
Seminggu setelah kejadian itu, Zaky sudah diperbolehkan untuk pulang. Saat ini mereka sudah berada di apartemen bersama kedua orang tua, adik, beserta pengawal cantiknya.
"Mama sama papa kapan pulang?" Tanya Zaky setelah duduk di sofa dibantu Milea.
"Itu nanya apa nyusir?" Sindir Bagas ikut duduk di depan anaknya. "Mas udah ih. Kita nginep di sini hari ini gak apa apakan? Soalnya mama mau lihat dulu perkembangan kamu, baru besok nanti pulang." Jawab Maulida lembut.
"Ee i-itu.. hahaa gak apa apa kok ma, mama sama papa nginep aja. Pasti mama sama papa capek jagain Zaky terus di rumah sakit," Zaky tertawa kikuk, ekor matanya melirik Milea dengan perasaan gelisah.
Di sini kamarnya hanya ada dua, satu kamarnya dan satu lagi kamar Milea yang seharusnya menjadi kamar tamu. Tentu saja kedua orang tuanya akan menginap di kamar tamu, tapi masalahnya barang barang Milea ada di dalam. Kalau ketahuan tinggal serumah bisa bisa dia dipaksa mamanya buat kawin.
"Papa mau kekamar dulu ya, pegel mau mandi." Nah kan, baru aja dibilangin, Bagas sudah bangkit menuju kamar tamu dengan santay.
"Tunggu pah!!"
"Ada apa?" Zaky melirik Milea dengan gelisah. Bagaimana ini? Dia harus memikirkan cara agar papanya tidak masuk kedalam kamar tamu itu.
"Papa sama mama tidur di kamar Zaky aja, biar Zaky yang tidur di kamar tamu sama Anna," benar.Uuntuk alasan pertama itu bisa ia gunakan lebih dulu.
"Gak perlu sayang... mama sama papa tidur di kamar tamu aja, lagian gak enak sama kamunya. Suci juga biar sama kita aja tidurnya." Tolak Maulida.
"Mama sayang... udah turutin aja ya kata Zaky. Kalian tidur di kamar Zaky, biar Zaky tidur di kamar tamu bareng Anna," bujuk Zaky merangkul mamanya berharap luluh.
Bagas memicingkan matanya. "Mencurigakan.. memangnya kenapa dengan kamar tamu? Kamu tidak menyembunyikan apa apa dari kami bukan? Seperti barang barang wanita di dalam kamar?" Curiga Bagas.
Zaky menatap Bagas dan langsung bangkit menghampiri papanya itu. "Bukan gitu pah. Ya kali Zaky nyimpen yang begituan, papa pikir Zaky wibu apa, hahaa." Bagas semakin memicingkan matanya menatap Zaky yang tengah merangkulnya sok akrap.
"Kalo papa di kamar Zaky, papa bisa leluasa makan mama. Soalnya kamar Zaky 'kan bisa kedap suara, dan kapan lagi papa punya kesempatan seperti ini? Apalagi gak diganggu Anna saat lagi melakukan rituan sakral." Bisik Zaky dengan senjata terampuh yang dia miliki, berharap papanya mau luluh.
"Ah kamu benar benar anakku yang terbaik. Sayang, benar kata Zaky. Kita bisa tidur di kamarnya, dan membiarkan Suci tidur bersamanya. Mereka pasti butuh waktu untuk melepas rindu." Yes. Berhasil. Ternyata senjata itu memang ampuh untuk papanya yang bucin tingkat akut.
"Ya... gak ada apa apa sih. hehe.." Maulida semakin curiga melihat kedua lelaki yang dia sayangi saling memberi isyarat lewat lirikan mata.
*S*udahlah biarkan saja. Ujung ujungnya juga aku yang rugi. Mereka kalau kerja sama selalu aku yang dilibatkan. Keluh Maulida pasrah menerima kenyataan.
Bagas segera mengajak istrinya untuk masuk kedalam kamar, meninggalkan Zaky bersama adik dan juga pengawalnya yang tengah asik bermain di tengah mereka berdebat tadi.
"Milea, kamu bisa menginap di apartemen temanmu dulu tidak? Aku rasa tidak mungkin jika kau menginap di sini, yang ada orangtuaku akan curiga tentang kita." Ucap Zaky pelan, membiarkan Suci yang tengah asik menggambar, sama seperti mamanya dulu yang sewaktu kecil memiliki hobi menggambar.
"Tidak apa apa tuan, malam ini saya akan menginap di apartemen Nala. Besok pagi baru nanti saya kesini untuk mengantar nyonya dan tuan kebandara," jawab Milea mencoba mengerti.
"Terima kasih"
***
Paginya, seperti rencana awal. Milea tengah mengantar pak presdir, nyonya, dan nona mudanya menuju bandara Seokarno Hatta.
Setelah berpamitan sebentar dan melepas kepergian mereka. Milea dan Zaky melanjutkan perjalanannya menuju kantor.
"Pagi tuan Zaky!!" Sapa para karyawan kantor yang tengah berkumpul karna Haikal telah memberi tahukan mereka untuk berkumpul, karna ada yang ingin atasan mereka sampaikan.
"Pagi juga. Saya tidak ingin mengatakan apa apa, hanya ingin melihat kalian saja, karna sudah seminggu saya tidak berjumpa dan bertatap muka dengan kalian," ucap Zaky masih setia dengan datar, meskipun suaranya terdengar santay dan tenang.
"Bagaimana selama seminggu tidak diawasi atasan kalian? Merasa rindu? Atau senang karna tidak ada yang memimpin sehingga bisa berbuat sesuka hati?" Sindir Zaky pada salah satu karyawan yang dibilang Milea dalang di balik tragedi penusukan di malam itu.
Semua orang diam tidak berani menjawab. Mereka merasa atasan mereka mengumpulkan di sini bukan hanya sekedar ingin menyapa, tapi pasti ada alasan tertentu yang membuat mereka berkumpul di sini. Karna mereka tahu karakter atasan mereka yang tidak suka berbasa basi, apalagi dengan karyawannya sendiri.
Di dalam kerumunan itu, ada seseorang yang menatap Zaky dan Milea dengan tatapan yang sulit diartikan. Hingga perlahan seringai kecil hadir di bibirnya.