
Lala nampak berpikir lagu apa yang hendak ia nyanyi 'kan, hingga dia tersenyum setelah menemukan lagu yang pas untuk dinyanyikan.
"Dengar ya, Lala mau nyanyi nih!" Ujar Lala. Ikal tersenyum sambil memposisikan tubuhnya dengan nyaman di pangkuan Lala.
...Malam telah tiba......
...Kerlap kerlap bintang......
...Bulan bersinar terang......
...Hiasi langit gelap......
...Tidurlah sayangku......
...Datangi mimpimu......
...Tutuplah matamu......
...Datangi mimpimu......
...Biarkan diri tenggelam di dalam alam mimpi yang indah......
...Semoga bisa bangun dan semangati kembali hari esok....
"Ikal, kamu udah tidur?" Tanya Lala setelah selesai menyanyikan lagu bunda Bulan yang selalu beliau nyanyikan saat dia dan Ikal ingin tidur.
Hening... tidak ada jawaban dari bocah laki laki itu. "Kal... Ikal??" Karna penasaran, Lala membuka penutup matanya dan seketika terdiam melihat tubuh pucat Ikal dengan darah yang begitu banyak mengalir dari perutnya.
"Ikal...? Ikal jangan becanda! Ikal bangun Ikal!! IKALLLLL!!" Teriak Lala menggoyang goyangkan tubuh pucat Ikal yang tergeletak tak sadarkan diri dipangkuannya.
Dorr
"Jangan bergerak!!" Para penculik yang sedari tadi diam menyaksikan drama anak kecil dibuat kaget saat mendengar tembakan pistol.
"Tangkap mereka!!" Para polisi itu segera mengamankan pelaku pelaku yang telah menculik dua orang bocah tak berdaya itu untuk ditindak lanjuti kejalur hukum.
"Haikal!!"
"Nala!!" Dua orang pria setengah baya itu berlari memeluk anak mereka masing masing. Pria bernama Radit itu langsung menggendong putra sulungnya pergi menuju rumah sakit terdekat, sedangkan Lala sudah tak sadarkan diri di pangkuan Wendi yang juga membawanya pergi dari ruangan tersebut.
Beberapa jam ditangani oleh dokter, perlahan Lala mulai tersadar dari tidurnya. "Ikal... IKALLLL!!!" Hal pertama yang dicari perempuan itu adalah sahabatnya Ikal yang tak sadarkan diri dipangkuannya dengan bersimbah darah.
"Sayang tenanglah!!" Kirana memeluk putrinya sambil menangis sesegukan. Merasa tak becus menjaga putri sulungnya dan merasa sakit melihat psikologis putrinya yang mengalami gangguan mental.
"Hiks hiks Ikal mah... hiks Ikal... hiks hiks Ikal pergi ninggalin Lala... hiks padahal, hiks hiks padahal Ikal udah janji gak akan hiks ninggalin Lala... hiks hiks. Ikal..."
Kirana melirik suaminya Wendi, tapi pria itu menggeleng pelan karna sudah berdiskusi dengan Radit papanya Ikal untuk merahasiakan ini dari Lala maupun Ikal.
Kirana hanya bisa menghela nafas pasrah dengan keputusan suaminya dan mencoba menenangkan putrinya agar tidak terus terusan larut dalam kesedihan.
***
Nala terdiam mengingat kenangan itu. Sedetik kemudian dia bangun tersadar akan fakta yang sebenarnya.
"Nala? Kamu mau kemana?" Tanya Haikal mengurungkan niatnya ingin masuk kedalam apartemen.
Nala melirik Haikal diam. Beberapa saat kemudian dia berlalu pergi tanpa menjawab pertanyaan Haikal.
Haikal terdiam dengan perasaan yang tak dapat dijabarkan. Sakit, marah, kecewa, semuanya menjadi satu. Dia tidak menyangka, bahwa cinta yang ia jaga justru menolaknya.
"Bisakah kamu mengatakan alasan lain selain karna aku adalah Ikal? Apa perlu aku berubah menjadi Haikal agar kamu menerimaku?" Gumam Haikal memandang pintu lift penuh emosi.
***
Milea mengerjap erjapkan matanya sambil memegangi kepala yang terasa berat. "Sstt udah malam? Berapa lama aku tertidur?" Gumamnya memilih bangkit dan membuka pintu.
Dugh
"Astagfirullah tuan! Anda tidak apa apa?" Milea lekas berjongkok untuk melihat keadaan Zaky yang mengenaskan terguling dari pintu.
"Aduh, sakit..." ringis Zaky, melihat itu dengan cepat Milea membantu Zaky bangun dan duduk di kasur miliknya.
"Yang mana yang sakit tuan? Maaf saya gak sengaja," sesal Milea memegang pundak Zaky sembari celingak celinguk, takut takut ada lecet.
"Ini yang sakit," tunjuk Zaky pada dada bagian kirinya.
Milea memasang wajah datar dan langsung mendorong tubuh Zaky kesal.
"Saya sedang tidak ingin bercanda tuan!"
"Aku sedang tidak bercanda. Dada ku beneran sakit!" Elak Zaky meyakinkan. Memicingkan mata, Milea menatap tuannya penuh rasa curiga.
"Beneran sakit?" Tanya Milea ragu.
"Beneran. Kalau gak percaya, coba pegang!" Ujar Zaky tersenyum samar. Terkadang kepolosan pengawalnya ini bermanfaat juga demi kelangsungan rencana pendekatannya.
Milea dengan ragu ragu mengulurkan tangannya hendak menyentuh dada bidang itu.
Zaky seketika tersenyum dan langsung menarik tangan Milea masuk kedalam dekapannya.
"Kamu dengar tidak? Jantung ku berdegup sangat kencang, dan itu membuatku tersiksa dengan perasaan ini," bisik Zaky membuat Milea terdiam, berusaha melepas pelukan Zaky.
Huft. Milea menghela nafasnya, melemaskan tubuh pasrah dipeluk. Sepintas ide brilian membuatnya langsung membalas pelukan Zaky.
"Kak Zaky..." panggil Milea dengan suara dibuat seimut dan sepolos mungkin.
"Iya?" Jawab Zaky cepat. Apa Milea ingin mengungkapkan perasaannya? Apa wanita ini ingin memulai hari baru dengannya? Ayo katakan! Aku sudah siap! Gumam Zaky.
"Ada kecoa di punggung anda,"
"APA?! KECOAA?!! MANA MANA!! ARRRGGHH!!" Zaky langsung mendorong tubuh Milea dengan panik mengibas ngibas punggungnya. Melihat itu Milea dengan secepat kilat keluar dari kamar menyelamatkan diri.
"MILEAAAA!!!"
Milea cekikikan menahan tawa setelah berhasil keluar dari kamar. Untuk sementara mungkin di apartemen tidak akan aman, jadi dia memilih untuk menginap di apartemen Nala untuk malam ini. Meminimalistir hal seperti tadi terjadi lagi.