
Seorang cewek berjalan dengan anggun, lalu salah satu tangannya menggandeng lengan cowok yang menjadi suaminya. Keduanya sangat serasi dengan busana yang dikenakan. Warna navy menjadi pilihan bagi Ghea dan Pak Gery untuk keduanya kenakan malam ini.
Ghea yang disulap bak seorang ratu. Wajah yang di make up natural tapi mengesankan kedewasaan. Ditambah gaun sabrina dan sepatu high heels dengan tinggi 10 cm membuat tinggi Ghea yang hanya sebatas dada Pak Gery bisa sedikit mengimbangi tinggi sang suami. Ghea benar-benar terlihat sangat dewasa sekali, tak ada yang bisa mengira jika Ghea masihlah anak cewek yang masih sekolah. Malam ini Ghea benar-benar terlihat berbeda. Pun dengan rambut hitam panjang yang hanya dibuat kepangan saja dipinggir rambut itu, lalu semuanya dibiarkan polos terurai.
“Wiihhh, cewek lo, Man?” sapa salah satu teman Pak Gery yang menghampirinya lalu bertanya sambil membawa satu gelas minuman sirup di tangan kirinya. Dia melirik Ghea sekilas yang dijawab senyum kecil dari bibirnya. “Kenalin gue napa?” godanya. Pak Gery hanya memutar bola matanya malas. dan jangan lupakan jika teman-teman Pak Gery yang lain tidak tahu jika dirinya sudah menikah.
“Yang lain pada kemana?” Tak berniat mengenalkan Ghea pada salah satu temannya itu, Pak Gery mengalihkan perbincangan.
“Tuh mereka lagi pada ngobrol-ngobrol gak jelas aja disana.” Ia menjawab sambil menunjuk ke arah segerombolan orang yang lagi duduk di sofa dengan meja bundar dengan dagunya.
“Ya udah, lo nikmatin dah partynya. Gue kesana dulu,” ucap Pak Gery menarik tangan Ghea untuk ikut bersamanya. Lalu menghampiri Ilham, Adi dan Indah yang sedang terlibat adu mulut. Entah apa yang sedang mereka ributkan. Namun, saat ketiganya melihat Pak Gery dan Ghea yang berjalan ke arahnya mereka langsung mingkem sebelum menyapa Ghea lebih dulu, bukan Pak Gery.
“Hai, Ghe? Cantik banget lo malam ini?” seru Ilham menyunggingkan senyuman. Kemudian pandangannya mengedar seperti sedang mencari sesuatu.
“Makasih.” Ghea menjawab seadanya. “Hai, Dah, apa kabar?” Lalu atensi Ghea beralih pada Indah yang berdiri di sisi Adi.
“Baik, Ghe. Lo apa kabar?”
Ghea mengangguk. “Aman, Ndah. Baik juga gue.” Senyum indah dari bibir Ghea tidak pudar sedari awal masuk ke dalam ruangan party itu.
“Betewe Chacha mana? Gak ikut?” Itu Ilham yang bertanya. Ia tahu jika Chacha adalah bodyguard Ghea.
“Cieee yang nanyain Chacha,” goda Ghea mencibir Ilham sambil mencolek pinggang pinggang cowok itu.
“Biasa, Ghe. efek kelamaan jomblo, ya kek dia ini. Gak bisa lihat cewek cakepan dikit. Langsung shoot … kek mau mangsa aja langsung bawaannya.” Indah ikut menimpali dengan kekehan. Betewe Indah juga tahu Chacha karena saat Adi bertemu dengan gadis itu ia ditemani oleh Indah.
“Diem Indah manis. Sirik aja lo. Cemburu gak gue tanyain?” kata Ilham seperti tidak terima jika ia menjadi bahan ledekannya pacar dari Adi itu.
“Dihhh pede lo tolong kondisikan, Ham. Ngapain gue cemburu? Kagak usah, mahal cemburu gue mah. Adi aja yang statusnya cowok gue kagak pernah gue cemburuin. nah lo? Apa kabar yang bukan sapa-sapa gue.” Indah mendengus sambil melipat kedua tangannya.
