Married With Teacher

Married With Teacher
Apa Sayang?


"Eia, ngomong-ngomong, emang semalam ada gempa gitu? Kamu ngerasain gak?" Ghea bertanya polos pada sang suami. Keduanya baru saja keluar dari ruang dokter yang memberi penjelasan tentang pencegah kehamilan.


Bukan Pak Gery tidak ingin memiliki anak dari Ghea. Namun, ia tidak ingin buru-buru. Alasannya bukan hanya karena Ghea masih sekolah. Tetapi karena Pak Gery ingin menjalani hari-harinya berdua dulu dengan Ghea.


Banyak orang mengatakan jika pacaran setelah menikah akan sangat menyenangkan. Begitu juga nikmatnya akan lebih terasa. Jika ingin ciuman, misalnya, kan gak perlu takut digerebek hansip komplek.


Kini keduanya berjalan mengarah ke parkiran rumah sakit. "Emang kamu gak ngerasain?" tanya Pak Gery. Inginnya tangannya menggenggam tangan Ghea. Namun, ia masih terlihat canggung. Jadinya malah dikantongi ke dalam saku jeansnya saja.


Padahal semalam kedua tangan kekar menautkan jari-jarinya ke jari Ghea. Aneh.


"Gak." Ghea menjawab dengan wajah polosnya. Sejak resmi menjadi istri gurunya itu, Ghea belajar menjaga sikap bar-barnya. Sejak keperawanannya berhasil direnggut Pak Gery, Ghea menjadi banyak malunya ketimbang banyak selebornya.


"Di kasur kamu gak ngerasain?" Langkah keduanya begitu santai. Tapi tak juga mereka menikmati itu. Seolah waktu keduanya hari ini sangatlah sempit. Hingga satu langkahnya saja dibuat seperti satu menit berjalan. Uh, dasar pengantin baru.


Seperti sedang mengingat kejadian semalam. Tapi sepertinya tidak ada gempa. Ghea hanya merasakan kasurnya yang seperti maju mundur. "Nggak." Lalu menjawab setelah terdiam beberapa saat.


"Gak ngerasa?" tanya Pak Gery heran. Langkahnya berhenti sebentar sambil menoleh pada cewek yang berjalan di sampingnya.


Menggeleng. "Aku cuma ngerasa tempat tidur kaya goyang-goyang aja. Gak terasa ada gempanya." Menjawab polos dengan wajah mendongak. Melihat raut tampan di depannya, yang tingginya lebih dari dirinya.


Terlihat Pak Gery menghela nafas kasar. Ini cewek cuma luarnya aja yang selebor. Asli dalamnya polos banget, serius deh.


"Ya, udah, lupain aja, ya!" Karena jujur, Pak Gery sudah mulai jengah menjawab gadis polos di depannya ini. Gak ngerti-ngerti juga memangnya gempa yang dimaksud Mama Dian. Huh dasar.


"Tapi, masih penasaran," katanya. "Kamu gak ngerasain emang?" Lalu bertanya kembali dengan wajah yang penuh harap jawaban pasti darinya.


Kembali tubuhnya menghadap depan, Pak Gery merangkul bahunya. Membuat Ghea jadi salah tingkah sendiri. Lalu cowok itu berkata pelan. "Gak ngerasain gimana? Orang aku yang buat gempa itu," ujarnya seperti berbisik.


"Heuh?" Ghea menolah. Sepertinya bisikan itu masih terdengar jelas oleh Ghea. "Emang kamu bisa buat gempa? Ck, jangan ngaku-ngaku! Kamu bukan Tuhan! Nantinya musyrik!" Lah malah diceramahin. Mampuus loh Pak Gery.


Keduanya masih berjalan pelan. Pak Gery menoleh bersama keningnya yang mengkerut. "Aku gak ngaku-ngaku. Itu fakta."


Emang iya kan, Pak Gery yang buat terjadinya gempa di atas kasur itu? Ghea nya aja polosnya kebangetan. Gitu aja kok gak ngerti, sih?


