Married With Teacher

Married With Teacher
Pagi Yang Berbeda


“Ooh jadi kamu orang yang diminta Adi untuk menjaga Ghea?”


“Iya, Pak.”


Setelah tadi cewek itu sempat menjelaskan siapa dirinya dan mengapa pagi-pagi bertamu ke rumah Pak Gery. Kini cewek itu dan Pak Gery duduk di sofa ruang tamu. sedangkan Ghea berdiri di samping Pak Gery bersama wajahnya yang merah karena malu sempat menuduh cewek itu sebagai selingkuhannya Pak Gery. Walau dalam hati, sih. Tapi tetap aja kan Ghea menuduh yang bukan-bukan.


“Nama kamu tadi siapa?” tanya Pak Gery yang lupa lagi. Padahal tadi cewek itu sudah memperkenalkan diri.


“Chacha, Pak,” jawabnya dengan senyum simpul.


“Oh, oke, Cha. Tugas kamu adalah menjaga Ghea. Menemani Ghea dan … eum, apa kamu bisa nyetir?”


“Bisa, Pak.”


“Sudah punya SIM, kan?”


“sudah, Pak.” Cewek bernama Chacha itu menjawab dengan santai walau nadanya agak sedikit kaku. Mungkin Chacha hanya ingin menghargai Pak Gery yang sekarang resmi mulai menjadi bosnya. Dan menjaga sikap profesionalnya dalam bekerja.


Pak Gery menaik turunkan kepalanya. “oke. Bagus kalau gitu. Biar kamu sekaligus bisa menjadi supirnya Ghea.”


Wajah Chacha refleks mendongak bersama dahinya yang bertaut. Ia ingin protes tapi….


“Mas, kamu mau jadiin Chacha ini sebagai bodyguard aku apa supir aku, sih?”


Dan akhirnya apa yang ingin diproteskan Chacha sudah Ghea wakili.


“Dua-duanya!” Pak Gery menjawab dengan santai. Seperti biasa, ekspresi wajahnya datar, dan tanpa dosa.


Ghea hanya mampu berdecak. Ia tidak bisa protes dan menolak lagi saat suaminya itu memintanya untuk memakai bodyguard. Apalagi bodyguardnya itu sudah ada di depan mata dan sudah diterima. Tapi it's oke. Ini bisa dimanfaatkan Ghea agar Chacha membantunya mencari tahu apa yang Pak Gery sembunyikan darinya. Lantas Ghea tersenyum smirk.


“Tapi kamu sudah jago kan bela dirinya?” Tiba-tiba Pak Gery bertanya demikian. Ghea ingin tergelak. Begitu juga dengan Chacha yang mampu melipat kedua bibirnya ke dalam.


“Fffpppptttt …” Rasanya Ghea tidak bisa menahan tawanya. Sampai suara itu keluar dari bibirnya yang terlipat.


Pak Gery menoleh pada Ghea yang sekarang duduk di tangan sofa samping Pak Gery. Wajah cowok itu sedikit mendongak untuk mencapai wajah Ghea. “Kenapa?” tanyanya yang seperti orang bodoh. Lagian pertanyaan Pak Gery aneh. Orang yang bekerja sebagai bodyguard ya salah satunya harus jago beladiri dong.


Ghea mengibaskan kedua tangannya sembari tersenyum jenaka. “Nggak …, nggak kenapa-napa. Emang kenapa, Mas?”


Pak Gery heran. Kenapa Ghea malah balik bertanya. “Nggak!” Lalu kembali berpaling pada Chacha.


Chacha yang meletakkan jari telunjuknya di bawah hidung, refleks kembali menegakkan punggungnya saat Pak Gery menatapnya dengan tatapan intens dan serius.


“Ada apa?” tanya Pak Gery yang tentunya mengarah pada Chacha.


Kepala Chacha menegak. “Tidak, Pak!”


“Kamu belum jawab pertanyaan saya.”


“Yang mana, ya, Pak?”


“Ck. Kamu--”


“Udah lah, Mas. Pertanyaan kamu itu aneh.” Ghea menyela membuat tatapan Pak Gery dan Chacha mengarah padanya. “Lagi pula. kalau Chacha bekerja sebagai bodyguard, tentu dia udah tahu jurus-jurus beladiri. Emangnya kamu?”


“Aku? Kenapa aku?” Pak Gery bertanya bodoh.


“Udah, ah, lupain aja!” Lalu Ghea melihat arloji mungil kesayangannya yang berwarna perak yang melingkar di pergelangan tangan kiri. “Aku udah telat mau berangkat sekarang aja. Yang ada nanti aku kena semprot lagi sama guru killer yang kalau ngehukum itu gak ngira,” kata Ghea sembari beranjak dari duduknya. Lalu melangkah ke arah meja makan, dimana tas sekolahnya tersimpan di kursi makan.


“Maksud kamu siapa guru killer?”


Eh. Ghea berbalik. Ia kira Pak Gery gak mengikutinya. Ternyata cowok itu sudah ada di belakang punggungnya saja.


“I-itu … Pak-Pak …” Ghea mendadak jadi gugup. Pak Gery, sih, ngagetin aja.


