Married With Teacher

Married With Teacher
Gara-gara Mengantar Batagor


Setengah jam sebelumnya.


Setelah Ghea berlalu masuk ke dalam gedung sekolah. Pun dengan Chacha yang turun dari balik kemudi. Merasa pasti akan bosan menunggu sang bu bos di dalam mobil saja sampai sekolah bubar, akhirnya Chacha memutuskan untuk ke warung tenda batagor Mang Asep yang diberi tahu Ghea. Penasaran juga akan rasa batagor yang Chacha lihat sangat ramai sekali oleh anak-anak sekolah maupun pengendara yang sengaja lewat lalu membeli batagor tersebut.


Chacha berjalan santai melewati banyak pasang mata yang tengah mengarah padanya. Penampilannya yang berbeda menarik perhatian setiap pasang mata itu. Rambut panjang yang dikuncir ekor kuda. Jaket kulit hitam pekat dan celana jeans berwarna hitam panjang, tak lupa kacamata hitam yang ia kenakan sambil berjalan sebelum kemudian kedua tangan ia kantongi ke dalam saku jaketnya. Menarik sekali bukan? Ciri khas seorang bodyguard benar-benar melekat pada diri Chacha. Tak banyak juga dari anak-anak cowok yang masih stay di parkiran menyiul dirinya. Namun, Chacha tak menggubris. Bodo amat. Dalam hati ia bergidik ngeri. Benar yang dikatakan Ghea padanya sebelum cewek itu berlalu.


“Batagornya, Neng?” Sesampainya Chacha di warung tenda batagor itu. Mang Asep menoleh padanya, kedua tangannya sibuk memasukan beberapa potong batagor ke dalam plastik. Mungkin pesanan orang lain yang tentunya tidak untuk makan di tempat.


“Iya, Pak. Satu porsi aja, ya!” kata Chacha melepaskan kacamata hitam yang bertengger cantik di hidungnya.


Sesaat mang Asep terdiam heran melihat penampilan Chacha yang sedikit mematikan. Raut dingin namun dengan pembawaan wajahnya yang cantik. Bukan hanya Mang Asep saja yang terlihat seperti itu, pasang mata yang ada di dalam warung teda itu pun juga heran melihat siapa gerangan cewek yang berpenampilan berbeda namun waw.


Mang Asep memasukan beberapa bungkus batagor ke dalam plastik hitam sebelum ia menoleh dan menjawab, “i-iya, Neng.” Sedikit gugup. “Makan di sini, Neng atau dibungkus?”


“Di sini aja.”


Mang Asep mengangguk. “Sok atuh duduk dulu, Neng!”


Baru saja Chacha mendaratkan bokongnya di kursi plastik, suara besar menggema. “Kamu ngapain disini?” tanyanya. Refleks Chacha menolehkan wajahnya pada sumber suara itu, auto berdiri menghampiri.


“Ngapain disini?” Bertanya kembali bersama wajahnya yang tanpa ekspresi.


“Makan batagor.” Chacha menjawab.


Pak Gery hanya mengangguk samar. Lantas ia memesan batagor pada Mang Asep kemudian menyuruhnya untuk mengantarkan ke ruangan.


“Beres, Pak. Tapi agak telat, ya, Pak. Saya mau layani yang lebih dulu,” kata Mang Asep bersama tarikan di kedua sudut bibirnya ramah.


Kembali mengangguk. “Saya tunggu,” sahutnya lalu berlalu setelah sesaat menoleh pada Chacha yang dibalas anggukan kepala sopan dari cewek itu.


Merasakan enaknya makan batagor, Chacha membayar setelahnya. Mang Asep menerima uang lembar hijau dari tangan cantik itu, kemudian saat akan mengembalikan kembaliannya, Chacha menolak. “Ambil aja, Pak!” katanya mendorong telapak tangan Mang Asep.


“Eh, bener, nih, Neng?” Chacha mengangguk. “Makasih, deh, Neng kalau begitu.”


“Mang, buruan punya saya mana ih? Lama deh Mang Asep.” Serobot seorang cowok yang dari tadi menunggu pesanan yang belum Mang asep buatkan juga menggerutu tidak sabaran.


‘Sabar atuh! Kamu kemarinya belakangan. Jadi saya buatkannya juga belakangan. Ini saya mau anterin pesanan Pak guru ganteng dulu,” kata Mang Asep membalas protesan dari cowok tadi.


“Elah … Mang, bisa entaran aja gak? Keburu bel masuk, nih.”


“Gak bisa! Pak guru ganteng mah harus saya layani dengan on time. Udah bae banget soalnya dia itu.”


“Dikasih apaan dah si Mamang sampai harus on time segala? Lagian siapa, sih, Pak guru ganteng?”


“Itu, Pak guru ganteng yang suka bawa motor yang warna ijo itu tuh,” kata Mang Asep menuangkan bumbu ke atas batagor.


“Oh … itu Pak Gery. Elah gantengan gue kemana-mana kali, Mang. Udah buruan saya dulu aja, Mang! Lagian guru killer itu kagak ada disini juga, emang mau Mang Asep anterin kemana itu piring? Bungkusin buat gue dulu napa, Mang!” cowok itu terus saja menggerutu tidak sabar, padahal dia datang lebih akhir dari pelanggan yang lain. Dilayani malah minta duluan. Dasar anak jaman now.


“Ya ampun, gak sabaran pisan kamu mah. Lima menit. Saya antar ini dulu ke ruangan Pak guru ganteng."


“Gaya lu, Mang. Kek tau aja ruangannya dimana.”


