Married With Teacher

Married With Teacher
Malam Jum'at Dan Sunah Rosul


"Bukan!"


"Bukan Mama saya, tapi istri saya."


Degh!


Seperti ada bongkahan batu yang sengaja dilempar ke dada Bu Nobi, itu mendadak Bu Novi kena serangan jantung. Tubuhnya limbung ke belakang. Kepalanya juga mendadak pusing.


"Eh-eh, Bu Novi kenapa? Gak papa, Bu?" Ghea pun memegang kedua bahu Bu Novi refleks.


"Istri? Pak Gery sudah menikah?" Eh bukannya menjawab pertanyaan Ghea, guru yang terkenal judes itu malah menjatuhkan pertanyaan pada Pak Gery. Nyesel kan jadinya Ghea nolongin. Tau gitu mending biarin aja tadi Bu Novi jatuh. Ck!


"Iya." Pak Gery menjawab jujur. Seperti biasa, datar dan santai.


"Kapan?" Bu Novi memaksakan dirinya untuk tersenyum. Jari-jemarinya tertaut bersama keringat dingin yang bercampur di sana.


Ghea sendiri pun sudah merasa deg-degan. Ia takut jika Pak Gery mengatakan hal yang sejujurnya pada Bu Novi. Ghea, sih, oke gak papa. Tapi takut juga jika Bu Novi tau yang menjadi istri Pak Gery itu adalah dirinya. Entah macam takut seperti apa. Tapi banyak yang Ghea pikirkan setelahnya.


Sekolahnya?


Bagaimana kalau dia di DO? Terus Pak Gery? Gimana kalau suaminya itu juga dipecat? Terus pendidikan Ghea, impian Ghea? Gimana coba kalau semua itu terbongkar?


Ghea kan tidak tahu alasan pastinya Pak Gery bisa mengajar di sekolahnya. Yang Ghea tahu, walau Pak Gery penerus kekayaan dan perusahaan Papa Dika, dipikirnya semua belum diberikan secara resmi pada Pak Gery. Dipikir Ghea juga Pak Gery menjadi guru itu adalah pekerjaan utamanya. Mereka kan jarang mengobrol soal masalah itu. Ah, boro-boro ngobrol masalahnya kekayaan atau sejenisnya, ngobrol tentang diri mereka saja tidak. Iya kan?


Selain itu juga satu sekolahan pasti bakalan nyangka yang nggak-nggak lagi. Walau Ghea gak terlalu peduli sama anak-anak satu sekolah. Yang ia pedulikan hanya sekolah dan suaminya saja bagaimana?


Ah, kenapa Ghea pusing sendiri mikirinnya, ya?


Lalu Ghea menoleh pada Pak Gery yang kebetulan juga tengah menoleh padanya. Dalam hitungan detik keduanya saling bertukar pandang. Bertemu dalam satu gadis lurus.


Ghea berharap Pak Gery tidak akan lupa dengan poin yang ia buat sendiri.


"Tiga hari yang lalu," jawabnya.


Bu Novi menelan salivanya kelat. Jantungnya semakin sakit. "Pas kemarin Bapak gak masuk? Itu-"


"Iya. Saya cuti karena pernikahan saya." Pak Gery segera menyela. Seakan cowok itu tau apa yang akan ditanyakan oleh Bu Novi.


"Kalau boleh saya tahu Pak Gery menikah dengan siapa?"


Ghea membelalakan matanya refleks. Pertanyaan Bu Novi sudah menjurus pada kehidupan pribadi Pak Gery. Lagi pula jika sudah tahu memangnya guru itu mau apa?


Ghea melirik lagi ke arah Pak Gery yang masih menampilkan ekspresi datarnya. Sepertinya cowok itu saat lahir tidak dikasih gula sama Mama Dian, sampai senyumnya pun sangat langka.


Pak Gery menarik alis sebelah kirinya. Aneh juga. Ngapain Bu Novi melempar pertanyaan demikian padanya? "Dia-"


Teettttttt


Ghea menghela nafas lega. Matanya terpejam sesaat bersama bahunya yang turun. Seolah dia bereaksi itu menunjukan 'aman' untuknya.


Untung saja bel masuk sudah berbunyi lagi. Kalau tidak bisa-bisa Pak Gery nekat mengatakan jika 'ini istri saya'. Bisa mampuus juga kan Ghea?


Mata Pak Gery menoleh ke arah pengeras suara yang terpasang di langit-langit sekolah. Suara itu bagaikan penyelamatnya dari pertanyaan Bu Novi.


Namun, berbeda. Bu Novi kesal. Kenapa bel masuk harus berbunyi disaat waktu yang tidak tepat, sih? Kan dia jadi gak bisa tahu siapa istri Pak Gery itu.


"Maaf, saya ada ulangan di kelas. Permisi." Pamit Pak Gery. Meninggalkan Bu Novi yang bergeming. Juga Ghea bersama perasaannya yang tidak karuan.


Bu Novi menghela. Air matanya yang sudah menggenang di pelupuk seakan tidak bisa lagi dibendung. Ghea jadi gak tega lihatnya. Dan Ghea bisa lihat jika Bu Novi patah hati mendengar Pak Gery sudah menikah. Uh, kasihan juga, ya, Bu Novi.


**


Di dalam Kelas.


Sungguh profesional banget, sih, guru itu. Pantas saja Pak Gery selain dijuluki dewa ketampanan di sekolah, ia juga dijuluki dewa es yang berasal dari kutub utara. Sikapnya dingin dan semuanya harus terlihat perfect. Tapi semua sikap yang Pak Gery tunjukan itu tidak juga merubah pandangan anak-anak cewek menjadi ilfeel padanya. Dan itu justru menjadi ciri khas tersendiri untuknya. Dan malah lebih parahnya tuh ada, loh, murid cewek dari kelas fisika yang membentuk sebuah club fansnya Pak Gery.