“Siapa? Hem?” Pak Gery semakin menyudutkan Ghea. Pun punggung Ghea kini menyentuh meja makan. Ia mendadak gugup saat tangan Pak Gery menarik pinggangnya. “Siapa?” tanya Pak Gery sekali lagi. Kali ini ia tarik pinggang itu untuk lebih dekat. Sampai saling bersentuhan dengan perut Pak Gery. Seketika Ghea dapat merasakan otot-otot perut yang menonjol di sana. Ghea semakin gugup. Astaga, padahal ini kan bukan apa-apa. Bukannya Ghea sudah biasa, ya, dekat seperti ini dengan Pak Gery? Malah lebih dari dekat.


“I-itu … Pak Ghani,” jawab Ghea. Padahal guru killer yang Ghea maksud bukan Pak Ghani. Tapi suaminya sendiri. Pak Ghani mah masih bisa Ghea kibuli. Beda dengan guru yang menjadi suaminya ini. Boro-boro dikibuli. Sekalinya Ghea beralasan saat dikasih tugas pun, susah banget. Ck. Nyebelin.


Ghea mengangguk cepat. “Hooh.”


“Bukan aku?”


“Iya!” Eh Ghea keceplosan. refleks ia menutup mulut dengan kedua tangannya. Pak Gery lalu tersenyum smirk. “Eh bukan!” kilahnya dengan cepat.


“Ah, udah, ah, aku udah telat. Itu Chacha juga kasihan nunggu. Bukannya dia udah mulai jagain akunya hari ini, ya?” Ghea melepaskan tangan Pak Gery yang melingkar di pinggangnya. Pak hanya terkekeh saja. Lucu mungkin dipikirnya.


“Eh, salim dulu sama suami!” titahnya seraya memberikan telapak tangannya pada Ghea untuk disalami saat Ghea baru saja memutar tubuhnya.


“Ck. Nyebelin!” celetuknya kesal kembali berbalik pada Pak Gery. Namun, tak juga untuk ia menyambut tangan Pak Gery lalu menciumnya. “Aku duluan.”


“Eh tunggu!” Pak Gery menarik tali tas Ghea yang sudah tersampir di bahunya.


Ghea menarik nafas dalam-dalam lalu ia embuskan dengan pelan. “Apalagi, Mas Gery?” tanyanya namun menekan.


“Cium dulu!” Pak Gery menunjuk bibirnya dengan jari telunjuknya sendiri.


“Astaga, Mas … aku bisa telat ini.”


“Ya, ayo, makanya cium dulu. Baru berangkat!”


Ghea tidak bisa jika dia tidak memutar bola matanya malas bersama embusan nafasnya yang kasar. Astaga … sejak kapan, sih, Pak Gerynya ini berubah jadi menyebalkan kaya gini?


CUP


“Udah!” katanya saat Ghea menjauhkan bibirnya dari pipi Pak Gery.


“Belum. Aku kan nyuruh kamu buat cium disini,” menunjuk bibirnya sendiri. “Bukan di pipi, Ghe.”


Sabar, Ghea, sabar!


Menurut. Mungkin itu kata yang baik agar lebih cepat pergi ke sekolah.


CUP


Pun Ghea menurut. Ia mencium bibir Pak gery sekilas. Namun, saat ia akan menjauhkan bibir dari bibirnya, Pak Gery justru menahan tengkuknya. Menekan tengkuk leher Ghea dan sekarang Pak Gery malah melumaat bibir Ghea. Lama.


Dasar!


Bisanya mencari alasan aja.


Tuh benak kan, jika Ghea tidak bisa mengibuli Pak Gery, justru Ghea selalu berhasil Pak Gery kibuli.


Hanya beberapa detik saja Pak Gery saling menautkan bibirnya. Setelahnya terlepas, Ghea memukul bahu sang suami yang ditanggapi kekehan darinya.


“Ihhh, Mas Gery, lipstick aku jadi meluber kemana-mana ini. Astaga jahat banget.” Ghea menggerutu sambil mengelap bibirnya dengan telapak tangan.


“Sengaja,” jawab Pak Gery. Tanpa dosa ia malah memakan roti yang masih tersisa setengah di atas piring.


Ghea membuka rahangnya. “Sengaja?”


“Iya. Aku gak suka kamu pakai-pakai yang kaya gituan ah,” ungkap Pak Gery dengan mulut yang penuh dengan roti. Lalu menoleh pada Ghea yang terlihat kesal. “Cantikan juga yang alami kayak sekarang ini,” sahut Pak Gery setelah menelan roti di dalam mulutnya. Kemudian mengusap bibir Ghea dengan jari jempol. “Lebih kelihatan natural. Lagi pula bibir kamu tanpa memakai lipstik juga udah cantik. Banget malah.”


Oh ya ampun … dari mana suami Ghea ini belajar kalimat manis seperti itu? Mendadak tubuh Ghea menegang.


“Ya udah, gih, berangkat. Jangan sampai telat! Nanti aku hukum kamu loh!” Saat melihat Ghea yang hanya diam mematung.


Setelah mendengar kalimat Pak Gery yang terakhir, Ghea tersadar dan buru-buru memutar tubuhnya. Ghea setengah berlari. Bukan karena takut akan telat dan berakhir dengan hukuman dari Pak Gery. Tapi Ghea ingin menghindar. Mendadak Ghea malu pada suaminya itu.


Seakan lupa dengan pembicaraannya semalam dengan Pak Gery, Ghea merasa pagi ini sangat berbeda.


TBC


Please deh kalean yang udah nyasar. Jika udah baca jangan lupa tekan jempolnya. gratisss ini beb. Karena satu dukungan dari kalean buat aku tambah semangat. wkwkwkk aku pengen nangis tahu. Mau ngeluh tapi gak harus kan? Hahaha