Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Sidang kedua


Erickh duduk di meja bar sebuah cafe sembari mengawasi setiap sudut ruangan tersebut menunggu targetnya datang.


Kring


Bunyi bel yang ada di pintu membuatnya langsung menoleh dan menemukan target berjalan lalu mengambil duduk di meja cafe. Bianka. Setelah memesan coffe, wanita itu perlahan membuka laptopnya. Akhir akhir ini wanita itu lebih suka bekerja di luaran, bukan dalam perusahaan. Dia sedang butuh angin segar, bukan kantor yang pengap menurutnya.


"Ini, ambil saja kembaliannya." Ucap Erickh memberikan uang kepada kasir lalu berjalan menghampiri Bianka dengan membawa secangkir ice coffe.


Byurrr


"YAA!!!" Bianka berteriak tak percaya sesaat dalam hitungan detik, laptopnya basah kuyup oleh guyuran air kopi seseorang. Menoleh cepat, Bianka terdiam saat tahu Erickh lah orangnya.


"Aduh maaf, aku gak sengaja." Ucap Erickh sok tak enak, padahal sengaja menyiram laptop Bianka dengan air kopi yang ia bawa.


"Eh, enggak apa apa kok." Jawab Bianka cepat. Tak sampai di situ saja, Erickh dengan cepat mengambil beberapa helai tisu untuk membersihkan sisa noda kopi di laptop tersebut.


"Maaf banget aku gak sengaja. Sini biar aku bersihkan." Ujarnya tak enak.


"Udah gak usah, gak apa apa kok. Lagian masih bisa diperbaiki nanti." Bianka menahan tangan Erickh agar tidak melakukannya.


"Sekali lagi maaf ya."


"Iya, santai aja."


"Em... gimana kalau laptopnya biar aku yang bawa buat diperbaiki. Anggap aja ini sebagai permintaan maafku karena sudah menumpahkan air ke laptop kamu." Usul Erickh sesuai tujuannya.


"Gak usah, gak apa apa kok. Beneran." Tolak Bianka.


"Ayolah, aku tidak ingin merasa bersalah seperti ini. Biarkan aku memperbaiki laptopmu itu... yah?" Pinta Erickh sok tak enak hati. Terdiam sejenak, Bianka akhirnya mengangguk mengiyakan. Diam diam Erickh tersenyum menyeringai tipis.


Misi selesai....


***


Milea diam termenung di atas brankar rumah sakit. Hari ini adalah sidang kedua dirinya dipengadilan. Dapat ia lihat, para sepupunya benar benar mati matian mencari informasi hanya untuk mengeluarkannya dari tuduhan.


"Milea..." panggil Kris mengambil duduk di sisi ranjang menatap lurus Milea sepupu kesayangannya.


"Sudah siap?" Tanyanya. Melirik sekilas, Milea mengangguk singkat meski dalam hatinya ada sebuah rasa gugup.


Cklek


"Silahkan masuk tuan putri..." di depan rumah sakit, Ronald dan Ben telah menunggu dengan kendaraan mereka untuk menjemput Milea kepengadilan bersama.


Milea masuk tanpa ekspresi, diikuti Kris, Ronald dan Ben setelahnya. Mobil itupun akhirnya melaju ketempat tujuan. Sesampainya di kantor pengadilan, mereka telah disambut Edwark, Erickh, Malvin dan Jack.


"Rilex baby, jangan gugup!" Ucap Erickh mengacak acak rambut Milea sambil tersenyum manis, dibalas senyum samar dari Milea.


"Ayo!" Milea dirangkul Malvin masuk bersama yang lainnya. Di sana semua orang telah berkumpul, dari para saksi maupun jaksa, pengacara, dan hakim. Semuanya telah siap. Tinggal memulai acara saja lagi.


"Secara spesifik, pelaku awalnya mungkin ingin menyelamatkan korban, tapi berubah pikiran sehingga dengan sengaja mendorong korban yang dari vidio terlihat ingin kembali naik dan mengurungkan niat untuk bunuh diri. Ini bisa dijadikan alasan bagi pelaku dengan mengajukan penolakan bahwa korban telah bunuh diri, sedang pelaku tak sengaja mendorongnya. Alasan ini tidak bisa saya terima, mohon pengadilannya hakim." Tutur Karan.


"Jika membaca tentang niat hati seseorang, tidak ada yang dapat menebaknya. Maaf sebelumnya yang mulia, saya menolak gagasan dari penuntut. Jika pelaku berniat ingin membunuhnya, untuk apa? Dari vidio singkat kita dapat menyimpulkan banyak spekulasi, sedang kebenarannya kita tidak tahu. Maka dari itu, saya telah menyiapkan seseorang yang menjadi saksi mata tentang kasus meninggalnya, korban delapan tahun yang lalu." Tolak Jack.


Ningsih yang berada di meja saksi, akhirnya bangkit dan mengambil duduk di samping Milea. Nona mudanya dulu.


"Bibi?" Gumam Milea tak percaya.


"Iya, ini bibi non," jawab Ningsih tersenyum lembut di usianya yang senja.


"Saksi, bisa ceritakan bagaimana kronologi kejadian yang anda lihat?" Tanya Jaksa berjalan menghampiri Ningsih untuk dimintai kesaksiannya.


"Waktu itu, saya sama non Lea baru pulang dari pasar membeli kebutuhan dapur. Saat di depan gerbang, Nina, pembantu lainnya datang menghampiri kami dengan panik. Dia lalu mengatakan bahwa non Anna ingin bunuh diri. Saat itu juga non Lea panik, dan berlari masuk meninggalkan saya." Mengambil nafas panjang, Ningsih pun kembali bercerita.


"Saat saya sampai di halaman depan, non Anna benar benar ingin bunuh diri. Soalnya waktu itu saya lihat non Anna udah berdiri di pembatas balkon. Semua pembantu yang bekerja delapan tahun lalu di kediaman Rahardian juga menyaksikan bagaimana meninggalnya non Anna, termasuk saya." Terdiam sejenak. "Saat itu saya lihat, non Milea berlari menghampiri non Anna dan tiba tiba mendorongnya." Lanjut Ningsih mengheningkan keadaan yang masih ingin mendengar ceritanya.


"Lalu? Apa yang terjadi setelah itu?" Tanya Jaksa sedikit memaksa.


"Non Anna jatuh, tapi non Lea sempat memegangi tangan Non Anna hingga dia tergantung di lantai itu. Lalu..."


Brak


"Cukup!! Jangan lanjut lagi bi. Kesaksian bibi sudah cukup. Aku memang pelakunya, aku yang mendorongnya. Jadi, sebaiknya bibi tidak perlu menceritakan selanjutnya lagi." Potong Milea cepat mengejutkan Sepupu, pengacara, asistennya, dan seluruh saksi, termasuk Nala, Haikal dan Zaky.


"Milea apa yang kamu lakukan!" Bentak sepupunya murka. Mereka berjuang untuk membersihkan nama Milea, tapi dia justru ingin memasukkan dirinya kepenjara dengan sendirinya?!


"Non..."