“Tau atuh saya mah. Kan udah sering Pak guru ganteng itu pesan batagor di anterin kaya sekarang ini.” Mang Asep mengambil satu garpu dan sendok dari atas meja panjang lalu ia letakan di atas piring.


“Mang, kalau nganterin itu dulu lama. Ini saya udah dari tadi tapi belum dibikinin.” Salah satu ibu-ibu yang berdiri memakai baju rumahan protes. “Padahal saya ini sengaja juga pagi-pagi gak buat sarapan karena suami dan anak saya mau sarapan batagor.”


Curhat  jadinya itu ibu-ibu.


“Bentar aja deh, ya, bu. Lima menit doangan aja.” Mang Asep menjawab tidak enak.


Kemudian disusul oleh protesan pelanggan yang lain. Mang Asep jadi garuk-garuk kepala pusing. Lantas seseorang yang dari tadi masih ada disana, menonton. Lalu menawarkan diri untuk membantu.


pelanggan yang udah pada nungguin.” Chacha yang Mang Asep kira sudah berlalu tapi nyatanya cewek itu masih ada disana.


“Eh, gak usah, Neng. Biar Mamang aja. Neng mah pasti gak bakal tahu ruangannya dimana.


“Nanti saya tanya--”


“Iya, Mang, biar si Neng cantik ini aja yang anterin. Lagian tadi juga kayaknya si Neng ini kenal sama guru tadi. Atau istrinya kali, ya, Neng?” celetuk ibu-ibu yang tadi protes seenak udel bilang Chacha adalah istri Pak Gery.


“Eh … “


“Iya. Anterin aja, Mbak! Kasihan ini Mang Asep kewalahan,” kata yang lain ikut menimpali dan meyakini jika Chacha adalah istri dari guru tampan itu.


“Gak papa, Neng, kalau Neng yang anterin? Kasihan juga ini yang mau beli udah pada antri nunggu lama.”


Yang tadinya Chacha akan mengurungkan niatnya malah jadi gak tega juga pada Mang Asep. Ia mengedar pandangannya. Memang begitu banyak yang rela antri untuk membeli batagor Mang Asep. “Ya udah deh, Pak. Gak papa saya yang anterin aja.” Pasrah Chacha. Dengan hati yang tidak enak dibilang istrinya Pak Gery. Tapi mau bagaimana lagi, kan mereka juga pada gak tau.


**


“Ciussss lo? Pak Gery ngajakin bininya ke sekolah? Terus itu bininya yang anterin batagor ke ruangan Pak Gery?” Salah satu murid cewek berteriak heboh. Ia mengibas-ngibaskan kedua tangannya seolah kepanasan. “Omaygat omaygat omaygat … dada gue.”


“Kenapa lo, pea?” Tama bertanya sedikit agak panik melihat teman ceweknya itu limbung, menghentakan bokongnya ke kursi sebelah kursi Ghea dengan asal.


Untungnya itu bokong mendarat tepat dan tidak berakhir mencium lantai.


“Astaga gue panas, cuyyy. Hati gue patah jadi lima ini. Jadi Pak Gery, guru idaman gue, yang tampan kaya Opa kai beneran udah married? Gak rela sumpah.” kelakarnya bersama ekspresi wajahnya yang awkward.


Lantas Tama mengarahkan telunjuknya pada pelipis cewek itu. “Eeeuuhhh, gue kira lo kenape. Lebe banget sumpah.”


“Etdah, kalau kagak percaya juga, sono lo intip ke ruangan Pak Gery. Kali aja tuh bininya masih ada disana!”


Sedang mereka menghebohkan Pak gery dan Chacha yang dikira istri Pak Gery itu, Ghea yang berdiri di tempatnya menghembuskan nafas lega. Dipikir Ghea, mereka tahu jika dirinya lah istrinya Pak Gery. Dengan perasaan yang aman, ia pun kembali duduk di kursinya dengan tenang.


Tapi sebentar.


Jika yang mereka tahu Chacha istrinya Pak Gery. lalu Yura? Darimana cewek itu tahu jika Ghea sudah menikah? Walau Yura tidak bilang, tapi bisikan kalimat Yang keluar dari mulut Yura seakan dia sudah mengetahui semuanya. Yura juga tidak akan mengatakan hal itu jika hanya sebagai candaan semata. Iya kan? Lalu apa Yura juga tahu jika yang menjadi suami Ghea adalah Pak Gery?


Gawat!


“Eeehhh lo mau kemana dah?”


Ghea kembali memfokuskan diri pada teman-teman sekelasnya itu saat Tama bertanya pada teman cewek yang lebay tadi.


“Gue mau ke ruangannya Pak Gery. Mau ngintip. Penasaran sama cewek yang jadi bininya Pak Gery. Secantik apa, sih, dia sampai bisa memikat hati Abang Kai kawe gue?” katanya yang membuat Ghea menguluum kedua bibirnya.


Bodo amat sama Chacha yang dianggap istrinya Pak Gery. Dengan begitu ia akan aman. Walau masih ada satu pertanyaan yang mengganjal di hatinya. Yura.


“Jangan-jangan tuh cewek pelet Abang Kai kawe lagi.” celetuk cewek lebay itu sebelum kemudian atensi mereka tertuju pada suara deheman keras di depan pintu.


EKHEMMMMMM


TBC


awkwarddddd


banyakin komen lagi biar aku up lagi nih. Ahahah


Seizy


Si penulis amatiran yang lagi nahan lapar karena rindu kepengen ngemil batagor