
Hari ketiga Anna tinggal di kediaman Rahardian, gadis itu pergi kedapur untuk melihat apa yang dikerjakan para pelayan kerjakan.
Dari kejauhan, Anna dapat melihat Milea sedang memasak dengan lincahnya di dapur. Dengan cepat dia menghampiri gadis itu penuh semangat.
"Woahhh kamu pandai sekali melakukannya," decak Anna saat melihat tangan Milea yang begitu lincah memotong bawang bombay. Milea yang kaget tak sengaja menggores tangannya dengan pisau hingga mengeluarkan cukup banyak darah.
"Astaga, tanganmu berdarah. Kamu tidak apa apa?" Tanya Anna panik refleks menarik jari Milea dan menghisap darahnya.
Milea yang risih dengan cepat menarik tangannya dari dalam mulut Anna lalu perlahan mencucinya di westapel.
"Tanganmu sungguh tidak apa apa? Apa perlu ku ambilkan kotak obat untuk mengobatinya?" Tanya Anna merasa cemas karna Milea tidak berbicara sepatah katapun padanya. Dia mengira Milea marah padanya, padahal memang pada dasarnya gadis itu sulit untuk diajak bicara.
Milea masih bergeming. Dia mengelap tangannya yang basah lalu kembali memotong sayur sayuran yang memang ditugaskan untuknya masak, sedangkan yang lain bertugas untuk memasak yang lain.
Anna masih terus mengikuti setiap pergerakan Milea kemanapun gadis itu pergi. Tak perduli jika Milea yang terlihat bolak balik dari kewajan lalu memotong sayur serta bumbu penyedam lainnya.
Brak
"Bisa tidak jangan mengikutiku terus?!" Tegas Milea dengan sengaja meletakkan pisau di atas talenan dengan kasar. Ditatapnya tajam Anna yang membuat nyali gadis itu menciut.
"Maaf. Aku tidak bermaksud ingin membuatmu kesal, aku hanya takut kamu tidak memaafkanku karna telah membuatmu terluka tadi," cicitnya sambil meremas jari jari tangan takut.
Huft. Milea menghembuskan nafas kasar mencoba mengontrol emosinya karna anak baru ini. "Sebaiknya kamu pergi!! Di sini kamu hanya akan membuat pekerjaanku jadi lambat!!" Usir Milea lalu kembali berkutat pada masakannya.
Anna bergeming di tempatnya, melirik Milea yang tengah sibuk membuat sup untuk keluarga besar itu. Huft. Sekali lagi, Milea menghela nafas saat Anna bergeming sama sekali dari tempatnya.
"Ngapain masih di situ? Pergi sana!!" Usirnya acuh tak acuh. Namun, Anna nampak enggan untuk beranjak, sedari tadi dia hanya berdiri dengan gelisah, takut untuk mengutarakan keinginannya.
"Ck. Disuruh pergi malah diam kek patung," decak Milea pelan, berbalik menatap Anna sedingin es. "Apa?" Tanya Milea to the point.
"Ha? Aa.. itu... aku pengen belajar masak. Tolong ajarin ya?" Pinta Anna kikuk dan sedikit salah tingkah.
Milea menatap Anna dengan pandangan yang sulit diartikan, membuatnya salah tingkah ditatap seperti itu. "Belajar masak?"
"Iya." Jawab Anna cepat. Milea menatapnya sejenak lalu berbalik badan untuk melanjutkan masak. Anna yang melihat itu merasa kecewa karna mengira Milea tak ingin mengajarinya.
"Katanya mau belajar masak, kenapa masih berdiri di situ?" Ketus Milea melirik kebelakang. Mendengar itu seketika mata Anna berbinar senang dan langsung menghampiri Milea untuk belajar.
"Ini dipotong kayak gini 'kan?" Tanya Anna memperlihatkan hasil potongan wortelnya.
"Hm." Singkat padat dan jelas. Milea hanya melirik sekilas Anna yang begitu antusias ingin belajar memasak, hingga tanpa sadar senyum tipis terukir indah di bibirnya yang lebam.
Sore harinya, Anna terlihat tengah menikmati pemandangan taman di sebuah gajebo yang ada di rumah ini. Hingga sebuah tarikan mampu membuatnya terkejut dan melihat kearah siapa yang menariknya.
"Heh anak pungut!!" Sinis seorang wanita yang mungkin beberapa tahun lebih tua darinya. Dia Bianka.
"Aku Kak?" Tunjuk Anna pada dirinya sendiri, karna dia tidak merasa bahwa dirinya adalah anak pungut.
"Ya iyalah lo, emangnya siapa lagi? Elo kan emang anak pungut?!" Hina Bianka menyilang kedua tangannya di depan dada.
"Ada apa ya Kak?" Tanya Anna polos. Bianka yang melihat itu sungguh merasa muak dan tanpa aba aba dia langsung menjambak rambut Anna sehingga membuat yang dijambak merasa kesakitan.