"Tapi aku gak-"


BRUKKK


Ghea tersungkur ke lantai. Tiba-tiba dari arah belakangnya seseorang menyenggol bahunya kenceng banget. Sampai rangkulan Pak Gery pun gak bisa menahan tubuhnya.


"Ghe," panggil Pak Gery sambil berjongkok membangunkan sang istri. "Gak papa?" Kemudian bertanya. Sedikit khawatir terlihat dari raut wajahnya. Namun, setelah melihat Ghea menggeleng raut khawatir itu pudar. "Gak papa kok."


"Aduh, maaf, ya. Gak sengaja. Kamu gak apa-apa kan?" Orang yang menyenggol Ghea tadi mengusap bahunya setelah dibantu berdiri oleh Pak Gery.


"Iya, gak papa." Ghea menjawab sambil memijat belakang bahu oleh tangannya yang sedikit sakit. Keras banget senggolannya, ya?


"Maaf, ya. Aku bener-bener gak sengaja tadi." Pintanya lagi.


Pak Gery saat itu masih belum menengok pada sang cewek yang menyenggol Ghea. Pandangan cowok itu sibuk menilik tubuh Ghea. Takut-takut ada yang luka, katanya. Tubuhnya yang sedikit membungkuk pun tidak dapat menjangkau siapa cewek itu - yang masih berdiri di depannya dan Ghea.


"Bener gak papa? Ada yang luka gak?" Lalu Pak Gery menegakkan tubuhnya. Dan saat itu pandangannya barulah melihat siapa orang yang menyenggol istrinya sampai tersungkur.


"Sekali lagi maaf, ya!" Mulut cewek itu bergerak tertuju pada Ghea. Namun, kedua matanya memandang ke arah lain. Tepatnya justru memandang Pak Gery.


Bukan memandang karena wajah cowok itu tampan. Sepertinya cewek itu sudah tidak asing dengan wajah Pak Gery. Karena terlihat ada seringai di bibirnya yang tertarik. Dan matanya seolah berkata, 'ini gue' pada Pak Gery.


Refleks punggung Pak Gery yang tegak itu memanas. Wajahnya juga terlihat kaget. Tapi hanya beberapa detik saja. Sedetik kemudian kembali datar lagi.


Tanpa sadar tangan Pak Gery yang awalnya merangkul bahu Ghea, kini perlahan turun. Dan berpindah pada jari Ghea. Ia menautkan jari-jarinya. Namun, saat jari itu sudah tertaut, Pak Gery justru mencengkramnya erat. Sampai-sampai Ghea meringis pelan. Heran juga. Kenapa tangan Pak Gery berubah kasar menautkan jarinya itu?


"Kalau begitu aku permisi. Semoga kita berjumpa lagi." Saat mengucap kalimat terakhirnya, cewek itu melirikkan matanya pada Pak Gery dengan wajah menghadap Ghea. Uh, seakan cewek itu sedang bermain drama FTV. Bisa banget mengatur ekspresi wajah dan lirikan matanya. Sampai-sampai Ghea tidak menyadari hal itu.


Setelahnya cewek asing itu pamit. Seulas senyum penuh makna ia berikan pada Ghea. Lalu seringai di bibirnya ia tunjukan pada Pak Gery.


"Aw aw aw …" pekik Ghea tertahan. Ini kenapa Pak Gery kenceng banget mengeratkan jari-jarinya, sih?


"Kenapa? Apanya yang sakit?" Gak sadar banget cowok itu. Dan malah bertanya apanya yang sakit. Hey, jari Ghea, tuh, yang sakit akibat ulah jari-jari yang berotot itu.


"Jari-jari aku. Ishh …" ringisnya.


Spontan Pak Gery lepaskan tautan itu. Ia melihat beberapa jari Ghea merah. "Maaf. Aku gak sengaja," ucapnya penuh dengan sesal.


"Iya. Gak papa." Dan hanya itu yang bisa Ghea katakan.


Selepas kepergian cewek tadi, perasaan Pak Gery tak menentu. Ia takut. Matanya memancarkan itu. "Nanti besok-besok kalau mau keluar jangan, ya. Kalau gak sama aku!"


