Married With Teacher

Married With Teacher
Kecurigaan Reza


...Bakal gue buktiin kalau gue gak salah. Gue bukan sang pelaku yang udah nyebarin foto lo....


...Reza...


...****...


Reza menghempaskan tubuhnya ke atas kasur di dalam kamarnya. Melipat satu tangannya lalu ia jadikan alas belakang kepalanya bersama bola mata yang terus menatap plafon kamar. reza merasa bersalah pada Ghea. Apalagi saat bubar sekolah sebelum cewek itu pulang dengan Chacha, Ghea mengungkapkan rasa kecewanya pada Reza yang menurutnya sudah berkhianat.


"Gue gak nyangka sama lo, Rez. Tega lo nyebarin foto - foto itu di mading."


"Lo gak percaya sama gue, Ghe? Bukan gue orangnya. Lagian juga goto itu udah lo apus sendiri kan?"


"Tapi bisa jadi lo punya copyannya kan?"


"Astaga Ghe, lo gak percaya sama sahabat lo sendiri?"


"Terzerah! Tapi makasih btw, berkat masalah ini gue jadi bisa berpikir secara dewasa."


"Aahhhh …"


Reza frustasi. Tubuhnya bangkit bersama tangannya yang mengepal lalu menghentakkannya ke atas kasur.


Reza harus cari tahu siapa yang udah nyebarin foto itu. Cowok itu tidak ingin persahabatannya dengan Ghea yang sudah terjalin sejak kecil menjadi kacau.


Selanjutnya Reza keluar dari kamarnya setelah merampas jaket yang tersampir di sandaran sofa. Reza harus ke suatu tempat untuk memastikan dan membuktikan pada Ghea jika dirinya bukan sang pelaku.


...****...


Sedangkan dengan Ghea sendiri. Cewek itu tengah menikmati perannya sebagai seorang istri. Ghea tidak ingin memikirkan kekecewaannya terhadap Reza.


Berdiri di depan kompor seraya kedua tangannya dengan cekatan mengiris wortel dan kol. Oh ya, tak lupa bawang daun dan daun seledri yang Ghea iris tipis-tipis. Dan jangan lupakan, di sebelah kirinya sebuah handphone yang dibiarkan menyala, memutar sebuah resep masakan dari salah satu aplikasi. Sesekali pandangan Ghea beralih pada video di handphonenya itu.


"Rajin banget, sih. Lagi mau bikin apaan, sih?" Seraya bertanya, tangan dilingkarkan ke leher Ghea.


"Hehe … aku lagi mau belajar masak. Mau coba buat bakwan. Nanti cobain ya!" Ungkapnya sembari menolehkan sedikit wajahnya untuk melihat bibir Pak Gery yang melengkung ke bawah. Juga kepala cowok itu yang naik turun.


"Ihhh … jangan diledek gitu dong, Mas. Puji kek istri lagi belajar masak itu." Ghea memutar tubuhnya setelah mem-pause video di handphone itu dan menyimpan pisau di atas talenan.


"Walau aku juga gak yakin sih sama rasanya bakal kaya gimana." Lalu bibir itu mengeluarkan kekehan kecil.


Pak Gery menurunkan tangannya dari bahu Ghea. Melangkah ke arah lemari kabinet dan mengambil dua cangkir di dalamnya. "Iya. Nanti dicobain," sahutnya. Menuangkan gula dan kopi ke dalam cangkir itu. Lalu menyeduhnya dengan air panas.


Ghea menarik sudut bibirnya. "Tapi nanti bilang ya kalau kurang apa bakwannya." Ghea kembali mengiris bahan-bahan sayur yang akan diolah menjadi bakwan. "Aku kan belum kaya kamu yang udah handal memasak."


Pak Gery mengaduk-ngaduk kopi itu. "Nanti juga kamu bakal lebih handal dari chef Juna." Dan kedua cangkir itu Pak Gery bawa. "Aku ke depan lagi ya. Nanti bawa bakwannya ke depan kalau udah matang!" Dikecup lah pipi Ghea itu sebelum Pak Gery berlalu dari dapur.


Karena di depan ada Adi yang sedang duduk menunggu. Entahlah kedua cowok itu hendak membicarakan apa.


"Ihh … Mas, jorok banget sih. Basah nih pipi aku." Ghea mengusap pipi dengan lengan kaos yang hanya menutupi sampai bahunya itu.


...****...


Suara ketukan pada daun pintu berwarna coklat tua. Sudah beberapa kali Reza melakukan itu namun tidak ada juga yang membukanya. Reza mendesah. Ia ambil handphone yang ada di dalam saku jaketnya sebelum kemudian mendial nomor sang pemilik rumah.