“Emang aku cowok kamu?” Adalah Adi yang sedang menggoda sang kekasih. Ia terkikik sebelum meneguk segelas minuman sirup yang ada di ada di tangannya.
“Iihhh Adi … apa yang kamu lakuin sama aku itu, JAHAT!” Indah berujar dramatis. Seolah ia sedang mempraktekan dirinya sebagai Cinta yang berkata demikian pada Rangga.
“Astaga taik kuda, drama banget lo, Indah. Sumpah. Eneg gue dengernya,” ujar Ilham seakan jijik dengan apa yang dikatakannya Indah pada Adi.
“Bodo amat!” Lalu Indah menoyor pelipis Ilham dengan keras sampai cowok itu sedikit meringis.
Ghea dan Pak Gery hanya diam saja menyimak. Ilham, Indah dan Adi, mereka adalah sahabat dunia akhirat Pak Gery. Ilham yang berteman dengannya sejak masih SMP. Sedangkan Adi dan Indah, mereka sudah sama-sama sejak kecil. Dan malam ini pun Pak Gery mengadakan party bukan mengundang teman kantor atau rekan bisnisnya. Pak Gery hanya mengundang semua alumni teman-teman SMA-nya.
Untuk beberapa jam kedepan semuanya lancar dan aman-aman saja. Ghea yang lebih memilih menikmati party itu dengan Indah dan Chacha saja tanpa Pak Gery didekatnya. Sedangkan cowok yang menjadi suami Ghea menyapa teman-temannya yang lain bahkan sebentar terlibat guyonan-guyonan kecil dengan yang lainnya. Pak Gery sebisa mungkin bersikap biasa saja seakan tidak ada tujuan apa-apa ia mengadakan party tersebut.
Walau Pak Gery tidak berada didekat sang istri, namun, dalam pandangan yang jauh disana, Pak Gery terus mengawasinya. Tepatnya tetap melindungi Ghea dalam jarak yang jauh. Pak Gery membiarkan Ghea menikmati party itu dengan Indah dan Chacha. Lalu tak lama, Pak Gery melihat Indah yang berlalu dari tempatnya bersama Ghea dan Chacha.
“Gue ke toilet dulu,” pamit Indah pada Ghea dan juga chacha yang sedang asik meneguk minuman sirup berwarna merah magenta seperti fanta. Lalu dijawab anggukan dari kedua kepala cewek cantik itu.
“Cha …, Cha,” panggil Ghea saat ia sudah tidak lagi melihat punggung Indah yang sedikit demi sedikit menghilang dibalik kerumunan orang-orang yang tentu sedang menikmati minum dan cemilan yang disediakan di party itu. Ada juga mereka yang sedang menikmati alkohol dan berdansa-dansa ria.
Jangan lupakan jika anak muda jaman sekarang seakan sudah lumrah dengan minuman-minuman macam itu yang terkadang membuat orang hilang dengan kesadarannya jika terlalu banyak meneguknya. Meneguk minuman yang sangat nikmat bagi pencintanya. Bahkan ada juga yang sampai mencandunya.
Ngomong-ngomong soal Chacha, bodyguard Ghea itu selalu berpenampilan serba hitam dan rambut yang selalu dikuncir kuda. Padahal dari awal, Ghea sudah memperingati Chacha jika cewek itu harus berpenampilan elegan demi menjalankan misinya. Namun, Chacha tidak menggubris membuat Ghea merotasikan mata beningnya itu.
“Lo mulai aksinya deh! Sekarang! Mumpung si Indah lagi gak ada. Kalau ada tuh cewek bakal gagal total.” Seru Ghea pada Chacha sembari celingukan ke kanan dan kiri. Takut jika ada telinga yang mencuri dengar obrolan mereka. Bisa gagal kan?
