
Gery menahan nafasnya. Semakin sesak pula ia rasa ketika usapan dari jari jempol Ghea di pipi semakin lembut.
Lalu, Ghea melanjutkan kalimat yang sudah sedari tadi ada di ujung lidah. Matanya basah.
“Melihat sorot mata ini meragu.” Ghea menaikan ujung jari jempol ke bawah kelopak Gery. Lantas, bola mata abu itu berkilat dengan kedipan pelan. Tidak melarikan tatapan dari wajah cantik di depannya ini. “Hati aku juga ikut ragu, Mas.”
Gery terdiam. Dilepas Gery kepalan tangannya di samping tubuh. Batin dan perasaannya sedikit tenang akan kelembutan suara Ghea terdengar. Namun, rasa siap menghadapi murka dari Ghea tetap memacu adrenalin dalam raga.
“Saat aku meminta kamu untuk memilih keselamatan anak kita dibanding aku, kamu diam. Dan aku tahu kalau kamu tidak bisa melakukan itu. Sorot di bola mata kamu ini adalah keyakinan aku, Mas. Dan kamu tahu itu.”
Well. Ketika Ghea meminta Gery untuk lebih memilih menyelamatkan anaknya, melihat sorot mata abu yang bergetar penuh keraguan membuat Ghea ikut pula meragu. Entah yakin atau tidak, dalam hati Ghea merasa bahwa anaknya tidak akan bisa melihat dunia dan bahkan wajah dirinya pula sebagai Ibunya.
“Boleh kalau aku melihat wajah dia dulu sebelum dia benar-benar pergi dari sini, Mas?” Cairan bening itu berhasil membasahi pipi Ghea diketika dirinya berusaha untuk menahan. Berusaha pula untuk kuat. Saat dikedipkannya bulu mata lentik itu.
Gery tidak bisa berkata-kata. Sungguh pun hatinya teremas. Menahan sekuat tenaga agar cowok itu pun tidak ikut serta menangis melihat Ghea yang berusaha kuat seperti ini.
Rahang Gery mengeras. Dan tangan itu kembali mengepal.
“Mungkin ini teguran dari Tuhan karena aku yang bersikap egois. Tidak dengerin apa kata kamu dari awal.” Ghea melanjutkan kalimat. Dengan air bak kristal terus memesrai pipi Ghea. Terasa asin air itu saat mengenai ujung bibir Ghea yang terbuka. Wanita dengan kondisi masih lemah itu mengambil sisa nafas-nafas dari hidung yang ujungnya memerah.
Sebenarnya Ghea ingin terisak. Meraung. Dan bahkan ingin pula mengakhiri hidup, ikut serta dengan bayinya. Jika harus menerima satu kenyataan ini. Dunia Ghea benar-benar hancur sekarang.
Namun, di sisi hatinya yang lain. Wanita itu harus tetap menerima konsekuensinya.
Dari awal Dokter sudah mengatakan, bukan? Jika kehamilan Ghea penuh resiko karena penyakit yang ia derita.
“Ya. Kamu boleh menemuinya,” ucap Gery bergetar.
Dilihati Ghea bola mata abu itu berair. Bahkan sekitaran bola matanya memerah. Ghea yakin jika Gery terpukul hebat. Dan Ghea tentu tidak bisa menyalahkan lelaki ini, karena dirinya yang menyebabkan semuanya terjadi. Dengan sikap egoisme serta stubborn-nya dari awal.
Andai, andai, dan andai. Semua andaian itu tidak bisa Ghea ubah kembali.
“I’m sorry,” Kata Ghea setelah diam beberapa saat. Dengan tangan yang tak lari dari mengusapi lembut pipi Gery, bersama ujung jempol di bawah kelopak mata lelaki itu.
“No! Harusnya aku yang bilang itu sama kamu, Ghe.” Disentuh Gery tangan yang sedari tadi tidak melepaskan tangkupan di pipinya.
“Setidaknya, jika Tuhan masih belum memberikan kesempatan untuk aku memiliki dia hari ini, tapi Tuhan masih bisa memberikan aku kesempatan untuk ke depannya, kan, Mas? Kamu masih mau sabar menunggu itu, kan?”
DEGH ...
Perkiraan Gery melesat saat dikira Ghea akan murka karena berasumsi sendiri bahwa anaknya tiada, tanpa lidah Gery yang berucap. Gery senang untuk itu, sebab Ghea yang mungkin bisa menerima satu kenyataan pahitnya. Meski batin tak dapat dipungkiri jika lelaki itu teramat sesak.
