
Maaf kalau ada typo. Aku gak edit masalahnya. Langsung post aja gituuu.
....
“Betewe, itu si Alvin kok bisa cerita ke kamu kalau dia adiknya Fara?” Terus dia tahu gak kalau aku suami kamu?”
Mobil yang dikendarai Pak Gery berhenti tepat pada saat lampu merah menyala. ia menoleh pada Ghea yang sedang memainkan handphonenya. Satu tangan masih berada di bundaran setir sedangkan tangan yang lain terarah untuk menyingkirkan rambut Ghea yang menghalangi wajahnya. Menyelipkannya ke belakang telinga hingga Pak Gery dapat melihat wajah cantik itu dari arah samping.
Ghea tersenyum manis, menurunkan handphonenya lalu menoleh. Ia yang memakai kaos polos putih yang dibalut jaket jeans navy dan celana jeans panjang senada dengan warna jaketnya.
“Aku juga gak tahu kenapa dia bisa cerita sama aku. Percaya aja gitu.” Ghea meringis mengingat bagaimana ekspresi wajah Alvin saat sedang bicara pada Ghea mengenai kakaknya Fara,
“Tapi aku udah wanti-wanti sih sama dia supaya gak bilang-bilang sama yang lainnya tentang hubungan kita.”
Pak Gery masih memperhatikan Ghea sebelum kemudian ia menginjak pedal gasnya pelan-pelan saat mobil yang ada di depan sana maju perlahan.
“Kamu tenang aja deh gak usah parnoan apa lagi cemburuan gitu! Bukan gaya kamu banget tau gak sih, Mas?” Ghea terkekeh.”
Pak Gery tidak menjawab lagi. Pandangannya kembali lagi ke depan sana. Namun, pikirannya terbagi dengan cowok yang bernama Alvin itu.
Pak Gery berpikir dan justru curiga sama cowok itu. Kenapa bisa, Alvin cerita sama Ghea dan dari mana dia tahu Ghea dan Pak Gery sudah menikah? Lalu apa alasan Alvin pindah sekolah disaat ujian akhir semester akan berlangsung dan sebentar lagi kelulusan akan diselenggarakan.
Tidak bisa dibiarkan.
Pak Gery harus mencari tahu siapa Alvin dan apa tujuan dia sesungguhnya.
Jangan sampai Pak Gery kecolongan dan kembali membuat dirinya dan Ghea berada dalam masalah lagi.
**
Apa sih yang gak bisa Pak Gery lakuin buat istrinya itu.
Ia yang sejujurnya tidak biasa berkeliaran di pusat perbelajaan, eh sekarang malah menjinjing beberapa paperbag kepunyaan sang cewek spesial di kedua tangannya. Biasanya cowok itu sebelum menikah, jika butuh sesuatu selalu Adi yang menjadi tangan dan kakinya. Dan sekarang justru sebaliknya. Ia yang menjadi tangan dan kaki Ghea. Katakan ini adalah hal yang pertama bagi Pak Gery. Ia senang melakukannya asal untuk Ghea seorang saja.
“Ghe, mau cari apa lagi sih emang? Ini udah penuh banget loh belanjaannya. Mau apa lagi?”
Belum cukup juga rupanya seorang Ghea dengan semua barang yang sudah ia beli. Dari baju, sepatu dan beberapa gincu. Oh jangan lupakan dengan tas sling bag yang limited edition.
“Aduh, Mas … dari tadi kamu itu protes mulu deh,” jawabnya bersama kedua tangan yang terus memilih baju yang menggantung di hanger. Ghea menempelkan salah satu baju pada tubuh depannya dan dirasa tidak cocok Ghea akan menggantungkannya kembali pada hanger. dan terus mengulang itu sampai menemukan baju yang cocok dengan dirinya. Tapi sepertinya tidak ada. Terlihat dari wajahnya yang memberengut lalu berdecak seperti orang yang sedang kesal.
