
...Tidak ada yang harus disesali dalam hidup ini. Hanya perlu bersabar dan bersyukur....
...***...
Kenyataan hidup memang tidak selalu seperti apa yang kita inginkan. Atau bahkan jauh dari apa yang kita bayangkan dan harapkan. Seringkali kehidupan justru berjalan kebalikan dari semua itu. Rasa sakit karena cinta atau rasa sakit karena dikhianati. Semua itu sudah jalan dan takdirnya. Hanya saja kita perlu sedikit sabar untuk menghadapinya. Sama halnya dengan Pak Gery yang harus sabar menerima kenyataan pahit jika Ghea mengalami koma setelah menjalani operasi beberapa jam yang lalu akibat kecelakaan itu. Yang mengharuskan Ghea kini dibantu dengan berbagai selang dan peralatan asing terpasang di tubuhnya. Membuat detak jantung Pak Gery bertalu semakin perih. Rasanya nafas cowok itu akan berhenti perlahan melihat raga Ghea yang terbaring dengan ventilator terpasang di mulut. Juga elektrokardiograf satu-satunya suara yang nyaring di dalam ruangan yang berbau obat tersebut.
Pak Gery duduk di kursi samping ranjang Ghea. Cowok yang kini kepalanya terbalut perban itu tidak bisa tenang apalagi hanya menunggu di ruang rawatnya. Beberapa jam yang lalu pula luka cowok itu selesai diobati. Bersyukur luka di belakang kepalanya tidak begitu parah. Hanya saja luka di hatinya yang mungkin tidak bisa terobati dengan obat apapun selain obat Ghea yang membuka mata dan bicara padanya.
"Ghe, bangun dong!" Pak Gery memandang wajah yang sedang tidak sadarkan diri itu. Menggenggam tangannya sebelum dagu cowok itu disimpan di atas punggungnya.
"Aku gak bisa lihat kamu kayak gini." Kemudian dikecuplah punggung tangannya lama.
Dosa besar apa yang sudah ia perbuat sampai Tuhan menghukumnya dengan cara seperti ini? Pak Gery pun tidak tahu dosa yang mana. Namun, Pak Gery berdoa agar Tuhan mengampuninya dan dengan cepat mengembalikan Ghea seperti keadaannya semula.
Semakin Pak Gery memandang lamat wajah itu, semakin sakit pula rongga dadanya yang bagai terhimpit dua batu besar sekaligus. Sakit. Sesak.
Berpikir, kenapa saat itu Pak Gery tidak memastikan Ocy benar-benar pergi dari sana? Kenapa Pak Gery gak memastikan semuanya aman dulu?
Mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Tetapi harus bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Begitu juga dengan kecelakaan yang menyebabkan istrinya terbaring koma di atas ranjang rumah sakit. Hanya menyesal saja percuma, karena itu tidak akan bisa membuat Ghea terbangun detik ini juga dari koma.
**
Berita kecelakaan itu sudah tersebar luas. Satu sekolahan pun kini dibuat heboh dengan adanya berita tersebut. Tama dan Reza berdiri dengan gelisah di depan ruang kepala sekolah. Menunggu seseorang yang tadi sempat dipanggil itu untuk keluar lalu akan memberikan penghargaan yang tidak akan pernah orang itu lupakan.
Sudah satu jam lebih kedua cowok itu menunggu. Keduanya tidak bisa diam. Dari duduk hingga berdiri kemudian duduk lagi. Begitu terus sampai pintu ruang kepala sekolah terbuka dari dalam. Keluarlah dua orang cowok yang berbeda umur.
Bughhh …
“Kampret! Sabar, oyy!” Tama menarik belakang kerah seragam Reza agar cowok itu bisa mengontrol emosinya. Melihat ini adalah area sekolah dan Reza yang sebagai ketua OSIS di sana.
“An jing. Lo ternyata sekolah di sini cuma mau celakain Ghea doang? Heuh? Bangsat!” Emosi Reza sudah tidak bisa dikendalikan oleh siapapun termasuk Tama sendiri. Cowok itu kewalahan, tidak bisa melerai Reza yang terus menghantam wajah Alvin sampai punggung cowok itu bersandar tidak berdaya di tembok tepat samping pintu ruang kepala sekolah.
“Eh, onta. Lo tahan emosi, be go!” Tama berusaha sebisa mungkin menarik tubuh Reza namun tetap tidak bisa. Tenaga Reza bagaikan hulk yang tidak bisa dikalahkan. Mungkin iblis sedang merasuki tubuhnya hingga cowok itu kalap.
“Lo harus bayar semua ini, bangsat!” umpat Reza bersama satu tinjuan lagi pada rahang Alvin.
Alvin diam saja tidak melawan. Mungkin cowok itu sadar dia juga salah karena sudah menjebak Ghea datang ke gedung tua itu.
“Berhenti kalian!” suara Pak Kepsek yang langsung keluar saat mendengar keramaian di luar.
