Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Lamaran dan kenyataan


Dua hari telah berlalu sejak terakhir pernikahan Haikal dan Nala di langsungkan. Pasangan pengantin itu tentu saja mengambil liburan untuk pergi berbulan madu. Begitu pula dengan Zaky dan juga Milea yang memutuskan untuk berlibur dari pekerjaan untuk berehat sejenak. Menghambiskan waktu berdua di apartemen atau sesekali berjalan keluar.


Tring


Bunyi notifikasi pesan masuk menyita perhatian Milea saat sedang asik menonton acara sinetron di televisi bersama Zaky.


@Ben Arnold


Buka! Penting!!!


"Siapa?" Intro Zaky penasaran. Berusaha melirik notif pesan yang masuk dari ponsel pengawal cantiknya, Milea.


"Bukan siapa siapa. Saya permisi ambil minum dulu tuan," Milea bergegas pergi membawa ponselnya menuju dapur yang terhalang oleh skat. Zaky hanya diam melirik kepergian wanita itu dengan penuh tanya, sekaligus ada firasat yang tidak bisa ia baca apa itu.


"Ada apa?" Tanya Milea setelah memastikan dirinya jauh dari jangkauan penglihatan maupun pendengaran Zaky.


"Nona. Dari rekaman cctv yang kita pasang di kamar nona Bianka, wanita itu dua hari yang lalu terekam menunjukkan gelagat gelagat yang aneh. Saya khawatir ini akan berdampak pada rencana yang telah kita susun," ucap Ben sambil memeriksa rekaman cctv yang dipasang diam diam oleh anak buahnya di berbagai sudut kediaman rumah utama keluarga Rahardian.


Terdiam sejenak, "aku akan pergi ketempatmu." Tut tut tut... setelah memutuskan panggilan sepihak, Milea bergegas keluar menuju kamarnya. Mengambil mentel, dompet serta kunci mobil bersiap untuk pergi.


"Kamu mau kemana?" Tanya Zaky mengikuti langkah Milea yang terlihat terburu buru pergi.


Sambil memasang sepatu, Milea berucap. "Saya izin ada keperluan mendadak tuan. Selama saya pergi, anda jangan pergi kemana mana. Jika ada keperluan penting, minta salah satu pengawal lain untuk menjaga anda."


"Ya tapi kamu mau kemana memangnya? Keperluan apa yang mengharuskan mu untuk pergi terburu buru seperti ini?" Desak Zaky mengikuti langkah Milea yang berjalan keluar menuju pintu keluar.


"Ini urusan pribadi tuan," menghela nafas gusar, Milea membuka pintu apartemen dan berhenti sejenak di sana. "Ingat pesan saya tuan, jangan pergi kemana mana tanpa ada yang mengawal. Kalau begitu saya permisi,"


Clak


Pintu tertutup. Milea berlalu pergi dengan wajah serius. Nampaknya masalah kali ini sudah semakin besar, dan firasatnya mengatakan. Hari itu akan tiba. Di mana hari yang sudah dia perhitungkan sejak awal akan terjadi. Dan yang pasti. Itu akan sangat menyakitkan untuk ia jalani nanti.


Zaky terdiam di depan pintu dengan perasaan khawatir. Ada sesuatu yang mengganjal pikiran dan hatinya saat Milea pergi, tapi dengan segera dia menepis bayangan itu agar tidak mengacaukan rencananya.


Tit tit tit tit


Tutt tutt tutt


"Bagaimana? Apa semuanya sudah siap?" Tanya Zaky pada orang di seberang sana.


"Sesuai permintaan anda, kami sudah menyelesaikan semuanya. Bapak bisa check langsung ke lokasi, untuk melihat hasilnya,"


"Baiklah. 30 menit lagi saya akan sampai di sana. Pastikan tidak ada kecacatan dalam kinerjanya, karna hari ini adalah hari bersejarah untuk saya!"


"Tentu. Anda bisa mempercayai saya pak!"


"Ya sudah, saya tutup dulu telfonnya." Tut tut tutt... tak butuh persetujuan lawan panggilan, Zaky dengan mudah mematikan sambungan secara sepihak. Senyum kecil menghiasi bibirnya penuh kebahagiaan.


"Tinggal selangkah lagi. Maka kita akan bisa menyusul Nala dan Haikal. Milea...." gumam Zaky penuh arti.


Cklek


Di lain tempat, Milea masuk kedalam sebuah apartemen dengan jalan yang tergesa gesa. Ben yang sedari tadi menunggu kedatangan atasannya itu pun dengan cepat menoleh saat mendengar pintu apartemen terbuka.


"Tunjukkan rekamannya!!" Titah Milea tanpa basa basi. Dia dengan sigap mengambil posisi duduk di samping Ben menghadap sebuah laptop.


