
Empat Tahun kemudian …
Seorang cowok dengan perawakan tinggi. Punggungnya yang lebar tampak polos dan berkeringat. Ia menyugar rambutnya yang basah oleh keringat itu ke belakang. Sudah 25 menit berjalan, cowok itu berlari kecil di atas treadmill miliknya yang terletak di taman belakang rumahnya.
Tidak usah ditanya siapa cowok itu. Kalian sudah dapat menebaknya, bukan?
Gery Mahardika Putra.
Sang guru killer yang bisa menaklukan hati wanita mana saja yang melihat pesonanya. Termasuk cewek yang sekarang sedang menghubunginya itu.
Pak Gery mematikan tombol yang berada di treadmill sebelum kemudian ia turun dari atasnya lalu berjalan menuju meja kaca bulat dan dua kursi dari bahan rotan sambil mengelap keringat di dahinya oleh handuk kecil berwarna putih yang terlipat di atas meja tersebut.
Mengambil handphone, Pak Gery mengerutkan keningnya ketika melihat sebuah nama yang kerlap-kerlip di atas layar.
Sial. Cowok itu lupa jika ada janji sama dia. Yang hari ini pulang dari luar negeri setelah selesai dengan pengobatannya.
"Pasti ngomel-ngomel, nih, kalau diangkat. Kalau gak -- Astaga," decak cowok itu meraup wajahnya dengan kasar.
"Iy--"
"Kamu lupa kalau hari ini harus jemput aku di bandara?"
Nah kan. Benar saja. Belum juga Pak Gery say hallo, cewek di seberang sana sudah ngomel-ngomel padanya.
"Aku gak lupa. Cuma--"
"Kamu mau bilang cuma gak inget aja, kan? Kebiasaan kamu dari dulu deh, Ger. Gak pernah berubah. Ini aku udah nunggu kamu lebih dari sepuluh menit. Pegel tahu."
Dapat Pak Gery dengar ada nada kesal dari suaranya di seberang sana. “Iya-iya. Ini mau jalan. Tunggu, ya!” kata Pak Gery bergegas. Namun, sebelumnya cowok itu sempat, meneguk segelas air mineral yang ada di atas meja.
“Aku tunggu kamu lima menit. Kalau lima menit gak sampai. Marah, nih, aku.” Ancamnya pada Pak Gery yang buru-buru berlari ke arah tangga untuk masuk ke dalam kamarnya. Sambil masih mengapit handphone itu di telinga kirinya.
Pak Gery mendorong pintu kamarnya. “Iya, Dita! Iya.” Pasrahnya. “Ya, udah, tutup teleponnya. Mau mandi dulu, nih.” Lalu Pak Gery mengambil sebuah handuk dari lipatan sebelum masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya itu.
“Tuh, kan. Kamu masih belum berangkat, Ger. Bakal lama lagi aku nunggunya. Aku harus fitting baju kan buat acara nanti.”
Pak Gery menarik nafasnya dalam. Ia pijat pangkal hidungnya tatkala suara cewek di seberang sana terus saja menggerutu marah. “Ini kapan aku mau mandi dan berangkat jemput kamu kalau teleponnya gak kamu tutup, Ta?”
“Oke. Kamu punya waktu lima detik untuk mandi!” sahutnya sebelum menutup panggilan seluler tersebut dengan kesal.
Seraya menyimpan handphone itu di atas wastafel, Pak Gery menggerutu sambil membuka celana bersama dalamaannya sebelum cowok itu masuk ke dalam shower box. “Mana ada mandi lima detik. Dasar cewek. Nyeremin kalau lagi marah gitu.” Rutuknya sambil memutar kran shower.
**
“Kamu tega banget buat aku nunggu kamu satu jam lebih, ya, Ger.”
Masih saja Dita menggerutu kesal pada Pak Gery. Walau cewek itu dan Pak Gery sudah akan naik mobil. Wajahnya memberengut bersama bibirnya yang mengerucut. Kemudian masuk ke dalam mobil saat Pak Gery membukakan pintu belakang untuknya. “Nyebelin,” cebiknya.
Pak Gery menutup pintu mobil itu sambil menarik nafasnya kasar. “Dasar cewek.” decaknya menggelengkan kepala sembari mengitari belakang mobil sebelum kemudian dirinya juga masuk ke dalam mobil yang sama.
Lalu Pak Gery menginterupsi supir untuk melajukan kendara besi tersebut. Mobil pun melaju. Melesat. Meninggalkan parkiran bandara.
“Masih marah?” tanya Pak Gery seraya mengotak-ngatik handphone. Rupanya cowok itu sedang berbalas pesan dengan seseorang.
“Udah tahu masih aja nanya.” Jawab Dita, mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil. Sudah empat tahun ini matanya tidak melihat keindahan kota kelahirannya. Jakarta.
Pak Gery masih setia dengan handphone di tangannya. Ia tersenyum tidak lagi membalas Dita. Sesekali cowok itu terkekeh ketika mendapat balasan pesan dari orang di seberang sana.