Ghea juga tahu soal itu. Tapi dia mah bodo amat lah sama urusan begituan. Yang terpenting kan sekarang Pak Gery udah jadi miliknya. Dan sampai kapanpun akan tetap menjadi miliknya.


"Ekhem …" Pak Gery berdehem lagi. Dia masih berdiri di samping meja Ghea. Tapi, tuh, cewek belum nyadar juga. Sampai teman yang duduk disebelahnya menyenggol lengan Ghea pun, cewek itu hanya menoleh malas tanpa ada niatan untuk menyahut. Apalagi melirik ke lain arah saat teman sebangkunya memberi isyarat dengan matanya.


"Hem? Paan?" Eh itu Ghea bertanya malas. Wajahnya, serius kusut banget.


"Itu samping lo," beritahu teman sebangkunya dengan kedua alis yang bergerak-gerak.


Dan barulah Ghea menoleh. Dengan gerakan pelan. Kepalanya mendongak. Melihat tubuh jangkung Pak Gery tepat ada di sana sedang menatapnya horor. Ghea cengengesan. Tidak sengaja juga pulpen yang sedang ia putar-putar terlempar karena refleks. Ghea kaget. Serem juga melihat mata Pak Gery yang seakan mau menggelinding ke lantai.


"Soal ulangan kamu saya tambah dua kali lipat!"


Tanpa basa-basi. Asal celetuk aja Pak Gery ngomong. Auto, Ghea membelalakan matanya dong. Shock pastinya. Kertas yang baru saja di simpan di atas mejanya saja masih bersih belum Ghea isi. Ini sudah ditambah jadi dua kali lipat lagi. Ya ampun, tega banget Pak Gery ini, serius.


"Tapi-"


Pak Gery melengos. Tidak ingin mendengarkan komentar atau protesan dari Ghea. Ia melanjutkan lagi membagi kertas ulangannya.


"Awas aja lo, Mas, kalau nanti malam minta jatah malam jum'at. Gak bakal gue kasih. Biar sunah rosul sama angin aja sana." Ghea bergumam dalam hati. Perasaannya jelas sudah pasti dongkol.


**


Selesai ulangan di kelas, Pak Gery lebih dulu keluar sambil menenteng beberapa buku paket di tangannya. Setelahnya disusul oleh para murid yang sudah membereskan tasnya.


Berbeda dengan Ghea. Dari awal Pak Gery memberinya soal ulangan dua kali lipat itu, cewek itu tidak henti-hentinya mengumpat dalam hati. Mengutuki suaminya biar menjadi es aja sekalian.


"Dasar nyebelin. Awas aja. Gak aja malam jum'atan," gerutunya sambil memasukan peralatan tulisnya ke dalam tepak. Tanpa sadar pula Tama yang berada di belakang Ghea mendengarnya. Cowok itu mencuri dengar ocehan Ghea dengan alis yang tertaut.


Tama berdiri. Menyampirkan tasnya setelah menutup resleting. Yang sebelumnya ia memasukan peralatan tulisnya ke dalam sana. Lalu melangkah ke samping Ghea masih dengan wajah memberengutnya. Bibirnya pun masih bergerak-gerak ngoceh.


"Malam jum'atan? Sunah rosul? Kaya lo yang udah married aja, Ghe?"


Ghea tersentak. Kaget dengan wajah yang menoleh refleks. "Lo? Ngagetin gue aja, sumpah." Ghea menyahut dengan dramatis. "Jantungan gue, Tam. Asli, nih," ujarnya lagi sambil menyentuh dadanya yang memang benar-benar kaget. Bukan di ada-adain.


"Ya elah, lebay, lo, Ghe."


"Cius, nih, ah, gue kaget," kata Ghea. "Mau apa, sih, lo? Mau ngeledek gue karena dapat soal ulangan tambahan lagi? Ck, gak solid, deh." Dan tas yang resletingnya sudah tertutup ia sampirkan ke bahu kanannya.


"Kagak. Nanya gue. Lo udah married?"


Degh


Waduh, harus jawab apa Ghea? Bohong lagi gak papa kali, ya? Lagi juga ada apa, sih, dengan hari ini? Gak ke Pak Gery, gak ke Ghea ada aja yang nanya udah married. Kan nyebelin. Walau sebenarnya benar juga.


Ini juga kalau Ghea sadar, dianya aja yang ngoceh malam jum'at pake keras-keras. Jadinya Tama kan curiga.


Dipikir Tama apalagi tentang malam jum'at dan sunah rosul, kalau buka 'itu' yang selalu dilakukan oleh orang yang udah married. Tama mah tahu aja, pengalaman dia, tuh.


Eh, pengalaman orang tuanya yang suka ngomongin malam jum'at dan sunah rosul di rumah.


"Hahaha … bercanda aja lo, Tam. Mana mungkin? Kan gue masih sekolah." Ghea memukul bahu Tama pelan sambil tersenyum awakward.


"Terus ini?" tanya Tama. Ternyata Tama bertanya bukan karena mendengar celetukan Ghea. Namun, ia melihat sesuatu terpasang manis di jari manis Ghea.


TBC


Aku lagi kesel guys. Masa ini cerita naik level cuma dua hari doang. Dan ternyata pas aku tanya, kalau belum kontrak katanya emang gitu. Jadinya kan nyesek jantung daku ini.


Makanya man teman bantu naikin level lagi buat cerita ini. Biar akunya tambah semangat gitu. Komen like kali aja bisa naikin level cerita ini lagi. Sedih aku cius deh guys. Pen nangis.