Married With Teacher

Married With Teacher
Rileks, Ghe!


Dengan tangan yang gemetar, Ghea memutar handle pintu kamar yang ada di ujung sebelah kanan. Sebelumnya Ghea lebih dulu membuka dua pintu ruangan kosong yang ada di lantai atas.


Dengan jantung yang berdebar perlahan Ghea membuka daun pintu itu lebih lebar.


Hal pertama yang Ghea lihat saat masuk ke dalam sana adalah kamar dengan ukuran besar. Begitu juga dengan tempat tidur yang ditabur bunga mawar merah di atasnya.


Merinding, Ghea bergidik melihat banyak kelopak mawar bertaburan di atas tempat tidur itu.


Huacimmm


"Siapa, sih, yang naburin mawar di kasur? ya ampun. Sumpah ini udah kaya gue berada di kamar pengantin aja, deh." Lah emang benar kan kamar pengantin?


Namun otak Ghea sepertinya menolak. Ia malah menyapukan semua kelopak mawar itu dengan tangannya hingga berceceran di atas lantai. Sembari terus saja mengumpati orang yang telah menaburkan mawar itu. Dan membuatnya berpikiran jika di kelopak mawar itu takut ada ulat atau jenis makhluk semacamnya. Dipikir Ghea nanti tubuhnya takut gatal-gatal.


Selesai menyapukan mawar itu hingga bersih, Ghea melangkah ke arah koper pakaian yang terletak di atas sofa. Kemudian cewek itu membukanya. Mencari piyama bermotif beruang yang ia sukai. Namun sungguh disayangkan, ketika tangan mulus itu mencari-cari sampai ke lipatan baju terbawahnya. Tidak ada piyama bermotif beruang. Yang ia temukan justru hanya piyama tidur yang sepertinya itu bukan miliknya.


Kemudian Ghea mengambil piyama itu dari lipatan pakaian terbawah. "Baju paan, nih?" Seraya mengangkat piyama itu ke atas wajahnya. Ghea mengernyit heran. Perutnya juga mendadak mual. Otaknya kembali mengingat ucapan Reza sewaktu di kantin. "Awas lo, Ghe. Lo jangan mau dulu kalau diajak wik-wik sama Pak Gery! Punyanya Pak Gery, tuh, pasti gede banget. Dan gue yakin, lo bakal dirobek habis sama dia. Bayangin aja, umur Pak Gery itu udah hampir 30 tahun! Sudah pasti itu bakalan sakit, Ghe." kata Reza so tahu. Padahal dia cuma nakut-nakutin Ghea aja.


Ghea menelan saliva dengan susah payah. Ucapan Reza membuatnya merinding. Jantungnya jangan ditanya. Rasanya, tuh, jantung mau keluar aja. "Siapa yang naro lingerie di koper gue?" Kening itu terlipat semakin dalam.


"Pak Gery juga gak mungkin dulu kan, ya, ngebobol gue? Astaga … jangan sampai dulu, deh." Panik Ghea saat kata demi kata yang Reza ucapkan kembali terngiang. Matanya masih mengamati baju tidur seksi di depan wajahnya yang diangkat ke udara.


Bersamaan dengan Ghea yang masih dengan pikiran kotornya dan lingerie di depan wajahnya, pintu kamar mandi terbuka. Pak Gery keluar dari sana.


Dan wow, betapa terkejutnya cowok itu ketika gaun tidur seksi itu masih terpampang di depan wajah Ghea. Auto otak Pak Gery langsung tertuju pada hal-hal aneh.


Dipikir Pak Gery, Ghea sedang menunjukan gaun itu. Dan dipikirnya juga Ghea akan mengenakan gaun tidur itu. Ia berdehem. Yang auto kedua tangan Ghea langsung menurun. Kemudian menyembunyikan lingerie tersebut pada balik punggungnya.


"Ka-kamu ngapain di sana-" eh maksudnya, Pak Gery harus menghampiri Ghea, begitu? "- eh bukan gitu." Ia berujar ketika melihat Pak Gery justru melangkah ke arahnya. Auto kaki Pak Gery berhenti. "Maksudnya kamu ngapain di kamar ini?" Aduh, gara-gara grogi, Ghea jadi tidak fokus untuk bicara. Ini semua gara-gara Reza. Awas aja, tuh, bocah nanti di sekolah bakal Ghea bejek-bejek jadi lotek.