Heran dong pastinya Ghea. Kenapa tiba-tiba cowok itu berkata demikian. "Heuh?" Ghea tidak ngerti. Jadi hanya bergumam sambil mengangguk saja. Patuhi aja dulu. Urusan keluar tanpa atau nantinya harus dengannya urusan belakangan aja. Sekarang iyain aja dulu lah. Daripada ngomong panjang lebar kan? Ini juga Ghea gak ngerti. Apalagi nanti kalau ngomongnya keterusan. Makin kaya kereta aja entar. Tambah gak ngerti juga jadinya.


**


Mobil sedan mewah hitam berhenti di depan toko serba ada yang cukup besar. Toko itu dua lantai. Ya, seperti namanya toserba, jadi Pak Gery sengaja mampir dulu ke toko itu untuk membeli perlengkapan rumah yang belum ada. Tepatnya, sih, perabot dapur yang belum lengkap. Juga perlengkapan mandinya yang belum tersedia. Begitu juga dengan kulkasnya yang masih kosong. Sayur-sayur dan buah, misalnya.


Masih ingatkan, pagi aja sarapan hanya sandwich dan susu. Itupun ART Papa Dika yang beli roti sama susunya di toko dekat komplek rumah Pak Gery.


Walau jujur. Ghea sebenarnya gak mau karena gak tau harus beli perabot dapur, tuh, apa aja. Kaya gimana coba? Tapi malu juga. Masa iya, Ghea kalah sama suaminya?


Ya, udah, jadinya kepaksa aja, deh. Bodo amat nantinya diketawain Pak Gery karena gak tahu apa perabotan rumah tangga. Yang penting masuk aja dulu ke toko itu.


Pak Gery membuka seatbeltnya. Kemudian membuka pintu mobil dan turun. Tak lupa diikuti juga oleh Ghea.


"Pak Gery," panggilnya. "Eum, Mas Gery, kenapa gak nanti aja ART yang beli perabot sama isi kulkasnya, sih?" Ralat Ghea buru-buru karena Pak Gery langsung memberikan tatapan horor saat Ghea memanggil namanya dengan Pak.


Emang lagi di sekolah? Begitu pikir Pak Gery.


Ingat, Ghea, poin pertama!


"Kita gak akan pake jasa ART." Pak Gery menjawab acuh. Biasa kan, dia, suka datar gitu. Huh, gak inget aja apa semalam-


"Hah? Tapi kenapa? Aku gak bisa ngurus rumah, loh, Mas. Terus nanti makannya gimana? Aku gak bisa masak. Yang jagain rumah nanti siapa kalau aku dan kamu pergi ke sekolah?"


Keduanya masuk ke dalam toko saat pintu toserba itu terbuka secara otomatis.


"Maka dari itu kamu harus belajar!" Santai banget Pak Gery berkata. Gaya tangannya juga selalu aja seperti itu jika sedang berjalan. Dikantongi ke dalam saku celana.


"Tapi nantinya aku sibuk loh, Mas." Tidak habis akal, Ghea terus membujuk agar suaminya itu memakai jasa ART. Minimal sampai Ghea pulang dari sekolah gitu. Biar nanti pas pulang, rumah sudah rapi dan makan sudah tersedia di mejanya.


"Sibuk apa emang kamu nantinya?" Pak Gery terus berjalan. Ia masuk ke jajaran rak-rak perlengkapan mandi. Lalu memilih-milih sampo dan sabun. "Eh, troli-nya lupa. Kamu ambil, gih!" suruhnya. Namun Ghea tidak menolak. Cewek itu menurut.


"Mas." Ghea masih merengek saat troli itu sudah ia ambil. Pak Gery sibuk memilih sabun dan sampo. "Pakai ART aja, ya! Atau sampai aku pulang sekolah gitu. Biar ada yang jaga rumah kalau kita gak ada." Pinta Ghea memelas. Namun, sepertinya Pak Gery tidak mendengarkan. "Mas," panggil Ghea lagi. Kali ini suaranya agak meninggi.


"Hem. Apa, sayang?"


TBC


Santai ini baru permulaan guys.