
"Itu..."
"Milea? Zaky?"
Sang nama langsung menoleh saat dipanggil. Haikal dan Nala yang tengah bergandengan langsung menarik kursi bergabung bersama mereka.
"Kalian ngapain di sini? Lagi kencan ya... hayo ngaku..!" Goda Haikal tersenyum jahil melirik Zaky dan Milea bergantian.
Wajah Milea seketika berubah menyeramkan. Haikal menggagalkan rencananya yang ingin tahu kejahatan apa yang papanya perbuat selain menutupi bukti kematian Anna. Dengan aura menyeramkannya itu dia menatap Haikal seolah olah ingin mencincangnya sampai halus.
"Weh... kenapa kamu menatapku seperti itu?" Ujar Haikal merinding melihat wajah tak bersahabat dari Milea.
"Sedang apa kamu di sini? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk menghandel semua pekerjaanku di kantor?!" Kini giliran Zaky yang marah.
"Ya elah ky... lo pikir cuma lo yang mau kencan? Gue juga mau kencan juga sama istri gue..." cibir Haikal dengan tengilnya.
"Bukan suami ku.." ujar Nala bergeser duduk dekat dengan Milea.
"Haikal Malik!!" Tekanan kuat setiap bait kata membuat Haikal mampu sadar bahwa Zaky sedang tidak dapat dibawa bercanda.
"Udah. Udah aku kerjaiin kok," menjeda ucapannya. "Tapi setengah. Setengahnya lagi aku suruh Jennie yang selesaikan," lanjutnya.
"Kau!!" Zaky mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya secara perlahan sambil mencoba meredam emosinya.
"Terserah kaulah!" Pasrah.
Haikal tersenyum manis lalu beralih pada Milea dan terkejut karena aura menyeramkannya masih terasa. "Milea. Kamu menakutiku!" Cicitnya.
***
Di malam yang sunyi, bunyi jangkrik serta hewan malam lainnya bersautan menyambut gelapnya malam bersinarkan dinginnya cahaya bulan.
Tak tak tak
"Di mana... di mana papa menyembunyikan rekamannya..." gumam Milea menggeledah seisi ruangan kerja papanya dengan Ben yang mengawasi sekitar, takut ada yang melihat aksi mereka.
"Gawat nona! Tuan Rahardian berjalan kemari!" Cicit Ben panik berlari menghampiri Milea.
"Apa?!"
Tap tap tap
Cklek
Pintu terbuka. Rahardian perlahan memasuki ruangannya lalu berjalan memutar vas besar hingga perlahan dinding yang semula rapi bergeser terbuka menjadi sebuah pintu. Dan dari pintu itu, Rahardian mengetik kata sandi yang diam diam Milea hapalkan.
231099
Sraaaaaaa
Pintu kedua terbuka lebar dan Rahardianpun masuk kedalamnya. Setelah pintu tertutup, Ben dapat bernafas lega lalu keluar dari persembunyiannya.
"Nona, sebaiknya kita kembali kedalam kamar. Misi ini bisa kita lanjutkan lagi besok," ajak Ben dan terheran melihat Milea bergeming di tempatnya.
"Tanggal lahir..... ibu?" Gumam Milea tak percaya. Sandi yang digunakan Rahardian adalah... tanggal lahir ibunya, Rikha?
"Nona!" Saat Ben menepuk bahunya barulah Milea sadar. Dengan sedikit linglung diapun bangun dan pergi begitu saja tanpa berkata apa apa.
***
"Kamu hari ini pergi kekantor?" Tanya Rahardian pada Milea saat sedang sarapan pagi bersama.
"Tidak. Milea sedang tidak enak badan, jadi libur dulu." Jawab Milea pelan sambil makan dengan tak berselera.
"Kamu sakit? Apa perlu papa panggilkan dokter pribadi keluarga kita untuk memeriksa keadaanmu?" Cecar Rahardian khawatir.
"Tidak perlu. Hanya sakit biasa, paling mau datang bulan." Tolak Milea masih bercakap pelan.
"Huft... ya sudah kalau begitu kamu istirahat saja di rumah. Kalau mau apa apa kamu bisa minta sama bi Ayu. Papa mau berangkat dulu," ucap Rahardian mengelus rambut anaknya sebelum pergi dari sana.
Kreett
Setelah kepergian Rahardian, Ranti bangun dari kursinya dan melirik Milea sinis. "Heh. Bagus deh kalau sakit. Lebih bagus lagi kalau kamu mati sekalian," sindirnya berlalu pergi.
Bugh
Ben mengerjap bingung pada Bianka yang tiba tiba memberikan paksa padanya secarik kertas. "Apa ini nona?" Ujarnya melirik Bianka dan kertas bergiliran.
"Kau bisa membacanya bukan? Belikan itu di toko apotik yang tertera. Pastikan harus di apotik itu kamu membelinya!" Ancam Bianka berlalu pergi.
"Resep obat pereda nyeri?" Baca Ben menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sedang Milea? Dia masih bergeming di tempat dengan pandangan kosong lurus kedepan.