"Kemana sih nih anak?" Rutuknya saat telepon itu tidak juga ada dijawab.


Reza menghampiri. "Gue perlu ngomong sama lo, Yur."


Yura berdecih. Cewek itu sudah tahu maksud dari kedatangan Reza ke rumahnya ini. “Sorry, Rez, kalau lo mau ngomongin soal foto-foto Ghea yang tersebar di mading sekolah. Gue gak bisa. Gue capek.” Lantas Yura melangkah, namun tangannya segera Reza tahan. “Lo gak bisa karena lo yang udah nyebarin foto-foto itu kan?”


Yura memutar wajahnya lalu pandangannya saling bertemu dengan Reza. Dalam beberapa detik berlalu hanya hening yang mengambil alih. Sampai jantung Yura menyadarkannya saat bertemu dengan bola mata Reza tiba-tiba saja merasakan ada detakan yang aneh. Yura berdehem. Ia kembali menetralisirkan detakannya itu hingga kembali normal.


“Sumpah demi Tuhan, gue gak lakuin itu.” ada hela berat sebelum Yura melanjutkan kalimatnya. “Oke, gue jujur sama lo. Gue emang ada niatan buat nyebarin foto Ghea sama Pak Gery saat gue ambil foto itu dari handphone lo. Tapi itu--”


“Bener kan. Lo pelakunya. Lo harus jelasin ini sama Ghea, biar dia gak salah paham sama gue.” Ditariklah tangan Yura yang masih dipegang Reza.


“Rez …, Rez, lo apaan sih. Udah gue bilang, bukan gue pelakunya. Lagi juga udah gue hapus itu foto sejak lama.” Yura berusaha melepaskan tangannya yang dicekal. “Sakit, Rez.” keluhnya dan itu benar karena Reza mencekal tangan Yura dengan kuat.


“Gue gak percaya sama lo. Secara lo benci banget kan sama Ghea. Dua hari yang lalu juga lo ngancam Ghea kan? Lo niat mau adu domba gue, Ocy dan Ghea, kan? Terus kalau bukan lo yang nyebarin foto-foto itu, siapa? Hantu? Heuh”


Rasanya Yura ingin tergelak mendengar kata terakhir yang keluar dari mulut Reza. Hantu. Mana ada?


“Gue bukan benci sama Ghea. Gue gak suka aja, Rez, sama Ghea.” Yura menghela. “Oke. kemarin itu gue emang sempet ngancam Ghea. Tapi itu gue cuma ngegertak aja. Jujur, gue juga denger pas waktu Ghea jujur sama Ocy kalau dia udah married, tapi, Rez … gue gak sejahat dan sepicik itu buat nyebarin foto-foto Ghea sama Pak Gery.”


“Terserah lo sih ya. Gue tahu lo gak bakal percaya sama gue.” Aneh, saat mengatakan kalimat demikian, tiba-tiba saja ada rasa sesak yang menyusup ke dalam rongga dadanya. Entah kenapa, Yura ingin sekali kalau Reza mempercayainya.


“Tapi lo pikir aja dengan logika lo, Rez! Foto yang lo ambil itu dari sebelah kiri kan? Tepat wajah Pak Gery yang lo ambil dan wajah Ghea gak begitu kelihatan. Gue masih inget posisi foto yang lo ambil itu.”


Reza mengingat saat ia mengambil foto itu. Dan Reza membenarkan apa yang dikatakan Yura. “Terus?”


“Sedangkan foto yang tersebar di mading itu, wajah Pak Gery dan wajah Ghea jelas banget kelihatan. Dan itu seperti gambar yang diambil dari depan.”


“Heeuh. lalu?” Reza membolakan matanya. Menatap Yura. Apa pikiran Reza kini sependapat dengannya?


“Jadi maksud lo …?” Reza tidak percaya.


Yura mengangguk. “Gue yakin, sepertinya ada orang lain yang mengambil foto itu selain lo, Rez.”


“Shit!”


“Gue bakal bantu lo buat cari tahu siapa pelakunya.” Kenapa tiba-tiba lindah Yura mengatakan hal demikian. Entahlah, Yura pun gak ngerti dan ia juga merasa aneh. Kenapa bisa? Dia kan gak suka sama Ghea.


“Lo serius?” tanya Reza menatapnya tidak percaya. Lalu saat kedua tangannya menyentuh bahu Yura tiba-tiba saja ia merasakan hal yang aneh.


“Ekhemm …” Itu Yura yang berdehem.


“sorry,” ucap Reza seraya menurunkan kedua tangannya dari bahu Yura sebelum ia mengusap tengkuknya canggung.


...TBC...


Maaf baru update lagi gengsss ...


Seizy


Si penulis rengginang yang lagi goreng bakwan. hihii.


Ada yang mau gak????