Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Baru mengetahui


Brakkk


"Bagaimana bisa kamu baru memberitahuku tentang hal sepenting ini HAH?!!" Bentakkan Rahardian menggema di seluruh penjuru ruangan, sedang seorang pria seumuran dengan Rahardian berdiri dengan tenang di hadapan atasannya.


"Maafkan saya tuan. Saya hanya tidak ingin pekerjaan anda terganggu dengan berita ini," jawab Reno datar. Asisten pribadi Rahardian.


"Kamu tahu Reno? Putri putriku jauh lebih berharga dari pekerjaan ini!!" Ujar Rahardian dengan nafas naik turun.


"Oh. Benarkah?" Menatap Rahardian dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Huft. Siapa yang melaporkan perkara meninggalnya Anna kepolisi sehingga Milea bisa masuk penjara?" Kali ini Rahardian sudah mulai tenang dari amarahnya.


"Tuan muda dari keluarga Alexander. Zaky Alexander," jawab Reno.


Brak


"Brengsek!! Tak cukup dia mengubah putri pertamaku, sekarang dia menuduh putri bungsuku pula!!" Amarah kembali menyelimuti Rahardian saat mengetahui kalau Zaky yang melaporkan putrinya kepengadilan.


"Menerut info, Zaky Alexander adalah kakak kandung Anna Angkasa," ucap Reno memandang Rahardian penuh maksud.


Menoleh cepat, "apa?! Kakak kandung Anna?!" Kagetnya terdiam sejenak. "Bukankah dia sudah meninggal?" Gumam Rahardian yang masih dapat Reno dengar.


Diam diam Reno mengepalkan tangannya sambil memandang Rahardian penuh kilatan kebencian mendalam, yang dapat ia samarkan dengan tatapan dinginnya. "Jadi? Apa saya perlu mengosongkan jadwal anda untuk menemui putri anda?" Tanya Reno kembali bersikap formal sebelum Rahardian menyadari sesuatu.


"Ya. Tolong kosongkan jadwal ku untuk beberapa jam kedepan. Sekarang juga kita pergi menemui putri ku." Ajak Rahardian menyambat jasnya lalu memasangnya dan berjalan keluar di ikuti Reno di belakangnya.


"Baik tuan!"


Tak tak


Klak


Milea diam saat mendengar suara pintu dibuka. Melirik sekilas, dia langsung bangkit karena terkejut papanya datang berkunjung.


"Papa?" Gumamnya tak percaya.


"Milea. Ka-kamu baik baik saja bukan nak?" Tanya Rahardian mengambil beberapa langkah, namun terhenti karena Milea mundur menjauhinya. Jujur saja, dia ingin memeluk Milea, namun enggan karena melihat putrinya yang nampaknya masih belum bisa memaafkannya.


"Menurut anda?" Jawab Milea mengangkat alisnya sebelah.


"Nampaknya tidak perlu. Saya punya pengacara yang jauh lebih baik dari pengacara anda. Ah benar! Sebaiknya anda urus putri anda, takutnya ikut terseret kepenjara karena ulahnya sendiri," ujar Milea datar.


"Apa maksudmu Milea?" Tanya Rahardian tak mengerti, sedang Reno sangat mengerti apa yang Milea ucapkan mengingat mereka sama sama kaku. Dan diam diam tanpa sepengetahuan keduanya, dia merekam pembicaraan keduanya.


"Woahh... seorang Rahardian Kusuma tidak bisa memahami perkataan putrinya sendiri? Ah benar! Nampaknya saya memang lebih mewarisi gen pintar ibu saya, dari pada kebodohan papa saya," sinisnya.


"MILEA!!!" Bentak Rahardian menahan emosinya agar tidak meluap sebisa mungkin.


Milea maju mengikis jarak antara dirinya dengan Rahardian. "Kenapa? Tak bisa marah karena merasa bersalah? TERLAMBAT UNTUK MENYESAL Pah!! Kenapa tidak dari dulu saja anda menyesal karena sudah mengotori ibu saya!! Sekarang? Anda bisa apa?!! IBU SAYA SUDAH MENINGGAL!!" Ucap Milea membiarkan lelehan bening itu keluar dari pelupuk matanya.


"Dan anda tahu, apa alasan saya membenci anda?!!" Tanya Milea menatap mata Rahardian menantang. "Selain karena meninggalnya ibu saya karena keluarga anda. PUTRI ANDA JUGA MEMBUNUH SAHABAT SAYA!!!!" Teriak Milea terjatuh dalam tangisnya yang pecah.


"Jangan mengada ngada Milea!! Tidak ada satupun dari putriku seorang pembunuh!! Anna meninggal karena bunuh diri, dan kamu hanya tak sempat menyelamatkannya. Bukan membunuhnya!!" Sangkal Rahardian tanpa melihat Milea. Melihatnya menangis benar benar membuat penyesalan dalam dirinya semakin besar untuk Milea dan juga Rikha.


Membuka mata nyalang, Milea bangkit lalu menarik kerah baju Rahardian penuh emosi. "Saya tanya pada anda. Untuk apa anda mengadopsi Anna jika hanya untuk anda jadikan samsak mainan istri dan anak anda?!!" Seru Milea. "Dua tahun. Dua tahun saya menjaganya. Dua tahun saya melindunginya dari siksaan istri dan putri anda. Sedang anda? Apa anda peduli?!!" Ucap Milea melepas kerah Rahardian sambil mundur beberapa langkah.


"Dan anda dengan mudah mengatakan dia bunuh diri? MENURUT ANDA DIA BUNUH DIRI KARENA SIAPA?!! Karena siapa? Terdiam sejenak. "Jika hanya untuk membunuhnya secara perlahan, seharusnya anda bunuh saja saya karena saya jauh lebih menginginkan kematian dari pada Anna!!" Lanjutnya.


Plak


"Jaga bicaramu Milea!!" Bentak Rahardian tak dapat mengontrol emosinya hingga melayangkan tamparan pada Milea. Kunjungannya kesini benar benar hanya dianggap Milea sebagai sebuah perdebatan, padahal dia datang karena mengkhawatirkannya.


Terkekeh sendu. "Lagi. Tampar saya lagi!! Bukankah anda marah pada saya? KALAU BEGITU TAMPAR SAYA LAGI!!!" Teriak Milea.


Rahardian menatap sejenak Milea, lalu pergi tanpa kata. Memilimastir dirinya benar benar kelepasan kendali. "Hubungi Bianka. Suruh dia datang menemuiku di kantor!!" Titah Rahardian pada Reno.


"Baik tuan!"


Klak


Brukh


Tubuh Milea ambruk seketika sesaat setelah pintu tertutup. Tatapan matanya kosong. Air mata mengalir begitu saja tanpa isak tangis. Sakit? Sangat sakit. Tinggal di penjara mungkin jauh lebih baik bagi Milea, setidaknya dia tidak perlu melihat dunia luar yang begitu kejam padanya.


"Seharusnya waktu itu aku mengusirmu. Seharusnya waktu itu aku memaksamu untuk pergi. Seharusnya dulu aku mengeraskan hati agat tidak luluh dengan sikapmu. Seharusnya aku tidak perlu berbelas kasih membiarkan kamu tetap tinggal. Jika saja waktu itu kamu pergi, semua ini tidak akan pernah terjadi. Begitulah. Penyesalan itu selalu ada di akhir. Maafkan aku Anna, aku gagal menjagamu dari kekejaman keluargaku." Gumam Milea dan sedetik kemudian ambruk terjatuh tak sadarkan diri.