
Milea memandangi pantulan dirinya di balik cermin. Celana jins, berpadukan baju cold shoulder berwarna putih, dengan rambut yang dikuncir kuda.
Sedikit informasi, dia menyimpan pistol di dalam tasnya sekedar untuk berjaga jaga, karna kita tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di sana nanti. Setelah di rasa selesai, Milea keluar menghampiri Zaky yang sedang mengobrol dengan Haikal juga Bagas, sedangkan Nala sibuk bermain bersama Suci.
"Maaf menunggu lama."
Tersenyum kecil. "Tidak apa." Mengalihkan pandangan. "Pah, Zaky berangkat dulu ya. Mungkin pulangnya agak malam nanti," ucap Zaky mencium punggung tangan Bagas.
"Hati hati di jalan, jangan ngebut!"
"Siap pah!"
"Kak, nanti pulangnya mampir dulu ya kewarung sate dekat sekolah Mama. Bungkusin satenya buat Suci." Rengek Suci di kaki Zaky.
"Iya. Nanti Kakak beli 'kan," mengusap puncak kepala Suci lembut.
"Ya sudah, kalian berangkat gih! Nanti ke maleman lagi pulangnya." Tutur Maulida muncul dari arah dapur membawa secangkir susu untuk putrinya Suci yang tidak bisa tidur sebelum meminum susu.
"Ya udah, kalo gitu kita berangkat dulu ya tan. Assalamu'alaikum," pamit Milea menyalimi Maulida dan Bagas bergiliran, diikuti Haikal, Zaky dan Nala setelahnya.
"Wa'alaikumussalam."
"Kak, sebenarnya kita mau kemana?" Tanya Milea menatap keluar jendela sesekali melirik Zaky.
"Villa di puncak,"
"Ngapain?"
"Reuni sekolah."
Mulut manis itu ber'oh' ria, sembari memandang jalanan kota. "Hei, gue punya tebak tebakan nih! Mandi, mandi apa yang bikin betah?" Ucap Haikal memecahkan keheningan di dalam mobil, dengan mata yang fokus pada jalanan dia memberikan teka teki.
"Mandi itu bukan bikin kita betah, tapi bikin badan kita bersih dan rifres." Sarkas si kaku yang tak mengerti pergaulan anak muda zaman sekarang.
"Secara logika emang gitu. Tapi ini 'kan lagi main tebak tebakan? Kok lo malah bawa logika payah lo itu sih?" Dengus Haikal melirik Zaky sekilas dari kaca spion.
"Payah?!"
"Enggak enggak!! Logika lo itu selalu benar!" Dan setiap logika lo itu keluar, gue selalu kalah dan itu sangat menyebal 'kan. Lanjutnya dalam hati.
"Itu kau tau!"
"Terserah! Jadi, udah nemu jawabannya belum?" Seru Haikal semangat.
"Mandi? Mandiin kucing?" Tebak Milea.
"Salah!"
"Mandi... mandi..." nampak Nala berpikir keras mencari jawaban teka teki itu, tapi nihil. Sia sia rasanya dia berpikir, karna sedikit pun tidak ada jawaban yang melintas di otaknya. Seolah mereka bersekongkol dengan Haikal untuk membuatnya segera menyerah.
"Aku nyerah! Apa jawabannya?" Keluh Nala melirik penasaran Haikal yang sibuk mengemudi 'kan mobil.
"Mau tau jawabannya?"
"Mau!" Jawab Nala dan Milea serempak.
"Oke. Jadi jawabannya adalah... menggantung kata sembari melirik Nala dengan senyum smirk. "Mandingin kamu!" Lanjutnya.
"MANDANGIN!!"
"Hehe. Sekali lagi, sekali lagi. Ac, ac apa yang selalu semangat?" Tanya Haikal mulai ketagihan bermain.
"Aciaapp!!"
Milea dan Haikal tergelak bersama sama, sedangkan Nala hanya tersenyum geleng geleng kepala.
"Aqua apa yang bikin tenang?" Tanya Zaky tiba tiba, membuat gelak tawa itu seketika hening. Semuanya serempak menoleh kearah Zaky.
