Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Rahasia


Nala duduk tegak dengan gugup, tangannya terus bergeming pada papan keyboard komputer dengan mata sesekali melihat kearah berkas yang ada di tangannya. Di tengah pintu saat ini Haikal tengah berdiri menyandar menatapnya dalam. Sudah hampir berapa jam pria itu sama sekali tidak beranjak dari tempatnya, membuat Nala kesal sendiri.


"Ck. Sampai kapan bapak mau berdiri di situ? Saya risih sedari tadi diliatin bapak." Akhirnya Nala yang sudah kehabisan kesabaranpun menatap Haikal jengah.


"Sampai kamu mau saya ajak kepelaminan," jawab Haikal santai sambil berjalan duduk di depan Nala.


"Bapak ini gak ada bosen bosennya apa ngebahas masalah pernikahan mulu? Ngebet banget ya pengen nikah sama saya? Bukannya dulu bapak bilang gak suka sama saya," dengusnya kembali menatap layar komputer.


Haikal tersenyum geli. "Kamu percaya cinta itu buta? Tidak mengenal waktu, tempat dan pada siapa dia ingin jatuh. Maka saya percaya, karna cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu."


"Yah, cinta itu memang buta. Bahkan saya sempat dibutakan oleh cinta, dan itu tidak akan terjadi untuk yang kedua kalinya." Lirih Nala.


Haikal tersenyum tipis, mengerti kearah mana pembicaraan yang Nala tuju. Haikal menghembuskan nafas pelan lalu menyandarkan tubuhnya di kursi.


"Pertimbangkan lagi penawaran ku. Aku jamin, jika kau menerimaku sebagai suamimu. Sebuah rahasia besar akan aku ungkapkan padamu. Yang pasti, akan membuatmu tak percaya, dan tidak akan menyesal menjadikan ku suamimu." Tutur Haikal penuh misteri.


Nala menghentikan jari jemarinya, mengerut tipis membalas tatapan Haikal yang beberapa hari ini mulai menghangat. "Rahasia besar? Rahasia apa?" Tanyanya.


"Namanya juga rahasia. Gak seru kalo gak bikin orang lain penasaran dulu baru ngungkapinnya," jawab Haikal masih sangat sangat tenang.


Nala melongos kesamping. "Aku gak penasaran tuh!" Elaknya. Nyatanya, sekarang otaknya tengah menerka nerka rahasia apa yang di maksud oleh Haikal itu.


"Yakin gak penasaran? LALA."


Di sebuah apartemen, Milea tengah memilah milah pakaian yang akan dia pakai di pesta nanti malam. Pokoknya, dia harus bisa kesana untuk memantau kegiatan yang dilakukan Zaky.


Drrrtt drrrtt drrrtt


Suara deringan ponsel menyita perhatiannya. Dia berjalan mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas samping tempat tidur.


"Hm iya hallo?"


"Hallo princessnya kakak. Gimana kabar kamu baby?" Tanya orang di seberang sana basa basi.


"Udah dapat undangannya?" Tanya Milea to the point. Di sebrang sana, pria itu manyun menatap keluar jendela yang menampakkan sinar mentari yang baru hadir.


"Tenang, sama kakak semuanya beres. Undangannya udah kakak kirim lewat via email kamu." Bangga pria itu.


"Thanks."


"Memangnya undangan itu buat apa sih Mil?" Tanya pria itu heran. Karna tidak biasanya Milea pergi kesebuah pesta, karna wanita ini paling anti keramaian.


"Kalo cuma mau kepesta, kenapa gak ke club aja? Di sana juga kamu bisa seneng seneng,"


"Kamu tau tentang ku nald. Aku benci club malam, terlalu berisik dan menyakiti mata." Jawab Milea penuh penekanan. Di seberang sana pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal karna merasa tersindir.


"Ya udah, ya udah. Selamat bersenang senang baby. Kakak tutup dulu sambungannya, abis ini Kakak harus kekantor. See you.."


"Hmm see you..." Milea kembali menaruh ponselnya setelah sambungan terputus. Dia memutuskan untuk kembali memilah milah gaun miliknya untuk di kenakan di pesta nanti.


Setelah di rasa cocok dengan dress berwarna peach di atas lutut. Dia kembali meraih ponselnya memeriksa undangan itu.


"Hm... temanya from night ya? Heh. Ini jauh lebih memudahkan ku untuk mengawasinya tanpa takut ketahuan." Gumam Milea menyeringai kecil.


***


Di sebuah tempat, terdengar riuh rendah orang orang yang berdatangan masuk kedalam hotel pardo.


Tak tak tak


Hentakan demi hentakan suara high heils berwarna silver terdengar meriuhkan suara orang orang.


"Berhenti!!" Wanita itu menghentikan langkahnya di depan pintu presidens suit menatap kearah dua pria berbadan kekar itu datar.


"Tunjukkan undungannya!!" Di balik topeng, wanita itu memutar bola mata malas lalu menunjukkan undangan yang kakaknya kirim lewat via email.


"Silahkan masuk," wanita yang tak lain adalah Milea itupun masuk kedalam ruangan yang suasananya terlihat megah, elegan dan mempesona. Beragam makanan dan minuman tersaji rapi di atas meja yang memang disediakan untuk para tamu undangan.


Di balik topeng, matanya bergerilnya kesana kemari mencari sosok yang ingin ia pantau keberadaannya.


"Ternyata anda datang, sungguh suatu kehormatan bagi saya menyambut kedatangan anda pak Zaky."


"Terima kasih." Sayup sayup dari kejauhan Milea dapat mendengar seseorang menyebutkan nama tuannya.


Dan... Yap. Matanya kini berhasil menangkap sosok yang ingin dia cari sedari tadi. Diapun berjalan dengan anggun menghampiri kedua pria beda usia itu, sebelum akhirnya seseorang tak sengaja menyanggol dirinya dan menumpahkan minuman keatas gaun miliknya.


"Sorry sorry, saya gak sengaja. Kamu gak apa apa?" Panik orang itu dengan cepat mengeluarkan sapu tangan miliknya untuk menghapus noda yang ada di gaun milik Milea.


"It's oke." Jawab Milea mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang menodai gaunnya.


"Jo?"