Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
memikirkan perusahaan


BRAK


"Bagaimana bisa!!" Milea sedikit terkesiap saat Zaky dengan kasar menggebrak meja. Di sana sekretarisnya hanya mampu diam sembari menunduk ketakutan. Takut menjadi pelampiasan kemarahan tuannya itu.


"Ada apa tuan?" Tanya Milea berjalan menghampiri Zaky yang tengah mengacak acak rambutnya kesal.


Bukh


Zaky melempar kertas kertas itu keatas meja, menyusuh Milea membacanya sendiri. Karna terlanjur penasaran, dia mengambil kertas itu dan perlahan membacanya.


"Panggil asisten saya dan sekretarisnya kemari!!" Titah Zaky memijit keningnya tanpa melihat kearah sekretarisnya itu.


"Baik tuan." Milea terdiam sembari membolak balik kertas berisikan data data keuangan perusahaan.


Keuangan perusahaan seminggu terakhir benar benar tak tanggung tanggung banyaknya yang dikorupsi. Pantas saja Zaky sangat marah karna uang pengeluarannya terlalu banyak, padahal setahu Milea bahan baku produknya tidak sampai semahal itu.


Tok tok tok


Cklek


"Permisi tuan. Ada apa mencari saya?" Tanya Haikal masuk bersama Nala di belakangnya.


"Duduklah!" Nala dan Haikal saling lirik, keduanya segera duduk di depan Zaky dengan perasaan bingung dan sedikit takut, apalagi ekspresi Zaky yang tidak bersahabat.


"Aku mau tanya, selama seminggu terakhir saat aku berada di rumah sakit. Bagaimana keadaan perusahaan?" Tanya Zaky bersikap setenang air.


"Perusahaan berjalan dengan baik tanpa ada kendala pak!" Jawab Nala lebih dulu.


"Oke. Selama aku di rumah sakit, kalian bekerja apa saja?" Tanya Zaky lagi, kali ini dapat Haikal rasakan, Zaky sangat serius, yang artinya ada masalah besar yang telah ia lakukan tanpa ia sadari.


"Kami bekerja seperti biasa. Mengecek keadaan perusahaan, memimpin acara rapat, serta mengambil alih pekerjaanmu untuk bertemu klien yang tidak bisa ditunda pertemuaannya." Jawab Haikal ikut bersandar tenang dikursi.


Zaky manggut manggut, lalu mengambil kertas di tangan Milea dan langsung melemparnya kehadapan kedua pasangan itu. "Lalu ini apa hah?! Bagaimana bisa keuangan begitu melonjak drastis seperti itu?!" Teriak Zaky membuat Nala diam, sedangkan Haikal melirik Zaky sebentar dan langsung memeriksa keuangan perusahaan.


"Apa? Bagaimana bisa? Kemarin saat diacara rapat, tidak seperti ini hasil laporan keuangannya. bagaimana bisa berubah tiba tiba?" Kaget Haikal membolak balik kertas seolah olah tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Ya... manajer keuangan lah. Siapa itu namanya... bri.. bri.."


"Brian Laksmana," potong Milea yang memang cukup mengenal dekat manager keuangan itu. "Nah iya itu! Brian Laksmana, manager di bagian keuangan yang mengurus semua pengeluaran serta pemasokan keuangan perusahaan. Tapi kok bisa beda ya? Laporan yang dia beri 'kan waktu itu terlihat normal normal saja, tapi kenapa laporan di dirimu membengkak gini?" Herannya sambil mengetuk ngetuk jarinya di dagu dengan mata melirik kearah langit langit ruangan.


"Aku mempunyai seseorang yang aku percayai dan kusiapkan secara khusus di bagian keuangan untuk memberikan laporan yang benar benar akurat. Dan itu hasil aslinya," jelas Zaky memejamkan matanya sejenak.


"Kamu masih memiliki hasil laporan keuangan yang diberikan si Brian itu?" Tanya Zaky cepat. "Masih, memangnya kenapa?"


"Nala, tolong ambil 'kan laporan itu. Aku ingin membandingkannya dengan laporan asli ini," pinta Zaky.


"Baik pak." Nala yang sedari tadi menyimak segera bangkit untuk mengambil berkas yang diminta oleh atasan dari atasannya.


Zaky melirik Milea yang sedari tadi diam tanpa berniat ikut bersua. "Kamu mengenal Brian?" Tanyanya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Milea menoleh, "lumayan tuan. Kami sering bertemu saat ingin membuat kopi biasanya." Jawab Milea tenang.


"Menurutmu dia bagaimana?" Tanya Zaky. Milea terdiam sejenak memikirkan pertemuan demi pertemuan dirinya dengan pria bernama Brian Laksmana.


Pria itu memang sudah mencurigakan sejak awal Milea mengenalnya. Apalagi tragedi demi tragedi yang secara kebetulan selalu berkaitan dengannya, membuat kecurigaan seorang Milea semakin bertambah. Hanya saja, ada sedikit yang mengganjal di hatinya. Suara yang ia jumpai waktu itu bukanlah suara Brian sama sekali, karna ia ingat betul suara itu milik salah satu karyawan lain, dan yang pasti bukan seorang Brian Laksmana.


"Saya tidak pandai melihat kerakter orang lain tuan. Satu yang saya tau. Dia tampan," jawab Milea santai.


"Tampanan mana denganku?" Ketus Zaky. Milea melirik bingung tuannya yang terlihat kesal sembari bertanya tentang pertanyaan sulit baginya. Tentu saja karna Brian dan Zaky sama sama memiliki wajah yang hampir dikatakan sempurna.


"Anda tuan," cari aman. Lanjutnya dalam hati, menyelamatkan dirinya dari bencana gempa susulan yang siap kapan saja menyeret air laut untuk menunjukkan sisi ganasnya sebagai tsunami.


"Heh, baguslah kalau kau sadar." Gadis itu hanya mampu memasang wajah datar melihat wajah percaya diri Zaky yang berlebihan. Membuat orang lain kesal saja.


Plak


"Astaga, kenapa banyak sekali nyamuk di ruanganmu ini Zaky?" Sindir Haikal pura pura menepuk nyamuk di sekitarnya.


*K*asian jomblo. Ledek Milea dan Zaky bersamaan.