"Awh Kak... sakit, lepasin Kak!! Kenapa Kakak jambak rambut aku?" Teriak Anna sembari menahan tangan Bianka untuk tidak mengencangkan tarikan dari rambutnya.
"Aku tau aku anak pungut. Aku juga sadar diri kok, dan aku gak pernah sok berkuasa. Kakak kalo cuma mau ngingetin 'kan bisa ngomong baik baik, gak perlu jambak rambut aku segala 'kan? Sakit ini kak!" Ucap Anna.
"Heh malah ngejawab!! Berani lo sama gue ha?!" Bentaknya semakin menarik kasar rambut Anna.
"Sakit Kak!!" Anna yang cukup kesal refleks mendorong tubuh Bianka hingga terjatuh dari gajebo yang memiliki satu tingkatan tembok dari tanah.
"Akh.."
"Ya ampun Bianka!! Kamu gak apa apa sayang? Kok bisa jatuh?" Seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Ranti berlari menghampiri anaknya yang terjatuh.
"Hiks huhuu sakit mah... kaki aku hiks kayaknya terkilir deh. Hiks gimana aku mau sekolah nanti? hiks hiks," isak Bianka penuh drama.
"Aduh sayang jangan nangis dong!!" Bujuk Ranti lalu menatap nyalang Anna yang berdiri takut di atas gajebo. Ranti segera bangkit menghampiri Anna dan...
Plak
"Dasar anak gak tahu di untung!! Masih syukur suami saya mau mungut anak jalanan kayak kamu! Dan sekarang kamu sudah mulai sok berkuasa iya?! Kamu benar benar harus dikasih pelajaran biar gak semakin melunjak!!" Bentak Ranti dengan cepat menarik tangan Anna menuju kolam renang yang letaknya tak jauh dari gajebo.
"Hiks tan, lepasin!! Hiks hiks, lepasin tan sakit!!" Teriak Anna di sela sela tangisnya saat Ranti menarik pergelangannya cukup kasar.
"Kamu harus saya kasih pelajaran!!" Bentak Ranti menarik tangan Anna dan mendorongnya masuk kedalam kolam renang. Tapi, sebelum itu terjadi. Sebuah tangan dengan cepat menahan tangan Anna dan langsung menariknya kembali kepermukaan sebelum dirinya menyentuh air itu.
"Milea...?" Lirih Anna pelan saat melihat wajah tembok itu menariknya untuk berlindung di belakangnya.
"Jangan sakitin dia bu!" Ucap Milea sedikit memohon, meski tau ini akan berimbas pada dirinya.
"Heh, satu belum kelar muncul lagi hama yang satunya. Entah mengapa ada begitu banyak hama yang tinggal di rumah ini." Decak Ranti menatap sinis Milea.
"Minggir!! Saya ingin kasih pelajaran pada gadis tak tahu malu itu!! Jika kamu tidak ingin saya siksa, sebaiknya berikan anak pungut itu!!" Ancamnya.
"Milea..."
Milea melirik kebelakang punggungnya melihat Anna yang nampak gemetar ketakutan. Huft. Dia menghembuskan nafas pelan dan entah mendapat keberanian dari mana, dia membalas tatapan ibu tirinya itu.
"Jangan sakitin dia bu!" Hanya kata itu yang mampu Milea ucapkan, tapi itulah bentuk pembelaannya untuk gadis yang tidak tahu asal usulnya ini.
"Hoh... mau jadi sok pahlawan kamu ha?! Oke!! Kalau begitu kamu yang tanggung hukuman dia!!"
Milea dengan cepat menarik tangan Anna dan mendorongnya kesamping. Hingga sebuah tangan mendorong bahunya hingga tercebur kedalam air kolam.
"Uhuk uhuk Haaa" Milea berusaha berenang kepermukaan hanya untuk sekedar mengambil nafas. Hingga saat berhasil sampai di pinggir kolam, sebuah tangan menekan kepalanya masuk kedalam air, membuatnya yang tak siap tersedak air.
"Milea!!" Anna yang kaget segera bangkit untuk menyelamatkan Milea dari siksaan Ranti.
"Lepasin Milea tan!!" Anna dengan sigap menarik tangan Ranti agar melepas 'kan Milea tang mulai kehabisan nafas, tapi dengan sekali sentakan Anna langsung tersungkur kesamping akibat ulah Ranti.
"Jangan ikut campur atau kau ingin berakhir sama seperti dia!!" Ancamnya. Tentu Anna langsung diam tak berani berbuat apa apa, meski dalam hati dia merasa iba pada Milea. Ini semua terjadi karnanya, seharusnya yang ada di sana bukan Milea melainkan dia. Pikirnya merutuki diri.
Cukup lama Ranti menekan kepala Milea hingga pada akhirnya menyudahi acara penyiksaannya. "Ingat!! Jangan sekali kali kalian berani melawan saya ataupun anak saya! Kalian hanya hama di sini!! Yang mana suatu hari harus disingkirkan!! Jadi jaga kelakuan kalian!!"