Namun, untuk yang satu ini … kenapa pula Ghea harus bertanya demikian? Membuat mulut Gery membeku. Lidah bagai kelu untuk mengatakan satu kejujuran lagi.
Bisa tidak, jika Gery saja yang tiada? Agar ia tidak harus berkonfirmasi soal ini? Soal Ghea dan rahimnya?
“Ada apa?” tanya Ghea mengejar. Tatap bola matanya mengarah tepat di bola mata abu Gery. Membuat sebuah jawaban sendiri. Bahkan tatapan Ghea seakan masuk ke dalam bola mata abu yang bergoyang. Bergetar. Bahkan pula mengkristal. Namun, hebatnya cairan kristal di kelopak Gery itu tidak tumpah meski lelaki itu mengedipkan bulu mata beberapa kali dengan gerakan lambat.
“Please, Mas. Jangan ada yang kamu sembunyiin dari aku!” Ghea mencoba mengangkat kepalanya namun segera pula Gery menahan kedua bahunya. Melarang wanita itu. Dan lebih baik untuk tetap berbaring seperti ini. Apalagi dengan bekas operasi di perut Ghea yang masih basah.
Ditarik Gery dalam satu tarikan nafas. Kelopaknya memejam sebelum embusan nafas itu ia keluarkan lewat mulut secara pelan. Tengkuk mengejang dan Gery menelan saliva sehingga jakun mungilnya ikut bergerak naik turun. Sungguh pun, lelaki itu meragu untuk mengkonfirmasikan kejujuran.
“Rahim kamu—“ dua kata yang itu lolos dari ujung lidah. Ia menarik nafas kembali sebelum melanjutkan.
Tatap mata Ghea benar-benar sayu. Tangan berhias jarum infus meremat ujung selimut yang menutup sampai perut. Sedang tangan yang lain masih menopang di pipi Gery. Siap mendengar apa yang akan lelakinya ini konfirmasikan.
Gery memejamkan kelopak saat melanjutkan kata demi kata yang pasti akan menghancurkan jantung Ghea. “Dokter terpaksa mengangkat rahim kamu karena tumor—“
Lelaki dengan mata basah itu tidak bisa melanjutkan. Pemicunya adalah tangan Ghea yang menopang pipinya perlahan turun melepaskan.
Kini, bola mata hitam itu bergoyang nanar. Otaknya mencoba mencerna lagi kata demi kata yang keluar dari mulut Gery. Telinganya berdengung seakan tidak mendengar jika suara Gery memanggilnya. Kabut tebal mendominasi seluruh pandangan Ghea. Membuat tatapan itu tidak jelas kemudian.
Hancur lebur sudah jiwa dan raganya. Bak tertibun langit runtuh dan bumi menghimpinya, Ghea sesak. Bernafas pun menjadi berantahkan.
Semua impian kini hanya tinggal angan.
Ghea tidak bersuara. Meski sesak, hancur dan berbagai macam rasa bersemanyam dalam batin, wanita itu tidak menangis atau meraung. Hanya saja air matanya terus mengalir seperti hujan yang tak ada redanya, membuat banjir bantalan yang menopang belakang kepala. Semua jari berhasil mengusutkan ujung selimut yang menutup perut rata itu.Tatap matanya sayu. Ghea hanya memandang ke atas langit-langit putih ruangan dengan kosong.
Gery cemas tentu saja. Tidak tahu pula harus melakukan apa sampai suara wanita itu menggema memenuhi seantero ruangan.
“Apa kamu akan ninggalin aku, Mas? Karena sekarang aku bukan wanita sempurna. Aku gak bisa memberikan kamu seorang anak. Gak bisa memberikan kamu suara tangis yang selama ini menjadi impian kamu.”
Gery segera menangkup kedua sisi wajah Ghea. Menatapi sorot hitam yang selalu membuatnya tenang sekaligus resah. “Kenapa kamu bisa berfikir demikian?” Gery semakin menyelami bola mata hitam yang berair itu. “Gak ada di pikiran aku jika aku akan melakukan itu, Ghe. Butuh perjuangan buat aku dapetin kamu. Ngeyakini orang tua kamu jika aku mampu dan bisa buat jaga anaknya. Buat bahagia putrinya. Dan sekarang, cuma karena kamu tidak punya rahim lagi … aku akan melakukan itu? Nggak, Ghe!”
“Tapi aku gak bakal bisa ngasih kamu—“
“Dari awal kita tahu kamu mengidap penyakit itu, aku udah bilang kalau soal anak, kita masih bisa memilikinya, Ghea. Kita bisa mengadopsi mereka. Bahkan, kita bisa mengadopsi mereka lebih dari satu. Jika kamu mau?!” Gery menyela dengan cepat. Tidak membiarkan kata selanjutnya lolos keluar dari mulut Ghea.
