja pergi keluar dari kamar


Pria itu hanya bisa mendengus kesal lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya


...****************...


"Kenapa cepat sekali, apa kalian sudah puas!" Goda Marisa ketika melihat anaknya yang datang menemuinya di ruang tamu


"Ah. itu,,, hissh! sudahlah mah jangan di bahas" ujarnya malu karena ibunya itu menanyakan hal tadi


"Memangnya ada apa?" tanya David yang juga duduk di sana sambil bermain dengan cucunya


"Oh. itu tadi .."tidak ada apa-apa pah" potong Serin lalu pergi dari sana menuju dapur


David hanya menatap anak dan istrinya itu bergantian


"Biasa olahraga pasutri" sahut Marisa terkekeh karena puas menggoda anaknya sendiri


"Oh" sahut David sambil mengangguk, lalu kembali pada game yang sedang ia mainkan bersama cucunya


...****************...


.


.


.


Mohon bantuannya untuk like, share, komen, vote, masukin list fav biar tau kelanjutan ceritanya, agar Author semangat Up episode barunya😊


.


.


.