Kepalan tangan Reza berhenti di udara. Kemudian menurunkannya saat melihat mata Pak Kepsek yang menusuk tajam. Lalu Pak Kepsek menginterupsi semua murid yang mendadak berkumpul untuk bubar.
“Mending lo pergi dari sini sebelum gue habisin lo sekarang juga!” Sergah Reza yang masih ditahan oleh Tama. Takut-takut jika Reza kembali memberikan kepalan tangannya pada Alvin dengan wajahnya yang sudah banyak luka disana.
“Gue minta maaf. Gak ada niatan gue ngebuat Ghea celaka,” ucap Alvin kemudian pergi.
“Gimana keadaan Ghea sekarang?” Setelahnya Alvin tidak ada di sana, Reza bertanya pada Adi yang sengaja datang ke sekolah hanya untuk memberikan pengumuman dan meminta doa dari semua murid Garuda bahwasannya Ghea mengalami kecelakaan dan sekarang koma.
Sedangkan dengan Alvin, cowok itu yang sudah kabur lebih dulu saat penyekapan datang menghampiri Adi setelah selesai memberikan pengumuman dan meminta doa di lapangan Garuda. Dia mengakui jika dirinya juga terlibat. Dia yang awalnya menghubungi Ghea untuk datang ke gedung tersebut.
“Masih koma,” jawab Adi seadanya. Adi tidak bisa memberitahukan keadaan Ghea lebih lanjut pada Reza dan Tama.
**
“Gak nyangka banget gue sumpah. Kok bisa-bisanya Si Ocy jahat sama Ghea? Padahal kan dia itu sahabat deketnya.”
“Sama. Gue juga gak nyangka. Gue pikir itu Si Ocy baik. Eh ternyata selimut dalam musuh.”
“Musuh dalam selimut jirrrr.”
“Iya-iya. tahu gue kali. eh betewe gara-gara apa, sih, si Ocy sampai nekat kaya gitu?”
“Apa jangan-jangan diem-diem si Ocy naksir Pak Gery lagi?”
“Gak mungkin ah. Dia kan udah punya Si ketua OSIS.”
“Ya bisa jadi kan itu cuma salah satu caranya doang biar gak ketahuan gak tahu dirinya.”
Begitulah anak-anak di dalam kelas Ghea yang bergosip, berkumpul di dalam satu meja. Mungkin sudah menjadi hal lumrah bagi mereka kaum anak putih abu-abu khususnya membicarakan suatu berita yang lagi heboh-hebohnya.
“Kasihan, ya, Si Ghea. Malah sekarang dia sampai koma segala. Gimana nasib Pak Gery, ya?”
“Jir, lu malah mikirin nasib Pak Gery. Wah jangan-jangan elu mau cari kesempatan dalam kesempitan, ya? Parah lo, bener-bener.”
“Selamat siang?” Bu Novi masuk ke dalam kelas. Yang auto membuat kelas yang tadinya ribut membicarakan Ghea kini kembali hening lalu mencari tempat duduknya masing-masing.
“Siang, Bu.” Serempak mereka menjawab.
“Sebagaimana kita tahu musibah yang sudah mengalami Pak Gery dan Ghea, setelah pulang sekolah akan ada perwakilan dari setiap kelas untuk menjenguk Pak Gery dan Ghea di rumah sakit. Mungkin dari kalian ada yang mau menjadi perwakilannya?” Bu Novi menjelaskan. “Tama?” Kemudian memanggil nama itu. Namun yang punya nama tidak menyahut.
“Kemana Tama?” tanya Bu Novi.
**
“Lo yang sabar, ya, Tam! Gue yakin kok Ghea bakal kuat. Karena dia orang baik.”
Kepala Tama mengangguk. “Makasih, ya, Cin.”
“Iya.”
“Gue minta maaf,” sahut Tama dengan pandangan yang lurus ke depan. Duduk berdampingan dengan Cindy di kursi kayu panjang taman belakang sekolah.
“Buat?”
“Gue selalu kasar sama lo.”
“Gak papa. Lupain aja!” Jawab Cindy dengan yakin. Mungkin cewek itu pula belajar dari sikap Ghea yang begitu mudah memaafkan kesalahannya.
Sedangkan di sisi lain.
Reza berlari di lorong sekolah menuju kelas dimana Yura berada.
“Yura!” panggil reza saat dirinya tiba di pintu kelas cewek itu.
Kepala Yura yang sedang menunduk karena sedang mengerjakan tugas dari guru pun refleks mendongak ketika namanya dipanggil.
“Ikut gue!” Ditariklah tangan cewek itu oleh Reza keluar kelas. Beruntung guru sedang tidak ada di kelas tersebut.
“Ada apa, sih, Rez?” tanya Yura sambil menghentakan tangan yang dicekal oleh Reza.
“Gue minta maaf karena udah gak percaya sama lo waktu lo ngomong kalau Ocy dan Alvin yang udah nyebarin foto-foto Ghea di mading.” Reza menatap mata Yura dengan dalam. Dan dapat Yura rasakan jika cowok itu tulus minta maaf padanya.
