
"To-long.." Milea menghentikan lamunannya saat mendengar rintihan seseorang tak jauh dari sana. Dia segera berlari mencari sumber suara.
"Tuan!!" Milea membulatkan matanya sempurna melihat darah segar terus bercucuran dari perut Zaky.
Brukh
"Tu-tuan hiks," gadis itu mulai terisak, tangannya terulur untuk menutupi bekas tusukan di perut Zaky dengan raut takut sekaligus panik dan cemas.
"Hiks hiks tu-tuan... hiks" Milea perlahan mengangkat kepala Zaky untuk berbaring di atas pangkuannya.
"Jangan me-menangis. A-aku baik ba-ik saja.." di saat seperti ini, Zaky masih sempat sempatnya menenangkan pengawalnya itu.
"Hiks hiks aaaaa tu-tuan... hiks kit-kita kerumah sakit... hiks ayo kita kerumah sakit!" Milea segera tersadar dengan cepat mengangkat tubuh Zaky menuju mobil dan membawanya kerumah sakit menggunakan mobil Zaky.
Sesampainya di rumah sakit, Zaky segera dilarikan menuju ruang UGD untuk mendapatkan penanganan segera mengingat luka tusukan di bagian perut Zaky itu cukup dalam.
"Maaf, mbak dilarang masuk. Mbak bisa menunggu di luar!" Larang suster segera menutup pintu. Milea terdiam di ambang pintu dengan tatapan lurus menatap Zaky yang di bawa di balik pintu hingga menghilang bertepatan dengan tertutupnya pintu.
"Bodoh!!"
"Kau bodoh Milea kau bodoh!! Bagaimana bisa kau mengulangi kesalahan di masalalu?! Kau ini pengawalnya atau bukan?! Bagaimana bisa kau lalai dalam menjalankan tugasmu?!"
"Cukup dia saja yang gagal kau lindungi, tidak untuk kali ini. Aku benar benar tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sesuatu terjadi padanya! Dan jika sampai itu terjadi, aku akan membunuh orang yang sudah melakukan ini pada tuanku Zaky!!" Rutuknya terduduk lemas di kursi tunggu.
Dia menunduk dengan tangan yang menyangga kepalanya. Sungguh, dia merasa gagal dalam menjalankan tugasnya untuk menjaga dan melindungi tuannya 24 jam. Nyatanya sekarang? tuannya sudah masuk rumah sakit akibat kelalaiannya itu.
Cukup lama dia terdiam mendengarkan isak tangisnya sendiri sembari menunggu seseorang keluar dari ruangan penentu umur itu.
Cklek
"Keluarga pasein pak Zaky Alexander!"
"Saya! Saya pengawalnya dok, bagaimana keadaan tuan saya?" Tanya Milea cepat saat pintu ruangan tersebut terbuka.
"Alhamdulillah. Oprasi penjahitan luka tusukan di bagian perut berjalan dengan lancar. Sebentar lagi pasein akan segera dipindahkan keruang rawat inap, diharap nona mengurusnya kepihak administrasi." Jelas dokter tersebut membuat Milea menghembuskan nafas lega.
"Baik dok, saya akan segera mengurus biaya administrasi. Tolong pindahkan tuan saya ketempat yang nyaman," pinta Milea.
"Tidak masalah, mari nona!" Milea mengangguk. Tak lama setelah itu pintu terbuka, para perawat mendorong brankar Zaky menuju ruang rawat inap VIP sesuai permintaan Milea yang menginginkan tempat ternyaman untuk tuannya beristirahat.
Kreett
Milea menarik kursi duduk di samping Zaky. Ditatapnya wajah tampan pria itu meski pucat sekalipun. Tangannya terulur untuk menggenggam tangan Zaky dengan erat, mencoba menyalurkan sedikit energi miliknya, berharap tuannya segera tersadar.
Tak butuh waktu lama, Milea tertidur. Menjumpai alam bawah sadarnya, entah itu buruk atau indah.
***
Di sebuah lorong gelap, Milea menatap sekelilingnya dengan perasaan bingung. Aku di mana? Tempat apa ini? Begitulah isi pikiran Milea yang muncul pertama kali saat melihat lorong gelap yang minim cahaya. Ketibang di bilang lorong, ini seperti terowongan dengan remang remang cahaya lampu yang berkedip kedip, seolah olah kapan saja bisa mati.
"Hallooo... ada orang di sana?!" Teriak Milea mencoba mencari titik kehidupan di dalam kegelapan ini.
Dari kejauhan, Milea melihat sekelabat seorang gadis bergaun putih tengah memunggunginya.
"Hei---" Milea terdiam dengan tangan terangkat yang ingin melambaikan tangan, gadis itu perlahan berjalan, membuat Milea penasaran lalu mengikuti langkah gadis itu.
Sampai di ujung jalan, gadis itu menghilang. "Hei kau di mana?! heii..." teriak Milea mulai cemas, apa di sini benar benar tidak ada kehidupan sama sekali?
"Tolonggg!!" Milea terdiam saat mendengar suara teriakan yang familiar di telinganya. Kepalanya perlahan menoleh kedepan dan seketika menegang melihat pemandangan tak asing di matanya.
Terlihat sebuah rumah di balkon lantai 3. Seorang gadis tergelantung di sana tengah berjuang menyelematkan nyawanya dari ambang kematian. Terdapat juga dua orang gadis lainnya yang satu berusaha menyelamatkan, yang satunya lagi berusaha menjatuhkan.
Puk
"Arrrrggghhh"
BRAK
"TIDAKKKK!!!" Milea terbangun dengan nafas tersendat. Ditatapnya jendela di balik gorden telah bersinar terang yang menandakan bahwa hari sudah pagi.
"Milea kamu baik baik saja?" Tanya Zaky dengan suara serak. "Tu-tuan. Anda... anda sudah sadar?" Tersenyum kikuk, Milea mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Sudah, kamu baik baik sajakan? Ku lihat tadi kamu seperti sedang gelisah. Lalu tiba tiba bangun dan berteriak tidak. Mimpi buruk?" Tanya Zaky mencoba mencari tahu apa yang membuat gadis di hadapannya ini bisa mimpi buruk.
"Ah i-iya."
Zaky tersenyum lembut. "Sebelum tidur, baca doa agar terhindar dari mimpi buruk yang diciptakan oleh setan untuk menganggu istirahat kita." Pesan Zaky.
"Ba-baik tuan."
Cklek
"ZAKY!!"