“Betewe, kenapa kamu gak cari tahu aja sama Indah, Pak Adi atau Pak Ilham? Mereka itu sahabatnya Pak Gery. Jelas tidak sedikit dari mereka yang pasti tahu soal Pak Gery. Pak Gery pasti cerita banyak ke mereka!”
Benar banget apa yang dikatakan Chacha. Tapi masalahnya, jika Ghea bertanya, apa mereka akan jujur dan memberitahunya?
“Belum tentu, Cha! Mereka itu kayaknya setia banget sama Mas Gery. Mereka belum tentu kasih gue info. Udah, lo sekarang mending beraksi, deh, Cha. Sebelum nanti Mas Gery datang!” Ghea mendesak cewek yang dikuncir ekor kuda itu.
“Tapi saya harus ngapain? Harus mulai darimana?”
Ghea berdecak kesal. Dilihat dari luarnya aja Chacha seperti jenius, tapi … oh astaga. “Cha,” panggil Ghea pelan namun menekan. “Lo bisa mulai cari tahu dari teman-teman Mas Gery. Mereka teman-temannya dari SMA. Pasti mereka tahu lah masa lalu Mas Gery seperti apa. Oke!”
Sebelum mengiyakan permintaan Ghea, Chacha mengedarkan pandangannya. memikirkan harus bagaimana ia mendekati salah satu teman Pak Gery lalu bertanya padanya soal masa lalu Pak Gery? Ah masa iya, Chacha harus tho the point? Kan gak mungkin dong. Chacha lebih dulu harus pedekate pada salah satu teman bosnya itu.
“Cha!” Ghea menyenggol lengan Chacha. Dengan refleks Chacha menoleh lalu mengerjapkan matanya pelan sambil berpikir bagaimana caranya.
“Kok malah ngelamun, sih, Cha? Udah, buruan!” Lalu didorong lah bahu Chacha dengan paksa sampai tubuh Chacha berdiri. “Udah sana, Cha!”
“Tapi--”
“Ih, Cha, buru! Sana!”
Dalam jarak yang sedikit jauh, Pak Gery tak lepas memandang interaksi Ghea dan Chacha. Pak Gery mengerutkan wajahnya. Bertanya pada dirinya sendiri, ‘kenapa dengan istrinya itu?’
“Ger, gimana menurut lo?” tanya salah satu temannya yang mengajak Pak Gery untuk menggalang dana untuk korban banjir yang ada di daerah Bandung.
Pak Gery refleks menoleh dengan kerjapan mata kaku. “Ya, gimana?”
“Elahhh … lo dari tadi gak denger kita-kita ngomongin apa?” tanyanya sebelum mengikuti arah pandang Pak Gery yang kembali memandang Ghea yang kini tengah duduk sendiri. “Ck, gimana mau dengerin kita ngomong, matanya aja fokus sama satu objek di sana. Dasar, udah berubah jadi bucin lo, Ger? Ck ck ck …” temannya itu mencibir yang ditanggapi kekehan kecil dari teman-teman yang sedang berkumpul dengannya. Mereka tahu jika dari dulu seorang Gery Mahardika tidak pernah dekat dengan seorang cewek manapun.
Tolong siapapun, garis bawahi kata manapun!
Sejujurnya banyak cewek yang mendekati dan ingin menjadi pacar Pak Gery. Namun, Pak Gery selalu menutup hati dan perasaannya hanya untuk satu wanita saja. Yaitu, wanita yang kini menjadi istri sahnya.
Pak Gery kembali berdecak kesal. Namun, bibir tebalnya itu tersenyum tipis. Dan lagi-lagi atensinya terus berpusat pada satu objek yang selalu membuat hatinya berdesir hebat. Ghea.
TBC
Tolong kasih tahu aku lewat komen. Kalean di sini suka karakter siapa? yuk spam di komen biar aku updatenya bisa terus semangat.
Seizy
Si penulis amatir yang lagi duduk bersandar sambil ngehalu like dan yang komen banyak. hihiiiii