"Heuh?" Memajukan wajahnya, Pak Gery mengernyit heran. Emang gue harus ke kamar mana? Kan ini kamar gue. Gumamnya dalam hati.


"Aduh, bukan itu. Gini. Kita bakal satu kamar, gitu, tidurnya?" tanya Ghea bersama wajah polosnya. Kedua tangannya masih tersimpan di belakang punggung untuk menyembunyikan gaun seksi itu.


"Terus?"


"Kenapa gak pisah kamar aja?"


"Maksudnya?"


"Ya, kita pisah kamar. Berarti tidurnya gak usah satu ranjang," ujar Ghea. Bukan maksud ia tidak ingin tidur satu ranjang bersama Pak Gery. Namun ia masih belum terbiasa. Dan ini rasanya begitu sangat aneh sekali.


Dengan tubuh yang masih mengenakan bathrobe saja Ghea merasa malu. Apalagi kalau tidur satu ranjang dengan cowok. Oh, ya ampun bisa malu habis Ghea ini. Pasalnya tidur Ghea itu sangat berantakan sekali. Bisa saja kan saat tidur nanti Pak Gery bakal kena tendangan Ghea. Astaga. Membayangkannya saja Ghea malu apalagi sampai itu terjadi.


Oh, no!


"Kenapa memangnya?" Pak Gery bertanya. Dan dengan santainya ia membuka lemari pakaian - yang sudah Mama Dian rapikan sebelum acara pernikahan ini terjadi. Mengambil satu kaos dan celana pendek dari dalam lemari itu, Pak Gery hendak membuka bathrobe yang digunakannya untuk menutupi otot-ototnya yang menonjol.


"Eh, mau ngapain?" Namun Pak Gery segera mengurungkan niatnya saat Ghea bertanya. Ia menoleh pada Ghea. "Mau pakai baju, lah. Kenapa?"


Astaga. Kenapa cowok itu tidak punya rasa malu sama sekali? Masa Pak Gery akan memakai baju di depan Ghea. "Di sini?" Maksud Ghea pakai bajunya.


"Terus?" Mengedik santai, tangan Pak Gery siap melepas tali bathrobe yang terikat di depan perut.


"Eh-eh, jangan di sini dong! Gak malu apa?"


Secepat Pak Gery akan membuka tali bathrobe, secepat itu pula kaki Ghea melangkah ke arahnya. Menghentikan tangan Pak Gery dengan tangannya. Lalu menahan tangan itu agar tidak melepas ikatan tali bathrobe.


Sejenak keduanya saling terdiam dalam pikiran masing-masing yang menerawang 'apa yang akan mereka lakukan di malam ini'.


Mata Pak Gery mengunci netra indah Ghea, sedangkan satu tangannya ditahan oleh tangan kiri Ghea yang tersimpan di tali bathrobe.


Sepertinya kedua insan itu sangat susah sekali menelan salivanya. Dari jarak dekat seperti itu Ghea dapat melihat jakun mungil Pak Gery yang naik turun. Entah ia sedang menelan apa. Namun itu membuat Ghea mengerjap aneh.


Sedangkan Pak Gery.


Perlahan tangan yang tersimpan di samping tubuhnya meraih tangan Ghea yang sedang menggenggam lingerie. Lalu yang bisa Ghea lakukan hanyalah meremaas gaun tidur itu ketika tangan Pak Gery menyentuh dan perlahan naik pada lengan atasnya. Itu dilakukan Pak Gery dengan gerakan pelan dan lembut.


"Rileks, Ghe! Harusnya kamu jangan malu lagi! Bukankah kamu sudah sering melakukannya pada saya?" Maksud Pak Gery, Ghea yang sudah beberapa kali main sosor pada bibir Pak Gery.


Kemudian bibir tebal dan seksi merah itu berbisik pada telinga Ghea. Membuat cewek itu merinding seketika. Karena nafas Pak Gery yang menyapu pada daun telinganya. "Boleh, kan, saya memiliki kamu malam ini?"


"Kita, kan, udah nikah. Udah halal. Dan saya mau kamu malam ini."


Ah, Ghea ini. Apa harus, Pak Gery jelaskan arti dari kalimat 'mau kamu malam ini'.


Oh my god. Rasanya perut Ghea tiba-tiba mulas. Ia mengerti sekarang. Namun secepat itu pula Ghea teringat kata-kata Reza.


"Punyanya Pak Gery itu pasti gede, Ghe." Dan dari sekian banyaknya kalimat yang Reza ucapkan hanya kalimat itu yang Ghea ingat.