"Silahkan dilihat nona," Ben menggeser laptop tersebut agar Milea dapat dengan leluasa melihat rekamannya. Dalam diam Milea melihat detik demi detik rekaman yang diputar. Setelah rekaman habis. Dia memutarnya kembali hingga berulang ulang kali saat merasakan ada sebuah kejanggalan dari dalam laptop milik Bianka.


Tak


Pause. Milea langsung memperbesar layar agar dapat melihat apa yang ada di layar laptop milik Bianka itu.


Tak


Deg


Tubuh Milea gemetar, wajahnya penuh keringat dingin yang bercucuran. Air matanya lolos tanpa diminta. Dengan jantung yang bertalu talu kencang, Milea duduk menghadap Ben penuh keyakinan.


"Kita akan pindah kerumah utama!"


Ben diam saja melihat sedikit keraguan, ketakutan, kemarahan, kesedihan, dan penyesalan yang begitu mendalam dari mata Milea. Wanita yang diam diam memiliki latar belakang keluarga terpandang tanpa sepengatuan orang lain. Karna merupakan cucu kesayangan, yang sengaja identitasnya di jaga agar tidak ada yang berniat jahat padanya.


Bagi Ben, untuk Milea mudah saja jika ingin menghancurkan perusahaan papanya walau hanya dengan sekejap mata. Tapi, wanita itu memilih jalur rumit dengan dalih mencari keadilan. Dia hanya ingin orang orang yang berbuat salah padanya di masalalu mendapatkan ganjaran setimpal karna telah melakukan hal tersebut.


Tring


Kegusaran Milea pecah saat mendapatkan notifikasi pesan masuk dari ponselnya. Dengan pelan dia membuka notif yang ternyata dikirim oleh tuannya, Zaky.


@Zaky Angkasa


Datanglah ke caferia di dekat kantor. Aku menunggumu...


Setelah membaca pesan itu, Milea melirik Ben dan dibalas tatapan tenang penuh dingin dari asisten pribadinya itu.


Inilah waktunya untuk saya meluruskan permasalahan yang masih saya sembunyikan dari anda tuan. Batin Milea penuh tekad.


Di caferia. Zaky duduk di satu meja yang sudah di hias seindah mungkin untuk acara lamarannya nanti. Dengan penuh kegugupan, Zakt menunggu kehadiran Milea sambil melirik kotak berudru berisikan sepasang cincin permata.


Ting


Notifikasi pesan masuk membuat Zaky cepat cepat membukanya karna berharap itu balasan pesan dari Milea. Tapi, harapannya harus pupus saat tahu pesan itu dikirim oleh nomor orang yang tidak di kenal.


Dengan penuh kekesalan, Zaky membuka pesan itu sambil mengeryit bingung karna pesan itu berupa sebuah vidio singkat.


Penasaran. Zaky pun membukanya. Ketahuilah, saat itu juga dia menyesali tindakannya yang langsung membuka tanpa bertanya.


Sesampainya di caferia, Milea keluar dari mobil dan berjalan tergesa gesa masuk kedalam cafe tersebut.


Tap


Langkah mantap yang Milea miliki tiba tiba saja pupus melihat dekorasi cafe yang terlihat begitu wah untuk di pandang. Dan di depan sana, Zaky duduk menunggunya dengan pandangan lurus kedepan menatapnya penuh aura dingin.


Dengan ragu ragu Milea melangkah mendekati Zaky sambil menghiraukan setiap dekorasi dan karpet merah yang ia pijak. Karna objek yang menarik adalah, tatapan dingin Zaky yang sudah lama tidak ia lihat.


"Tuan, ini...."


Bugh


"Coba kamu jelas 'kan apa maksud dari vidio ini!!" Titah Zaky enggan menatap Milea. Dia hanya melepar kecil ponselnya ke atas meja meminta Milea untuk melihat dan menjelaskannya.


Penasaran. Milea mengambil ponsel itu ragu, dan mulai memutar vidio tersebut. Vidio masalalu yang tak di sangka mampu membuat kehidupannya hancur di masa depan.


Punggung seorang wanita yang tak lain adalah Milea semasa remaja terlihat berlari menuju balkon dan tanpa di duga mendorong tubuh kecil sahabatnya, Anna yang saat itu di pembatas pagar balkon seketika terjatuh dari lantai tiga kelantai dasar sambil berteriak.


"AAAAA!!"


Tes


Satu tetesan air bening itu menjawab seluruh pertanyaan yang ada dalam benak Zaky. Sebuah kenyataan pahit yang bahkan dirinya sendiri takkan menduganya.


Bahwa pembunuh adiknya yang ia cari selama ini selalu berada di sisinya!!!