
.
.
.
Sementara di lain tempat kini Keland dan Melisa tampak duduk berhadapan di ruangan pria itu. Seketika bulu kuduk Melisa merinding, sepertinya aura menyeramkan dari Keland sangat mendominasi seperti atmosfir yang bisa membuatnya mati saat ini juga.
"Kali ini bagaimana aku harus menghukummu?" pertanyaan Keland yang membut Melisa tertunduk.
"Jangan menunduk dan tatap saya saat bicara" perintah Keland membuat Melisa kembali menegakkan kepalanya meskipun dengan gemetar.
Keland beranjak dari kursinya kemudian memutar menuju kursi Melisa dan memutar kursi gadis itu menghadap padanya kemudian meletakkan kedua tangannya masing-masing di pinggiran kursi kemudian menundukkan kepalanya mendekat pada Melisa, dan hal itu berhasil membuat jantung Melisa marathon sangat kuat.
Ia tak tau apa yang terjadi pada jantungnya yang jelas saat ini ia sangat gugup luar biasa. Ini bukan gugup seperti ketakutan yang biasa ia rasakan tapi gugup yang tak dapat ia mengerti.
"Sepertinya cara belajar mu terlalu santai selama ini. Ingat sebentar lagi kau adalah tanggung jawabku. Dan saat itu terjadi, maka aku akan menerapkan padamu cara belajar yang sebenarnya itu seperti apa. Jika kau terus begini... akan jadi apa kau dimasa depan? Apa kau akan terus jadi wanita yang akan ketergantungan pada suami tanpa bisa mandiri? Sebenarnya aku tak mempermasalahkannya, hanya saja nanti kau akan mengerti sendiri saat itu terjadi" jelas Keland membuat Melisa diam mencerna ucapan pria itu. Dia tersipu saat ingat kata kata Keland yang mengatakan ia menjadi tanggung jawab pria itu nanti, ohh sangat gentle sekali dia, aishhhhh.... apa coba yang ia fikirkan?
Dan hal yang bisa ia simak adalah Keland suka wanita yang mandiri, baiklah ia akan jadi mandiri.... ekhh tunggu dulu, mengapa ia jadi ingin mandiri karna pria itu suka wanita mandiri? Aishhh...terserahlah pria itu mau suka wanita seperti apa, Melisa ya Melisa... ia tak butuh menjadi orang lain. Ia ingin jadi dirinya sendiri saja walaupun pria itu tak suka ia tak perduli.
"Melisa mengapa kau tak mengerjakan tugas itu?" Tanya Keland membuat Melisa kesal. Pria itu selalu saja menekannya. Ia tak sadar apa posisi Melisa yang serba terjepit?
"Pak, sa..saya ingin mengerjakannya tapi saat itu keluarga bapak datang ke rumah saya dan baru beranjak sangat malam, ketika semuanya sudah selesai, saya benar-benar kecapean pak sampe ketiduran. Seharian itu adalah masa berat bagi saya pak, dan itu semua karna bapak. Saya banyak berfikir hari itu hingga saya lupa tugas itu. Dan lagi... jikapun saya ingat, dengan otak saya yang serba pas-pas an bagaimana mungkin saya bisa mengerjakan soal sebanyak itu dalam satu malam? Sementara siangnya bapak menghukum saya di luar dan saya tidak mendengarkan penjelasan bapak sama sekali" kini Melisa meluapkan semua isi fikirannya yang selama seminggu ini nyangkut di otaknya membuatnya suntuk karna memikirkannya.
"Setidaknya kau mempunyai keinginan untuk mencoba"
"Saya pasti akan mencoba kalau saya ingat. Saya pasti akan mengerjakannya walaupun semua itu salah daripada saya kena hukum. Tapi saya benar-benar lupa pak. Hari itu hari yang berat hingga saya kelelahan" jelas Melisa membuat Keland mengerti. Sepertinya memang hari itu Melisa terlalu banyak tekanan.
Ia tau pasti melisa tertekan karna harus menikah di usianya yang muda. Seharusnya ia masih bermain bersama teman-temannya saat ini. Keland mencoba mengerti.
"Baiklah... karna hari itu saya tau alasan kamu memang cukup nyata maka saya membebaskan kamu kali ini. Tapi jangan harap untuk selanjutnya" ucap Keland membuat Melisa tersenyum senang.
"Makasih banyak pak" ucapnya sumringah yang entah mengapa senyum itu menggetarkan hati Keland. Pria itu merasa senang saat melihat Melisa bahagia seperti itu entah apa alasannya ia pun tak tau.
"Oh yah pak, terus bagaimana tugas minggu depan? Kan hari itu juga saya tidak masuk, apa saya akan di hukum?" Tanya Melisa setelah ingat tugas yang itu.
"Hari itu kau berikan surat izin ke sekolah, berarti kau memang tidak masuk. Jadi kau bebas dari hukuman. Tapi nilai mu akan ketinggalan banyak point nya dibandingkan teman mu. Kau sudah ketinggalan 2 nilai tugas dariku" jelas Keland membuat melisa meringis. Mengapa peraturan Keland membuat nilai terlalu ketat seperti wajahnya yang ketat? Sangat membuat pusing, kalau begini peringkatnya yang sudah hampir di ujung tanduk itu akan semakin ke ujung kalau begitu.
