Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Ulang tahun


Ddrrttt ddrrttt ddrrttt


Dering suara ponsel memecahkan konsentrasi seorang pria. Dia melirik layar ponselnya sekilas, terlihat di sana tertera nama 'Mama Lida'.


Mengetahui sang mama menelfon membuatnya segera mengangkatnya lalu menelpelkannya di telinga.


"Assalamu'alaikum," suara lembut di seberang sana membuat hati Zaky seketika menghangat. Dia membalas salam Ibunya.


"Wa'alaikumussalam ma. Tumben mama telfon? Ada apa? Papa selingkuh?" Cetus Zaky dengan sengaja mengajak Ibu angkatnya itu bercanda.


"Hus! Kalau ngomong jangan sembarangan! Ingat, ucapan itu adalah do'a. Kamu mau buat mama jadi janda?" Omel Maulida saat mendengar anaknya itu berbicara ngelantur.


"Hehe kalo mama janda, Zaky siap kok nikahin." Canda Zaky tertawa kecil. Begitulah setiap kali mereka bertelfonan, atau bertemu, seperti tidak ada jarak di antara mereka. Keduanya selalu bercerita dan bercanda layaknya Kakak dan Adik.


"Bisa aja kamu. Oh ya sayang, minggu depan kamu bisa pulang gak?" Kembali ketujuan awal. Maulida mulai topik yang ingin ia bahas dengan putra sulungnya itu.


"Emangnya kenapa Mah?"


"Loh kamu gak ingat, minggu depan 'kan adik kamu bakal ulang tahun. Masa iya gak pulang? Yang ada entar dia ngambek lagi kalo sampai Kakak kesayangannya gak pulang,"


Zaky membulatkan mata sempurna, menepuk jidatnya kaget. "Ya Allah. Zaky baru ingat kalo minggu depan 'kan Anna bakal ulang tahun," rutuk Zaky karna hari bersejarah bagi adiknya justru ia lupa.


"Jadi kamu pulang gak?"


"Pulang dong mah. Lagian aku juga udah kangen banget sama mama, apalagi ngajakin papa berantem. Rindu banget Zaky." Jawab Zaky pasti.


"Ada ada aja kamu. Oh ya, ajakin aja sekalian Haikal sama Milea pengawal kamu itu. Suci katanya pengen ketemu lagi sama pengawal kamu," tutur Maulida.


Terdiam sejenak, Zaky melirik sekilas Milea yang tertidur di atas sofa setelah Bianka datang tadi. Gadis itu nampak pucat, jadi dia membiarkannya tidur saat sedang bekerja.


"Iya mah. Zaky bakal ajak."


"Ya udah, mama tutup dulu telfonnya ya. Jaga diri kamu baik baik, Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam." Zaky meletakkan kembali ponselnya di atas meja setelah sambungan telfon terputus. Melirik Milea sekilas, dia kembali berkutat pada kerjaannya hingga tak lama kemudian pintu ruangannya terbuka. Di sana Haikal masuk dengan membawa setumpuk berkas yang harus ia tanda tangani.


"Ini berkas berkas yang harus anda tanda tangani pak," ucap Haikal meletakkan setumpuk berkas itu di samping berkas yang lainnya.


"Sama sama pak. Kalau begitu saya pamit undur diri dulu," Haikal menunduk hormat lalu berjalan pergi sebelum Zaky menghentikannya.


"Tunggu! Duduklah sebentar, ada yang ingin aku bicara 'kan denganmu," tahan Zaky mengangkat dagunya pelan menunjuk kearah kursi di depannya. Haikal yang mengerti langsung mengambil posisi di depannya.


"Ada apa?"


"Minggu depan kita akan ke Jogja." Jawab Zaky langsung ke inti. "Anna adik ku minggu depan akan berulang tahun. Jadi mama Lida meminta kita untuk pulang kerumah untuk merayakannya bersama," lanjutnya.


"Eh, adik kecil gue udah mau ulang tahun aja. Oke lah, gue juga udah kangen banget sama Bu Lida. Pengen peluk." Kekeh Haikal.


"Pengen peluk? Siap siap aja lu kena jotos sama papa Bagas," cibir Zaky mengambil berkas lalu menanda tanganinya.


"Oh ya, lo udah dapet undangan acara reunian dari Rama belum?" tanya Haikal.


"Udah."


"Hmm.. oh ya. Harun katanya bakal datang, jadi kita harus datang, mumpung acaranya juga minggu depan. Udah berapa tahun kita gak ketemu sama anak dugong satu itu," tutur Haikal penuh semangat saat membahas sahabat mereka yang satu itu.


"Kalo dia anak dugong, berarti dugongnya Bapaknya dong?" Canda Zaky.


"Hahaa bisa ae lu. Oh ya, gue mau ngajakin Nala juga sekalian. Gak apa apakan?" Tanya Haikal meminta izin. Karna bagaimanapun juga, Zaky tetaplah bosnya.


"Hm bawa aja. Kalo perlu sekalian aja kenalin sama orang tua lu," jawab Zaky malas. Susah kalo udah bucin, bawaannya gak pengen jauh jauh. Katanya rindulah, apalah. Bikin pusing.


"Lo kayak kagak tau aja. Di Jogja 'kan gue tinggal sama Kakek Nenek, dan sekarang mereka udah meninggal. Mau gue kenalin kemana? Kuburan?" Memutar bola mata malas, entah mengapa Haikal mulai tak suka dengan pembahasan ini.


"Emm ngomong ngomong soal orang tua. Gue penasaran, lu cuma cerita kalo Ibu lo udah meninggal. Trus Bapak lu mana?" Tanya Zaky menghentikan kegiatannya menatap Haikal serius.


"Ada kok, masih di bumi." Jawab Haikal malas.


"Yee kalo itu juga gue tau!"


"Udahlah, gue balik keruangan gue dulu ya. Entar lu kabarin aja gue kapan berangkatnya. Semangat bro!" Zaky memandang kepergian Haikal dalam diam. Beginilah saat dia bertanya di mana keberadaan Ayahnya, pria itu akan selalu mencari cara untuk menghindar. Mungkin ada masalah keluarga, entahlah Zaky tidak ingin terlalu ikut campur. Biar Haikalnya sendiri yang bercerita jika memang dia ingin.