Merasa tidak mendapat respon dari Pak Gery, Dita menolehkan wajahnya. Bibirnya mencebik dengan kedua tangan yang terlipat di dada ketika melihat cowok itu yang senyum-senyum sendiri. “Gak waras!” ledek Dita. Kepalanya sedikit miring agar dia bisa melihat dengan siapa Pak Gery saling berbalas pesan.
“Apaan, sih, Ta?” Kemudian kepala Pak Gery sedikit menjauh lalu menurunkan handphonenya.
Dita berdecak. Menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mobil. “Kepo, Ger.”
“Dih, gak lucu tau, ah, pake kepo segala.”
Setelah itu di dalam mobil tidak ada yang membuka suara lagi. Hening mengambil alih untuk beberapa saat. Dita menikmati pemandangan gedung yang menjulang di luar sana sedangkan Pak Gery kembali sibuk dengan handphonenya.
“Ger,” panggil Dita dengan suara rendah.
Sepertinya Pak Gery sudah selesai berbalas pesan. Terlihat dari cowok itu yang memasukkan benda canggih tersebut ke dalam kantong celana. “Hem. Kenapa?” tanya Pak Gery pada Dita. “Pak, nanti kita mampir dulu ke toko bunga, ya!” Lalu beralih pada sang supir yang sedang berkonsentrasi menyetir sebelum mendengar jawaban dari cewek di sebelahnya ini.
“Buat apa ke toko bunga?” Bukan Pak supir yang menjawab. Namun Dita yang bertanya.
“Buat beli bunga lah. Masa buat beli seblak.” Pak Gery terkekeh. “Buat kasih bunga itu sama dia.”
Dita mengangguk. Dia mengerti. “Oh. Berarti sebelum ke butik buat fitting kita ke pemakaman dulu?”
Kepala Pak Gery menganggguk. “Iya. Betewe tadi kamu mau ngomong, kan? Ngomong apa? Maaf kepotong.”
Dita tersenyum sebelum meraih tangan Pak Gery. “Makasih, ya, Ger, Kamu udah mau maafin aku. Udah mau kasih kesempatan itu buat aku.”
Pak Gery membalas genggaman tangan Dita. Menepuk kecil punggung tangan cewek itu dengan tangannya yang lain. “Iya. Sama-sama. Udah, ah, gak usah bahas itu lagi. Lagi juga itu kan udah lama banget. Udah empat tahun, Ta. Kita lupain aja masa lalu itu, ya! Gak bakal baik juga masih diingat-ingat kejadian yang udah lama. Ghea juga nantinya pasti gak bakalan suka kalau kita masih ungkit masalah yang udah lama berlalu.”
Ah, ya, Ghea. Wanita itu. Pak Gery jadi sangat merindukan wanita itu. Wajahnya. Senyumnya dan semua yang ada di dalam diri wanitanya itu, Pak Gery merindukannya.
“Iya. Ghea pasti bakal gak suka. Pasti cewek itu bakal ngomel kalau tahu kita masih ungkit-ungkit masa lalu.” Dita terkekeh pelan. “Aku jadi kangen sama Ghea, Ger,” lirih Dita. Namun ada sedikit senyum yang mengembang dari sudut bibir cewek yang duduk di samping Pak Gery saat ini.
**
Mobil itu kini terparkir di sebuah jalan kecil. di setiap sisi jalan itu banyak batu-batu nisan yang terukir nama yang sudah tiada. Pak Gery turun dari mobil yang diikuti oleh Dita. Keduanya berjalan melewati setiap tanah yang sudah kering. Di atas tanah itu ada juga yang bertabur bunga mawar, buket dan tak banyak yang ditumbuhi rumput hijau.
Batu nisan berwarna hitam dengan sebuah ukiran nama yang berwarna keemasan. Pak Gery menghampiri makam tersebut. Kemudian ia berjongkok. Meletakan buket bunga itu tepat di atas tanahnya. Lalu tangannya mengusap ukiran nama berwarna keemasan. “Saya datang lagi ke sini. Saya bawa bunga juga karena dia yang memintanya,” kata Pak Gery seraya melepas kacamata yang bertengger menutupi kedua bola mata abu-abunya.
Ada rasa sedih yang menusuk relung hati Pak Gery. Entahlah, seharusnya Pak Gery tidak datang ke tempat ini. Seharusnya pula, Pak Gery tidak mengikuti permintaannya.
Namun, jika tidak dituruti permintaannya, pasti Pak Gery akan kena semprot. bisa-bisa juga kena amuk.
“Udah?” tanya Dita yang hanya berdiri di samping Pak Gery.
Pak Gery mendongakan wajahnya. “Udah,” katanya. Lalu berdiri sembari kembali memakai kacamata hitamnya itu.
“Mau ngapain?” Dita kembali memberi pertanyaan ketika Pak Gery mengarahkan kamera handphone pada makan tersebut.
