Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Rencana penangkapan


Seorang pengusaha muda nampak baru saja duduk di singgasananya. Beberapa di antaranya ada juga para atasan kantor yang siap memberikan laporan selama sebulan ini.


Yah, dia Zaky Alexander.


"Berikan laporan keuangan bulan ini!" Pintanya arogan. Manajer keuangan yang bernama Fardi itupun memberikan laporan keuangan yang dia buat bulan ini.


"Ini laporannya pak." Zaky nampak tenang membaca setiap angka dan bait kata yang disusun sedemikian rupa oleh Fardi.


"Kenapa laporannya tidak sama dengan bulan lalu? Kenapa bulan ini pengeluaran meningkat sekali?" Tanya Zaky menatap tajam Fardi.


"Betul Pak. Itu adalah hasil laporan asli yang saya dapat dari bagian keuangan. Mungkin berbeda karna dulu yang menyusunnya adalah pak Brian."


Sudah mulai. Milea dan Zaky saling lirik memberi isyarat untuk bersiap memulai permainan. "Brian ya? Oke..." manggut manggut.


"Ku dengar kau mantan Sekretaris manager Brian yang sekarang sudah naik jabatan. Betul?"


"Betul Pak." Jawabnya lantang.


"Oke. Bukankah sebagai sekretaris seharusnya kau tahu laporan aslinya sebelum Brian dipecat dulu?"


"Eeee i-itu..."


"Jika seandainya memang kau tahu, bukankah seharusnya kau melaporkan ini kepada saya?" Tanya Zaky semakin menyudutkan.


"Itu karna saya di--"


"Atau kau memang sengaja menyembunyikannya karna mungkin saja kau juga terlibat dalam kasus korupsi ini?" Potong Zaky sebelum Fardi menyelesaikan alibinya.


Fardi terdiam. Tangannya sudah mengepal kuat sembari menundukkan kepalanya. Sebelum akhirnya sebuah tangan dengan kuat menepuk nepuk pundaknya beberapa kali.


"Hahaa santai saja. Masih pagi, masih 'pemanasan' juga. Tidak perlu gugup seperti itu, lagi pula kau tidak salah jugakan?" Ucapnya tertawa tanpa dosa.


"Hahaa i-iya pak."


"Baiklah, karna berhubung ini masih pagi. Bagaimana kalau kita dengarkan musik indah dulu sebelum kembali melanjutkan rapat bulanan ini. Milea, silahkan 'putarkan'!" Pinta Zaky menatap Milea penuh arti.


"Baik tuan!!" Jawabnya dengan cepat mengeluarkan ponselnya yang sudah terhubung pada pengeras suara yang dapat didengar oleh seluruh karyawan perusahaan.


"Cih. Ternyata dia masih menyelidiki kasus keuangan yang dikorupsi itu? Padahal aku sudah menjadikan Brian sebagai kambing hitam, yang seolah olah orang yang menyeludup uang perusahaan untuk dimasukkan kedalam kantong pribadi."


Hening...


Semua orang terdiam mendengar rekaman suara itu. Hampir seluruh karyawan perusahaan menghentikan pekerjaan mereka hanya untuk sekedar mendengarkan rekaman itu.


Itu juga tidak berbeda dengan di ruangan rapat. Mereka semua terdiam mencoba menebak suara siapa itu. Lain halnya dengan Fardi dan juga sekretarisnya Tono yang terdiam tak percaya. Zaky? dia nampak menikmati pertunjukan ini.


"lalu bagaimana ini tuan?"


"Dengar. Bulan ini kau tidak perlu mengubah keuangan bulanan. Biarkan saja laporan aslinya tuan Zaky lihat."


"*K*enapa tuan? Bukankah jika seperti itu akan ketahuan jika kita telah mengorupsi uang perusahaan?"


"Dengar! Tuan Zaky tidak serta merta akan percaya dengan kita. Jadi, kita harus meyakinkan beliau bahwa kita tidak mengorupsi uang itu. Buat beliau percaya bahwa orang yang mengorupsi uang perusahaan benar benar Brian."


"Tentu saja. Zaky yang bodoh itu... bisa bisanya dia percaya bahwa orang jujur seperti Brian adalah pelakunya. Heh menarik..."


Prok prok prok 👏


"Luar biasa!!" Semua orang diam tak berani menatap atasan mereka yang bertepuk tangan. Jika ada orang yang saat sedang memuji justru terasa menakutkan, maka itu yang mereka rasakan dari atasan mereka.


