Married With Teacher

Married With Teacher
Berita Heboh


Mobil sedan hitam berwarna hitam pekat terparkir mulus di parkiran sekolah dengan Chacha yang berada di balik kemudi.


Melepaskan seat belt, Ghea hendak membuka pintu mobil, namun urung saat kembali menoleh pada Chacha yang ikut membuka seat beltnya akan ikut turun.


Ghea mengernyitkan keningnya, “lo mau kemana, Cha?”


Bukan hal yang kaku bagi Ghea untuk memanggil Chacha dengan aksen seperti itu. Selain Ghea nyaman dengan bodyguard barunya itu, saat di perjalanan ke sekolah tadi keduanya saling mengobrol dan bertukar cerita walau Chacha sendiri masih terlihat kaku dengan bahasanya yang formal. Berbanding terbalik dengan dirinya yang sangat prontal.


“Saya mau ikut kamu.”


Awalnya Chaacha memanggil Ghea dengan panggilan ‘Bu’ karena ia menghargai Ghea yang kini menyandang status sebagai bosnya. Hanya bersikap profesionalisme dalam kerja. Ghea tercengang tentu saja karena dia dipanggil ‘Bu’ oleh orang beberapa tahun lebih tua darinya. Dipikirnya apa Ghea sudah terlihat tua karena menikah dengan laki-laki yang dewasa?


Ghea menolak keras. Dia menyuruh Chacha untuk memanggilnya nama saja.


“Ck. Lo tunggu disini aja! Gak usah ikut masuk! Kalau boring, lo bisa nongkrong tuh di warung teda batagor yang ada di seberang jalan situ, tuh!” ghea menunjuk dengan wajahnya yang diikuti palingan dari wajah Chacha. “Tapi, saya …”


“Gue aman kali, Cha. Ini kan area sekolah, mana ada, sih yang berani jahat di tempat umum kaya gini?” Ghea menyela dengan cepat. Sebelumnya Pak Gery sudah memerintahkan apa-apa saja yang harus dilakukan Chacha.


Chacha yang harus menjaga Ghea selama di luar rumah. dan harus menemani Ghea di rumah juga sampai suaminya itu tiba di kediaman. Chacha yang tidak boleh lengah. Chacha yang harus terus ada di samping Ghea, dan Chacha yang harus memantau Ghea. Astaga, sejak kapan Pak Gery menjadi over posesif kayak gini?


Ghea hanya memutar bola matanya malas saat Chacha mulai mengulang kembali apa pesan dari Pak Gery.


“Udah, lo jangan dengerin kalau mas Gery ngoceh! lagi juga saat ini aman kok, Cha. Di kelas juga aman, karena Mas Gery yang jadi wali kelas gue. Ya? Lo tunggu aja di sini! Atau makan batagor dulu sana. Atau gak lo jalan-jalan ada dulu kemana kek gitu! Keliling Jakarta atau Monas gih, takut lo bosen mah nunggu gue sampai sore. Nanti gue telepon deh kalau udah bubar. Ya, Cha? Mana sini bagi nomor hape lo!” Ghea memberikan handphonenya pada Chacha agar ia mencatat nomor handphonenya sendiri di hape Ghea.


“Oke. Gue keluar dulu, Cha! Hati-hati lo betewe sama anak-anak cowok di sekolah ini. Mereka serem-serem. Takutnya lo ada yang goda, soalnya mereka paling demen sama tante-tante kaya lo. Hahaha …” gelaknya setengah bercanda lalu tanpa dosa keluar dari mobil.


“Tante-tante? Emang gue udah setua itu? Astaga--” Chacha menoleh saat mendengar kaca mobil di sebelahnya diketuk dari luar. Lalu Chacha menekan tombol kecil untuk membuka kaca jendela mobil.


“Oya, Cha. Awas lo nanti lupa sama yang tadi gue minta sama lo, ya!”


chacha sedikit mengerutkan keningnya guna mengingat apa yang dimaksud Ghea. “Oh, beres. Gak bakal lupa kok.” jawabnya saat ingat dengan permintaan Ghea sewaktu tadi di lampu merah.


Ghea berjalan santai seperti biasanya. Namun langkahnya terhenti ketika seseorang menghalangi jalannya untuk masuk ke dalam kelas. Ghea memutar bola matanya jengah. Yura yang menghadang Ghea.


“Apaan, sih, lo? Minggir sono! Ngalangin jalan gue tahu gak, sih?” sengit Ghea acuh bersama nada dan tampang jutek di wajahnya.