Apa katanya tadi? Pria itu memberikan teka teki? Heran? Tentu saja. Sejak tadi, pria itu selalu diam tanpa ingin bergabung bersama mereka. Tapi, sekarang malah tiba tiba memberikan teka teki? Tentu saja mereka merasa aneh.
"Aaa... i-itu... emm... ee..." Haikal yang tadi semangat seketika bingung harus menjawab apa. Otaknya tiba tiba saja blank tanpa sebab.
Zaky menoleh kearah Milea, membuat wanita itu gugup sekaligus salah tingkah. Apa yang harus dia jawab?
"Aqua.. emm aqua..." Milea mengigit bawah bibirnya gelisah. Aqua apa?! Jeritnya dalam hati.
Menghela nafas pelan. "Saya menyerah. Apa jawabannya?" Keluh Milea menatap manik mata hitam pria itu lekat lekat.
Deg deg deg
Milea duduk tegang saat Zaky mendekat kearahnya. Refleks dia mundur hingga tersandar di pintu mobil, sedang 'kan Zaky terus maju hingga wajahnya tepat berada di telinga Milea.
"Aqua 'kan selalu ada untukmu," bisiknya sangat pelan, saking pelannya hanya dia yang dapat mendengarnya.
Milea menggerakkan ekor matanya melirik Zaky. Mata mereka bertemu, mengunci pandangan masing masing dengan jantung yang sama sama bertalu kencang.
"Ekhm! Mau sampai kapan pandang pandangannya? Kita udah sampai nih!" Sindir Haikal membuat Milea semakin salah tingkah.
Zaky melirik Haikal, dan segera menjauh. Setelah pria itu menjauh, Milea langsung melepas sabuk pengaman, keluar dari mobil dan tersungkur lemas di sana sambil memegangi dadanya.
"Le, kamu gak apa apa?" Tanya Nala turun dari mobil mendekati sahabatnya yang shock.
"Na, jantung ku kok berdegup kencang gini ya? Apa jangan jangan aku sakit? Iya. Pasti aku sedang sakit, nanti akan aku periksa 'kan ke dokter," gumam Milea masih shock.
"Prrtt. Aku saranin kamu jangan pergi ke dokter, kalo kamu gak ingin malu nantinya," kekeh Nala merasa lucu dengan sahabatnya yang tidak pernah mengenal cinta.
"Emang kenapa?"
"Udah deh, kamu turutin aja perkataan aku. Kamu itu gak sakit, tapi lagi masa pendewasaan." Ujar Nala mengulurkan tangan, dan disambut Milea.
"Pendewasaan? Maksudnya?"
Tersenyum jahil. "Iya pendewasaan. Coba kamu keluarin handphone kamu, trus buka gogle," titah Nala.
Milea segera mengeluarkan ponselnya, membuka gogle sesuai permintaan Nala sahabatnya. "Trus ketik. 'Apa itu cinta?" Lanjut Nala.
Milea memainkan jari jarinya di papan keyboard, mengetiknya sesuai instruksi sahabatnya. "Apa itu cin---" seketika Milea terdiam menyadari sesuatu. Dia mengalihkan pandangannya kearah Nala.
"Cinta?"
"Heem!"
Milea membuang pandangan, sambil menggeleng pelan. "Enggak. Ini bukan cinta, pasti bukan. Mungkin aku emang lagi sakit aja. Gak mungkin aku suka sama Kak Zaky," elaknya.
"Jangan siksa diri kamu sendiri Le. Gak ada yang gak mungkin di dunia ini, apalagi kalian selama ini sangat dekat. Ada banyak peluang cinta itu datang ke kalian. Cinta ada karna terbiasa," ujar Nala menepuk pundak Milea pelan.
Milea diam tak tahu harus apa. Memang, ada banyak kemungkinan dia akan jatuh cinta pada atasannya itu. Dan seharusnya dia menyadari hal itu sedari awal. Hanya saja, dia terlalu takut mengakuinya. Dia takut, saat dia jatuh cinta, cinta itu harus hancur karna kesalahannya. Dia tidak bisa membayangkan jika itu terjadi.
Dibenci orang banyak itu jauh lebih baik, dari pada dibenci satu orang yang justru kau cintai. Cinta. Kata itu ada untuk membuat kita bahagia, tapi juga bumerang untuk membuat kita terluka.