
...Selalu ada banyak cara agar kamu tetap bahagia menjalani hari-harimu yang mungkin sudah sangat melelahkan untuk dijalani....
...Ghea Virnafasya...
...****...
Pak Gery menerima sebuah amplop berwarna coklat dari Chacha. Lalu membuka amplop itu dengan dahi yang mengerut. “Ini kamu gak salah info kan, Cha?” tanyanya saat melihat apa isi amplop tersebut. Sebuah beberapa foto dan lembar-lembar kertas. Pandangan Pak Gery lalu kembali menatap Chacha.
“Tidak, Pak. Saya sendiri yang mencari tahu informasi ini,” jawab Chacha dengan yakin karena memang itu yang dilakukan Chacha. Dia tidak berbohong jika menyangkut soal pekerjaan.
“Oke kalau gitu, saya percaya,” ucapnya sembari memasukkan beberapa lembar foto dan lembar kertas pada amplop itu lagi. “Makasih, ya, Cha, udah mau bantu saya. Nanti saya akan kasih kamu bonus.”
Chacha terkekeh seraya menenggelamkan kedua tangannya pada saku celana jeans ketatnya. “Tidak masalah, Pak. Itu sudah menjadi tanggung jawab saya atas pekerjaan saya.”
Pak Gery menganggukan kepala. Merasa percaya pada Chacha yang bisa diandalkannya. “Tapi, Cha, ini jangan sampai Ghea tahu dulu, ya. Saya takut dia akan shock nantinya. Dan bahkan Ghea mungkin saja tidak akan percaya pada kenyataannya.” Pak Gery memohon.
“Siap, Pak!”
...**...
Di sisi lain.
Reza dan Yura baru saja keluar dari ruang CCTV dan tentunya meminta bantuan pada seorang penjaga yang selalu ada di ruangan tersebut.
“Rez …" Yura mengejar Reza yang cepat berlalu dari depan ruang CCTV itu. “Rez, tunggu, deh.” Kemudian menggapai sikut Reza dengan kedua tangannya. Membuat langkah Reza berhenti saat ujung matanya melihat wajah Yura yang merasa kecewa. Entah cewek itu kecewa pada Reza yang menganggap dirinya berbohong atau pada dirinya sendiri yang membuat Reza tidak mempercayainya.
“Gue gak bohong. Demi Tuhan!” Yura menatap Reza dengan penuh harap kepercayaan darinya.
Reza mendesah. Menyentak kedua tangan Yura hingga tubuhnya hampir saja terhunyung. “Gue nyesel udah minta tolong sama lo.” Menatap Yura dengan tatapan sengit yang sangat membuat hari Yura merasa sakit. “Ternyata wajah lo itu cuma topeng doang.”
Degh.
Yura merasakan perasaannya mencelos. Bertahan sekuatnya agar air mata tdak lolos terjatuh di hadapan cowok itu.
“Harusnya gue sadar kalau lo emang cuma mau ngadu domba gue aja. Begoo banget gue udah datang dan sempat percaya sama wajah lo ini.” Lalu begitu saja Reza pergi dengan entah perasaan yang bagaimana yang dia sendiri sulit memahami apalagi mengartikannya.
Membuat jantung Yura merasakan teriris dengan pisau yang mungkin tidak bisa orang lain lihat. Yura menyandarkan punggungnya pada dinding seraya menekan dadanya kuat-kuat. Sampai seseorang lewat lalu memberikan tatapan permusuhan bersama seringai yang menakutkan.
“Jangan kira lo bisa dengan mudahnya dapat kepercayaan dari Reza,” ucapnya mencebik bersama bahunya yang mengedik acuh. Dengan santainya dia berkata lagi. “Lo kira lo akan berhasil?” Dia terkekeh lalu mendesis. “Gak akan!” bisiknya tepat pada telinga Yura. Setelahnya dia berlalu melewati tubuh Yura yang tidak berdaya seraya bersedekap manja.
Yura menatap punggungnya lalu melihat dia yang menggelengkan kepalanya. Seolah sedang mengejek Yura yang gagal membongkar kebusukannya.
“Sial!” Yura mengumpat. “Kenapa bisa sih dia gak muncul di CCTV nya?” Dahi Yura mengerut. “Apa jangan-jangan dia yang menghapus buktinya?” gumam Yura pelan seraya menatap lorong yang tadi dilewati orang itu.
...**...
Siang itu di kelas Ghea ada ulangan. Siapa lagi yang memberikannya jika bukan sang guru tampan. Namun, dengan mudahnya Ghea bisa menjawab semua soal dengan cepat. Dan yakin jika jawabannya akan benar semua.
Uh pede sekali cewek ini?
Dalam waktu kurang dua puluh menit Ghea sudah mengumpulkan ulangannya ke depan dengan pertama. Saat dimana teman-temannya masih menunduk menjawab soal pertanyaan di kertas mereka masing-masing.
“Udah?” tanya sang guru tentunya.
Ghea menganggukkan kepalanya dengan sedikit senyum manis yang membuat Pak Gery terkekeh pelan. “Udah dong,” jawab Ghea bersama kedipan satu matanya dengan nakal sebelum kembali duduk di kursinya pada Pak Gery.
Ghea melihat Pak Gery yang seperti sedang memeriksa hasil ulangannya. Lalu Ghea pun melihat lagi kepala Pak Gery yang naik turun dengan tarikan dikedua sudut bibirnya. Mata Pak Gery mendongak beralih pada Ghea yang sedang melipat kedua bibirnya menahan senyuman. Dan punggung yang bersandar snatai pada sandaran kusri kayu berwarna coklat tua.