“Iya. Gak papa. Lupain aja! Lagian sekarang kan semuanya udah kebukti.” Yura menjawab dengan senyum tipis di bibirnya.
“Makasih,” kata Reza kembali. “Nanti pulang sekolah lo mau gak jenguk Ghea bareng gue?”
**
Pak Gery mengerjapkan kedua matanya ketika suara handphone yang tersimpan di atas meja nakas samping ranjang rumah sakit itu bergetar. Lalu tangannya meraih benda canggih tersebut. Tidak langsung menjawabnya begitu saja ketika nama melihat Adi tertera di depan layarnya. Pak Gery justru berdecak. Menyampingkan tubuhnya menghadap Ghea sebelum mengecup pelipis cewek itu kemudian.
Harusnya Pak Gery masih menjalani perawatan dan di infus untuk masa pemulihannya. Namun cowok itu menolak keras dan malah menemani Ghea di dalam ruangannya. Cowok itu tidak meninggalkan Ghea lama. Dan semalaman pun tidur di sampingnya. Memeluknya lalu mengajaknya bicara walau Pak Gery tahu Ghea tidak akan menjawabnya. Seperti saat ini juga.
“Kepala aku di perban, Ghe. Sakit. Pusing lagi.” Pak Gery meraih tangan Ghea yang tersimpan di atas perut cewek itu kemudian menautkan jari-jarinya. “Kamu kapan mau bangunnya? Aku kangen tau, Ghe. Pengen dipijit nih kayaknya kepala aku, biar pusingnya ilang.” Pak Gery terkekeh hambar. Ia yakin walau Ghea menutup matanya tapi Ghea pasti mendengar celotehannya.
Handphone itu kembali bergetar. Masih diabaikan Pak Gery. “Tadi aku mimpiin kamu.” Kemudian Pak Gery membawa tangan Ghea ke udara. Cowok itu tidak melepaskan tautan jarinya dengan jari Ghea. “Di mimpiku kamu cantik banget, Ghe. Terus ada anak kecil yang lari-lari ke arah kamu. Manggil kamu Bunda.”
Pak Gery memejamkan kedua matanya seraya mencium punggung tangannya. “Emang kamu udah gak sabar, ya, dipanggil Bunda sampai kamu ngasih tahunya lewat mimpi aku? Kenapa kamu gak kasih tahu aku langsung aja, Ghe, kalau gak sabar dipanggil Bunda? Kamu bangun, ya!”
Suara getaran di handphone Pak Gery tidak berhenti sejak tadi. Cowok yang terbaring di samping Ghea itu terpaksa duduk sambil mengeluarkan decakan kesal.
“Apa, sih?” sahutnya ketika panggilan itu ia jawab.
“Lo ngapain, sih, di dalem? Jangan dulu macam-macam kampret! Ghea masih koma.”
“Ngapain?” Pak Gery malah balik tanya di dalam sambungan seluler itu.
“Buruan keluar dulu napa? Ada banyak orang yang mau jenguk lo sama Ghea, nih.”
“Iya-iya. Tunggu!” decaknya sambil menutup panggilan dari Adi. Kemudian Pak Gery beringsut dari atas ranjang. “Aku keluar bentar, ya.” Pamit cowok itu pada Ghea kemudian mengecup keningnya lama.
Saat Pak Gery membuka pintu dari dalam, cowok itu melihat ada banyak orang di luar yang menunggunya.
“Selamat sore, Pak Gery? Gimana keadaan anda sekarang?” tanya Bu Novi mewakili semuanya. “Saya turut prihatin atas apa yang sudah menimpa anda dan Ghea,” lanjutnya kemudian.
Kepala Pak Gery mengangguk. “Terimakasih,” sahutnya. Seperti biasa, datar dan dingin.
Bu Novi dan beberapa murid yang menjadi perwakilan sekolah itu tidak bisa melihat Ghea masuk ke dalam ruangan. Mereka hanya melihat kondisi Ghea dari kaca kecil yang menempel di pintu saja.
Tidak apa. Bu Novi dan yang lainnya mengerti situasi dan kondisinya. Mereka berdoa agar Ghea bisa cepat sadar dan kembali ke sekolah lagi. Apalagi ujian akhir semester akan diadakan satu minggu lagi. Berharap Ghea bisa mengikuti ujian kelulusan itu.
“Kalau begitu saya dan anak-anak pamit dulu, Pak. Kami juga harus menghadiri pemakamannya Ocy.”
...TBC...
Maaf kalau kurang ngefeel. Kurang greget kurang asyik. Pokoknya masih banyak kurangnya. Semoga selalu suka dengan cerita sederhana ini! Semoga kamu yang nyasar ke cerita ini selalu sehat. Selalu sabar juga dalam segala bentuk ujian yang sedang dikasih Tuhan.
Mungkin Tuhan hanya sedang ingin melihat kamu kuat. Itu saja.
Seizy
Kang ngetik amatir tumben update jam segini. hihiii