Ghea berjalan kembali pada stand hanger yang lain. Sementara Pak Gery dengan setia mengikutinya dari belakang punggung cewek itu.
“Lapar, Ghe.” Bisiknya tepat ke telinga Ghea.
Ghea meremang. Mengusap telinganya dengan kasar seraya berbalik spontan. “Mas. Geli ihhh …”
“Lapar, Ghe. Makan dulu aja yuk!” ajaknya dengan menampilkan wajah yang memelas.
Uh Ghea jadi tidak tega deh. “Yaudah. Tapi nanti lanjut lagi ya. Soalnya aku belum nemu baju yang lain.”
“Baju yang kaya gimana lagi sih, Ghe? Ini …” Pak Gery mengangkat kedua tangannya. Menunjukan paperbag itu pada Ghea. “Udah banyak loh baju yang kamu beli.”
Ghea melangkah menjauh dari toko baju itu. Pak gery tetap mengikutinya. “Ih, Mas. Itu mah buat aku pergi keluar. Ini aku cari baju buat yang aku pake di rumah.” Berhenti melangkah. Ghea menoleh ke belakang di mana Pak Gery sedang mengikutinya. Lalu melingkarkan kedua tangannya pada lengan cowok itu.
Mendengar kalimat nyeleneh dari suaminya itu refleks Ghea menghadiahkan capitan panas pada perutnya. “Ih apaan sih, Mas? Dasteran? Udah kaya ibu-ibu rumah tangga aja tau gak?”
“Ya biarin dong. Emang kamu udah jadi ibu rumah tangga kan?” Tidak mau kalah. Pak Gery justru seperti asyik menggodanya.
“Bukan lah. Masih bocah juga,” katanya terkekeh. Seperti apa yang tadi di rumah Pak gery katakan bukan?
Bocah.
“Ya pokoknya kalau di rumah gak usah pake kaos apalagi celana jeans kaya sekarang kamu pakai ini!”
Keduanya sudah sampai di sebuah restoran jepang. Pak Gery menarik kursi untuk Ghea yang langsung di duduki cewek itu.
“Kenapa?” Ghea bertanya melipat kedua tangannya di atas meja.
Pak Gery duduk setelah menyimpan semua paperbag di samping meja yang ia tempati. Mencondongkan wajahnya lalu melipat kedua tangannya. Mengikuti gaya sang istri.
Pak Gery berdecak. Sepertinya butuh siaran ulang dengan kalimat yang sudah ia lontarkan tadi. “Biar aku gampang masukinnya. Tinggal singkapin aja bawah dasternya. Terus dimana aja juga bisa kan. di sofa, dapur atau mau di--”
“Ih … Mas. Apaan sih? Kok ngomongnya makin tambah mesum sih? Nanti didenger orang loh!”
Kemudian Pak Gery terkekeh geli melihat wajah Ghea yang bersemu.
TING.
Satu pesan masuk ke handphone Pak Gery. Lalu tangan itu merogoh sakunya. Membuka pesan singkat itu kemudian pandangannya mengelilingi setiap sudut restoran yang sedang ia kunjungi bersama Ghea.
+6285778899xxx
Uluh-uluh yang lagi buat kenangan indah bersama istri tercinta.
Shit!
TBC
Nikmatin geng. Jangan bingung dan jangan bosan dulu. Huhuuuu
Santai aja Pak Ger sama Ghea mah udah satu hati sampai mati yekannn. hihii
......Aku lagi down betewe gengsss. karena apa? karena aku bingung mau masak mie goreng atau mie instan aja ya? hihii......
Yaudah jangan dipikirin. Like sama komen aja yang banyak. Kasih hadiah juga. Gak maksa aku mah. Yang ikhlas aja lah ya. Huhuu
Betewe juga aku udah buat opening cerita Dear Ashley lohhh. Ceritanya bakalan beda. hehee
**Seizy
Si penulis amatiran
yang lagi butuh sesuatu yang beda**