"Kau harus mengejar ketertinggalanmu, kali ini aku mau kau akan memperoleh peringkat yang lebih bagus dari biasanya. Aku mau kau mengejar setidaknya 5 besar dikelasmu" ucap keland berhasil membuat Melisa membelalak kaget. Bagaimana bisa 5 besar? Bertahan saja ia fikir ia tak akan mampu. Sekarang Keland mengatakan 5 besar dengan sangat gampang seakan hal itu adalah hal yang mudah semudah menjentikkan jari. Melisa tak yakin dengan kemampuannya. Di kelas nya persaingan itu sangat berat. Keland memang sudah mengacaukan ketenangan hidupnya.
"P..pak itu...saya kira...saya tidak mampu...saya itu peringkat 23 pak, dan itu sangat jauh" ujar Melisa sambil menunduk takut. Sementara Keland berdecak kesal. Gadis itu belum mencoba tapi sudah menyerah.
"Bagaimana bisa pak? Bapak kan hanya mengajar matematika, kalaupun nilai saya tinggi disana belum tentu kan nilai mata pelajaran lain saya mampu"
"Saya akan membantu mengajari kamu di semua mata pelajaran, apapun" kata Keland menegaskan membuat Melisa terkejut. Bagaimana bisa?? Keland sejenius itu kah bisa semuanya?
"Tapi...bagaimana bisa..bapak kan, guru matematika" ucap melisa terbata-bata takut membuat Keland marah.
"Jadi apa kau kira aku memang guru matematika?" Melisa mengangguk membuat Keland mendengus.
Sepertinya ia perlu menjelaskan itu pada Melisa, bagaimanapun sebentar lagi mereka akan menikah.
"Melisa, sebanarnya saya bukan seorang guru" Melisa semakin membelalak kaget.
"La..lalu..?"
"Saya itu sekarang pemegang perusahaan papah saya. Tempat ayah kamu bekerja. Dan sebentar lagi ayah kamu akan pensiun, dan saya akan menggantikannya. Sementara itu, saya ditugaskan untuk mengawasi perkembangan sekolah ini. Sekolah ini juga milik keluarga saya. Jadi saya harus turut andil dalam bertanggung jawab sebelum adik saya yang akan memegang kendali sekolah ini nanti.." jelas Keland jeda sedikit membuat rasa penasaran Melisa semakin menjadi. Ia sangat terkejut luar biasa di usia yang semuda ini Keland memikul banyak sekali tanggung jawab. Dan ia juga baru tau posisi Keland yang luar biasa di sekolah ini. Pantas saja ruangannya khusus.
"Saya tidak tau bagaimana cara mengawasinya, bagaimana cara kerja guru dan siswa di sekolah ini. Jadi saya memutuskan dengan cara ini saya akan tau dan bisa mengawasi pergerakan sekolah ini. Dan setelah saya perhatikan, memang sekarang sudah semakin kacau. Saya menemukan banyak guru yang tidak kompeten. Banyak yang mengabaikan peraturan-peraturan kecil contohnya berdoa dan mengucap salam pada guru. Banyak sekali hal-hal yang semakin mengacu ke dunia modern hingga lupa etika. Maka itu saya mau merubahnya" lanjut Keland membuat Melisa sekarang jadi mengerti.
"Dan kau adalah salah satu bukti kehancuran itu" ucap Keland menuduh Melisa membuat gadis tersebut seketika berdecak sebal. Bisa tidak pria itu tidak membuatnya kesal sehari saja.
"Terus...kalau bapak bukan guru, kenapa bapak sangat pintar mengajar matematikanya?" Tanya Melisa karna ia masih heran.
"Itu bukanlah hal yang sulit, saya juga bisa mengajarkan apa saja yang saya mau" jawab Keland membuat Melisa tercengang. Ternyata benar, guru sekaligus calon suaminya itu sangat jenius. Jadi ia akan menikahi orang jenius yang sialannya sangat tampan mirip sehun. Sempurna sekali seandainya ia tidak arogant.
"Lalu... Kalau sekolah ini milik keluarga bapak, kenapa adik bapak tidak sekolah disini?" Pertanyaan Melisa yang ini entah mengapa membuat Keland kesal luar biasa. Dan juga entah mengapa tiba-tiba ia tak menyukai panggilan Melisa padanya.
"Jangan panggil saya bapak mulai sekarang" jawab Keland melenceng dari pertanyaan.
"Hah, lalu saya panggil apa dong? Kan panggil nama tidak sopan pak? Lagian apa yang akan dikatakan murid lain nanti?"
"Panggil saja saya kak saat berdua atau tidak di sekolah. Dan saat disekolah seperti biasa saja. Umur kita tidak terlalu jauh dan saya bukan bapak-bapak" terlihat sekali kekesalan di wajah Keland dari nada bicaranya.
"Baiklah kak.." ucap Melisa gugup karna ia tak terbiasa.
"Tapi kakak belum menjawab pertanyaan saya tadi, kenapa Dirsya tidak sekolah disini?" Melisa hanya penasaran saja dan Keland kesal tapi ia tetap memilih menjawabnya.
....