"Hahaa rekaman itu benar! Orang yang bernama Zaky itu memang bodoh!" Zaky menjeda ucapannya.


"Sampai sampai dia tidak sadar! Bahwa orang yang selama ini ia cari ada di depan mata!!" Fardi dan Tono tertunduk takut saat tuan mereka melayangkan tatapan tajam kearah mereka.


"Kenapa? Takut? Merasa bodoh? Atau justru senang karna saya telah tertipu dengan rencana yang kalian buat untuk menjadikan Brian sebagai kambing hitam?" Tanya Zaky dengan aura menakutkan.


"Kalian pikir, dengan rencana seperti itu saya tidak bisa mengetahui kebenarannya? Kalian mengatakan saya bodoh, maka akan saya beri tahu. Siapa sebenarnya orang bodoh ini!" Lanjutnya.


Tak lama kemudian beberapa petugas polisi memasuki ruangan dan langsung menangkap Fardi dan juga Tono dengan kasus korupsi.


"Tuan saya bisa jelaskan tuan!" teriak Fardi mencoba memberontak dari para polisi yang ingin memasangkan borgol ketangannya.


"DIAM!!" Fardi menatap tajam kearah Zaky. Dia dengan cepat menendang kaki polisi itu sehingga membuatnya tersungkur kelantai.


"Terima ini!!" Zaky nampak terdiam di tempat saat melihat sebilah belati kecil mengarah kewajahnya.


Milea yang melihat itu dengan cepat menahan tangan Fardi dan memelintirnya lalu mendorong tubuh Fardi hingga bagian kepala sampai perutnya tengkurap di meja rapat, sedangkan tangannya sudah dipelintir oleh Milea kebelakang.


"Jangan pernah sekali kali kau berani melukai tuanku lagi. Atau pisau yang kau tancapkan padanya di malam itu, ku tancapkan balik menusuk otakmu! Camkan itu!!" Bisiknya melirik kebelakang sejenak lalu menyerahkan Fardi kepada polisi tadi.


Beberapa polisi itu segera membawa Fardi dan Tono untuk ditindak lanjuti dipengadilan. Sedangkan kantor sudah riuh dengan kebenaran yang ada, dan berita inipun menjadi topik hangat yang dibicarakan para pegawai kantor.


"Tuan..." Brian masuk kedalam ruang rapat setelah sekian lama menunggu di ruangan Haikal. Di sana dia ditemani Haikal dan juga Nala menonton 'pertunjukan' yang katakan akan memberikan dampak baik untuknya. Tak disangka ternyata pertunjukan itu adalah pertunjukkan membongkar orang yang sebenarnya korupsi di perusahaan.


"Baiklah. Sebelum semuanya bubar, saya ingin mengumumkan sesuatu terlebih dahulu. Mulai hari ini, Brian Laksmana resmi menjadi manajer keuangan kita kembali!" Seru Zaky membuat orang orang yang ada di dalam sana bertepuk tangan riuh memberi selamat kepada Brian.


"Terima kasih tuan karna mau menerima saya kembali bekerja di sini." Ucap Brian menunduk hormat setelah semua orang bubar.


"Saya yang seharusnya minta maaf karna sudah mempermalukanmu di depan publik. Ini semua saya rasa setimpal dengan apa yang sudah terjadi selama saya bekerja di sini. Semoga kamu betah bekerja di sini," jawab Zaky tersenyum kecil.


"Tentu. Saya akan selalu betah bekerja di sini tuan," sembari melirik Milea yang diam mendengarkan. Dan itu tidak luput dari mata Zaky yang seketika geram melihatnya.


"Kendalikan matamu!!" Bentaknya.


Tersadar, "maaf tuan." Cicitnya takut. Zaky mendengus kesal berlalu begitu saja meninggalkan Brian yang tertunduk takut.


"Selamat Pak Brian!" ucapan selamat dari Milea. "Terima kasih Milea." Jawab Brian tersenyum manis.


"MILEA CEPAT!!"


"Ah, saya duluan pak. Tuan Zaky sudah menunggu, Permisi. Iya tunggu sebentar!!" Milea cepat cepat berjalan menghampiri Zaky yang tengah menunggunya di depan pintu.


Brian tersenyum menatap kepergiaan keduanya. "Sepertinya predikat jomblo tuan Zaky akan segera dicabut." Kekehnya geleng geleng kepala.