“Buat bukti,” sahutnya. Dan hasil jepretannya itu langsung Pak Gery kirim pada nomor seseorang.
Dita terkekeh. “Ya ampun. Sampai segitunya banget. ya?”
“Hem. Kamu kayak gak tahu dia aja, Ta."
“Iya-iya.”
Handphone yang ia genggam pun bergetar. Pak Gery menarik kedua sudut bibirnya saat melihat namanya yang berkedip di layar. Bukannya Pak Gery cepat mengangkatnya, cowok itu justru malah mengabaikannya. “Yuk. Pulang!” Dan mengajak Dita untuk meninggalkan makam tersebut.
“Itu telepon gak kamu angkat dulu, Ger?” tanya Dita berjalan di belakang Pak Gery.
“Nanti aja.”
“Nanti ngambek, Ger.”
“Gak papa. Itu yang aku mau.”
“Ih, jahil banget, sih, kamu. Gak dikasih jatah baru tahu rasa loh.”
Pak Gery diam beberapa saat ketika sampai di samping mobil. “Iya, sih,” sahutnya menanggapi celotehan Dita. “Ya, udah kamu masuk duluan aja. Aku mau telepon dia balik dulu.”
“Dasar cowok! Denger kata jatah aja langsung segitunya. Parah banget kamu, Ger,” cibir Dita kemudian masuk ke dalam mobil. Cewek itu juga harus menghubungi seseorang yang sudah lama ia rindukan.
Di samping mobil, Pak Gery mendial nomor seseorang. Namun dalam panggilan pertamanya malah tidak ditolak.
Pak Gery berdecak. Gak bisa kayak gini, nih. Pokoknya dia gak boleh marah. Kalau marah, benar kata Dita. Bisa-bisa nanti malam Pak Gery tidak akan dikasih jatah.
Dan akan lebih parahnya lagi kalau dia marah, Pak Gery akan disuruh tidur di luar. Oh tidak bisa. Sedetik kemudian Pak Gery kembali menghubunginya.
"Apa?"
Benar saja kan. Pak Gery mendengar suara dari seberang sana dengan nada yang sangat marah.
"Marah karena teleponnya gak aku angkat?" Pak Gery terkekeh. Oh demi Tuhan, cowok itu gemas sekali dengan nada manja wanitanya ini. Rasanya Pak Gery ingin segera sampai kemana tempat wanitanya ini sekarang berada.
"Gak. Ngapain marah. Geer banget." Dan dapat Pak Gery tebak jika di seberang sana dia sedang mengerucutkan bibirnya.
"Ah. Masa? Bilang aja iya dong. Nanti bakal aku beliin bakso."
"Buat apa beli bakso? Aku lagi gak kepengen."
"Buat nyogok kamu lah. Kamu kalau marah kan suka minta disogok pake bakso." Pak Gery terkekeh. Ia menyenderkan punggungnya pada pintu mobil yang tertutup. Sementara di dalam sana Dita juga seperti sedang bicara di telepon dengan seseorang.
"Terserah kamu aja pokoknya. Kamu udah kasih bunganya kan?"
"Iya udah. Kan tadi aku udah kasih buktinya juga ke kamu."
"Ya bisa aja itu kamu suruh orang lain buat datang ke sana. Terus kamu minta fotoin"
"Gak dong, sayang. Beneran kok. Ini udah di mobil lagi."
"Sama Dita, kan, kamu?"
"Iya. Sama Dita." Pak Gery membalikan kepalanya untuk melihat Dita di dalam sana. "Kayaknya Dita juga lagi teleponan, tuh, sama calon suaminya."
"Ya, udah. Buruan kalau gitu -- Bundaaaa!!!"
Dalam berdirinya, Pak Gery mengerutkan keningnya itu saat mendengar suara anak kecil memanggil wanitanya dengan panggilan Bunda. "Ajeng, ya?" tanya Pak Gery.
"Iya -- Bunda-Bunda ..., Ajeng lapar. Mau dibuatin nasi goreng sama Bunda."
Pak Gery masih mengapit handphonenya. Cowok itu mendengarkan sederet kalimat yang diucapkan anak kecil bernama Ajeng itu di seberang sana.
"Ya, udah. Kamu cepet pulang, ya. Aku mau bikin nasi goreng dulu buat Ajeng."
"Iya. Aku sayang kamu," sahut Pak Gery sembari membuka pintu mobil belakang.
Lalu Pak Gery mendengar kekehan kecil sebelum wanitanya itu mengatakan hal yang sama. "Aku juga, Mas. Sayang kamu."
Semua orang memang pernah merasakan kehilangan. Namun, tidak semua orang bisa mendapatkan sebuah harapan dan kesempatan baru. Yang mana harapan itu selalu menjadi kekuatan bagi Pak Gery.
Dan sebuah kesempatan itu menjadikan alasan untuk Pak Gery agar semakin menjadi suami yang lebih baik lagi.
Lebih baik lagi untuk menjaga istrinya.