Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 5


"Meja makan atau kamar?" tanya Gery sesaat setelah penyatuan bibir keduanya terlepas. Dengan nafas Ghea yang sedikit terengah bersama rambut cewek itu yang sudah terlihat acak-acakan lalu dengan sentuhan jari tangan besarnya, Gery merapikan rambut beraroma kesukaannya itu.


Wajah Ghea tentu bersemu. "Apaan, sih, Mas?" ucapnya cewek itu malu-malu. Sungguh, karena untuk saat ini tidak ada lagi rasa bahagia selain dirinya yang selalu diperlakukan hangat, manis, dan lembut olehnya.


Ghea pun tidak tahu apa yang akan terjadi jikakalau ia tidak berjodoh dengan pemilik tangan besar ini yang sekarang tengah mengangkat tubuhnya. Menaiki setiap undakan tangga untuk membawa dirinya ke tempat saksi bisu keduanya saling memadu kasih, setelah tadi Ghea membisikan kata 'kamar' pada telinga Gery. Itu pun dengan suara yang tidak lebih dari sebuah bisikan.


Selama perjalanan ke dalam kamar itu mata keduanya tidak lepas dari saling menatap penuh binar. Mata Ghea mau pun Gery begitu menyiratkan rasa suka cita yang kentara.


"Berat," sahut Gery tiba-tiba memutus tatapannya ketika sampai di undakan tangga terakhir.


"Kan sama aja kamu ngangkat dua orang, Mas," jawab Ghea seraya memukul pelan bahu tegap yang masih terbalut jas kerjanya.


Gery terkekeh geli lalu ia berdiri tepat di depan pintu kamar. Menunggu Ghea untuk membuka pintu tersebut.


Gery mendorong daun pintu itu lebih lebar lagi menggunakan bahunya. Kemudian dengan kakinya, cowok itu menutup pintu kembali rapat-rapat. Tidak perlu mengunci karena memang di rumah itu tidak ada siapa-siapa lagi selain mereka berdua, kan?


Dengan debaran jantung Ghea yang menggila, bersamaan dengan itu pula Gery membaringkan tubuhnya di atas kasur yang terasa begitu empuk untuk punggungnya. Dan tanpa mengalihkan pandangan, Gery meraup bibir itu lagi bersama sentuhan hangat di sisi tubuh Ghea yang berasal dari telapak tangan yang sekarang sedang berada di atasnya dengan Gery yang membayangi tubuh Ghea.


Sentuhan itu terasa selalu memabukan, melenakan bahkan Ghea selalu ingin merakannya lagi dan lagi. Gery benar-benar si ahli handal dalam urusan ranjang.


"Gak papa kalau aku masukin sekarang?" Tatapan itu sudah menyulut gairah yang mungkin sebentar lagi api gairah itu akan berkobar.


Menganggukan kepala, Ghea berkata 'ya' dengan raut wajah yang tidak berubah sama sekali. Merah. Bahkan kali ini lebih dari sekedar itu.


Perlahan, Gery membuka jas yang masih melekat di tubuhnya, dengan terburu-buru juga cowok itu membuka kancing kemeja yang seakan sangat sulit untuk ia lakukan kali ini. Dengan begitu, Ghea membantunya melepaskan setiap kancing dari lubang.


"Pelan-pelan, sih, Mas!" ujar Ghea seraya meloloskan kancing terakhir kemeja Gery.


"Gak sabar aku tuh, Ghe." jawab Gery bersama kekehan kecil. Lalu ia melempar asal kemeja begitu pula jas yang sudah lepas dari tubuh seksinya itu. Dan tak butuh waktu lama bagi cowok itu untuk membuka celana bahan yang masih menutupi kaki jenjangnya. Saat itu pula, Ghea dapat melihat bukit gairah di dalam sana dengan pipi yang semakin terasa panas.


...****...


Pagi ini Gery terbangun lebih awal. Cowok dengan tubuh polos yang hanya tertutup selimut itu sudah lebih dari lima belas menit ini hanya menatap wajah cantik di sampingnya lamat-lamat. Seakan di setiap detik hidupnya ia tidak ingin melewatkan wajah Ghea yang begitu damai dalam pejaman mata.