Oh, otak tidak warasnya kembali bekerja. Ghea membayangkan saat pusaka Pak Gery masuk dan menerobosnya hingga ia menjerit histeris. "Tidakkkkkkkk."


Auto Pak Gery mengerutkan keningnya dengan bibir yang terlipat ke dalam. "Kenapa?"


Barulah kewarasan Ghea kembali. Ia menggeleng cepat seraya mendorong dada Pak Gery. Ia menjauh dari tubuh jangkung itu.


"A-aku. Aku, aku belum bisa. Itu pasti sakit, kan? Kalau nanti kamu ngerobek aku gimana?"


Ish … kalimat Ghea itu membuat Pak Gery menarik kedua sudut bibirnya lalu menguluum senyum bersama bibirnya yang kembali terlipat.


Menyugar rambut basah itu kebelakang, Pak Gery melangkah dimana Ghea berdiri di bibir ranjang. Memunggunginya. Kemudian setengah melempar kaos dan celana pendek yang ada di tangannya pada meja rias di samping lemari pakaian.


"Ngerobek apa?" Dan tiba-tiba saja kedua tangan kekar itu melingkar semua di lehernya. Menempelkan dada bidang itu pada punggung Ghea.


Pak Reza merasa lucu dengan kelakar Ghea.


Merobek?


Merobek apa? Pun Pak Gery rasanya ingin tergelak sekencang-kencangnya.


Ghea tersentak. Dengan nafas yang ia tahan hingga dadanya terangkat. Kepalanya menoleh ke samping.


Dan itu dijadikan kesempatan Pak Gery untuk mengecup leher samping Ghea.


Refleks Ghea memejamkan matanya erat. Dadanya semakin kembang kempis. Ah, Ghea merinding. "Kamu ngapain cium-cium leher aku?" tanyanya polos. Memutar tubuhnya. Lalu kembali menjauh dari tubuh Pak Gery.


Pak Gery terkekeh samar. "Tubuh kamu wangi lemon. Seger. Saya suka."


Hah, jawaban apa itu?


"Tapi aku geli," sahut Ghea seraya mengusap-ngusap lehernya.


Oh, Pak Gery semakin gemas dan tidak bisa lagi menahannya.


Kemudian ia menarik tangan Ghea yang dari tadi masih menggenggam lingerie. "Ini gaun apa?"


Baiklah, mungkin Pak Gery harus mengalihkan dulu kesadaran Ghea dengan cara mengajaknya mengobrol dia lebih dulu, mungkin?


"Eh, i-itu." Ghea gugup. "Aku gak tahu kenapa baju itu ada di dalam koper aku. Tadinya aku mau cari piyama. Mungkin Mama kelupaan masukin baju gak ada bahan kaya gitu ke dalam koper aku," jelas Ghea. Pak Gery menaik turunkan kepalanya sembari ber oh ria.


Ini pasti kerjaan si Adi kampret. Gumam Pak Gery dalam hati.


"Ya udah. Kamu duduk. Aku mau sisir rambut kamu, boleh?"


Kok tiba-tiba? Ingin sekali Ghea bertanya demikian. Namun ia urungkan.


"Eh, gak usah. Biar aku sisir rambut aku sendiri aja." Tolak Ghea. Ia melangkah untuk mengambil sisir di atas meja rias. Namun tangannya segera ditahan Pak Gery. "Udah. Duduk aja. Biar aku aja, ya!" Kemudian kedua bahu Ghea ditekan agar cewek itu duduk di atas kasur.


Pak Gery mengambil sisir. Kemudian kembali lagi pada Ghea yang sudah duduk. Menyisir rambut panjang itu pelan. Sesekali juga Pak Gery mengajaknya ngobrol. Mungkin agar Ghea tidak terlalu gugup untuk melakukan 'itu'.


"Aku pengen tahu banyak soal kamu," kata Pak Gery.


"Heuh? Soal apaan?" tanya Ghea heran. Namun rasa gugup itu sedikit menghilang.


"Soal apa aja. Boleh." Pak Gery yang tadinya berdiri. Kini duduk di samping Ghea tanpa menghentikan gerakan tangan yang sedang menyisir rambut Ghea.


"Eum … gimana kalau soal masa kecil aku?" Ujar Ghea dengan semangat. Wajahnya berseri. Dan itu tidak lepas dari mata Pak Gery. "Boleh."


TBC


sabarrrrrr guysss. Pelan-pelan aja biar Ghea gak kaget. *ehh