Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Haruskah pergi?


"Zaky? Lo mau kemana? Kenapa gak masuk?" Tanya Haikal yang baru tiba bersama dengan Nala.


Menoleh, "tidak ada." Jawabnya berlalu pergi.


"Pak Zaky kenapa?" Gumam Nala bingung. Haikal menoleh lalu mencubit gemas pipi istrinya, "itulah ciri ciri orang yang tengah patah hati." Jawab Haikal.


"Jadi pengen ngunjungin Milea?"


"Jadi dong!"


"Kalau begitu ayo!" Dengan gandengan mesra, Haikal dan Nala masuk ke UGD untuk mengunjungi Milea, teman keduanya.


"Milea, kamu baik baik ajakan?" Nala langsung melepas tangannya dari Haikal dan berdiri di sisi brankar Milea penuh khawatir. Tak peduli harus menggusur Ronald dan Kris yang ada di sana, rasanya saat ini hanyalah kekhawatiran.


"As you can see. I'm fine." Jawab Milea tersenyum lemah sebagai jawaban jujur bahwa dirinya sedang tidak baik baik saja.


"Yah, kelihatan kamu memang sehat sehat saja." Mengangguk. "Eh tapi, aku punya kabar baik. Aku hamil!!" Seru Nala dengan girang.


"Hamil?! Perasaan kita nikah baru beberapa hari deh, kok udah hamil aja?" Sambar Haikal tak percaya.


Mendelik malas, "aminin aja kenapa sih! Siapa tau beneran isi!!" Omel Nala pada suaminya Haikal.


Milea melihatnya hanya tersenyum berharap jika memang memiliki seorang bayi adalah kebahagiaan bagi Nala, maka bayi itu juga akan menjadi kebahagiaan luar biasa bagi Milea. Karena bahagia Nala, adalah bahagianya. Begitu pula sebaliknya.


"Milea, maaf aku gak bisa lama lama. Soalnya abis ini mau langsung kerumah papa, mama katanya kangen," tutur Nala berpamitan dengan tak enak.


"Iya gak apa apa, makasih udah mau berkunjung. Tapi lain kali, kalau mau berkunjung itu bawa buah tangan. Buah kek, apa kek gitu. Mobil juga boleh," canda Milea.


"Eh iya lupa sorry sorry, nanti aku bawain pesawat yah. Terjeda. Pesawat yang dijual pasaran maksudnya," lanjut Nala membuat Milea terkekeh kecil.


"Ya udah kalau gitu aku pergi dulu ya. Get well soon Milea. Bye bye..." Nala pergi sambil melambaikan tangannya dan dibalas sama oleh Milea.


"Yank, kamu beneran hamil?" Tanya Haikal yang samar samar Milea dengar saat mereka hendak keluar.


Tap


Langkah Nala dan juga Haikal terhenti saat seorang pria berumur senja memasuki ruangan dan berselisih dengan mereka. Haikal melirik pria itu dengan kening berkerut dalam.


Seperti pernah melihat, tapi di mana?


"Mas, kamu ngapain sih?! Ayo buruan! Aku mau ketemu sama mama!!" Desak Nala menarik tangan Haikal keluar sebelum pria itu tersadar dari lamunan.


"Kakek?!" Gumam Milea, Kris, Malvin, Ronald, Edwark, dan Erickh bersamaan. Terkejut saat melihat pria tua penuh wibawa itu datang tanpa ada kabar. Dadakan.


"Dasar cucu cucu tak berguna!! Bagaimana bisa kalian menyembunyikan hal besar ini dari kakek ha?!! Mau kakek kutuk kalian!!?" Omel pria bernama Gren itu sambil menunjuk kelima cucunya lalu berjalan pelan menghampiri Milea dibantu tongkatnya.


"Gris, kamu bereskan sisanya! Aku tidak mau tau, nama cucu ku harus kembali bersih tanpa noda!" Titah Gren pada asistennya.


"Baik tuan!"


Menatap Milea penuh kelembutan, "kamu baik baik saja princess?" Tanya Gren pada cucu perempuan kesayangan dan satu satunya.


"I'm fine kek." Jawab Milea singkat.


"Kenapa kamu tidak memberitahu kakek kalau kamu sedang dalam masalah? Apa kamu sudah tidak menganggap kakek lagi?" Ketus Gren agak manja pada Milea. Karena Milea-lah satu satunya dalam keturunannya yang berjenis kelamin perempuan. Anak dan cucu, semuanya laki laki. Hanya Rikha dan Milea-lah keturunannya yang perempuan. Sayangnya putri Gren harus meninggal tanpa sempat merasakan menjadi seoranf putri di keluarga bangsawan milik Gren.


"Lea tidak ingin mengganggu liburan kakek," jawab Milea seadanya.


"Tetap saja! Kamu seharusnya mengabari kakek. Menghela nafas. "Sudahlah. Sebaiknya kamu istirahat, karena besok kita akan berangkat ke Australi. Sudah saatnya kamu pulang. Berhentilah mencari keadilan itu, karena perasaan kakek selalu tidak enak jika membiarkan kamu berurusan dengan keluarga licik seperti Rahardian," tutur Gren bangkit dari duduknya sambil bersanggakan sebuah tongkat.


"...." Milea diam tanpa menoleh pada Gren. Menghela nafas, Gren akhirnya keluar bersama dengan pengasuhnya. Meninggalkan Milea bersama para sepupunya yang terdiam setelah kepergian kepala keluarga mereka.


Haruskah pergi?