Yura mengedik santai. Pun dengan bibir yang ia lengkungkan ke bawah seakan mencibirnya. “Ck, calm down! Masih pagi, jangan marah-marah napa. Nanti cantiknya luntur lagi.” Yura terkekeh memainkan rambut gelombangnya yang ia cat sedikit berwarna coklat tua. Kemudian mendekatkan mulutnya pada telinga Ghea. “Gimana? Enak malam pertamanya?” Yura berbisik. Menarik wajahnya sebelum ia kembali berlalu dengan acuh dari hadapan Ghea.


seketika Ghea tercengang. Membulatkan matanya sempurna dan baru sadar setelah Yura sudah tidak ada. “Anjirrrr, Yura tahu? Omaygaattt, gak mungkin cewek itu tahu.” Panik kini lebih mendominasi dirinya. Rasa takut pun lebih menguar dari pada rasa takut kemarin saat ia mendapatkan teror.


“Ghe, ngapa dah lo diem mulu disitu? Gak tahan mau beranak lo?” Tama sang ketua kelas menegur sebelum ia selalu berhasil meledeknya.


“Eh, si oneng bilang gue kuda. Lo taiknya.”


“Diem deh! Lagi gak mood gue ajak lo debat. Besok-besok aja deh!” sahut Ghea tanpa menoleh pada Tama yang berada duduk di belakangnya.


Tama bangkit lalu bersandar pada meja kosong di samping Ghea. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. “Tumben amat, Neng? Kenapa lo? Lagi patah jantung, ya? Sini-sini abang tambal mau gak?” ledek Tama yang tidak mendapat tanggapan apapun dari cewek yang sedang ia ajak guyon. “Elahhh, Neng. Atau mau abang cokel jantungnya biar diganti sama jantung kuda. Biar lo gak patah--”


“Guys guys guysssssssssss … ada berita hoboooohhhh cuyyyy …”


Kalimat Tama tertelan karena suara melengking dari seorang cowok teman sekelas yang jeritannya melebihi suara dari lady rocker Nicky Astria. Ghea tidak peduli pada cowok yang datang-datang langsung membuat kehebohan itu. Ia lebih asyik dengan dirinya sendiri yang duduk di kursi kelas. Apalagi feelingnya yang sedang badmood karena kalimat Yura yang menyebalkan tadi.


“Paan, taik?” Dan satu toyoran pun Tama berikan pada teman sekelasnya itu. “Datang-datang buat gempa aja lo,” sahut Tama yang masih tidak beranjak dari posisi awalnya.


“Ck, gilaaa … ini gila guysss. Lebih gila dari orang gila.” Masih dengan kehebohannya, cowok itu mendekap kedua tangannya di atas dada seraya ekspresi wajahnya yang berbinar.


“Paan dah? Belibet banget lo jadi cowok.” Timpal salah satu teman kelas yang lain yang mulai penasaran dengan kabar dari cowok heboh itu.


“AAahhhh … pokoknya nih ya guys. Lo semua mak-mak olshop terutama, gue saranin kagak usah berharap lebih lagi bisa jalan atau apalah-apalah itu sama Pak Gery.”


Mendengar nama sang suami disebut membuat wajah Ghea menoleh refleks. Ia menatap penasaran pada cowok itu dengan wajah cengo. Emang ada apa dengan suaminya itu?


“Emang kenapa cuy?” tanya salah satu cewek yang masuk dalam fansclubnya Pak Gery.


“Lo semua perlu tahu ya mak-mak olshop. Pak Gery … dia itu …”


“Elaahh, buru napa ngomongnya. Kaya orang gagu aja lo!” Bukan salah satu dari mereka para cewek-cewek yang ada di dalam kelas saja yang merasa penasaran. Tapi dengan Ghea juga, ia pun sama halnya dengan mereka. Penasaran.


“gosip Pak Gery yang udah nikah itu bener cuy.”


Kontan mata Ghea membulat sempurna. Ia tersentak. Kaget, bukan lagi. Mendadak cewek itu jadi salah tingkah. Ia menggeram dalam hati. Kenapa bisa? Kenapa bisa pernikahannya cepat tersebar begitu saja? Ghea diam. Ia mengusap pelipis dengan tangannya. Hawa panas pun mendadak datang di sekujur tubuh.


“Dan yang lebih parah dan heboh lagi, nih, ya. Pak Gery …”


TBC


Elahhh tuh pada ngeributin paan dah? wkwk Betewe aku mau up lagi kalau likenya banyak dan komen tambah penasarannya banyak juga. ahahah maaf deh aku banyak maunye. Gak papa yekannn?


Salam silaturahmi


dari seizy si penulis amatiran yang punya tubuh kecil pengen gendut.