
Hari ini Milea sudah dibolehkan untuk pulang. Rencananya dirinya hari ini ingin langsung bekerja mengikuti tuannya ke perusahaan.
"Kau istirahat saja di sini. Kau baru saja keluar dari rumah sakit, tidak usah bekerja. Aku bisa menyuruh pengawal lain untuk mengawalku. Jadi kau bisa istirahat di sini tanpa mengkhawatirkan keadaanku." Tegas Zaky yang berusaha keras membujuk si keras kepala Milea untuk tidak bekerja.
"Tapi tuan..."
"Tidak ada tapi tapi!! Pokoknya aku tidak mengizinkanmu bekerja sebelum keadaanmu benar benar pulih oke?!" Potong Zaky cepat.
"Huft baiklah. Tapi pulang nanti bawa 'kan martabak telur ya tuan?" Pesan Milea cengengesan.
Zaky tersenyum lalu mengacak acak pucuk kepala Milea "Siapa kau beraninya menyuruh atasanmu heh?" ledek Zaky dengan gemas menoel hidung Milea.
"Tidak mau ya sudah. Tidak perlu mengacak acak rambut saya juga, kan berantakan jadinya." Gerutu Milea cemberut.
"Becanda. Iya iya entar pulang kerja saya belikan martabak telur untuk kamu. Tapi dengan satu syarat!!" Kekehnya.
Milea menoleh, "syarat? Syarat apa tuan?" Tanya Milea menatap polos manik mata tajam milik tuannya.
Zaky membalas tatapan Milea dengan tajam. "Jangan pernah mengorbankan dirimu lagi hanya untuk menyelamatkan ku." Jawabnya pelan.
"Kenapa? Bukankah itu merupakan tugas saya sebagai pengawal anda untuk melindungi anda 24 jam non stop?" Jawab Milea datar.
Zaky mengalihkan pandangannya. "Pokoknya jangan pernah mengulangi hal seperti di hotel waktu itu lagi. Aku sebagai tuanmu melarang itu terjadi untuk kedua kalinya!" Setelah berkata seperti itu, Zaky langsung pergi meninggalkan Milea yang terdiam di atas sofa ruang tamu.
"Maaf tuan, saya tidak bisa memenuhi syarat anda. Saya akan tetap melindungi tuan meskipun harus merelakan nyawa saya sekalipun. Karna saya tidak bisa hidup dengan rasa bersalah ini terus menerus," gumam Milea sendu.
***
Di tempat lain, seseorang baru saja turun dari sebuah ojek online. Setelah membayar, wanita itupun masuk menuju ruangannya di dalam perusahaan.
"Pagi bu Nala.."
"Pagi." Balas wanita itu yang tak lain adalah Nala Mahaswira. Langkah kakinya berjalan menuju kearah lift untuk para karyawan, sebelum sebuah tangan lebih dulu menariknya masuk kedalam lift satunya yang khusus untuk para atasan.
"Apa yang anda lakukan pak?!" Bentak Nala setelah pintu lift tertutup rapat. Pria yang tak lain adalah Haikal itu melirik Nala santai lalu bersandar di tembok lift.
"Menurutmu?"
Nala menghela nafas sejenak. Baru saja beberapa minggu yang lalu dia merasa Haikal tidak seburuk kelihatannya, sekarang? Sepertinya dia harus mencabut kata kata itu. Seorang Haikal tetaplah seorang Haikal, dia akan tetap menjadi orang yang paling menyebalkan di mata Nala.
Keduanya sama sama terdiam menunggu pintu lift terbuka. Haikal yang masih bersandar di tembok lift sesekali melirik Nala yang nampak diam menatap lurus kearah depan. Apakah harus dia yang memulai pembicaraan?
"Hei---"
Ting ting
Gubrak
Baru saja ingin memulai pembicaraan, tiba tiba lift terhenti sehingga menyebabkan sedikit guncangan yang membuat kaki Nala tidak seimbang. Beruntung Haikal dengan sigap menahan pinggang wanita itu agar tidak terjatuh.
"Kamu gak apa apa?" Tanya Haikal menatap khawatir Nala. "Sa-saya tidak apa apa pak." Jawab Nala gugup, melihat kedekatan mereka yang menurutnya terlalu intim.
Perlahan tapi pasti, Nala bangun dari tangan Haikal. "Ada apa ini pak? Kenapa tiba tiba liftnya berhenti?" Tanya Nala sedikit risau.
Haikal menatap kearah tombol lift. "Sepertinya listriknya sedang mati. Kita tunggu saja, mungkin sebentar lagi akan menyala." Tepat setelah Haikal berucap, lift kembali berfungsi. Keduanya langsung menghembuskan nafas lega.
Ting
"Saya duluan pak." Ucap Nala setelah pintu lift terbuka. Haikal menatap punggung wanita itu sebelum akhirnya dia ikut melangkahkan kaki menuju ruangannya.
Di lantai teratas ini, Zaky menginginkan hanya asistennya saja yang satu lantai dengannya. Berhubung sekarang dia sudah memiliki sekretaris, jadi Nala diperbolehkan berada di lantai itu juga, apalagi Nala merupakan sahabat baik Milea pengawal Zaky.
Dan untuk sekretaris Zaky, mereka di tempatkan satu lantai di bawah ruangan Zaky. Teruntuk karyawan lain, mereka hanya diperbolehkan memberi laporan pada asistennya Haikal, setelah itu barulah Haikal memberikannya kepada Zaky.
Ribet memang, tapi seperti itulah Zaky. Dia tidak suka terlalu banyak orang yang menatapnya, meski itu urusan pekerjaan sekalipun.
Sepulang kerja, Zaky cepat cepat membereskan pekerjaannya karna ingin segera pulang keapartemen. Entahlah, dia seperti merindukan pengawalnya itu. Hari ini saja dia sering marah marah karna tidak ditemani pengawal cantiknya itu.
"Kal, kau hari ini gantikan aku lembur ya. Aku harus segera pulang untuk melihat keadaan Milea," ucap Zaky sesaat melewati ruangan asistennya Haikal.
Pria itu melirik malas, "iya iya tau yang lagi khasmaran. Udah sono pergi lu! Kagak usah lu suruh juga gue tiap hari lembur juga kali?!" Ketus Haikal.
"Ah lu emang kawan yang terbaik kal. Kan gue makin sayang. Thanks kal, gue duluan ya." Pamitnya berlalu pergi.
"Astaga, Zaky kerasukan jin apa tuh? Bucinnya kok gitu amat? Mana Zaky gue yang selalu stay cool? Sumpah. Kalo Harun tau pasti dia gak akan percaya lihat sikap Zaky yang bikin gue merinding." Gumam Haikal bergidik ngeri.