Menyentuh dahi dengan jari telunjuknya lalu berjalan melewati hidung mancung hingga jari lentiknya berhenti di atas bibir merah Ghea yang sedikit terbuka. Gery berdecak gemas seraya suara kekehan kecil terdengar indah sebagai alarm bagi Ghea. Karena setelah mendengar dan merasakan ada sebuah sentuhan di area wajahnya Ghea mengerjapkan kedua matanya pelan sebelum tubuh yang sama polos dengan suaminya itu menggeliat. Bukan untuk bangun, melainkan untuk lebih merapatkan tubuh polosnya itu pada tubuh polos Gery sebelum tangan kecilnya mengeratkan pelukan di pinggang cowok yang tengah terbaring miring itu.


"Pagi?" Lalu kecupan singkat Gery berikan padanya.


"Hem." Dan yang diberi kecupan hanya bergumam pelan dengan kedua mata yang kembali terpejam. Seolah pagi ini adalah pagi ternyaman untuk Ghea setelah beberapa minggu belakangan ini perutnya sering dibuat mual. Namun, pagi ini terasa berbeda. Mual dan pening itu seperti hilang begitu saja.


Ah, ya.


Mungkin karena sudah pelepasan atau ...


Pelepasan bisa meringankan rasa pening.


Jika difikir pribahasa dari mana itu? Tapi, bisa dibilang 'iya' juga karena Ghea merasakannya pagi ini.


"Mas," panggil Ghea seraya melirik jam kecil di atas nakas samping Gery sesaat setelah ia bangkit. Katakanlah terpaksa harus bangkit karena Ghea yang pagi ini seperti ingin menahan suaminya untuk menemaninya tidur saja.


"Kenapa?" tanya Gery sembari menyingkirkan anak rambut Ghea yang terjatuh mengenai dahi. Menempel akibat masih ada bulir-bulir keringat sisa tadi malam. Mungkin. Kemudian cowok itu ikut bangkit lalu menyandarkan punggung pada hearboad.


"Udah jam tujuh, Mas. Kamu gak siap-siap? Katanya pagi ini ada janji sarapan sama klien Papa Dika?" Ghea menahan ujung selimut di atas dada agar tetap menutupi tubuhnya itu.


"Di cancel," kata Gery sembari memainkan ujung rambut Ghea dengan jarinya sebelum cowok itu menarik ujung rambut tersebut ke hidung untuk membaui aromanya.


"Tadi Adi kirim e-mail. Katanya diganti sama lunch aja ntar." Lanjutnya Gery kemudian. Seolah cowok itu dapat membaca tanda kerutan di dahi Ghea.


Kepala Ghea bergerak naik turun. "Tapi kamu harus tetep pergi kerja sekarang, kan, Mas?"


Gery menarik kepala Ghea untuk bersandar di dadanya menggunakan tangan kiri. Sedang tangan kanan ia gunakan untuk menahan selimut yang masih membaluti tubuh keduanya itu.


"Perut kamu gimana?" Alih-alih menanggapi omelan istrinya itu, Gery justru bertanya hal lain seraya mengusap perut Ghea.


Karena saat Gery menghentakan kegagahannya dalam hentakan terakhir ketika dirinya ingin mencapai puncak, tiba-tiba saja Ghea mengeluh sakit dibagian perutnya.


Gery kaget tentu saja. Ada rasa khawatir dan takut dalam satu waktu. Ia takut terjadi hal buruk pada kandungan Ghea. Namun saat ia ingin menyudahi permainannya, malah Ghea yang melarang. Cewek itu bilang tidak apa-apa. Hanya keram sedikit katanya. Hingga Gery bisa menyelesaikan permainan itu sampai pada puncaknya.


"Udah gak papa. Tapi masih suka kerasa keras gitu pas dibagian bawah." keluh Ghea mengatakan hal yang mungkin terdengar sepele. Tetapi bagi Ghea sekecil apa pun itu ia mau pun Gery meski sama-sama terbuka.


Tangan besar itu terus mengusap perut Ghea tiada hentinya. "Ke dokter aja! Aku takut kenapa-napa sama baby."


"Nggak papa ih, Mas. Ntaran aja lah sekalian kontrol." Ghea tersenyum agar suaminya tidak terlalu mengkhawatirkannya. "Jangan lupa temenin loh, ya!" pintanya sambil mendongakan wajah. Menatap netra Gery yang juga tengah memberikan tatapan hangat padanya.


"Iya."


...To be continued ......


Note seizy :


Segini dulu aja ya. Dikit dikit yang penting up kan. Huhuuu


Yuk ah berikan tanda cinta kamu buat kang ngetik amatiran dengan tekan like dan komen.


Btw yang punya akun watt-pad ayo dong mampirin cerita aku di sana. Cari nama pena aku aja ya mamen. Thanks. ILY