Sungguh pun, tatapan Gery sayu. Meyakinkan Ghea dalam tatapan, jika rumah tangga mereka akan baik-baik saja meski tanpa kehadiran seorang anak. Gery meyakinkan itu lewat sorot abunya. Menangkup kedua pipi dengan telapak besarnya. Bibirnya tersenyum.
“Tapi, aku benci, Mas. Benci dengan diri aku sendiri. Aku udah ngehancurin Impian kita. Impian kamu.”
“Nggak, sayang.” Perlahan dahi Gery mendekati wajahnya hingga Ghea dapat merasakan embusan nafas dari mulut lelaki itu yang terbuka. Kemudian terasa dekat sampai pula Gery menyatukan dahinya dengan dahi Ghea. Mata keduanya terpejam. Melawan sesak juga melawan semua rasa yang singgah.
“Bagaimana bisa kamu ngehancurin impian aku, Ghe? Jika kamu sendirilah impian itu?” Gery menarik nafasnya. Berucap pelan dan lirih. Sedang Ghea membuka kelopak terpejam itu. Menelusuri setiap garis wajah lelaki yang masih saja terlihat tampan meski kusut sekali pun.
“Kamu adalah tujuan aku hidup, Ghe. Untuk membangun semua impian yang belum aku capai … aku butuh kamu untuk tetap di samping aku,” ucap Gery pelan, lirih dan bahkan pula Ghea dapat melihat kedua bibir tebal itu bergetar. Entah karena bibir itu ingin menangis, meraung atau pula mengeluarkan teriakan. Ghea tidak dapat memahami dengan begitu jelas. Sebab, dengan Gery yang mampu mengatur ekspresi.
Ghea meneteskan air mata lagi. Terharu. Tak menyangka jika lelaki ini mencintainya begitu dalam. Sehingga mengatakan jika ia bisa menerima kekurangannya. Ghea tidak bisa mengukur cintanya seberapa dalam. Namun, hati Ghea mampu merasakan gejolak ombak laut yang menghayutkan pandangan yang Gery berikan untuknya.
Ditangkup pula oleh Ghea satu sisi wajah Gery. Embusan nafasnya sampai terasa menyapu di permukaan wajah tampan lelaki itu. Dinikmati Gery aroma Ghea yang sudah dirindukannya. Meski, aroma itu bercampur obat dan segala macam yang berhubungan dengan rumah sakit.
Dahi Gery tidak menjauh dari dahinya. Bahkan pula sekarang puncak hidung keduanya saling meraskan gesekan. Dengan Gery yang perlahan maju untuk kemudian mengecup bibir pucat Ghea. Menyalurkan semuanya lewat kecupan. Termasuk membuang sesak lewat itu.
Perlahan kelopak Ghea ikut memejam. Di dalam kecupannya, kedua sudut Ghea terangkat. Bahagia. Atau lebih tepatnya berusaha menerima semua kenyataan yang sudah Tuhan gariskan untuknya. Untuk kehidupan rumah tangganya.
Siapa yang akan tahu dan dapat menebak jika Tuhan akan memberikan cobaan atau anugerah untuk kehidupan kita?
Kehidupan ini adalah milikNya.
Hidup, maut, dan semua yang ada di Dunia ini sudah tergaris sebaik mungkin. Kita, sebagai manusia hanya bisa menjalankan semua skenario yang sudah tersusun itu, bukan?
Hanya saja, bagaimana cara kita agar bisa menerimanya dengan lebih baik dan lapang. Sabar serta pula tawakal.
Ketika kedua bibir itu masih saling menempel, knop pintu bergerak ke bawah. Lalu disusul wajah kaget saat daun pintu sudah dibukanya dari luar.
“Pak Gery …”
.
.
TO BE CONTINUED
Note Seizy :
Kalimat terakhir tidak ada maksud apa-apa. Hanya saja, itu sebagai pemacu diriku untuk selalu tetap kuat menerima setiap ujian yang datang.
Apa kabar kamu untuk hari ini?
Aku harap kamu selalu baik-baik saja.
Tetap jaga kesehatan, ya!
Meski tidak ada dia di sampingmu, jangan resah. Masih ada Gery yang menemani kehaluanmu, kan? Wkwkwkk
Fallow Ig penulis (Kang Ngetik Amatiran): @Seizyll_koerniawan untuk mengetahui kapan waktu UP dan infoh-infoh yang lainnya.