Pandangan Pak Gery kembali lagi melihat kertas. Bukan mengecek hasil ulangannya, namun melihat ada catatan pendek di ujung kertas ulangan itu.
Kembali mendongak, Pak Gery menganggukkan kepalanya sebagai bentuk jawaban pada Ghea yang mengajaknya kencan lagi seperti hari kemarin.
“Yes,” seru Ghea terlalu senang sampai tidak sadar mengeluarkan suaranya membuat sebagian murid menoleh aneh ke arahnya. Ghea pun tidak sadar sudah mengarahkan kepalan tangan ke udara. “Sorry,” ucapnya menggigit lidah lalu menurunkan kepalan tangan itu sebelum menyembunyikannya di atas paha.
Melihat itu Pak Gery terkekeh pelan. Menguluum bibir agar tidak tertarik untuk ikut bersorak seperti Ghea.
Setelah semua sudah terkumpul, Pak Gery pun beringsut untuk keluar kelas karena bel menunjukan waktu pulang pun sudah berbunyi secara auto.
Tama merentangkan kedua tanagannya ke udara. “Neng Ghea …" panggil Tama dengan sedikit nada yang dibuat-buat.
“Apa?” Ghea memasukan pensil ke tepak motof micky mouse. Tidak sepenuhnya menanggapi sahutan Tama.
“Galak amat, Neng? Buru-buru lagi. Mau kemana, nih? Ikut dong gue.” Tama bangkit dari duduk lalu berdiri di sisi meja Ghea seraya membungkukkan kepalanya dengan kedua tangan yang bertumpu pada meja Ghea.
Pandangan Ghea mendongak. “Nggak ya!” Lalu berdiri seraya menyampirkan tas pada bahunya. “Minggir!”
“Jutek amat elahhh …"
“Bodo,” kata Ghea acuh keluar dari kelas yang diikuti Tama berjalan di belakang punggungnya.
“Ghea, tungguin napa. Mau ngomong nih gue,” pinta Tama sedikit membenarkan tasnya yang tersampir di bahu kananya.
“Paan?” Ghea menjawab tidak menghentikkan langkah kakinya. “Buru-buru gue. Udah ditungguin sama Mas Gery.”
“Ekhem … sekarang udah bisa panggil Mas-Masnya di depan umum nih?” Dengan bibir yang mencebik, Tama bertanya pada Ghea yang Ghea artikan adalah sebuah ledekan.
“Bodo!” Namun cewek itu tidak menanggapinya. Berjalan lurus tanpa menoleh pada Tama sebelum cowok itu mengakatakan sesuatu padanya.
“Ghe, ini soal Reza,” ujar Tama yang berhasil membuat langkah Ghea berhenti. Hanya beberapa detik saja hanya untuk mendengus pada Tama seraya memutarkan bola matanya jengah. “Gak ada wakatu gue, Tam.”
Tama tidak begitu saja berhenti membujuk. Ia mengikuti langkah Ghea seraya terus meyakinkan Ghea jika bukan Reza yang menyebarkan foto-foto dirinya di mading.
“Tam.” Langkah kaki Ghea berhenti. Menarik nafasnya dalam sebelum dirinya menghadap Tama. “Ini bukan soal foto gue yang tersebar di mading.” Ada hela nafas sebelum Ghea melanjutkan kalimatnya. “Ini soal kepercayaan. Lo ngerti kan maksud gue?”
“Maka dari itu, Ghe. Itu artinya lo udah menghilangkan rasa kepercayaan elo sama Reza.” Tama mendesis bersama tangannya yang menyugar rambut ke belakang. “Lo udah kenal berapa lama sih sama Reza gue tanya?”
Ghea diam. Menolehkan wajahnya ke arah lain dari Tama yang menatapnya. Bukan tatapan yang bagaimana, namun hanya sebuah tatapan persahabatan biasa.
“Lo udah kenal tuh anak kuda dari jauh sebelum gue, kan?” Tama bertanya. Lalu Ghea kembali menoleh padanya. “Gue yakin, Ghe. Elo jauh lebih tahu tuh anak dari gue atau pun Ocy.” Tama lalu menepuk bahu Ghea. Berharap Ghea akan mengerti dari tepukan tangan pada bahunya.
“Gue duluan,” pamitnya. Ghea mengangguk dalam diamnya.
Oh ya, ngomong-ngomong soal Ocy. Dari kejadian foto Ghea yang tersebar di mading itu, Ghea belum lagi bertemu dengannya. Kemana sahabat Ghea yang satu itu?
Ah Ghea tidak ingin mau tahu dulu kemana Ocy. Nanti Ghea akan menanyakan dan mengintrogasinya lewat chat saja.
...TBC...
Hai selamat malam?
Aku berharap kamu baik-baik saja dan dalam keadaan yang bahagia.
Maaf kemarin gak update.
Mungkin yang udah follow Ig aku tahu aku kenapa ya.
Makanya follow Ig aku @seizyll_koerniawan
Malam ini aku mau ucapin terimakasih untuk kamu yang sudah tetap menunggu.
Terimakasih udah mau baca cerita sederhana ini.
Semoga selalu suka dan saat membacanya kamu dalam keadaan bahagia.
Seizy
Si tukang ngetik amatair yang udah beberapa hari ini pening terus kepalanya. semoga aku kamu dan kita tetap sehat ya. Aminnnn